Pacar Bayaran Abang Ketos

Pacar Bayaran Abang Ketos
26. Semi-Final


__ADS_3

Kimaya


"Serius, deh, Fionn!"


Dia tertawa lagi. Dasar cowok sialan. "Iya, iya, iya. Gue serius, nih," katanya di antara gelak. Diembuskannya napas panjang sebelum mulai berkata-kata lagi. "Paling banter pegangan tangan doang, ah. Kita gak perlu ngelakuin yang aneh-aneh. Ngapain coba?"


Ketika dia mengatakan "yang aneh-aneh", pikiranku langsung berkeliaran ke mana-mana. Hal itu tak pelak membuat pipiku memanas.


"Woy, apaan lo, Kim? Kenapa muka lo jadi merah gitu? Jangan-jangan ... lo blushing, ya?"


Bisa kurasakan kini keseluruhan mukaku yang terbakar.


"Shxt. Sialan!" Dia tertawa terbahak-bahak. "Kenapa gitu lo? Otak lo lagi mikirin apa, sih?"


Dengan begitu, kusampaikan niatanku tadi. Kutepuk lengannya dengan keras dan cepat-cepat kabur ke arah kasur. Bukannya jarak meja belajar dan kasurku jauh juga, hanya beberapa langkah dari satu sama lain, dan kuhempaskan tubuh ke atas kasur. Terakhir, kupasang posisi yang sama lagi; tangan bersilangan di depan dada.


Dasar cowok sialan!


Lagi pula, kenapa juga otakku harus berpikiran yang aneh-aneh? Aku, kan, akhirnya jadi bahan tertawaan si Kurang Ajar ini. Huh!


"Fxck, Kim. Ternyata isi otak lo gak cuma pelajaran doang, ya. Baru tahu gue!" Dia mengungkapkan setelah tawanya agak mereda.


Yeah, right. Dia baru tahu karena dia tidak tahu apa pun sama sekali tentang aku. Ini baru pertama kalinya kami berinteraksi. Ya, Tuhan. Ini bahkan baru pertama kalinya kami bertemu!


Aku hanya mengawasi tindak dan tanduk Fionn melalui sudut mataku, memutuskan untuk tidak terlalu mengambil pusing soal sikap pemuda yang kini sudah diam dan menyumpal mulutnya yang baru saja selesai mengakah dengan biskuit gandum dengan selai cokelat kesukaanku.


Ah, biskuit yang menjadi favorit kami sekeluarga. Namun, karena sekarang Ibu sudah tidak dapat memakannya lagi, pada akhirnya aku juga memilih untuk tidak menyantap biskuit itu lagi. Aku memilih untuk membencinya. Meskipun begitu, kenyataan yang ada tidak membuat Ayah berhenti membeli dan menyetoknya di dalam lemari di dapur.


Benar-benar sial.

__ADS_1


Moodku langsung berubah seratus delapan puluh derajat karenanya. Agar tidak tenggelam oleh rasa kasihan pada diri sendiri, aku menoleh dan mengambil keputusan bahwa jalan pemikiranku harus segera diubah sebelum aku jatuh ke lubang kelinci yang dalam. "Jadi, secara garis besar, perjanjian itu bakal berisi soal kewajiban gue yang harus bantu lo ngerjain tugas dan pura-pura jadi cewek lo. Dan sebagai imbalannya, lo akan nanggung biaya kuliah gue per tahun untuk setiap bulan yang gue lalui bareng lo. Gitu, kan?"


Fionn menepuk-nepukkan tangannya untuk membersihkan telapak dan ujung-ujung jari dari remah-remah biskuit yang susah dimakannya. Karena mulutnya yang masih penuh, dia akhirnya hanya mengangguk. "Ehm," gumamnya sedikit.


"Selama gue pacaran sama lo–" Aku membuat tanda kutip di udara dengan jari telunjuk dan jari tengah, "Gue hanya harus pegang tangan lo, kan?"


"Ah!" Fionn lantas menjentikkan jari. "And of course we have to make some public appearances so people will think that what we have is pretty true." Dia menambahkan.


"Tapi, kita, kan, gak pacaran beneran. Terus kenapa harus jalan bareng juga? Lo cuma tinggal bilang sama anak-anak itu kalau lo pacaran sama gue dan gue yakin mereka akan percaya-percaya aja sama leader-nya mereka." Aku mencoba berargumen. "Mereka percaya sama lo, kan?"


