
Fionn
She wears my hoodie like a god damn Versace dress. Like, seriously, is she even fxcking real?
"Fionn, ayok!" Suara Kimaya akhirnya memecah kebengongan gue tanpa tahu apa sebenarnya yang terjadi di dalam sini.
Gue juga sebelumnya tidak tahu bahwa tie dye hoodie Black Sabbath yang gue bawakan untuk dipakai Kimaya bisa membuat gue termenung seperti orang yang kehilangan akal. Damn. Keluguan dan kepolosan dia benar-benar terasa seperti a breath of fresh air bagi gue yang sudah terbiasa bermain dengan makhluk slimy dan penuh intrik seperti orang-orang yang ada di sekitar gue.
Well, orang-orang yang bersikap seperti gue sendiri, maksudnya.
Gue memandang gadis yang ada di depan gue itu. Dia menyampirkan satu tali tas ounggungnya di bahu kanan. Tangan kanannya juga memegang kantong plastik tadi. Hoodie gue yang kedodoran itu kini menutupi tubuhnya sampai ke atas lutut.
Kimaya menundukkan kepalanya. Rambutnya yang lurus menutupi sisi-sisi wajahnya seperti sebuah tirai hitam. Gue tidak dapat membaca ekspresi yang ada si dana, akan tetapi gue mendapatkan contekan dari bahasa tubuh gadis itu. Dia berdiri dengan resah, sebentar-sebentar dia menukar kaki yang dia jadikan tumpuannya untuk menegakkan badan.
Gue terus saja memandangi dia. Mempelajari setiap gerak dan geriknya. Menerka apa yang dia rasa dari sana. Shxt. What in the actual hell is happening to me?
Gue tidak dapat mengalihkan pandangan gue dari cewek yang ada di hadapan gue sekarang.
"Fionn." Kimaya memanggil gue dengan lirih. Dia melihat ke arah gue dari balik surainya sekilas sebelum mengembalikan pandangannya ke arah bawah lagi.
Gue tidak pernah merasakan cemburu sebelumnya. Bagi gue, perasaan itu hanya untuk orang-orang yang tidak memiliki kemampuan, baik dari segi finansial maupun keahlian. Namun, tiba-tiba saja cewek berambut lurus dengan kulit kuning langsat di depan gue berhasil menyulut rasa itu di dalam diri seorang Haas. Dan tidak tanggung-tanggung, dia sukses membuat gue merasa tidak senang dengan lantai marmer yang sedang kami pijak ini.
__ADS_1
Atau, apakah dia sedang memandangi sepatu Mary Jane yang sedang dipakainya?
Lantai marmer. Sepatu. Man! Gue sudah benar-benar gila.
Gue tidak tahu apa yang tengah terjadi pada gue.
"Fionn, ayok. Aku mau cepat-cepat ke luar dari sini. Nanti bel pulangnya keburu bunyi lagi."
Two things. Two things that gives myself the push it needed to wake my brain the fxck up and get my freaking body the fxck moving. The first one is I want to get her to the safety of her bedroom as soon as possible so she can get the rest she desperately needs. And two, I don't need to put more targets on her back by delaying our departure from this hellhole. Gue tidak mau Kimaya masih ada di sekolah ini ketika murid-murid sialan itu ke luar dari kelas yang mengerangkeng kekejian sikap mereka untuk sementara waktu.
"Shxt, Babe. Okay. Sorry." Gue mengeluarkan kata-kata yang ingin gue ucapkan dengan cepat. Kemudian gue mengambil kantong plastik dan tas Kimaya dari pegangan cewek itu. "Let's go get you home."
****
Kimaya
Aku tidak tahu apa yang terjadi.
