
Fionn
"Apa? Maksud lo tawaran apa, ha?" Gadis yang kini rambutnya telah digulung-gulung di atas kepala dan diikat dengan sembarangan itu tahu-tahu sudah berada lagi di depan gue. Dia mendongak dan berjinjit sehingga wajahnya menjadi dekat dengan wajah gue. Dan hal ini tidak dilakukannya sebagai bahasa tubuh yang romantis san hangat. Namun, dia get in my face karena dia benar-benar ingin get in my face and menantang gue. "Jangan lo pikir mentang-mentang orang tua lo yang punya kota ini, setiap orang di dalamnya bisa bebas lo tawar seenak jidat lo. Jangan lo pikir karena gue orang miskin lo bisa memperlakukan gue sesuka hati lo. Gue emang gak punya duit, Fionn, tapi gue masih punya harga diri!"
What the fxck?
Apa maksud DIA dengan mengatakan semua itu? Jangan bilang ke gue kalau dia mengartikan tawaran gue sebagai tawaran untuk ... what? Tubuhnya yang cuma tulang-belulang itu?
Eeew. Bagi sebagian orang, mungkin dia termasuk kategori yang cantik dan menjadi tipe cewek yang mereka suka, akan tetapi tidak buat gue. Dia terlalu ... datar. Dan datar artinya boring. Dan gue tidak suka hal-hal yang membosankan. Apa pun bentuknya.
Gue tidak dapat menahan ringisan jijik di muka gue setelah mendengar kata-kata Kim. Sekonyong-konyongnya gue menarik kepala gue supaya agak menjauh dari wajahnya.
Nope. Setelah mendengar pendapatnya yang sungguh jauh dari kenyataan dan terdengar sangat menghakimi itu, gue tidak mau menganggap cewek ini, ekspresi dan mata besarnya itu, sebagai suatu yang komikal dan sangat menarik lagi. No. Gue tidak mau berurusan terlalu jauh dengan tipe orang-orang yang merasa benar sendiri seperti dia ini.
Fxck that. Fxck her. And fxck 'em all.
Andaikata gue tidak sedang di posisi ini, Mungkin gue tidak akan pernah berurusan dengan cewek sok suci seperti Kimaya. Namun, apa mau dikata. Gue harus tetap berurusan dengan dia. Setidaknya sampai tugas gue selesai dan nilai gue tidak terancam lagi. Paling tidak, ya ... selama tiga bulan ini.
"Oh, my fxcking God, what?" seru gue tak habis pikir. Gue lantas mengernyitkan hidung sebagai ganti ringisan gue. "Maaf-maaf, nih, ya, sebelumnya." Gue memulai. "Tapi, sebenarnya lo juga bukan tipe gue. Not in the slightest malah," ungkap gue sambil memperhatikan Kimaya dari ujung rambut hingga ujung kaki dan kembali ke kepalanya lagi untuk memberikan penekanan. "Yup. No. No. Sorry not so sorry."
Gue bisa melihat gadis itu baru saja menelan satu tegukan besar air liurnya sendiri.
Gue memberikan diri gue high five di dalam kepala. Gimana, Kim? Masih merasa superior sekarang, hm?
Di kalakian lagi-lagi Kim mendengkus. "Kayak gue yang mau aja sama cowok kayak lo," debatnya dengan muka yang masam.
__ADS_1
Oh, nice. Balik ngatain gue, huh?
Sekali lagi gue memberikan apresiasi kepada diri gue sendiri yang sudah berhasil menangkap bayang-bayang rasa malu yang disembunyikannya dengan susah payah di balik rasa marah dan topeng tidak peduli yang terpasang di wajahnya sekarang.
Ah, ah, ah. Lo masih manusia biasa rupanya, ya? Masih punya perasaan dan kepedulian terhadap apa yang orang lain nilai soal lo dan kehidupan lo. Oke, oke. Good to know. Jadi gue bisa ubah ini jadi senjata untuk diri lo sendiri nanti.
Terkadang gue tidak menyangka bahwa setan di dalam otak gue bisa sepintar itu. I'm pretty impressed right now. Hanya bermodal pengamatan, dia bisa menemukan kelemahan lawan dalam sekejap.
Damn.
"Well, what a great thing to discover!" Gue berkata dengan nada yang dibuat-buat. "Kalau begitu gue tidak ragu lagi untuk mengajukan penawaran gue."
"Huh." Kimaya tergelak tertahan, mencemeeh. "Ternyata tadi itu lo masih ragu-ragu, ya?" tanyanya. "Kalau yang kayak tadi masih ragu, gue gak sabar pengen lihat gimana songongnya muka lo saat lo udah yakin."
"Oh, ya? Lo udah gak sabar, ya?"
Tanpa dipersilakan dia masuk sambil membawa satu buah nampan yang memang berisi kue dan dua gelas es jeruk. Bibirnya tertarik dari telinga ke telinga, akan tetapi matanya jelalatan memperhatikan sekeliling ruangan dan berakhir di kami.
Dia masih memandangi kami.
What the heck? Apa yang perlu dicermati dari dua orang remaja yang berdiri berhadapan, sih? Lagi pula pakaian kami masih lengkap. Kami tidak dalam keadaan yang janggal juga.
Then why is she still staring at us?
Gue jadi gagal paham dengan tugas si Ibu di rumah ini. Apakah dia tenaga profesional yang sengaja dibayar untuk merawat ibunya Kimaya? Apakah dia sebetulnya hanya seorang asisten rumah tangga yang merangkap sebagai "pengasuh"? Atau, dia sebenarnya hanya ibu-ibu rempong yang merupakan tetangga sebelah rumah dan kebetulan sedang mampir saat kami pulang tadi?
__ADS_1
Yang jelas, dia terlalu kepo for my liking.
"Oh, iya, Bu. Tolong taruh di atas meja belajar aja," pinta Kimaya yang gue rasa juga mulai merasa tidak enak.
"Eh, oke," sahut Bu Pik. Dia masih memelototi kami ketika menaruh baki kayu itu di atas meja yang letaknya tidak jauh dari kami.
Gila aja! Si Ibu sampai rela memutar kepalanya hampir seratus delapan puluh derajat!
Benar-benar sinting ibu-ibu julid ini.
"Thanks, Bu." Merasa perlu mengambil aksi, Kimaya akhirnya mengusir Bu Pik secara halus dengan menggiring wanita itu ke arah pintu. Setelah kwdua kaki Bu Pik berada di luar garis pintu, dia segera mengunci daun pintu tersebut dari dalam.
"Ya, Tuhan." Dia mendesah. "Gue gak akan selamat dari wanita itu besok-besok."
Setelah dibayangkan, gue bahagia sekali karena gue tidak ada di posisi dia. Sekali melihat tingkah laku anehnya saja, gue rasanya sudah berada di ambang kegilaan. Apalagi setiap hari, berhari-hari?
Meminjam kosakata yang sering dipakai oleh bokap gue, Zum Donnerwetter!
God damn her.
Sekarang, ketika arena sudah clear lagi, dan susah lebih aman karena pintu telah terkunci rapat, gue akhirnya memulai percakapan kami lagi. Kali ini dengan lebih serius. "So, gue ada tawaran buat lo."
Kimaya mengangkat sebelah alisnya. "oh, yeah. Itu, sih, yang dari tadi gue dengar," cibirnya sambil bersandar di pintu. Lagi dan lagi dia menyilangkan tangan di depan dada.
By the way, kenapa cewek ini suka sekali melakukan hal itu, sih? Apa yang dia coba untuk lindungi?
__ADS_1
Bersambung ....