
Kimaya
Apa yang baru saja dia katakan? Apa yang cowok yang dipanggil Bu Deb dengan sebutan kunyuk ini baru saja katakan? "Maksud lo tugas dari Pak Mul apa? Tugas dari Pak Mul, Pak Mulyono ayah gue? Pak Mul yang guru matematika? Ha? Fionn, jawab! Pak Mul yang mana?"
Sebenarnya jawaban dari semua pertanyaanku itu sudah jelas. Iya, Pak Mulyono ayahku. Iya, Pak Mul yang merupakan guru matematika. Iya, Pak Mulyono yang itu. Karena hanya ada satu Pak Mulyono di SMA Taruna Nusantara.
Sinting, dia benar-benar sinting kalau detail ini luput dari ingatannya. Bagaimana bisa dia lupa menyebutkan padaku siapa yang memberinya tugas? Bagaimana aku bisa lupa untuk menanyai apa tugas yang harus diselesaikan tersebut?
Ya, Tuhan! Pantas. Pantas saja Ayah terlihat seperti mengetahui sesuatu. Pantas saja gelagat Ayah terlihat seperti tadi. Dia sudah curiga dengan kedekatan kami yang tiba-tiba. Dia sudah mencurigai adanya sesuatu di balik hubungan aku dan Fionn. Dia sudah pasti menduga bahwa apa yang ada di antara aku dan si Kunyuk ini pasti ada kaitannya dengan tugas itu.
"Ya, Tuhan, Fionn!" Aku kembali menyebut namanya dengan setengah berbisik dan setengah berteriak. Rasanya ingin aku meneriakinya dengan benar, akan tetapi aku tidak bisa. Tidak di tengah-tengah Crusty Deb yang ramai. Tidak di depan Bu Deb yang pasti sangat menyayangi si Fionn ini. "Pantas aja ayah gue sikapnya gitu."
Dia malah cengengesan. Sambil menggaruk-garuk tengkuknya yang sudah bisa kupastikan tidak gatal sedikit pun, Fionn menjawab, "Heh. Iya. Makanya. Sorry."
Eerrrr. Kugenggam erat-erat tangan yang ingin meremas cowok itu.
Pada saat itulah Bu Deb memilih untuk muncul di meja kami dengan membawa satu buah piring berada di setiap tangannya. "Hey, kiddos. Sorry menunggu lama. Ibu harus memastikan semua alat masak yang dipakai untuk membuat nasi goreng seafood untuk Kimaya bebas dari kontaminasinya bahan penyedap masakan. Sekarang enjoy your food." Wanita paruh baya itu meletakkan masing-masing pesanan di depan kami.
Hm. Nasi goreng seafood untukku terlihat sangat menggiurkan. "Terima kasih banyak, Bu," ungkapku untuk makanan dan sikapnya yang penuh pertimbangan. Aku tidak akan berbasa-basi dan mengatakan bahwa Bu Deb tidak perlu melakukan apa yang dia bilang tasi dia lakukan, akan tetapi itu adalah sebuah omong kosong. Dia memang harus memaatikan hal tersebut demi kebaikan pelanggannya.
"It's okay, Darling. Panggil Ibu kalau ada apa-apa, ya. See you guys soon." Dengan begitu Bu Deb melangkah pergi.
Aku memusatkan perhatianku lagi pada Fionn. "Kalau gini ceritanya kita harus benar-benar ekstra kerja keras untuk meyakinkan Ayah kalau lo gak deketin gue cuma karena tugas lo itu. Oke? Kita harus mulai kerjain semua tugas bareng-bareng."
"Say what?"
__ADS_1
"Say what, say what aja lo! Ya, iya lah kita harus gitu, Fionn! Lo mau ayah gue curiga dan menarik nilai yang udah dia kasih, ha? Lo mau gak jadi bisa ikut pemilihan? Bukannya itu yang lo mau?" lanjutku.
"Iya juga, sih. Tapi ...." Fionn tampak ragu-ragu. Kenapa dia harus ragu-ragu?
"Tapi apa?"
Untuk beberapa saat dia hanya terdiam sebelum akhirnya mengungkapkan, "Ah, gak apa-apa. Oke lah kalau begitu."
****
Fionn
Gue tidak mungkin mengatakan kalau gue tidak ingin sering-sering ke rumahnya Kimaya, kan? Nanti, kalau gue mengatakan hal seperti itu, dia pasti akan selalu mempunyai pertanyaan lanjutan. Kenapa? Apa alasannya? Dan gue tidak bisa bilang kalau gue tidak ingin melihat ibunya dengan kondisi yang ada sekarang.
