Pacar Bayaran Abang Ketos

Pacar Bayaran Abang Ketos
6. Perbaikan Nilai


__ADS_3

Fionn


"What? Serius lo?


"Hm."


"Wow. Amazing! Gue setuju."


Tiga orang cowok yang sudah menjadi anggota di circle gue semenjak kami kelas satu Sekolah Menengah Pertama itu pun bereaksi dslam waktu yang bersamaan. Aldi memasang tampang kagetnya. Tak menyangka kalau gue mempunyai keinginan untuk menjadi ketua OSIS. Sedangkan Hamish, you know lah. Dia sebenarnya juga terkejut, akan tetapi langsung memilih untuk menyetujui pendapat gue tanpa berpikir lebih panjang lagi.


Bagi dia yang menyedihkan dan tak berpendirian itu, prinsip nomor satunya adalah setuju terlebih dulu. Menilai baik dan buruknya dampak yag disebabkan oleh apa yang disetujuinya bisa dilakukan nanti.


Shxt. Gue masih heran kenapa gue bisa berteman dengan cowok semacam dia ini. Hadeuh.


Dan Hamish, si Dipshxt yang satu ini hanya bergumam layaknya dia sudah tahu apa yang akan gue perbuat.


Sebagai tanggapan dari reaksi mereka tadi, gue mengangkat sebelah bahu gue, bahu kanan yang di atasnya sedang tersampir tali backpack. "So what? It could be fun," ungkap gue dengan kedua tangan di dalam saku celana.


"Yeah, fun. Yeay!"


Fxcking hell. Gue berusaha sekuat tenaga gue untuk tidak menghiraukan kelakuan si Hamish ini atau dia bisa berakhir dengan rahang retak karena tanghgan gue sudah tidaksabar lagi untuk membungkam mulutnya yang tidak berguna itu.


Sial. Ini baru hari kedua sekolah dan gue sudah punya pikiran kelam terhadap teman gue sendiri.


Gue berdeham, mencoba mengalihkan fokus gue dari apa yang menjadi keinginan kepala gue. Gue juga sengaja mengubah posisi berdiri gue sedikit sehingga pandangan mata gue tidak lagi menangkap banyak bagian dari cowok hipster itu.


Posisi baru gue menjadikan Mario sebagai objek utama penglihatan. Hm. Another interesting bloke. Kenapa dia cuma bergumam sok tahu seperti tadi?

__ADS_1


Seperti bisa membaca pikiran gue, cowok berkulit hitam dan berpotongan rambut cepak itu pun mengimbuhkan, "Udah gue tebak. Lo pasti tertarik dengan kompetisi ini."


"Tapi, ini, kan, bukan kompetisi, man. Ini cuma pemilihan ketua OSIS yang baru buat sekolah kita. Biasa aja kali. Setiap tahun juga diadain. Kompetisi apaa? Yaa, kan, Di? Ya, kan, Yon?" Hamish menyanggah ucapan Mario.


Fxck. Gue benar-benar muak sama ketololan dia. Kenapa gue bisa bertahan selama ini berteman sama dia, I have no idea. Dan kenapa gue mulai memperhatikan sikap mereka satu per satu dengan lebih detail, I don't have any clue either. Yang jelas, beginilah perasaan gue sekarang. So they have to deal with it.


And it really drives me mad ketika si Pathetic Dipshxt itu memanggil gue dengan sebutan "Yon". Dia pikir dia siapa seenaknya mengganti nama orang. Yan, Yon, Yan, Yon. Memangnya nama gue Oyon?


Fxck no.


"Shut the fxck up, H." Gue menggeram.


Cowok bermulut besar itu serta-merta mengelem bibirnya.


"Chill, man. No need to be that harsh."


****


Apa pun namanya, ini adalah kompetisi. Dan gue hidup untuk memenangkan semua yang gue inginkan.


I am the Fionn Akari Haas after all. Gue dilahirkan memang untuk menjadi pemenang.


