
Fionn
Sudah beberapa hari ini gue dan Kimaya bertukar pesan hanya untuk memberi tahu satu sama lain soal-soal trivial tentang diri masing-masing.
Fionn : apa makanan favorit lo?
Kimaya : hm. Apa ya?
Oh, my fxcking God. Tidak ada pertanyaan yang tidak dijawab dengan pertanyaan yang lain oleh cewek ini. Gue jadi ingin tahu apa ada pertanyaan yanh langsung dia jawab? Yeah, selain pertanyaan-pertanyaan yang ada di kertas ujian, maksud gue.
Kimaya : banyak
Kimaya : gue suka makan
Heh? Pikiran gue lantas mewujudkan bentuk tubuh Kimaya di dalam otak. Dengan badan sekurus itu?
Fionn : lo yakin lo suka makan?
Gue tidak dapat mempercayai apa yang baru saja dia ketik. Gue rasa gue harus mempertanyakan keseriusan dia dalam mengatakan hal itu.
Kimaya : sialan lo!
Gelak seketika muncul dari dalam dada gue. Dia pasti sudah bisa menebak apa yang sedang gue pikirkan sekarang.
Kimaya : mentang2 gue kurus kering begini lo jadi gak percaya kalau gue hobinya makan
Kimaya : iya kan?
Gue membalas pesan tersebut dengan sebuah emoji pria yang sedang mengangkat kedua tangannya ke arah samping sebagai isyarat tidak tahu.
Dengan secepat kilat dia membalas dengan emot si bulat berwarna oren dengan paster berbagai tanda yang menutup mulutnya.
Melihat itu gue jadi terbahak. Fxck. This girl can be so hilarious at times. But, soo complicated all the time. Satu pertanyaan gue soal makanan favoritnya saja belum terjawab sampai sekarang.
Fionn : jadi makanan favorit lo apaan sih sebenarnya?
Butuh beberapa saat sebelum balasan pesan itu kembali ke ponsel gue.
Kimaya : hm. Gue suka dessert
Kimaya : yang manis2
Kimaya : eh, tapi gak selalu juga sih
Kimaya : gue suka bosenan orangnya
__ADS_1
Kimaya : jadi ya gitu
Kimaya : suka gonta-ganti menu
Hm. I think I am getting somewhere with this answer. I guess she really does love her food.
Sebelum gue mengetikkan balasan untuk pesan-pesan yang dia kirim, sebuah pesan lagi tiba-tiba muncul.
Kimaya : lo?
Kimaya : apa makanan kesukaan lo?
What is my favorite food? Gue mulai berpikir sendiri. Apa, ya, makanan kesukaan gue? Ironi banget, gak, sih, kalau gue akan dengan mudah menjawab pertanyaan soal sesuatu yang bukan makanan yang suka gue "eat" dan sangat sulit untuk menentukan makanan kesukaan gue? Gue jadi wonder apakah ada yang pernah menanyakan hal tersebut ke gue.
Gue suka menu-menu yang ada di Crusty Deb, jelas. Karena gue sudah mencoba semua menu di sana dan rata-rata semuanya enak. Namun, jika ada pilihan lain, jika menu-menu tersebut dibuat oleh orang selain Bu Deb, apakah mereka akan tetap jadi makanan favorit gue? Atau malah gue tidak menyukainya lagi? Atau ketika gue makan di restoran-restoran mahal dengan Arnold dan Monalisa Haas saat occasional dinner di luar yang kami lakukan hanya for the sake's of appearance, dan gue tidak menikmati makanan yang gue pesan, apakah itu berarti gue menyukai menu-menu berbandrol selangit di sana?
Apa maksudnya semua itu? Ke mana perginya my train of thoughts?
Getaran di dalam genggaman gue mengembalikan pikiran gue ke saat ini.
Kimaya : woy
Kimaya : lo belum jawab pertanyaan gue
Kimaya : jangan bilang kalau lo ketiduran
Fionn : jangan sembarangan lo
Fionn : belum jamnya gue tidur jam segini mah
Fionn : masih pagi banget
Malam masih berada di angka sepuluh lewat tujuh belas menit. Masih terlalu dini bagi gue untuk memicingkan mata. Lagipula, gue merasa lumayan terhibur saat mengisi kekosongan rumah dengan berbalas pesan ringan bersama cewek ini. Hal yang tidak mungkin mau gue lakukan bersama cewek lain maupun sahabat-sahabat gue itu. Buat apa? Gue tidak peduli dengan mereka.
But, wait a minute. Apakah ini berarti bahwa gue peduli dengan Kimaya?
Come the fxck on, Fionn. Don't be so naive lah. Lo melakukan hal ini karena suatu alasan. Dan alasan itu sangat penting untuk lo. Ingat tujuan lo, Fionn. Ingat apa yang ingin lo capai di akhir perjalanan ini. Lo melakukan semua ini karena ada alasannya. Sedangkan tidak ada alasan bagi lo untuk melakukan hal yang sama pada si Aldi, Hamish, dan Mario. Iya, kan?
Oh, how I am forever grateful for the devil in my head. Dia selalu saja ada di saat gue membutuhkan pengingat untuk tujuan gue. Dia selalu ada di saat gue butuh the sound of logic. Dia selalu ada di saat gue butuh nasehat yang realistis.
Back to the chat, then. Ternyata pesan baru sudah masuk saat pikiran gue melanglang buana.
Kimaya : jadi apa dong?
Kimaya : gue juga pengen tahu
__ADS_1
Kimaya : errr guenrasa gue juga harus tahu makanan favorit pacar gue sendiri kan?
Gue akan mengabaikan sarkasme yang ada di dalam kalimatnya itu.
Fionn : gue suka makanan di Crusty Deb
Fionn : apa pun itu
Meski gue tahu gue tidak harus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Kimaya dengan jujur, akan tetapi gue rasa gue berutang pada dia untuk menjawab mereka dengan benar. Setidaknya sampai di situlah kejujuran bisa gue berikan.
Kimaya : oh?
Kimaya : oke
Kimaya : kalau minumannya?
Tanpa berpikir panjang gue mengetik balasan.
Fionn : gue suka soda sama air putih
Kimaya : itu aja?
Dia tidak perlu tahu kalau gue suka menenggak vodka yang ada di dalam lemari simpanan si Arnold saat kehidupan sehari-hari terasa too much.
Fionn : yeah
Kimaya : oke
Kimaya : gue suka es teh manis
Gue menggeleng. Setelah dessert, dia mengaku suka minum es teh manis? Apa dia tidak takut terkena diabetes?
And, because I am so stupid at times, gue mengetik pesan yang oersis sama dengan apa yang baru saja melintas di dalam pikiran gue.
Fionn : damn girl
Fionn : apa lo gak takut diabetes?
Saat baru akan menghapus pesan tersebut, tanda centang dua di bawah pesan sudah berganti warna menjadi biru. Fxck! Dia sudah membaca pesan-pesan gue.
Fxck.
Gue berpikiran untuk mengirimkan pesan lain untuk mengubah arah percakapan, akan tetapi sebelum gue berhasil melakukan itu, sebuah pesan dari Kimaya sudah masuk terlebih dahulu.
Kimaya : apa yang perlu gue takutin? Hidup gue kayaknya udah gak bisa jadi lebih buruk lagi dari ini
__ADS_1
Fxck me seven ways to Sunday. This girl will be the death of me.
Bersambung ....