Namun, mau tidak mau gue harus melakukannya. Kimaya benar, Pak Mul akan dengan mudah membatalkan nilai yang sudah diberikannya kepada gue kalau-kalau dia bisa membuktikan bahwa apa yang gue dan anaknya lakukan hanya sebuah transaksi. Gue tidak bisa membiarkan itu terjadi. Makanya gue akhirnya menjawab oke.
I guess I just have to bite my tongue and face it like a Haas that I am. Seorang Haas tidak akan gentar hanya karena melihat ibu-ibu kurus yang tergeletak tak berdaya di atas tempat tidurnya.
"Eum!" Kimaya berseru dengan mulutnya yang tertutup. Dia sibuk mengunyah sesendok nasi goreng yang baru saja dia masukkan ke dalam mulut. "Enak banget." Dia berkomentar setelah gue lihat berhasil menelan makanan tersebut.
"Iya lah enak. Kalau mau yang enak-enak, lo bisa tanyain ke gue aja. Gue tahu semua."
She fake gag almost immediately. "Iyuh. Kalimat itu kotor dan menjijikkan banget ke luar dari mulut lo," katanya dengan muka yang serba berkerut. Keningnya berkerut. Hidungnya mengerut. Bibirnya juga juga mencong-mencong ke segala arah.
Gue hampir saja tersedak pasta yang baru saja gue masukkan ke mulut gue. Sialan cewek ini. Cepat-cepat gue menjangkau gelas tinggi yang berisi air putih di atas meja. "Sialan lo." Di kalakian kata-kata itu gue ungkapkan juga. "Otak lo aja yang gak beres. Masa gue ngomong sesuatu hal yang innocent itu aja sampai bisa lo kualifikasikan sebagai sesuatu yang jorok. Aneh emang."
__ADS_1
"Bukan gue yang aneh, Kunyuk. Tapi, mulut lo aja yang emang kotor." Dia menjulurkan lidahnya sekilas ke arah gue.
Nah. Sekarang lihat siapa yang jorok.
Suasana kembali hening untuk sejumlah kala. Kami menggunakannya untuk menikmati makanan kami.
"Eh, Fionn." Kimaya kembali membuka mulutnya, akan tetapi bukan untuk makan. "Gimana? Lo udah jadi daftar buat pemilihan ketua OSIS itu?"
"Belum." Gue menggeleng sedikit sebelum mengambil satu potongan udang terakhir di piring gue dan menyapu sisa-sisa saus pasta yang ada dengan potongan tersebut. Setelah puas dengan apa yang gue dapatkan, gue menyantap the last bit of my meal with a gusto. "Rencananya besok," lanjut gue sebelum menelan.
Ah. Crusty Deb never fails my taste.
"Oh, oke." Dia berucap. "Gue benar-benar berharap lo bisa menang."
Kali ini giliran gue yang memandangi dia dengan muka yang kepang-kepot. "Serius lo? Yakin?" I mean, like she cares so much about that election and me winning. Right?
"Eh-hm." Kimaya mengangguk. Dari bahasa tubuhnya, gue nilai dia mengatakan hal itu dengan tulus.
"Why?" Gue tidak tahan untuk tidak menanyakan hal itu. "Why do you care?" Gue bertanya apa alasan yang membuat dia begitu peduli dengan hasil pemilihan.
Cewek di seberang meja mengedikkan bahunya. Lagi. Entah sudah berapa kali dia melakukan itu selama kami di sini. Setelah mengamati lebih saksama, gue rasa itu adalah salah satu bahasa tubuh yang sering dia gunakan demi membuat kesan bahwa dia tidak terlalu peduli akan sesuatu, meskipun pada kenyataannya adalah hal yang sebaliknya. "Gue peduli karena gue yakin lo bisa melakukan apa yang sebelum-sebelumnya tidak bisa dilakukan oleh pengurus OSIS lama. Kenapa? Karena lo punya kekuatan untuk itu. Karena sebenarnya di sekolah kita itu hanya ada satu pemimpin. Elo. Ketua OSIS hanya ada sebagai jabatan simbolis aja. Yang pegang kendali selama ini tetap elo. Jadi, ya, kalau elo dan ketua OSIS adalah orang yang sama, maka tidak ada lagi yang bisa menghalangi jalannya program organisasi itu."
Well, dia tidak salah. Sudah saatnya gue memperlihatkan siapa orang yang nomor satu di SMA Taruna Nusantara.
Bersambung ....
__ADS_1