Pacar Bayaran Abang Ketos

Pacar Bayaran Abang Ketos
39. Saling Sembunyi


__ADS_3

Fionn


Gue sudah bilang kalau coach akan mengerti dengan alasan pengunduran diri gue. Sangat mengerti malah. Saking mengertinya, Coach Amer bahkan memberikan kartu khusus kepada gue; gue boleh main di pertandingan apasaja yang gue inginkan tanpa harus ikut latihan rutin.


Anak-anak di sekolah ini umumnya mempunyai privilese, akan tetapi yang gue dapatkan jauh lebih tinggi dari privilese. Oleh karena itu gue bilang ke kalian tadi kalau gue mendapatkan "kartu khusus".


Jadi, of fxcking course langkah gue terasa sangat ringan ketika gue berjalan menuju tempat parkir. Gue tidak tahu apa yang terjadi dan kenapa semua itu terjadi, akan tetapi sepertinya dewi fortuna sedang berpihak ke gue akhir-akhir ini. Mulai dari menggerakkan hati gue ke toko buku yang berakhir dengan pertemuan gue dan Kimaya—atau lebih tepatnya gue yang menemukan keberadaan dia. Terus aksi pengintilan yang berbuah kelewat manis dengan undangan masuk ke rumahnya—meskipun gue mungkin lebih memilih untuk menghapus bagian bertemu dengan ibunya Kimaya because, eew, I just cannot, I better not—yang berakhir dengan ... perfect.


Kesepakatan gue dengan cewek pintar yang hanya mendapatkan keberuntungan jelek dalam hidup itu.


Sungguh kasihan dia. Namun, nasib jeleknya berguna sekali buat gue.


So, I guess I can't complain.

__ADS_1


Gue sekarang hanya harus bertemu Kimaya di parkiran, jalan ke rumahnya, dan melancarkan aksi gue selanjutnya. Yes, let's go!


Baru saja sampai di lobby, gue sudah bisa melihat cewek gadungan gue itu sudah menunggu gue di bangku di bawah pohon rindang. But, wait a fxcking minute. Dia tidak sendirian. Dia sedang duduk bersama ... Pak Mulyono?


What the heck?


Apa yang sedang dilakukan Guru Botak tersebut di sana?


Kimaya


"Dia ... dia memang ramah kok, Yah. Anak-anak lain saja yang tidak tahu." Aku lagi-lagi berbohong. Dengan ini aku sudah menjamin sebuah tiket untuk masuk ke neraka.


"Oh, ya?" Ayah menggunakan intonasi itu lagi. Intonasi campuran antara setengah tidak percaya dan setengah lagi pura-pura antusias.

__ADS_1


Ya, Tuhan. Ada apa dengan Ayah? Apa yang sebenarnya telah diketahui oleh orang tua laki-lakiku itu? Kenapa Ayah terkesan mengulik sesuatu dan menguji kejujuranku?


"Ya, sudah. Kalau begitu Ayah pulang dulu. Kamu beneran pulang sama Fionn, ya?"


Ayah sepertinya benar-benar tahu sesuatu. Apa lagi coba maksudnya kalau tidak begitu? Setelah berpamitan untuk pulang, pria paruh baya yang menjadi cinta sejati Ibu itu—kalimat Ibu sendiri, lho, bukan aku yang mengarangnya, malah mempertanyakan hal yang sama lagi.


Aku lantas mengembuskan napas panjang dan berpura-pura jemu karena harus menjawab pertanyaan itu sekali lagi. "Iya, Ayaaah. Aku pulang sama Fionn, ya. Kan tadi aku udah kasih tahu Ayah lewat chat. Aku juga udah jawab pertanyaan yang sama sebelumnya. Ayah gak percaya sama aku, atau gimana, nih? Ayah gak percaya Fionn mau ngaterin aku apa Ayah gak percaya kalau aku mau jalan sama Fionn?"


"Lha? Memang apa bedanya antara Ayah gak percaya Fionn mau nganterin kamu atau Ayah gak percaya kalau kamu mau jalan sama Fionn, ha? Kamu suka aneh, deh, May." Ayah mencolek lenganku untuk berseloroh.


Benar. Ternyata tidak hanya aku yang menyembunyikan sesuatu, Ayah juga. Namun, apa yang menurut Ayah perlu disembunyikannya dari aku, anaknya sendiri?


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2