Pacar Bayaran Abang Ketos

Pacar Bayaran Abang Ketos
41. Something Stupid


__ADS_3

Kimaya


Ya, Tuhan. Apa yang sedang terjadi? Belum lagi habis rasa terkejutku oleh teriakan Fionn yang sungguh membahana di dalam kabin mobilnya yang kecil ini, sekarang sudah ada kejadian yang membuat aku kembali terperangah.


Fionn sedang mengobrol dengan mobilnya. Maksudku, dia benar-benar berbicara dengan benda mati ini. Mobil yang diberi nama Mon Chéri—aku berasumsi bahwa Mon Chéri itu adalah nama si Mobil yang diberikan oleh Fionn berdasarkan warnanya, itu. Dia berbicara dengan lembut sekali, tepukan-tepukan yang mendarat di atas kulit yang melapisi setir mobil ini juga sangat, sangat, sangat pelan.


Berbanding terbalik dengan apa yang dia lakukan padaku barusan. Dia benar-benar menyulut emosiku lagi. Aku tidak jadi merasa bersalah karena telah membanting pintu mobil yang aku taksir harganya pasti jauh melebihi jumlah aset ditambah utang keluarga kami.


Aku akui bahwa aku telah berbohong. Aku bukannya tidak sengaja menghempaskan pintu mobil, akan tetapi aku sengaja melakukannya karena terlalu kesal dengan ulah Fionn padaku. Cowok baik-baik mana yang menyapa cewek, terlebih lagi cewek itu adalah pacarnya meskipun gadungan, dengan lambaian tangannya seperti sedang memanggil seekor binatang, kan? Maka kuhempaskan saja pintu mobilnya biar gaduh. Malah jadinya benar-benar rusuh.


Dan sekarang si Fionn masih saja mengelus-elus Mon Chéri kesayangannya.


Dasar GGS. Ganteng-ganteng sinting. Ganteng-ganteng suka ngomong sendiri.


****


Fionn


Kimaya hanya diam saja. Dia bahkan tidak menengok gue setelah gue meminta maaf tadi. Shxt. Kenapa sekarang gue yang menjadi merasa bersalah sama dia, sih?


Fxcking hell. I don't like this weird feeling inside my chest, like at all. Gue tidak suka dengan apa yang gue rasakan sekarang. Di dalam dada gue ada sesuatu yang membuat gue merasa resah dan gelisah. Sesuatu yang ingin membuat dia melihat ke arah gue lagi.


What in the ever loving fxck is happening right now?


Gue membelokkan Chéri ke arah tepi pantai. Dari sudut mata, gue bisa melihat Kimaya mencuri pandang ke gue sekilas, akan tetapi dia tidak mengatakan apa-apa. Gue terus mengarahkan mobil ke tempat yang ada di ujung persimpangan. Setelah memarkirkan mobil si tempat tujuan, gue menyuruhnya untuk turun. "Yuk, turun."


Ketika dia tidak bergerak dan tidak memedulikan gue sama sekali, gue mengulang ucapan gue sekali lagi. Kali ini dengan lebih keras. "Kim. Yuk, turun."


Dia akhirnya menjawab. "Lo kalau mau turun, ya, turun aja sendiri."

__ADS_1


Okay, that was not what I wanted to hear. "Come on. Makan dulu, yuk. Gue lagi pengen seafood, nih. Percaya atau enggak, gue lagi-lagi gak makan siang di kantin tadi." Gue tidak bermaksud untuk melakukan guilt tripping ke Kimaya, akan tetapi kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut gue. Sialan! Mulut gue kadang-kadang minta disekolahin juga kayaknya.


Beberapa waktu berlalu sebelum gue mendengar cewek gue itu mendesah. Tanpa ba bi bu Kimaya membuka pintu mobil dan ke luar.


Tangan gue otomatis terjulur untuk menahan pintu agar tidak kembali terayun dengan keras. Kimaya menoleh ke belakang pada saat yang bersamaan karena merasakan tekanan di pintu tersebut.


Just my luck. Dia mengirimi gue sebuah kerlingan penuh dengan kegeraman. What the fxck is wrong with me?


****


Bu Deb langsung semringah ketika dia melihat gue masuk. "Boy! Long time no see."


Gue memutar bola mata. Padahal gue baru dari sini hari Jum'at yang lalu.


