
Fionn
"What the fxck?"
"What?"
"Are you fxcking kidding me?"
Entah apa yang takdir rencanakan karena saat mereka semua bereaksi seperti itu, Bu Deb sendirilah yang mengantarkan pesanan kami. "Jaga bahasa kalian, ya. Masih muda udah pada hobi ngomong jorok!" rutuknya sambil meletakkan piring-piring berisi makanan itu. "Kalau Ibu masih dengar kalian ngomong kayak gitu lagi nanti, lihat aja. Siapa bilang Ibu gak berani ngasih cabe ke mulut kalian satu-satu."
Buset, dah!
"Ih, Ibu benar-benar, deh. Tega amat sama cucu sendiri," celetuk Hamish.
Mario yang notabenenya adalah cucu asli dari Bu Deb memukul lengan kawan yang duduk di sebelahnya itu. "What the heck, man? Jaga omongan lo sama nenek gue, ya!"
Hamish yang terkejut langsung saja meringis. "Apaan, sih, lo, Yo! Gue, kan, cuma bercanda." Dia protes sembari mengusap-usap bagian yang bertemu dengan telapak tangan si Mario tadi.
Jangan tanya gue kenapa Mario bisa memanggil neneknya sendiri dengan panggilan Ibu. Tidak seperti kalian yang keponya setengah mampus, gue tidak pernah mempertanyakan masalah itu. Gue pikir itu haknya dia dan keluarganya mau memilih untuk memanggil anggota keluarga mereka dengan sebutan apa pun. Toh, tidak ada urusan dengan gue ini juga. Gue hanya harus menghormati keputusan mereka.
Termasuk juga kalian.
Lagian, peduli apa, sih? Gue yang temannya Mario aja bodo amat bae.
Hadeh.
Gue dan Aldi memutuskan untuk sama-sama tidak peduli dan mulai menyantap makan siang kami. Shxt. Gue lapar banget karena dari rumah gue cuma sarapan air putih. Terus di sekolah tadi gue tidak jadi makan juga. Perut gue benar-benar kegirangan melihat sepiring creamy shrimp pasta di meja di depan gue.
Appetittlich!
At some point, keheningan melingkupi kami berempat yang sibuk melahap makanan-makanan hasil karya tangan Bu Deb yang memang dari dulu sudah terkenal dengan rasanya juara.
"By the way, lo serius sama yang lo bilang tadi, bro?"
Gue menelan potongan udang terakhir sebelum menjawab pertanyaan Hamish dengan mengangguk dan bergumam, "Hm."
"Wah, sialan itu Bapak-Bapak botak. Ngasih tugas gak kira-kira emang, ye," imbuhnya lagi.
__ADS_1
Gue hanya mengedikkan bahu.
"Terus, apa yang bakal lo lakuin? Menurut gue, sih, ya, it's pretty clear that he wants you to fail."
Segera saja Mario menyanggah pernyataan si Gondrong gak berpendirian itu. "Kalau emang Pak Mul gak mau si Fionn menang, ngapain coba beliau bilang mau ngasih nilai duluan sebelum tugasnya selesai? Kalau pengen ngarang, tuh, dipikir dulu kali, Mish. Jangan asal nyablak aja. Kelihatan, kan, bego lo."
Hamish melepas jari tengahnya untuk terbang ke arah Mario.
Fxck. We have such a dysfunctional friendship at its best.
Gue yang sesungguhnya tidak peduli dengan siapa pun. Aldi yang juga cuek bebek dan lebih banyak berinteraksi dengan game di ponselnya. Mario yang pendiam namun tidak kenal yang namanya filter kata-kata kalau bicara. Dan Hamish yang gila akan terlihat sependapat dengan orang lain sehingga tidak mampu membentuk pendapatnya sendiri.
Damn. Dysfunctional family and dysfunction friendship?
What a wonderful world, huh?
"Ngapain sibuk mikirin gimana cara ngerjain soal sebanyak itu? Lo, kan, tinggal nyari orang yang bisa ngerjainnya. Terus bayar, deh. Gampang."
Gue serta-merta menoleh ke arah Aldi yang tangannya sudah kembali memegang gadgetnya itu.
