Pacar Bayaran Abang Ketos

Pacar Bayaran Abang Ketos
55. Sogokan Tak Berguna


__ADS_3

Fionn


"Duduk dulu, duduk dulu." Gue menyarankan kepada si Banyu dan mendorong tubuh yang serapuh ranting kering itu hingga dia terdusuk ke atas kursi yang tadi didudukinya lagi. "Duduk, duduk, duduk. Biar lo enakan," geram gue sambil memperlihatkan deretan gigi gue yang bersih dan siap untuk merobek-robek masa depan cowok di depan gue ini.


Banyu tidak punya pilihan lain selain menurut.


Setelah itu gue bangkit dan berdiri di depan kamprxt sialan itu dengan segala yang gue punya; kekayaan, kekuatan, dan kekuasaan yang terlahir bersama gue. Di depan makhluk yang tidak berarti itu gue berdiri on my full height yang menunjukkan kepada dia siapa gue sebenarnya. Dengan siapa dia berhadapan sekarang.


"F-F-Fi-Fionn? A-a-ada ap-ap-pa i-i-ni?"


Gue akui melihat matanya yang membesar di balik kacamata yang menutup setengah wajahnya itu, mulutnya yang terbuka dan tertutup berulang seperti seekor ikan yang kehabisan udara, dan bibirnya yang kehilangan warna tidak membawa kepuasan seperti yang pernah terjadi sebelum-sebelumnya. Mengetahui bahwa dengan berdiri saja gue bisa membuat seseorang gemetaran seperti daun yang ditiup angin seperti yang dari dulu terjadi saat gue membuat sebuah show of power ternyata hanya menyulut api amarah di dalam diri gue, membikin gue lebih marah lagi. Kalau dia bersikap seperti ini saat gue ada di depan dia, itu hanya akan mengkonfirmasi kecurigaan yang sudah semenjak tadi berkeliaran di dalam kepala.


Dia yang telah melakukan hal berengsxk tadi. Dia yang telah menyebarkan pesan-pesan tersebut. Sekarang gue hanya harus mencari tahu apa motifnya dan apakah ada yang membantu dia dalam melancarkan aksinya tersebut.


****


Alda. Alda yang menjadi dalang dari semua itu.


Cewek jalxng itu "menyogok" si Banyu tolol dengan sebuah blxwjob kalau saja dia mau untuk mengirimkan pesan-pesan yang akan dia forward ke nomor pribadinya. Dia kemudian melakukan hal yang sama kepada nomor hotline pengaduan OSIS sebelum mengirimkannya ke semua kontak yang ada, as known as seluruh murid-murid di sekolah.

__ADS_1


"Kenapa lo mau ngelakuin itu, ha?" Gue masih mencecar dia dengan pertanyaan-pertanyaan gue karena setelah gue mendengar nama Alda, gue segera mengurungkan niat untuk menghancurkan muka jelek si Bangsxt nan sangat bodoh untuk seukuran anak penerima beasiswa. Padahal kalau dipikir-pikir gue seharusnya mencecar dia dengan tangan gue, kan?


But I can't do that here. Gue tidak bisa melakukan apa yang benar-benar ingin gue lakukan terhadap makhluk yang semakin meringkuk ke dalam badannya sendiri di depan gue ini.


"Jawab, Sialan!" Gue masih menggeram. Gue sepertinya akan tetap menggeram selama berurusan dengan si Banyu ini karena gue tidak bisa membiarkan kontrol diri gue lepas. Gue tidak boleh kalap atau nama Kimaya akan terseret bersama tindakan lepas kendali apa pun yang gue lakukan.


Sialan. No. Gue tidak boleh menambah masalah untuk dia lagi.


"G-g-gu-gu-gue u-u-ud-udah bi-bi-lang s-s-sama l-lo kalau g-gue peng-pengen dibijein j-jug-juga."


Fxcking pathetic son of a bitxh. Dia tidak tahu dia telah melakukan suatu tindakan dalam kesia-siaan. Dia hanya tidak sadar kalau dia tidak akan mendapatkan apa pun dari kesepakatan mereka. Walaupun si Alda benar-benar melakukan itu—which I am one hundred percent sure she will not ever do that to him, not if she is in her right fxcking mind—si Banyu Tolol dan Pathetic ini tidak akan mendapatkan apa-apa karena for your fxcking info, boys, si Alda bahkan tidak bisa melakukan itu dengan benar. Despite the image she's portraying on daily basis, she's a fxcking three in the terms of serving guys with head.