"Duduk, duduk. Tempat kalian biasa udah kosong kok. Hey!" Mata Bu Deb jadi tambah bersinar ketika dia melihat siapa yang mengikuti gue di belakang. "What do we have here, huh?" katanya merujuk kepada Kimaya.


Gue menoleh, menangkap Kimaya yang sedang menyisipkan rambut hitam panjangnya nan lurus, lebih lurus dari jalanan yang paling lurus itu ke belakang telinganya. Dia kemudian menunduk, menyembunyikan wajah tirusnya dari pandangan wanita paruh baya di depan kami karena malu.


"Bu Deb, kenalin. Ini Kimaya. Pacar gue."


Mata Bu Deb membelalak. Besarnya mengalahkan piring alas mangkok yang sedang berada di dalam pegangannya. "Pacar? Seriusan ini pacar kamu?" Dia serta-merta mmenepuk pundak gue dengan bangga. "Gini, dong. Cari cewek yang benar. Jangan kayak si Alda itu. Biarpun dia kembarannya si Aldi, tapi Ibu gak setuju kalau kamu sama dia. Gatelnya kebangetan."


****


Kimaya


Alda? Kembarannya Aldi? Aldi temannya si Fionn? Dia punya kembaran? Hm.


Aku sibuk mengunyah-ngunyah informasi ini di dalam kepalaku sehingga aku melewatkan apa yang diucapkan oleh wanita paruh baya yang berdiri di depan kami. Saat dia melihat Fionn masuk, bibirnya langsung merekah dengan senyuman. Tampaknya dia adalah salah satu penggemar si cowok GGS.

__ADS_1


"Kim." Fionn tahu-tahu menyikut lenganku.


Sentuhan itu sekonyong-konyongnya memfokuskan perhatianku lagi kepada kini dan sekarang. "Ya?" Aku menoleh padanya.


"Itu, Bu Deb mau kenalan."


"Ah, iya." Aku tersenyum ke arah wanita yang disapa Bu Deb itu. "Hai, Bu Deb. Aku Kimaya. Salam kenal."


"Kimaya, Kimaya, Kimaya. What a pretty name for a pretty girl." Bu Deb menyambut uluran tanganku. "Kalau si Kunyuk ini nakal, kamu kasih tahu Bu Deb, ya. Biar Bu Deb yang kasih dia pelajaran."


Ah, sepertinya aku akan berteman baik dengan Bu Deb ini. "Baik, Bu."


"Ah, Ibu apa-apaan, sih? Gue mau nakal gimana coba?"


Bu Deb sekonyong-konyongnya langsung mendaratkan telapak tangannya di kepala Fionn. Aku dibuat ternganga oleh interaksi itu.


Ternganga dan terkagum-kagum dalam waktu yang bersamaan.


"Nakal gimana? Jangan sok suci kamu! Bu Deb punya daftar hitam kelakuan kalian, ya. Jadi jangan coba-coba mengecoh Ibu. Awas aja. Kalau kamu jahatin si Kimaya tapi dia gak lapor Ibu, Ibu bakal cari tahu sama informan Ibu. Ingat itu."


"Informan siapa maksudnya, heh? Si Mario? Ibu pikir si Mario peduli apa sama urusan gue dan Kimaya? Kagak kali, Buuu." Fionn mengibaskan tangan di depan wajahnya sendiri.


"Heh!" Kutampar tangan yang masih mengambang si udara itu. Tidak hanya tingkah lakunya saja yang tidak kusuka, cara berbicaranya pada Bu Deb juga tidak bisa kuterima. "Kalau ngomong sama orang tua itu yang sopan!"


Fionn menoleh padaku dengan dahi yang berkedut. "Apa-apaan, sih, Kim. Kok lu main pukul-pukul gue aja?"


Namun, berbeda dengan Fionn, Bu Deb menanggapi sikapku dengan kakahan yang keras. Saking kerasnya, beberapa pengunjung dan pegawai yang ada di tempat ini serta-merta menengok ke arah kami. "Ibu suka sama cewek kamu. I really like her. She's a keeper. Don't do anything stupid, tou hear me? Don't lose her."


Aduh, Ibu. Andai saja Ibu tahu bahwa kami sudah melakukan hal bodoh meski tidak seperti yang Ibu maksud.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2