Pacar Bayaran Abang Ketos

Pacar Bayaran Abang Ketos
16. Itu Dia


__ADS_3

Fionn


I need to get out of here.


Gue tidak tahan lagi dengan sikap mereka.


"I'm out." Gue berdiri dengan tiba-tiba. Gerakan gue jelas menginterupsi apa yang sedang mereka rasakan dan bicarakan.


"Mau ke mana lo, bro? Kan, kita lagi bahas strategi untuk mendekati si Kimaya ini. Yaa, maksud gue, lo pasti bakal butuh semua bala bantuan yang bisa lo dapatkan, kan?"


"Yeah. Tapi, gue harus cabut dulu sekarang. You know, gue harus ...." Gue sengaja tidak menyelesaikan kalimat gue saat menunjukkan ponsel yang thank fxcking Gid ada di tangan.


Para cowok dengan pikiran-pikiran kotor itu pun kembali bersorak layaknya manusia purba. "Woooo. Pantesan! Mau ***-*** lo, ya?"


"Damn it! Lo pasti dapat lebih banyak aksi dari yang tangan gue bisa lakukan, man."


"Sialan. Kenapa yang paling jahat di antara kita yang selalu dapat banyak tawaran dari cewek-cewek itu? Apa mereka segitu cintanya sama bad boy?"


Dari pernyataan yang diutarakan masing-masing mereka, pernyataan Mariolah yang paling menyelekit. Selalu.


Gue memilih untuk tidak mengindahkan semua ucapan-ucapan itu. Percuma mengambil pusing pendapat mereka yang tidak penting. Setelah menjatuhkan beberapa lembar uang seratus ribuan ke atas meja, gue segera menjauh dari meja.


Bu Deb kebetulan berada di dekat counter kasir saat gue lewat. "Udahan aja, boy?"


Gue berhenti sejenak di depan dia untuk berpamitan dengan benar. "Iya, Bu. Biasa. Gue mau ngerjain pe-er," ujar gue dengan asal sambil menaik-turunkan alis dengan main-main.


Bu Deb memutar bola matanya yang hitam kelam, seperti warna kulit dia dan keluarganya yang lain. "Mau ngerjain pe-er, mau ngerjain pe-er. Alasan! Kalau mau bohong itu, ya, pinteran dikit kenapa, ha? Mau meremehkan Ibu, kamu?"


Sialan. Gue tidak akan pernah menang bersama wanita tua ini. Meskipun lidah Bu Deb lebih tajam dari Mario, akan tetapi gue menemukan hiburan yang tidak pernah bisa gue temukan di tempat lain selain di sini. Bersama Bu Deb, gue bisa menjadi diri gue sendiri tanpa harus merasa dihakimi atau dicap kurang.


Kurang pantas. Kurang tangguh. Kurang layak.


Hal-hal yang selalu berhasil dikatakan oleh Arnold dan Monalisa Haas tanpa mengatakannya langsung ke gue.

__ADS_1


"Enggaklah, Bu." Gue terkekeh. "Gue beneran harua ngerjain pe-er. Jadi orang gak boleh curigaan gitu, lho. Entar cepat tua baru tahu rasa!"


"Sialan kamu!" Siapa sangka tangan Bu Deb yang gempal bisa menjangkau lengan gue dari balik counter. Sebuah tamparan jelas saja sudah mendarat di sana. "Gak usah bayar. Ibu masih bisa ngasih makan cucu-cucu Ibu sendiri."


"Apaan, sih, Bu? Kalau gak bayar mulu yang ada ini tempat lama-lama bisa jadi crusty beneran karena bangkrut." Jelas saja gue bercanda. Kalaupun Crusty Deb tidak mendapatkan keuntungan karena seringnya kami nongkrong dan makan gratis di sini, orang tua dan paman atau bibi Mario yang semuanya sudah menjadi orang-orang besar tentu tidak akan membiarkan usaha ibu mereka hancur begitu saja. Mereka pasti akan selalu memberikan bantuan.


Lagipula, semua orang tahu bahwa Crusty Deb tetap buka bukan karena Bu Deb masih membutuhkan uangnya. Namun, karena Bu Deb masih ingin bekerja dan membantu para karyawan. Menu-menu yang memang lezat pun tidak menyakiti komunitas. Malahan mereka senang dengan tetap berdirinya restoran favorit mereka dari puluhan tahun yang lalu.


