
Fionn
Dengan berat hati gue harus berbalik dari rumah Kimaya tanpa mengantarkan dia dengan benar seperti yang sebenarnya ingin gue lakukan. Namun, gue tidak bisa. Setidaknya untuk hari ini. Atau beberapa hari yang dibutuhkan sampai gue bisa menemukan dalang di balik pesan broadcast sialan itu.
Sepanjang perjalanan gue terlalu sibuk untuk memutar otak dan memeriksa kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi terkait dengan apa yang Kimaya alami. Gue sampai lupa untuk menyetel musik yang menjadi teman perjalanan gue selama ini.
Shxt. Gue harap Kimaya tidak menyadari hal itu. Walaupun demikian, gue kembali membuat harapan bahwa dia tidak berpikiran yang tidak-tidak soal kejanggalan yang terjadi.
Gue tidak peduli kalau gue sudah membikin begitu banyak harapan seharian ini. Gue, cowok yang biasanya tidak perlu mengharapkan sesuatu jika gue menginginkan sesuatu itu. Gue, si pewaris tunggal kerajaan Haas yang biasanya tinggal menjentikkan jari atau menunjuk yang hal-hal yang gue inginkan itu. Dan semua yang gue mau akan ada di sana untuk gue nikmati.
Sekarang gue sudah mulai untuk berharap. Gue tidak tahu apakah itu sebuah tanda yang baik atau malah menunjukkan suatu kemunduran. Yang jelas, gue tidak peduli. Yang gue pedulikan adalah menangkap si keparxt ini.
Gue menginjak pedal gas dan memacu Mon Chéri kembali ke sekolah karena orang pertama yang ingin gue tanyai susah pasti berada di sana. Setidaknya itu yang gue harapkan. Gue sengaja tidak memberi tahu dia soal keinginan gue untuk bertemu karena kalau dugaan gue benar, gue tidak akan bisa menemukan bxjingan itu dengan mudah.
Pesan gue akan terlihat seperti sebuah tanda peringatan buat dia.
We don't need that to happen, don't we?
Namun, gue tetap menghubungi Mario untuk memberi dia gambaran apa yang akan gue lakukan.
"So I need you guys stay behind and back me up, okay?" Gue berkata ke speaker ponsel yang sedang terhubung dengan sistem audio mobil melalui bluetooth.
"Got it." Suara Mario terdengar dan memenuhi kabin Mon Chéri. "Lo pengen kita amankan dia duluan atau gimana?"
"No, no, no. Jangan. Gue lebih suka kalau nanti gue catch him off guard. Gue mau tangkap dia pakai tangan gue sendiri."
__ADS_1
"Okay then. Whatever you want."
"Okay. See you guys at school."
Panggilan terputus.
Gue *******-***** setir mobil gue, denganmaksud untuk melemaskan sendi-sendi yang ada di sana. Kalau gue benar, gue sebaiknya mulai menyusun rencana untuk membuat hidup makhluk itu kacau. Hm. Apa yang bisa gue lakukan kepada seorang murid beasiswa yang menggantungkan seluruh harapan soal masa depannya di tangan nilai rapor dan catatan kelakuannya?
Fxcking hell. That's so god damn easy. I can almost taste the sweetness of my fxcking revenge on my tongue right the fxck now.
****
Seperti yang sudah gue tebak. Si Keparxt sedang duduk di balik meja Ketua OSIS. Gue membiarkan dia memakai meja itu, meja yang sebelumnya merupakan kepunyaan dia, karena gue tidak butuh sebuah simbol yang bahkan hanya sebuah meja sebagai bukti kalau gue memanglah murid nomor satu di SMA Taruna Nusantara.
Gue melakukan apa yang gue inginkan di sini, sementara mereka juga melakukan apa yang masing-masing inginkan di luar sana.
Whatever the fxck.
"Eh, Fionn. Gue gak tahu kalau lo datang," ucap Banyu yang tiba-tiba berdiri dari kursinya—kursi gue.
"Nah, it's okay. Gue cuma mau mampir doang kok." Gue berkilah sembari melangkah ke arah dia.
So, di dalam ruangan dengan ukuran yang lumayan besar ini—hm, empat kali empat meter, lima kali lima?—ada meja berbentuk huruf O memanjang, dengan ruang di tengahnya. Nah, gue berjalan di belakang deretan kursi-kursi itu mendekati si Banyu lalu memilih berhenti kira-kira dua langkah dari dia. Dan sekonyong-konyongnya memarkirkan bokong gue di tepi meja. Cue the pose; lengan yang bersilangan di depan dada dan kaki juga melakukan hal yang sama di pergelangannya.
Memanglah maksud gue untuk membuat dia merasa sesak. Invasion on his private space and all that. Dan memanglah tujuan gue untuk membuat dia merasa tertekan duluan sebelum gue menyerang dia.
__ADS_1
"O-oh, ya? A-apa ada yang bisa g-gue b-bantu?"
Gue tahu kehadiran gue saja bisa membuat orang-orang gugup, akan tetapi gue bisa merasakan bahwa kegugupan yang ada di dalam diri cowok berkacamata tebal ini—klise, huh?—bukan hanya berasal dari rasa canggungnya berada di dalam jarak yang terlalu dekat dengan gue. Gue bisa mengecap aroma dan rasa rasa bersalah dari dia.
"Oh, yes. Yes." Gue mengangguk dalam sembari memasang tampang merenung. "Gue ke sini memang mau minta bantuan lo. Soalnya ada beberapa hal yang bikin gue bertanya-tanya."
"O-oke. Soal a-apa? Mudah-mudahan gue b-bisa bantu."
"Yaa, memang elo harapan gue satu-satunya." Gah, kata-kata itu lagi. Harapan. Damn.
Banyu terlihat menunggu kalimat gue selanjutnya dengan ... tidak sabar. Tangannya yang kerempeng kini telah bergetar, getaran yang dia coba sembunyikan dengan mengaitkan keduanya di balik pinggang. Boleh saja si Keparxt sialan ini menyurukkan tangan kotornya itu, akan tetapi dia tidak bisa mengontrol apa yang dilakukan oleh matanya yang juga tidak tenang.
Fxck. He's such a pathetic cxnt. Kenapa seorang pengecut seperti dia berani mencari masalah dengan gue?
"Eh!"
Banyu seketika terperanjat mendengar ucapan yang sengaja gue keraskan. Dia memegang dadanya yang naik dan turun dengan signifikan.
Jangan bilang kalau si Kamprxt punya oenyakit jantung juga. Kalau iya, lengkap sudah hal-hal klise yang melekat pada dirinya. Murid pintar, nasuk ke SMA Taruna Nusantara dengan beasiswa, berkacamata tebal, bertubuh kurus dan jangkung—akan tetapi dia tetap tidak bisa mengalahkan gue, rambutnya disisir ke tepi, dan penyakitan.
Shxt. Gue tidak punya urusan dengan orang-orang penyakitan dan apa pun itu, akan tetapi maksud gue di sini adalah nasib si Kamprxt Banyu ini tidak lebih dari sebuah kumpulan hal-hal klise yag selama ini kita lihat di layar televisi. Gue benar-benar tidak menyangka kalau orang seperti itu memang betul-betul ada.
Okay, then. I think the based on true something kind of thing is a real deal.
Bersambung ....
__ADS_1