Pacar Bayaran Abang Ketos

Pacar Bayaran Abang Ketos
17. Komplek Perumahan Nusa Indah


__ADS_3

Fionn


Lekas-lekas gue meletakkan barang-barang yang sudah gue ambil tadi sembarangan di atas rak di depan gue. Gue tidak peduli kalau gue tidak meletakkannya kembali di tempat yang benar. Perhatian dan kepedulian gue kini hanya berpusat pada cewek yang sedang menerima uang kembalian dari cowok yang tadi tersenyum ke arah gue.


Hm. Interaksi keduanya terlihat terlalu familier. Apakah Kimaya kenal dengan cowok itu? Siapa dia?


Gue tidak sempat menemukan jawaban dari pertanyaan gue sendiri karena Kimaya kini sudah berjalan ke luar dari toko buku.


Shxt. Gue tidak boleh kehilangan dia.


Sekonyong-konyongnya gue mengikuti jejak gadis itu dengan ikut ke luar sambil tetap menjaga jarak aman. Gue juga berhati-hati dengan gelagat gue. Jangan sampai orang-orang menganggap gue sebagai seorang creep yang ingin mencelakakan Kimaya.


Gue jelas tidak menginginkan dia celaka. Gue bisa dibilang ingin membuat dia bahagia dengan tawaran yang akan gue berikan. Because, hell to the lo! Siapa yang tidak akan senang jika diberi uang segepok?


Meski dia harus setuju untuk mengerjakan tugas gue terlebih dahulu, akan tetapi gue yakin jumlah uangnya akan sangat, sangat, sangat worth it.


Gue masuk ke mobil dan memperhatikan gadis yang kini tengah berdiri di tepi jalan itu. Apa yang dia lakukan di sana?


Tiba-tiba saja dia mengangkat tangan kanannya dan lengan yang kurus itu bergoyang-goyang. Tak lama kemudian sebuah mobil dengan pintu terbuka berhenti di depannya.


Ah, ternyata dia sedang menunggu angkot.


Well. Okay. Gue pun segera menyalakan mesin mobil.


Seperti halnya gue membuntuti Kimaya tadi, seperti itulah gue mengintili mobil berwarna hijau terang di depan gue. Sembari memperhatikan jalan, gue juga menandai mobil itu. Berjaga-jaga kalau angkot dengan nomor jurusan 114 itu sewaktu-waktu hilang dari penglihatan.


Angkotnya warna hijau terang. Nomor jurusan 114. Ada stiker yang bertuliskan "No woman no cry, no money no Honey" di bagian bawah sebelah kanan kaca belakang mobil itu.


God bless jiwa si sopir angkot karena telah menghibur gue dengan slogan yang dia tempel di sana.


Yeah, you are so very right, Pak Sopir. You got no money? No Honey for your broke as fxck xss then.

__ADS_1


Sepertinya Tuhan sedang berpihak ke gue hari ini karena tidak ada yang menjadi penghalang berarti di antara mobil angkot itu dan Cheri. Ketika dia berhenti untuk menurunkan penumpang, gue juga berhenti beberapa meter di belakangnya. Ketika berhenti lampu merah, gue selalu bisa mengejar ketertinggalan gue dan kembali berada satu atau dua mobil di belakang mobil itu.


Gue ikuti terus sampai angkot itu berhenti di sebuah simpang dan Kimaya turun dari sana. Setelah membayar, dia mulai berjalan masuk ke dalam.


Oke. Gue rasa ini simpang masuk menuju ke rumahnya. Di simpang tersebut, setelah gue menyetir lebih dekat, terdapat sebuah gapura besar dengan tulisan "Dirgahayu Republik Indonesia ke-77" yang berwarna merah dan tulisan "Komplek Perumahan Nusa Indah" yang dicat putih di bawahnya.


Hm.