Setelah ke luar dari toilet tadi, Fionn menggunakan sejumlah waktu yang lumayan untuk memperhatikan penampilanku. Aku tidak tahu apa yang ada di dalam pikirannya. Dugaanku tidak mungkin hal yang aneh karena dia memastikan bahwa aku mempunyai sesuatu yang baru untuk kupakai sebagai pengganti rok yang kotor. Tidak hanya pembalut dan ****** *****, Fionn juga membelikanku satu buah celana pendek dengan bahan yang lembut. Entah dari mana dia bisa mendapatkan celana itu. Yang jelas, aku sangat bersyukur sekali dia berpikir untuk membelinya.
Namun, pikiranku berubah saat dia menghentikan mobil di depan pagar dan tidak segera turun dari mobil untuk membukakan pintu. "Ehm, kamu gak masuk dulu?" Aku mencari-cari alasan untuk membuat cowok itu berbicara. Setidaknya dengan mendengarkan nada suaranya, aku bisa mendapatkan sedikit petunjuk soal suasana hatinya saat ini.
__ADS_1
"Enggak. Aku harus buru-buru." Fionn menjawab singkat.
Hatiku mencelus. Apakah yang aku pikirkan sebelum ini tidak benar adanya? Apakah dia malah merasakan hal yang sebaliknya? Apakah aku ... apakah aku hanya mengada-ada saat menganggap perbuatan yang dia lakukan untukku tadi penuh dengan pertimbangan dan perhatian?
"I will check up on you later." Dia menambahkan masih dengan nada yang tidak meninggalkan tempat untuk sebuah tawaran.
Oke lah kalau begitu.
Aku membuka pintu dan mengambil barang-barang yang tadi diletakkannya di lantai kursi penumpang. Meski merasa tidak enak hati, aku tidak membanting pintu Chéri lagi. Selama dua minggu lebih berada di dalamnya, aku mulai membangun sentimen yang sama dengan Fionn. Chéri sangat berjasa untukku karena sudah mengantarkanku pulang dan pergi dari sekolah dan rumah. Dia sudah melindungiku dari teriknya cahaya matahari, panasnya udara jalanan dan hawa di dalam angkot, serta guyuran hujan yang kadang turun dari awan di atas Kota Jakarta.
Aku kesal. Aku kesal kepada diriku sendiri karena telah berpikir yang tidak-tidak. Aku kesal pada diriku sendiri karena sudah semena-mena mengasumsikan sesuatu yang terjadi di dalam diri orang lain. Aku kesal pada diriku sendiri karena telah ... menumbuhkan harapan yang palsu, juga untuk diriku sendiri.
Kuapit kantong plastik di antara lengan sebelah kiri saat membuka pintu rumah. Tidak kugubris sapaan yang diberikan oleh Bu Pik dari pintu kamar Ibu.
Setelah sampai di kamar, kukunci pintu itu dengan segera. Kumatikan ponselku. Kulempar kantong plastik putih itu ke sudut ruangan, tidak dekat sedikit pun dengan keranjang kain kotor yang ada di sana. Tas sekolah juga menerima akibatnya. Barang yang biasanya selalu mendarat dengan mulus di atas meja belajar itu kini tergeletak di tengah ruangan yang tidak terlalu besar ini.
Akhirnya aku menyurukkan tubuh yang penuh dengan rasa kesal dan malu serta nyeri di bagian perut bawah ini ke bawah selimut. Meskipun rasa geram ini semakin memuncak, aku tidak dapat menemukan secuil pun niat di dalam hati untuk menanggalkan hoodie dan celana yang dibelikan oleh Fionn tadi.
Kimaya! Jangan bertindak bodoh seperti itu!
Namun, hoodie-nya terlalu nyaman. Aku bahkan masih bisa mencium wangi sisa cologne yang dipakai oleh Fionn saat ini. Celananya juga sangat lembut. Aku malas untuk menggantinya dengan celana lain.
__ADS_1
Ya, Tuhan. Ketika hati dan logika sudah mulai saling berperang seperti ini, apa yang akan terjadi padaku nanti?
Bersambung ....