
Fionn
Kaki kursi mengeluarkan bunyi yang lumayan nyaring saat gue menggeser kursi tersebut ke belakang untuk berdiri.
"Bro, mau ke mana lo? Makan siang lo masih banyak, woy! Gak dihabisin dulu?"
Tanpa melihat pun, gue sudah tahu kalau itu suara Hamish. "Gue out. Udah kenyang," jawab gue singkat dan berbalik.
Gue bisa mendengar rutukan dan perdebatan yang dilakukan dengan setengah berbisik setengah berteriak nan terjadi di balik punggung gue. Namun, gue tidak bisa menemukan sesuatu di dalam diri gue untuk peduli dengan apa yang mereka bicarakan.
Karena sejujurnya gue memang tidak peduli dengan mereka.
Persetan dengan orang-orang itu.
Namun, baru beberapa langkah menjauh, gue sudah bisa merasakan kehadiran orang-orang di belakang gue lagi.
"Mau ke mana, nih?" tanya Mario dengan tenang.
Pertanyaan itu dijawab oleh Hamish yang sudah terlebih dahulu merasa girang. Kegembiraan yang dia rasakan sudah menjalar ke suaranya yang tinggi dan tidak sabaran. "Ya, ke Antlantis lah. Ke mana lagi?"
Atlantis adalah sebuah tempat hiburan di tepi pantai yang penuh dengan stan-stan makanan dan permainan. Tempat yang selalu kami kunjungi. Baik untuk makan, bermain, atau hanya sekadar hangout dan ingin menukar suasana.
"Oke."
Kami masih terus berjalan menuju loker masing-masing.
"Eh, man. Sorry. Gue gak bisa nahan emosi lihat kelakuan si Alda. Itu anak selalu aja bikin ulah, gak ngerti juga gue harus gimana sama dia." Aldi, yang gue tebak berjalan di samping kiri gue, tiba-tiba buka suara.
Dia selalu minta maaf sama gue untuk kelakuan saudara kembarnya itu. Hal ini bikin gue jadi berpikir; apakah si Alda pernah minta maaf sama si Aldi soal apa yang sudah dia lakukan di belakang saudara kembarnya itu? Apa dia pernah sedikit saja merasa bersalah soal pertemuan rahasia kami?
Hah. Gue tidak yakin si Alda mempunyai tulang bernama rasa bersalah di dalam tubuh yang telah berulang kali gue nikmati itu.
Nope. Gue yakin si jxlang tidak peduli dengan perasaan si Aldi.
__ADS_1
Begitu pun gue.
Well, what can I do about that? Or, the real question is what do I want to do about that?
Meh. Nothing.
Gue hanya bergumam sebagai tanda kalau gue mendengar ucapannya.
****
Setelah mengambil tas, berjalan ke tempat parkir, dan menaiki mobil masing-masing, kami cabut dari sekolah tidak peduli dengan jam pelajaran yang masih tersisa.
Dua buah buku tebal sialan itu memberikan beban yang sangat berat di dalam backpack gue. Fxcking hell. Kenapa gue harus terjebak dalam situasi seperti ini, sih?
Setelah memacu kendaraan di jalan yang lumayan lengang, gue mengambil belokan terakhir dan segera memarkirkan Cheri di salah satu spot yang paling dekat dengan bangunan Crusty Deb, restoran yang menyajikan hidangan dari makanan laut paling enak di seantero kota.
Gue masuk ke dalam tanpa menunggu Mario, Hamish, dan Aldi sampai terlebih dahulu. Bodo amat.
Di dalam, Deb, pemiliknya, sendiri yang menyambut kedatangan gue dengan kerutan di dahinya yang sudah mulai keriput. "Apa-apaan ini?" tuntutnya setelah melihat bokong gue yang masih menggunakan seragam sekolah. "Jangan bilang kalau kalian bolos lagi."
Debby Lee mengembuskan napas panjang. Bahunya naik dan turun dengan signifikan di tubuhnya yang gempal. "Kalian ini, ya ... benar-benar." Dia menggelengkan kepalanya yang sudah penuh dengan rambut berwarna putih. "Mana yang lain?"