"Ya elah, Bu." Kini giliran gue yang memutar bola mata. "Kalau gitu duit yang gue tinggal di atas meja dijadiin tips aja."


Mendengar itu, Bu Deb tersenyum dari telinga ke telinga. "Kamu, kamu, kamu. Di balik keberxngsekan kamu itu terdapat sosok yang berhari besar."


Okaaay. Gue tidak siap untuk obrolan sentimental seperti ini lagi. "Ih, Ibu. Jangan jatuhin harga diri gue sebagai bad boy lah." Gue memprotes.


Namun, tidak ada yang bisa mengecoh mata penuh kebijaksanaan punya Debby Lee yang sedang menatap gue dengan saksama. Tatapan yang membuat bokong gue berkeringat. Tatapan yang membuat tubuh gue gelisah.


Sialan.


Suara derap langkah kaki di belakang gue memecahkan konsentrasi Bu Deb dalam menelanjangi perasaan gue paling dalam. Gue menoleh ke arah sumber kegaduhan dan menemukan tiga orang cowok yang duduk bersama gue tadi mendekat.


Masing-masing dari mereka menyapa Bu Deb. Mario memasukkan uang seratus ribuan yang gue tinggalkan tadi ke dalam toples bertanda TIPS.


"Thanks makan siangnya, Bu. Enak. Like always. See you when I see you." Gue melambai dan melangkah ke luar tanpa menunggu tanggapannya.


****


Sebenarnya gue tidak mempunyai tujuan yang pasti ketika gue mengarahkan mobil ke jalan. Tanpa berpikir panjang gue menyalakan Cheri, memencet klakson sebagai isyarat untuk Aldi, Hamish, dan Mario yang juga tengah menuju mobil mereka masing-masing, dan menginjak pedal gas.


Sekarang gue harus ke mana? Ke rumah pun rasanya gue belum mau.


Di atas mobil yang melaju dengan kecepatan rendah gue memikirkan apa yang bisa gue lakukan. Tiba-tiba saja gue teringat akan sesuatu ketika gue melewati sebuah toko besar di pusat kota.


Ah, iya. Stok barang itu sudah menipis di rumah. Sebaiknya gue membelinya sekarang selagi gue ingat. Bisa berabe kalau benar-benar kehabisan. Bisa gila gue. Lagian, gue bisa sekalian lihat-lihat yang lain juga. Siapa tahu mereka sudah punya koleksi yang terbaru.

__ADS_1


Sialan. Pikiran gue ke mana, sih? Kenapa gue gak sadar kalau gue sudah sampai di sini aja?


Come on, Fionn. Jaga fokus lo kalau nyetir! Lo gak mau Cheri kenapa-kenapa, kan?


Shxt. That thought hit me hard. Gue harus jaga kesayangan gue ini.


****


Lonceng yang tergantung di pintu berbunyi nyaring ketika gue mendorong pintu itu saat masuk. Si kasir tiba-tiba mendongak dan serta-merta tersenyum ke arah gue.


Seperti biasa, gue tidak merasa ingin bertukar basa-basi dan segera menuju ke lorong dengan rak-rak yang terisi oleh benda-benda favorit gue.


Kertas origami dan buku-buku yang berisikan koleksi cara membuat kreasi dari origami edisi terbaru.


Seni melipat kertas adalah pelarian gue. Dia yang bisa menjaga kewarasan gue selain Cheri.


No. PlayStation tidak masuk hitungan lagi.


Selesai memilih satu buku edisi terbaru yang belum gue punya dan beberapa pak kertas, gue segera menuju ke kasir untuk melakukan check out. Keinginan gue untuk mengeksekusi kertas-kertas ini menjadi sangat tinggi setelah melihat warna-warni kertasnya. Gue jadi ingin cepat-cepat sampai di rumah dan mengurung diri di kamar.


Sebab tidak ada seorang pun yang tahu dan boleh tahu soal kecanduan gue terhadap barang yang satu ini.


Tidak ada yang boleh mengetahuinya.


Langkah penuh semangat gue tetiba saja terhenti ketika gue melihat siapa yang berdiri dan ikut mengantre di depan kasir.


Oh, shxt. Itu dia.


Itu dia, kan?


Segera gue bersembunyi di balik rak terdekat agar gue bisa memperhatikan dia dengan lebih teliti lagi.


Dan benar saja. Itu dia.

__ADS_1


Gue tidak menyangka kalau gue akan bertemu dengan Kimaya secepat ini.


Bersambung ....


__ADS_2