
Fionn
Dia akhirnya menyerah saat gue meminta dia memberikan ponselnya ke gue. Gue kembali membuka aplikasi yang menjadi tempat orang-orang di seluruh dunia berbagi snippet of their life, as fake as it is, dengan bebas. Gue menulis nama gue di laman pencarian dan segera menyentuh opsi follow. Di ponsel gue, gue membuka notifikasi dan juga menyentuh opsi follow back.
Done.
"Udah. Post satu foto lo di sana, gih!" Gue menyuruh Kimaya yang masih duduk tenang san tanpa suara di hadapan gue.
Baru saja mendengarkan perintah gue, hidungnya seketika mengernyit. "Dih! Post foto apaan? Gue gak punya foto yang bagus. Gue gak suka foto-foto!" seru Kimaya selayaknya mengambil foto adalah sesuatu yang sangat menjijikkan seperti penyakit kulit yang menular.
Apa, sih, masalah cewek ini? Dia sebenarnya manusia atau alien, sih? Jauh banget bedanya sama cewek-cewek yang pernah gue temui. Biasanya cewek-cewek seusia kami mempunyai hobi yang sama; mengambil foto selfie dengan berbagai gaya dan dari berbagai angle. Apalagi dengan banyaknya aplikasi pengambilan foto, mereka melakukannya juga dengan berbagai filter. Ponsel mereka selalu berada di dalam genggaman.
Namun, tidak dengan gadis ini. Dia benar-benar aneh. Dia benar-benar terlahir dari keturunan yang berbeda.
Come the fxck on, Fionn. Seharusnya lo sudah menyadari ini dari tadi. Kimaya memang bukan seperti tipikal cewek yang biasa lo hadapi.
Ah, iya. Gue betul-betul harus selalu mengingat hal ini.
Oke, deh, kalau begitu. Gue rasa gue harus tkae this matter into my own hand. "Ya, udah. Kalau gitu Instagram lo gue aja yang pegang." Gue memberikan ponsel butut itu kembali ke its respectable owner. Untung layarnya masih utuh dan berfungsi. Kalau sempat layarnya retak sedikit saja, gue sudah banting itu ponsel dari tadi.
Fiuh. Gue mungkin harus membelikan cewek ini ponsel baru. Seenggaknya yang setipe dengan yang gue pakai sekarang. Hm. Idenya boleh juga.
Seperti yang sudah-sudah, Kimaya merasa harus mempertanyakan keputusan yang gue ambil. Sekonyong-konyongnya dia langsung melancarkan aksi protes. "Kenapa? Kenapa lo yang pegang akun gue? Kan, itu gue yang punya!"
Gue lagi dan lagi harus menghirup napas dalam-dalam demi menenangkan gejolak di dalam dada. Sekali. Dua kali. Oh, my fxcking God. Selesai berurusan dengan cewek ajaib ini bisa-bisa gue bakal jadi orang yang paling sabar di dunia. "Come on, Kim. Tadi katanya lo gak mau bikin akun karena buang-buang waktu. Iya, kan? Terus pas gue suruh upload foto, lo bilang lo juga gak punya foto sendiri dan gak suka foto-foto. Nah, sekarang gue nawarin diri untuk mengurus semuanya sendiri, lo juga malah marah-marah sama gue. Mau lo apa, sih, sebenarnya? Ha?"
Dia tergugu. Digigitnya bibir bawah yang berwarna merah muda alami itu. Mata gue seketika saja memusatkan penglihatan pada area yang sedang di-abuse oleh Kimaya.
Sialan. Kenapa gue jadi ikut-ikutan tertarik sama bibir dia, sih? Kenapa gue juga jadi pengen menggigit bibir dia, ha? Pasti itu bibir masih suci, masih belum pernah disentuh laki-laki. Pasti cewek di depan gue ini belum pernah punya pengalaman apa pun sama lawan jenis. Iya, kan? Hm. Apa suatu saat nanti gue boleh menjadi yang pertama buat dia? Gue jadi penasaran sama jawaban dari pertanyaan gue barusan.