"Anjir! Ide bagus, tuh, Bro!"
Kalian bisa tebak siapa yang baru saja memberikan tanggapan.
Namun, dia benar. Ide dari Aldi benar-benar brilian. "Hm." Gue mulai menggumam, otak gue mulai bekerja. "Boleh juga, tuh."
"Siapa, ya, kira-kira yang bisa dibayar buat ngerjain itu semua?"
Fxck. Gue betul-betul mulai mempertanyakan status pertemanan gue dengan Hamish. Kenapa gue mau berteman dengan orang yang menyedihkan seperti dia, sih? He is such a fxcking loser.
"Banyak. Lo pada, kan, tahu di sekolah kita banyak anak-anak yang masuk lewat jalur beasiswa? Nah, mereka sudah pasti pintar dan yang penting ... gak nolak kalau ditawarin duit segepok."
What the heck? How can I not know about all of this fxcking shxt?
Oh, yeah. Karena gue tidak peduli dengan orang lain selain diri gue sendiri.
Well, okay then.
__ADS_1
"Eh, man. Lo beneran gedeg sama Pak Mul gak, sih?"
Gue lagi-lagi harus menoleh ke arah si Aldi yang dari tadi malah tidak berusaha untuk mengalihkan perhatiannya dari layar ponsel. "Hm." Gue lagi-lagi bergumam.
"Kalau gitu–"
"Woy, Kamprxt!" Tiba-tiba saja Mario memotong pembicaraan Aldi.
Barulah si Dipshxt itu menengadahkan kepalanya. Barulah dia melepaskan pandangannya dari skrin di tangannya. Barulah dia menatap kami. "Santai aja, dong, Yo. Gak usah pakai teriak-teriak segala lah. Anxing lo!"
"Mario! Aldi!" Suara Bu Deb seketika saja menggelegar, mengejutkan beberapa pengunjung selain kami yang sudah ada di Crusty Deb. "Ibu gampar pake centong, ya?"
Gue tergelak. Hands down. Bu Dep memang yang terbaik.
Mata malas Aldi akhirnya bertemu dengan mata gue. Dia pun melanjutkan lagi kalimatnya yang terputus. "Kalau lo memang jengkel sama itu guru, lo mungkin pengen balas dendam. Ya, gak?"
Oke. Gue jadi lebih tertarik dengan ide yang muncul dari dalam kepala yang kemungkinan besar masih kosong ini. Gue lalu menganggukkan kepala.
"Menurut lo-lo pada, balas dendam seperti apa yang paling mantap bagi Pak Mul nan mulia itu, ha? Pembalasan apa yang lebih nikmat daripada melibatkan anaknya sendiri dalam aksi itu?"
Wait a minute. "Pak Mul punya anak yang sekolah di Taruna Nusantara?" tanya gue kepada mereka.
Aldi, Hamish, dan Mario mengarahkan ekspresi tidak menyangkanya ke arah gue secara bersamaan. "Lo gak tahu, bro? Ke mana aja lo selama ini?" Hamish mengungkapkan dengan heran.
Mario memutar bola matanya. "Come on, Mish. Pertanyaan goblok macam apa lagi itu? Si Fionn, ya, enggak ke mana-mana. Dia aja yang tidak terbiasa mempedulikan orang lain di sekeliling dia."
Shxt. That nailed me on the head. Meskipun begitu gue tetap tidak senang diekspos seperti itu oleh Mario. "Shut the fxck up, dude," geram gue dengan nada yang lebih rendah. Setidaknya gue punya sedikit kesadaran lebih dari mereka untuk tidak mengusik Bu Ded dengan mulut gue yang sudah terlalu kotor ini.
Mario gantian mengangkat bahunya. "That's the freaking fact, though."
Gue tidak mau meladeni lidah tajamnya lagi. Gue fokuskan perhatian kepada Aldi yang telah menunduk lagi. Sekonyong-konyongnya tangan gue bergerak untuk merampas ponsel itu.
"Hey! What the fxck? Kembaliin hape gue, Bro!" raungnya.
Gue tidak mau mengalah. "Lo barusan bilang soal anaknya Pak Mul, kan? Coba kasih tahu gue soal dia."
Bersambung ....
__ADS_1