Setelah berpisah dengan sosok yang selama ini gue anggap sebagai teman, bahkan sebagai sahabat, gue langsung menuju ke kantor wakil kepala sekolah bidang kesiswaan. Masih ada waktu sekitar sepuluh menit lagi sebelum bel pertama berbunyi.


"Hei, Dear," sapa Bu Alifa, staf di kantor wakil kepala sekolah bidang kesiswaan. "Ada yang bisa dibantu?"


Wanita paruh baya yang kini berdiri di balik counter selalu yang paling ramah dalam menyambut kedatangan tamu yang masuk ke kantor ini. "Hai, Bu Alifa." Gue balik menyapa dengan ringan. "Saya mau bertanya soal pendaftaran calon ketua OSIS."

__ADS_1


Matanya yang bersinar menyipit oleh senyum yang terkembang di bibir. "Oh, boleh, boleh. Silakan."


"Saya ingin tahu apakah ada cara untuk mendapatkan poin ekstra yang akan menaikkan nilai rata-rata saya, Bu? Soalnya saya ingin sekali mendaftar, akan tetapi nilai saya kurang sedikiiit lagi dari persyaratan." Gue menggunakan ibu jari dan jari telunjuk gue untuk mendemonstrasikan kata sedikit yang gue pakai barusan.


Bu Alifa tergelak. Dia kemudian mendorong kacamata yang melorot di hidung kecilnya ke atas. "Oke. Kita coba lihat dulu, ya." Terdengar bunyi tuts keyboard komputer yang dipencet. Suara klik-an mouse juga menyusul setelahnya. "Sebutkan nama lengkap dan nomor induk siswa."


Gue menurut. Gue beri tahu sosok yang dengan mudah bisa menjadi nenek gue itu deretan nomor yang sudah gue hafal di luar kepala. Bunyi-bunyian dari perangkat elektronik itu pun kembali terdengar.


"Hm." Bu Alifa bergumam dan mengangguk-angguk. "Sepertinya kamu hanya perlu menemui guru matematikamu tahun lalu. Karena hanya beliau yang memberikan catatan kecil untuk setiap siswa di kelasnya. Di sini tertulis silakan hubungi jika ingin perbaikan nilai."


Wanita itu pun mendongak, kembali menatap mata gue setelah fokus pada layar yang ada di bawah counter. "Hanya itu saja. Silakan hubungi Bapak Mulyono secepatnya."


Kalimatnya terpotong oleh suara bel yang menjadi yanda bahwa semua siswa harus segera memasuki ruang belajar karena kegiatan belajar mengajar akan dimulai sepuluh menit lagi.


"Tidak erlu cemas. Bapak Mulyono adalah guru yang baik. Dia tidak akan menyulitkan murid. Omong-omong, sudah waktunya masuk kelas. Selamat belajar. Dan semoga sukses untuk pencalonan dirimu sebagai ketua OSIS!"


"Terima kasih banyak, Bu Alifa." Gue menjadikan kalimat itu sebagai salam perpisahan dan berbalik.


Very well, then. Seperti yang dikatakan oleh Bu Alifa tadi, gue hanya harus menemui Pak Mulyono, meminta tugas perbaikan, dan ... selesai.


Gue benar-benar berharap kenyataannya nanti akan segampang itu. Namun, matematika bukanlah sesuatu yang gue kuasai dengan mudah dari dulu.


Damn it, Fionn. Jangan jadikan itu alasan. Lo harus bisa. Lo pasti bisa. Setelah memperbaiki nilai, ke depannya akan lebih gampang lagi. Because you already have it all except for the grade.


Pokoknya gue harus bisa mencalonkan diri sebagai ketua OSIS. Pokoknya gue harus memenangkan pemilihan ini. Biar Arnold dan Monalisa Haas sialan itu tahu kalau gue juga bisa menjadi seseorang. Kalau gue juga bisa menjadi pemimpin. Kalau gue juga pantas untuk duduk di tempat yang paling tinggi di lingkungan sekolah ini.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2