"O-oke."
Karena terlalu sibuk berenang di pikiran kotor di dalam otak gue, gue hampir saja melewatkan jawaban yang dibisikkan oleh Kimaya. Well, apakah dia baru saja bilang oke? Apa yang dia oke-kan? Apakah oke tersebut menjadi jawaban dari pertanyaan gue yang gue ucapkan dengan bibir gue atau yang masih melayang-layang di dalam kepala gue?
Damn it to hell! Kenapa tiba-tiba gue jadi excited begini? Kenapa darah gue bergejolak karena alasan yang lain? Kenapa hati gue jadi menari-nari setelah mendengar satu kata oke yang diucapkan oleh Kimaya dengan lirih itu.
Fxxxxxxck! Pikiran gue jadi ke mana-mana karena bibir merah muda yang masih saja diapit oleh giginya itu.
Woy, Fionn! Get yourself together, man! Sebelum ada organ lain yang bangun dan ikut-ikutan excited. Kita gak mau menciptakan sebuah kesan yang buruk di hari pertama ini, bukan?
Hm. Iya juga, ya?
So, get it fxcking together.
Okay, then. Gue memberikan sebuah hormat kepada setan di kepala gue karena sudah mengingatkan.
__ADS_1
"Good, good." Gue mengangguk. Demi terlihat tulus dan menghargai, gue juga menambahkan ucapan terima kasih sesudah itu. "Terima kasih banyak atas kepercayaan lo ke gue."
Gue langsung menambahkan akun Instagram Kimaya ke dalam aplikasi di ponsel gue. "Udah." Gue memberi tahu dia. "Lo bisa cek apa yang gue posting di sana lewat hape lo sendiri. Kalau ada yang kurang lo suka, lo bjsa bilang ke gue. Tapi, gue akan usahakan agar tidak ada yang terlihat janggal. Kita pengen membuat semuanya terlihat nyata, after all. So ... yeah. Gue akan coba post something serealistis mungkin. Kalau lo ada saran buat caption juga gak apa-apa. Kalau lo mau post sendiri juga gak masalah. Oke?"
Kali ini Kimaya hanya mengangguk.
What the hell? Kenapa gue merasa agak sedikit aneh ketika Kimaya tidak mengatakan sesuatu? Apakah yang gye rasakan itu adalah ... rasa kecewa? What? Kenapa gue harus kecewa?
Oh, shxt.
Apakah gue baru saja mempertanyakan sesuatu yang terjadi di dalam diri gue sendiri? Apakah gue sudah mulai bersikap aneh, bertingkah yang di luar kebiasaan? Apakah otak gue juga sudah mulai melahirkan banyak pertanyaan?
Siaaaaaal. Jangan bilang gue sudah tertular penyakit cewek ini. Jangan bilang kalau gue sudah tertular banyak tanya dari Kimaya.
Fxck no.
I think it's time for me to get the hell out of here.
"Okay, then. I think everything is set. Nanti kalau ada apa-apa, gue bakal kabarin lo." Gue mulai berdiri.
"Kabarin gue lewat apa?" Kimaya tiba-tiba saja bersuara. Entah kenapa dia memilih untuk mengakhiri aksi diam seribu bahasanya sekarang.
"Ya, lewat chat lah. Masa gue harus kirim surat atau merpati pos ke sini dulu buat ngabarin lo?" Gue bermaksud untuk melawak, akan tetapi tampaknya malah gue yang berakhir jadi bahan lawakan.
Fionn
Oh, yeah. This shxthole. Oops!
Meski bersungut-sungut, gue berhasil memaksa dia untuk men-download aplikasi itu dan membuat sebuah akun.
"Dah, nih." Kim menyatakan. Dia mencibir, bibirnya sampai monyong hingga lima sentimeter.