Gue menghempaskan diri ke salah satu meja yang ada di pojok ruangan dekat dengan jendela yang menghadap ke laut. "Bentar lagi juga sampai," jawab gue di kalakian.
Dia mengembuskan napas dan menggeleng-geleng lagi. Diletakkannya daftar menu di atas meja.
Serta-merta gelak tersembur dari mulut gue. "Apa-apaan ini?" Gue meniru perkataannya tadi sambil menunjuk ke arah buku yang bersampul kulit berwarna cokelat itu. Di depannya ada logo Crusty Deb dan tulisan MENU. "Ibu tahu kalau kami gak perlu lihat daftar menu lagi, kan? Gue masih muda, Bu, jadi urusan gampil banget buat ngafal semua menu yang ada di sini sekalian harganya. Ibu mau ngeledek gue, ya, Bu?"
Wanita yang sudah menganggap gue dan anak-anak seperti cucu mereka sendiri itu tiba-tiba melakukan hal yang tidak gue sangka-sangka.
"Ouch!" Gue mendesis. Tempelengan ibu-ibu tua ini benar-benar terasa di sekujur tubuh gue. Bisa-bisanya wanita paruh baya itu memukul kepala gue dengan buku menu yang lumayan berat itu. "What the hell? Gue salah apa, Bu Deb?!" raung gue sembari menggosok-gosok bagian kepala gue yang barusan disiksa.
"Jangan pura-pura bego kamu!" Dia menggerakkan tangan seakan ingin mengarahkan benda biadab itu ke arah gue lagi.
__ADS_1
Tangan gue otomatis terangkat untuk melindungi kepala gue yang sangat berharga ini. Badan gue serta-merta menunduk, mencoba menjauh dari jangkauan tangan dia. "Buset, dah. Ampun, Bu!"
"Ampun, ampun. Enak aja bilang ampun. Sini Ibu gebukin lagi biar otak kamu jalan. Anak sekolahan, tapi malah bolos mulu kerjaannya. Heran," repet Bu Debby. Dia di kalakian membanting buku itu ke atas meja.
Dari balik posisi gue, tawa sekonyong-konyongnya terlompat.
"Apaan kamu sekarang kok malah ketawa, ha?"
Tangan ibu-ibu itu kini yang mendarat di pelipis gue.
"Ih, apaan, sih, Ibu sekarang kok malah noyor pala gue?"
"Anak sialan emang," rutuk Bu Deb sambil berbalik dan berlalu.
Gue sudah tidak dapat lagi menahan tawa sehingga gue biarkan saja lepas. Sialan. Cuma Bu Deb yang bisa menghibur gue di saat gue merasa seperti ini. Cuma dia yang bisa membuat gue merasa ... agak lebih baik setelah apa yang gue lalui di sekolah.
Shxt. Gue tidak mau memikirkan itu sekarang.
Tidak lama setelah kerusuhan yang diciptakan oleh Bu Deb, Hamish, Aldi, dan Mario memasuki resto secara bersamaan.
"Woy, kalian!" Sebuah teriakan terdengar dari arah dapur. "Sini!"
Ketiga teman gue itu sontak berdiri mematung di tempatnya masing-masing. Mata mereka melebar, tidak menyangka akan mendapatkan panggilan darurat saat baru masuk ke Crusty Deb.
Dua jempol untuk Bu Deb. Entah dari mana dia bisa tahu kalau mereka baru saja datang. Kali ini gue betul-betul berusaha untuk menyembunyikan gelak karena gue tidak mau mendapat porsi tambahan dari gebukan si Ibu.
Nope. Nope. Nope. Not gonna happen.
Para dipshxts itu masih saja sempat melirik ke arah gue dengan tatapan bingung dan meminta bantuan. Gue hanya mengedikkan bahu dan melambaikan tangan.
Ogah banget gue. Silakan selamatkan diri masing-masing. Gue udah dapat jatah tadi.
"Hamish! Aldi! Mario! Get your xsses up here, right now!"
__ADS_1
Bersambung ....