Membayangkan hal tersebut akhirnya bisa membuat hati gue bernyanyi, walaupun masih sedikit. Gue menjadi merasa agak bahagia karena si Tolol ini tidak hanya akan merugi dari soal pengalaman seksualnya, akan tetapi juga dari segi akademik. Masa depan.


Mampus lo!


Gue kembali meluruskan badan dan berdiri dengan tegak. Gue lemparkan pandangan penuh rasa jijik dan iba kepada cowok yang betul-betul telah mengacau itu. "Tolol." Kata itu menjadi kata perpisahan gue untuk si Tolol tersebut.


****

__ADS_1


Kami kemudian berkumpul di Crusty Deb setelah urusan gue selesai dengan si Banyu. Tidak seperti biasanya, kali ini kami mengisi kursi-kursi yang ada di dek karena ingin berbicara dengan lebih leluasa.


"What the fxck?" Aldi mengutuk kembarannya itu. Dia mengungkapkan apa yang dia pikirkan dengan keras. "Fxcking bitxh! Gue benar-benar gak ngerti kenapa dia terobsesi banget sama lo. Maksud gue, apa, sih, masalah yang dia punya?"


Mendengar hal itu gue sekonyong-konyongnya langsung merasa tidak enak. Fxck. What is it with me feeling all kind of feelings lately? Kenapa gue tiba-tiba bisa merasa bersalah seperti ini kepada si Aldi? Padahal sebelumnya gue tidak pernah merasakan apa pun tidak peduli apa yang gue lakukan. Namun, sekarang .... Seakan-akan hati gue mulai bangun untuk oertama kalinya. Seakan ada sesuatu yang membuat organ yang sudah sedari dulu beku itu perlahan-lahan mulai mencair.


What the fxck is happening to me?


Di tengah pikiran yang berseliweran, gue sempat menangkap tatapan Mario. Ketika dia melihat gue menatap ke arah dia, dia serta-merta menaikkan alis.


What the fxck is his problem?


Gue terus menantang pandangan Mario sampai racauan setengah berbisik setengah berteriak namun dipenuhi oleh kehistersan si Aldi mengakhiri staring contest kami. "Come the fxck on, guys! Bantuin gue mikir kek! Apa yang harus gue lakukan ke kembaran gue itu biar dia gak berulah lagi kayak gini? Gue udah capek banget ngurusin bokong bermasalahnya dia. Meski belum pernah sampai ke pihak sekolah, tapi gue yakin hal itu cepat atau lambat akan terjadi. Sekarang aka gue yakin kalau Fionn gak bakal membiarkan masalah ini. Iya kan, Bro? Secara si Alda freaking psycho itu udah ganggu ceweknya dia. Fxcking God! Gue bisa ikut-ikutan jadi gila kalau dia terus kayak gini. Argh!"


Entah kenapa si Hamish jadi yang paling diam saat ini. Dia tidak mengeluarkan sepatah kata pun dari tadi. Mungkin dia aedang berganti peran dengan si Aldi? Hm. Mungkin juga.


"Lo benar." Gue akhirnya menanggapi perkataan Aldi. "Gue gak akan tinggal diam. Yang jelas untuk sekarang gue akan urus si Banyu dulu. Gue udah punya rencana sendiri buat si Tolol bin Goblok itu. Sedangkan buat si Alda, gue akan kasih dia peringatan. Bukan karena gue peduli sama dia, gue gak pernah peduli sama cewek itu. Gue mau kasih dia kesempatan karena gue menghargai lo sebagai teman gue. Oleh karena itu gue juga minta kerja sama lo juga. Tolong ngomong sama dia, terserah lo gimana caranya. Kasih tahu dia kalau gue gak main-main. Kalau dia sampai nyari masalah lagi sama gue lewat Kimaya, gue gak akan mikir banyak lagi. Gue habisin juga dia kayak yang akan gue lakukan ke wakil ketua OSIS itu. Ngerti lo?"


Beberapa saat berlalu dalam keheningan. Si Mariolah yang lebih dulu membuka suara. "Lo beneran care sama si Kimaya, huh? Bukan pura-pura lagi?"

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2