"Follow akun gue. Nanti gue bakal follow balik," perintah gue sambil mengecek feed di akun gue. God damn, Wulan Guritno hot banget di poster seri terbaru yang dia bintangi. Boleh juga buat gue tonton nanti, nih. Hitung-hitung memberikan kesempatan kedua kepada tayangan di Indonesia lah. Iya, kan? Karena semenjak dulu gue memang kurang begitu suka sama apa yang dibikin oleh sineas di sini. Serba tanggung.
Film horor nanggung banget horornya, malah kebanyakan menampilkan cewek segsi yang bikin itu film jadi tidak jelas. Di film komedi juga begitu. Genre selain itu, bintangnya malah sama semua. Pas gue lihat poster film atau seri, gue sudah capek duluan karena melihat muka yang sama berkali-kali. Ketemu dia lagi, dia lagi.
But, wait. It's just my honest opinion, ya. Seperti yang gue katakan, gue sudah lama berhenti untuk menonton film atau seri yang dibuat oleh anak negeri. Pardon my French, akan tetapi gue tidak suka melakukan hal dengan setengah-setengah. Gue lebih memilih untuk melakukan sesuatu yang besar dan berdampak. Karena hal tersebut akan membawa nama gue bersamanya.
What the hell am I talking? Shxt. Back to the task at hand.
Dengan mata masih terpaku pada skrin ponsel Samsung S23 Ultra yang gue punya, gue masih belum melihat adanya notifikasi yang mengatakan bahwa akun baru punya Kim sudah mengikuti akun gue. Oleh karena itu, gue menengadah dan menemukan Kimaya dan ponselnya duduk bersebelahan. Dia tidak sedang memegang benda butut itu.
Siapa di zaman sekarang yang masih memakai ponsel generasi awal produk iPhone itu? Dia benar-benar menyedihkan.
"Kok lo belum follow gue, sih?" ujar gue dengan sedikit kesal. Gue sudah menunggu dari tadi dan ternyata dia cuma duduk di sana dan tidak melakukan apa-apa.
__ADS_1
"Gue gagal paham kenapa gue harus bikin akun Instagram juga. Emangnya apa perlunya gue punya akun ini, ha? Kenapa lo jadi maksa gue buat bikin satu?"
Oh, my fxcking God! Dasar cewek sialan. Apa gue harus menjelaskan semua alasan atas keinginan gue sama dia? Fxck her big and comical eyes. Fxck her expressive body language. Her curious and logical mind is really getting on my nerves. Fxcking hell!
Gue berharap gue bisa bilang fxck it dan tinggalin her clever xss di dalam rumahnya yang sempit dan suram ini. Gue berharap gue tidak berurusan dengan cewek-cewek pintar macam dia yang juga pintar membuat semua hal menjadi rumit karena kepintarannya. Namun, tidak. Gue tidak bisa melakukannya. Kalau bukan karena otak encernya itu, apa yang sudah gue rencanakan tidak akan berjalan dengan maksimal.
Jadi, gue harus bisa menahan hati dan melapang-lapangkan jiwa dalam menghadapi cewek yang satu ini. Lagi pula, dia akan menjadi satu-satunya cewek pintar dan nyolot yang akan gue hadapi di kehidupan gue. Gue tidak akan berurusan dengan tipe cewek seperti dia lagi di masa depan.
Inilah alasannya kenapa gue tidak mau mempunyai kepentingan dalam bentuk apa pun dengan orang-orang pintar, khususnya cewek. Gue tidak punya waktu untuk menjawab semua pertanyaan yang dilahirkan oleh otak serba ingin tahu mereka. Kenapa begini? Kenapa begitu? Gue juga tidak mempunyai kesabaran yang cukup untuk meladeni tuntutan mereka. Kamu seharusnya begini. Kamu seharusnya begitu.
Argh!