"Percaya lah! Masa enggak?" Dia segera membela diri. "Tapi, bukan begitu maksud gue. Mereka bukannya bakal gak percaya. Tapi, kita yang harus meyakinkan mereka seyakin-yakinnya kalau kita beneran pacaran. Kalau enggak, ya, mereka pasti langsung tahu perihal kepura-puraan ini. Lo paham gimana keponya orang-orang sekarang."


Aku merasa bahwa dia tidak hanya membahas soal murid-murid yang ada di SMA Taruna Nusantara. Kesadaran akan hal ini membuat gue geleng-geleng kepala. Dasar Bu Pik. Bisa-bisanya dia berubah menjadi monster penuh rasa ingin tahu yang berlebihan seperti tadi. Sungguh-sungguh bikin malu.


"Ayolah, Kim. Lagak lo kayak jalan sama gue bakal jadi suatu hal yang paling mengerikan aja. Gue bakal bawa lo ke tempat-tempat yang belum pernah londatangi sebelumnya. Gue bakal traktir lo abis-abisan. Percaya, deh, sama gue. Asal lo mau bantu gue, ghe gak akan menyia-nyiakan waktu dan niat baik lo."


Aku akhirnya mendesah. Bujukannya barusan benar-benar menggiurkan. Apalagi ini bisa menjadi salah satu cara yang akan menyediakan pelarian untukku. Pelarian dari kenyataan yang sedang terjadi di rumah ini. Sekali-kali bertukar suasana bukan merupakan hal yang buruk, bukan?


Hm. Hal tersebut benar-benar terdengar sangat menarik. Belum-belum aku sudah merasakan perubahan yang begitu besar. Belum-belum, aku sudah merasa lebih ringan dan penuh dengan energi. Belum-belum, aku sudah menganggap dia sebagai temanku.


Hm. Apakah ini pertanda baik? Atau ini hanya bentuk lain dari omong kosong belaka?


Namun, aku tidak melihat langau berterbangan di sekitar kami kalau ini sungguh-sungguh hanya sebuah omong kosong.


"Oke. Jadi, ngerjain tugas, gandengan, jalan bareng ... kadang-kadang." Aku mengulang apa yang menjadi kewajibanku nanti saat menjalankan perjanjian.


Fionn tampak terdiam sejenak. "Kayaknya itu aja. Oke."


"Oke." Aku mengangguk. Setelah dipikir-pikir, ketiga hal tersebut tidaklah hal yang terlalu susah. Aku sudah terbiasa mengerjakan tugas. Walaupun aku tidak mempunyai pengalaman dalam bergandengan tangan dengan lawan jenis dan jalan bareng—lawan jenisnya selain Ayah, ya, yang seumuran denganku, aku rasa aku akan meng-handle semua itu dengan baik.

__ADS_1


Aku harus meng-handle semuanya dengan baik. Demi uang kuliahku.


Demi masa depanku.


Wow.


"Eh, by the way." Suara Fionn kembali memusatkan perhatianku padanya. "Lo punya akun media sosial, gak?"


"Ada," akuku enteng. "Gue bukan orang yang primitif banget juga, kali."


"Hm. Iya?" Dia tahu-tahu sudah mengeluarkan ponsel dari sakunya. Ponsel yang merupakan seri terbaru dari merek Android nomor satu itu. "Username-nya apa? Pake nama asli lo semua?" Kulihat jari-jemarinya menari-nari di atas layar. Setelah beberapa saat, keningnya berkerut. "Mana, ah? Gak ada." Pemuda itu memberi tahu.


"Adaaa." Aku bersikeras. "Pake nama asli gue lah."


"Gak ada, Kim. Ini gue cari, ya. Kimaya Larahati. Nah, tuh. Gak ada, kan?"


Di kalakian Fionn memperlihatkan layar ponselnya ke arahku. "Ya elah, iyalah gak ada di sana. Gue, kan, gak punya akun Instagram."


Sekonyong-konyongnya kepala Fionn terangkat. Dia ternganga setelah mendengar pengakuanku. "Maksud lo gak punya akun Instagram apaan?"


"Yaa, gue gak pernah bikin akun di sana." Aku menjawab lagi.


"Serius lo?" Pemuda itu masih saja dengan ekspresi terkejut yang sama.


"Iya, serius. Gak tertarik gue. Buang-buang waktu aja." Aku mengedikkan bahu.


"Terus, yang lo maksud dengan iya gue punya akun media sosial tadi itu apa? Platform apa yang lo pake?" berondong Fionn.


"Quora."

__ADS_1


"Apaan, tuh?"


Bersambung ....


__ADS_2