Gue memutuskan untuk membiarkan Kimaya berjalan agak jauh terlebih dahulu sebelum mengikutinya dengan mobil gue. Gue tidak punya pilihan lain. Gue tidak mau ikut turun dari mobil. Selain panas yang sungguh menyengat di luar sana, sepertinya matahari sedang semangat sekali untuk unjuk gigi, gue juga tidak tega meninggalkan Cheri di tepi jalan ini sendirian. Gue tidak mau ada tangan-tangan jahil yang mencolek dia atau berpikiran untuk mengambil dia dari gue.


No, no, no. Gue tidak akan membiarkan hal buruk terjadi kepada kesayangan gue ini.


"Tenang aja, Cheri. Aku gak akan ninggalin kamu," bisik gue sambil menepuk-nepuk kulit setirnya dengan lembut dan penuh kasih sayang.


Kembali lagi ke urusan Kimaya.


Kini gue bisa mengamatinya dengan lebih baik dan secara keseluruhan. Tampilan fisiknya memang sesuai dengan yang ada di foto. Namun, sekarang gue bisa memperhatikan bahasa tubuh gadis ini.


Dari belakang, gue bisa melihat langkahnya yang tegas dan pasti dan gue juga bisa mengartikan itu sebagai wujud dari kepercayaan dirinya. She must be feeling so sure of herself. Jikalau yang dibilang oleh Aldi tadi benar adanya, berarti dia pantas bersikap seperti itu. Gue yakin gue akan lebih songong dari gue yang sekarang kalau otak gue benar-benar pintar sampai gue bisa loncat kelas sebanyak dua kali dengan gampil.


Jadilah. Sambil mengesot, si Cheri tetap bergerak mengekor langkah gadis berambut panjang di depan sana. Tak lama, dia berbelok ke kiri di depan sebuah pagar besi sederhana.


Oooh, jadi ini rumahnya. Gue mengangguk setelah melirik sekilas ke nomor yang tergantung di dinding depan.


Komplek perumahan Nusa Indah blok A nomor 20.


Gue segera menyimpan informasi itu di otak dan ponsel gue.


Tiba-tiba saja terdengar suara ketukan di kaca pintu mobil yang jelas membuat gue kaget setengah mampus. Hampir saja ponsel gue merosot dari genggaman. Saat gue menoleh ke kanan, gue bertemu dengan kening penuh kerut Kimaya.


Holy fxcking shxt. Busted!

__ADS_1


Dia mengetuk kaca pintu sekali lagi. Untuk memastikan gue mau bekerja sama, dia menggedor dengan lebih keras.


Oh, no. Cheri!


Lekas-lekas gue turunkan kaca itu sebelum dia sempat melakukan penganiayaan lagi terhadap Cheri.


"Turun lo," suruh Kimaya. Nada yang digunakannya begitu bertentangan dengan panasnya Kota Jakarta.


Tentu saja gue langsung menurut.


Di luar, Kimaya sudah menunggu dengan tampang yang serius dan posisi yang defensif.


Fxck. You can do this, Fionn. You can handle this.


Gue matikan mesin sebelum ke luar dari mobil. Gue tutup pintu dengan lembut.


Akhirnya kami berdiri berhadap-hadapan.


Gadis di depan gue termasuk tinggi, bahkan tingginya bisa dikatakan di atas rata-rata wanita Indonesia, akan tetapi tingginya itu tetap tidak ada apa-apa dibandingkan dengan seratus sembilan puluh dua sentimeter kepunyaan gue. Puncak kepalanya hanya mencapai bahu gue.


Dia mendongak agar bisa mempertahankan kontak mata kami.


Entah kenapa, dari pandangan gue, dia terlihat sangat ... cute dengan kerutan di dahi dan pangkal hidungnya.


Shxt. Bisa-bisanya gue menganggap si Kimaya cute di saat seperti ini.


Belum sempat Kimaya membuka mulut, seseorang memanggil namanya dari arah rumah. Gue seketika menoleh, kalah oleh rasa penasaran.


Seseorang itu adalah wanita paruh baya yang mengenakan rok span dan sweater lengan panjang.


Apakah wanita itu adalah ibunya?

__ADS_1


"Maya, ibumu memanggil. Silakan bawa masuk temanmu. Katanya da ingin sekali bertemu dengan pemuda itu."


Bersambung ....


__ADS_2