
Fionn
Majalah online sekolah? The What's Up Taruna? Apa hubungannya majalah itu dengan tidak datangnya dia ke kantin? "Maksud lo?"
Dia mendesah lagi.
Oh, my fxcking God. Bisa gak, sih, dia berhenti bersikap sok dramatis begitu? Karena kelakuannya ini, gue jadi curiga, kemungkinan besar pada kehidupan yang lampau Kimaya adalah seekor banteng. Itulah kenapa dia suka mengembuskan napas dengan cara seperti itu.
"Tau, ah. Lo lihat aja sendiri." Setelah mengatakan hal tersebut, dia kembali mengerjakan apa yang sudah dikerjakannya dari tadi.
Gue sekonyong-konyongnya menurut. Gue keluarkan ponsel dari saku celana dan gue tempelkan bokong gue di tepi meja di depan cewek gadungan gue itu. Sedetik kemudian laman depan What's Up Taruna sudah dimuat di layar ponsel gue dan ... gue tidak menemukan sesuatu yang pantas dijadikan alasan untuk menghindari kewajiban menemui gue di kantin sekolah.
"Apanya yang salah dari berita ini, sih, Kim? Gue gak lihat ada yang janggal dan bisa bikin lo sebete itu sama gue."
Kimaya yang masih sibuk dengan bukunya menjawab. "Itu bukan berita. Itu cuma gosip dan kumpulan opini penulisnya. Dan gue juga gak peduli sama apa yang dia tulis. Yang mengganggu gue itu ada di kolom komentar, di bawah."
Oh, okay then. Gue langsung meluncur ke tempat kejadian perkara. Baru membaca beberapa buah komen saja, gue sudah bisa merasakan ubun-ubun gue menggelegak.
__ADS_1
Gue merasa amarah gue muncul, akan tetapi bukan marah kepada para penulis komentar jahat pengecut yang berlindung di balik nama samaran mereka itu. Bukan. Gue merasa marah pada Kimaya yang bisa-bisanya menjadikan komentar-komentar penuh omong kosong ini sebagai bahan bakar untuk tidak menepati janji.
Perlahan-lahan gue berdiri dan menghadapkan tubuh gue sepenuhnya ke arah Kimaya. "Ini maksud lo?" Gue sodorkan layar ponsel gue ke mukanya.
Hal itu membuat dia terkejut dan serta-merta menarik kepalanya ke belakang. "Fionn! Apa-apaan, sih, lo? Kaget gue!" serunya setengah berbisik dengan tangan di dada.
Namun, seruannya tidak membuat gue gentar. Mau dia hanya melakukannya dengan setengah berbisik, mau dia melakukannya dengan suara sekeras apa pun, gue tidak peduli. Gue tidak peduli kami didengar oleh siapa pun sekarang karena gue yakin tidak akan ada yang mau mengecek jika mendengar sesuatu. Mereka hanya akan menyalahkan hormon muda-mudi yang masih bergejolak.
Gue telekan kedua telapak tangan di atas meja sehingga posisi tubuh gue kini condong ke arah Kimaya sehingga tatapan kami hampir sama datarnya. "Fxcking hel, Kim!" Gue menggebrak meja. "Lo gak menemui gue ke kantin cuma gara-gara omong kosong dari orang-orang gak penting ini? Lo mau mempertaruhkan apa yang sudah kita sepakati hanya karena some fxcking bullshxt that sprouted by some fxcking spineless losers that might just hate you because they fxcking jealous of you? Ha? Iya? Iya? Then you are pretty stupid for your kind. Idiot!"
Rasa terkejut dan gugup berkelebat di mata bermanik cokelat gelap nyaris hitam itu sebelum dia membiarkan fire yang ada di dalam dirinya mengambil alih. "Jangan panggil gue idiot." Kimaya menggeram. Entah sadar atau tidak, dia mendekatkan kepalanya ke arah gue, membuat udara yang keluar dari hidungnya berembus di wajah gue.
Something like mint and a hint of chocolate hits my face. Gue secara tidak sadar menghirup napas dalam-dalam ketika menangkap aroma yang tidak disangka-sangka itu. "But you let them get to you. Something you shouldn't do because of our agreement." Setelah beberapa saat gue habiskan dengan menikmati wangi napas Kimaya—apakah aroma itu berasal dari permen yang dimakannya?—akhirnya lidah gue bisa bergerak untuk menjawab. Aroma mint dan cokelat itu pun berhasil meredam amarah gue sedkit dan melunakkan nada suara gue. "Lo mau mengancam kesepakatan kita cuma karena omong kosong itu, ha?"
Kimaya menatap mata gue bergantian, yang kanan dan yang kiri kemudian ke kanan lagi. Dia melakukan itu beberapa kali sebelum kembali mengembuskan napas panjang sekali lagi. Secara otomatis hidung gue terbuka dan menghirup napasnya itu dalam-dalam. What the fxck? What on the fxcking earth is happening here?
"Gue tahu." Kimaya di kalakian mengaku dengan lirih. "Gue tahu gue udah bodoh banget mengecek kolom komentar itu dan membiarkan mereka merusak mood gue. Tapi ... tapi ... lo juga harus mengerti gue, Fionn. Ini adalah kali pertama gue berada di mata publik SMA Taruna Nusantara. Ini adalah pertama kalinya gue dianggap ada, dikomentari, dan dikuliti habis-habisan. Jadi, ya ... gue pikir gue pantas untuk mendapatkan sedikit kelonggaran karena alasan itu."
__ADS_1
Fxck. Fxck. Gue menunduk dan menggantung kepala gue di antara bahu dan lengan yang masih tegak lurus menumpu tubuh gue. Fxck. Dia benar. "Fxck, Kim. You're right. Fxcking hell. You're freaking right."
Beberapa kala kemudian berlalu dengan Kimaya yang terdiam dan gue yang berusaha menenangkan diri dengan menunduk serta memutar-mutar kalimat yang diucapkan Kimaya tadi. It is her first time being under the spotlight and being picked on and scrutinized by these fxcking vultures in our school.
Kali ini giliran gue yang mengembuskan napas panjang. "Okay. Okay." Sekonyong-konyongnya gue kembali menegakkan kepala dan memandang Kimaya. Matanya kini sudah tidak berapi-api, wajahnya juga sudah bersih dari raut tak enak. Bahunya tak setegang tadi lagi. It's ... a pleasant view. "Okay. But let this be a lesson learned, ya. Gue gak mau lo ciut cuma gara-gara hal remeh kayak begini lagi. Kalau lo menampakkan kelemahan lo ke mereka, mereka pasti bakalan tambah senang dan tidak akan segan menghisap darah lo sampai kering. Lo mau itu terjadi?" Gue menggeleng. "Gue gak yakin lo mau membiarkan itu terjadi."
"Ya, enggak lah!"
Nah, itu dia. Itu api yang gue inginkan dari Kimaya.
"Oke. Kalau gitu gue anggap ini sebagai uji coba aja. Besok kita harus melakukan apa pun sesuai dengan keinginan gue. Ngerti lo?" Gue kembali menegakkan tubuh dan berdiri dengan berkacak pinggang. Bukan sebagai stance yang ofensif, akan tetapi lebih kepada variasi cara berdiri saja.
Kimaya mengiringi perubahan posisi gue dengan tatapan matanya. "Oke. Sori. Gue gak akan melakukan kesalahan yang sama lagi." Dia lalu menundukkan pandangan. "Dan ... terima kasih udah mau ngertiin gue."
Well, gue tidak tahu kalau menerima ucapan terima kasih akan terasa semanis ini.
Bersambung ....
__ADS_1