Dan itulah alasannya kenapa gue lebih senang melibatkan diri gue dengan cewek-cewek seperti Alda. Mereka bisa dibilang easy to take care of. Ketika gue pengen, gue tinggal menghubungi dia, siram dia dengan sedikit kata-kata manis semanis madu, dan voilá! Dia akan langsung meleleh dan mau melakukan apa saja buat gue. Tidak akan ada pertanyaan kenapa. Tidak akan ada perdebatan. Tidak akan ada penjelasan. Sat set sat set, selesai. Tujuan gue tercapai dan mereka akan dengan tidak sabar menunggu ajakan gue selanjutnya.
Easy peasy.
Sudah gue bilang berkali-kali kalau gue suka urusan yang gampang.
Tidak seperti yang sedang gue hadapi sekarang. Shxt.
Gue terpaksa harus menghela napas panjang untuk mendinginkan darah yang sudah mulai menggelegak di dalam tubuh gue. Gue tidak bisa meledak di depan Kimaya sekaeang, saat semuanya masih terlalu baru. Gue harus tetap berusaha menggigit lidah dan terlihat seperti gue orang yang benar-benar tulus ingin mendapatkan nilai yang bagus. Gue harus terlihat seperti seseorang yang berambisi untuk betul-betul ingin menjadi seorang ketua OSIS yang sejati. Pemimpin yang menginginkan semua yang terbaik untuk teman-teman sejawatnya.
Meh. Gue hanya ingin membuktikan kalau gue akan selalu menjadi yang nomor satu di mana pun gue berada.
Gue mengubah cara duduk gue. Gue balikkan kursi yang sedari tadi sudah gue kangkangi untuk kembali ke posisi yang benar. Lalu, dengan sedikit dorongan, gue membuat kursi itu bergulir mendekat ke arah Kimaya yang masih duduk di tepi kasurnya. "Kimaya, listen to me carefully. Okay?" Gue menatap matanya. Gue tunggu sampai dia menjawab.
Dia hanya menganggukkan kepalanya sekali.
Itu sudah cukup buat gue. Setelah gue mendapatkan perhatian penuh dari cewek itu, gue akhirnya melanjutkan. "Anak zaman sekarang itu lebih banyak mengisi waktu mereka di dunia maya, ya. Saking lamanya mereka berada di sana, mereka jadi lupa akan dunia nyata. Mereka jadi berpikiran bahwa yang ada di dalam internet, yang mereka lihat di postingan media sosial adalah realita yang sesungguhnya. Kalau gak di-share di media sosial, berarti sesuatu itu gak benar-benar terjadi.
"Dan gue ingin membuat apa yang kita lakukan ini terlihat sangat, sangat, sangat real. Gue tidak ingin mereka beranggapan sedikit pun kalau kita cuma pacaran bohongan. Gue tidak ingin ada celah yang dapat membuktikan kalau apa yang lo dan gue punya itu cuma rekayasa belaka demi tugas gue. No, no, no. Gue gak pengen itu terjadi. Dan semuanya semata-mata karena gue ingin, apa pun yang gue lakukan, gue melakukannya dengan sempurna.
"So, dengan beberapa pertimbangan itu, Kim, gue mohon lo mau melakukan apa yang gue minta dengan senang hati. Agar semua urusan kita berjalan lancar. Kalau semuanya lancar, lo dan gue juga sama-sama senang, kan?"
Bersambung ....
"Oh, iyakah?" tanya gadis itu dengan mata yang berkilat. "Lo mau chat gue?"
"Of course!" Gue lantas menjawab. "Gue pasti mau lah nge-chat elo. Lo, kan, pacar gue. Masa gue gak nge-chat pacar sendiri, sih?"
"Seriusan lo, ha?" Dia malah semakin menggoda gue. "Tapi, omong-omong, lo mau chat gue pakai apa? Lo, kan, belum punya kontak gue."
Ah, shxt. Benar juga, ya. Sialan cewek ini.
"Lagipula, gue gak ingat udah iyain kesepakatan ini. Gue serius nanya, kapan gue pernah bilang oke untuk semua penawaran lo?"
__ADS_1
Fxcking hell, this girl!
Bersambung ....