Pacar Bayaran Abang Ketos

Pacar Bayaran Abang Ketos
45. Burrrrrrrrn


__ADS_3

!


Kimaya


Tidak terasa sudah dua minggu kami menjalani kepura-puraan ini. Fionn langsung mendaftarkan diri untuk mengikuti pemilihan ketua OSIS keesokan hari setelah hari pertama kami belajar bersama dan sesudah berita itu tersebar di setiap penjuru sekolah, tidak ada kandidat lain yang berani muncul sampai periode pendaftaran selesai. Mungkin mereka berpikiran sama denganku. Kalau sudah Fionn yang maju, tidak ada gunanya menantang sang jawara lagi. Itu hanya akan menjadi pekerjaan yang penuh kesia-siaan.


Maka, begitulah. Setelah dinyatakan sah menjadi Ketua OSIS yang baru, Fionn sibuk mengurusi tanggung jawabnya sebagai pemimpin. Dia menunjuk ketua OSIS yang lama sebagai wakilnya dan menyerahkan semua susunan kepengurusan ke tangan Banyu dengan alasan Banyu-lah yang lebih mengetahui siapa-siapa yang mempunyai kemampuan untuk menduduki jabatan di dalam tubuh organisasi tersebut. Aku ... tidak mau memberikan komentar apa-apa.


Aku tidak mau ikut campur karena itu bukan urusanku juga. Urusanku hanya membantu dia mengerjakan tugasnya dan menjadi pacar gadungan dari sang Ketua OSIS itu.


Tugas yang lertama sudah kulakukan. Aku sudah memberikan pada Fionn buku catatanku. Tugas kedua ... itulah yang sedang kujalani sekarang. Setelah kejadian tempo dulu ketika aku tidak datang ke kantin saat jam istirahat, mulai dari keesokan harinya Fionn selalu menjemputku ke kelas yang kupunya untuk menjemputku. Dari sana kami akan berjalan ke kantin bersama-sama.


Aku tidak menyangka dia akan merasa perlu untuk melakukan itu hanya demi memastikan kami tampil bersama di depan semua sekolah. Maksudku, dia tidak perlu melakukannya sampai sejauh itu, kan? Apa yang ingin dicapainya dengan berpura-pura sebagai ketua OSIS yang punya pacar? Jabatan ketua OSIS bukannya swperti jabatan seorang presiden yang harus mempunyai ibu negara ini. Kan?


Terlebih lagi jika dia tidak perlu membayarku untuk melakukan pekerjaan itu di saat dia punya seseorang yang rela bergelayutan di tubuhnya sepanjang waktu. Atau setidaknya sepanjang jam istirahat sekolah. Fionn hanya tinggal mengatakan bahwa dia ingin menjadikan cewek ini sebagai pacarnya dan aku yakin tanpa basa-basi si cewek pasti akan mengiyakan saat itu juga.


"Fionn." Sebuah rengekan feminim kembali memasuki gendang telingaku. Rengekan yang sudah selama dua mingguan ini menghiasi meja yang biasa ditempati Fionn dan teman-temannya.


Suara itu menciptakan berbagai reaksi dari masing-masing kami yang sedang duduk mengelilingi meja. Fionn, seperti biasa, dia hanya diam. Tangan kanannya sibuk menyuap makanan sementara tangan kiri yang disampirkan ke sandaran kursiku tetap berada di sana. Bahkan dia sempat menarik dan menggeser kursiku hingga paha kami saling bersentuhan.


Hal ini sempat mengundang debaran yang tidak penting di jantungku saat pertama kali dia melakukannya dan pertama kali kaki kami membuat kontak. Namun, aku selalu menjadikan kalimat yang pernah diucapkan Fionn di dalam mobilnya saat kami berada di depan rumahku sebagai mantra.

__ADS_1


Apa pun yang gue kerjain pasti ada maksud dan tujuannya. Gue gak pernah mengambil tindakan dengan asal-asalan. Semuanya pasti sudah gue perhitungkan dengan matang.


Semua ini hanyalah sebuah skenario bagi Fionn. Apa pun yang dilakukan tidak akan berarti secara personal baginya. Apa yang kami lakukan hanyalah sebuah bisnis. Sebuah transaksi. Tidak lebih.


Aku juga harus selalu mengingatnya agar tidak terjebak di dalam lubang perasaan yang salah.


Kembali lagi ke rengekan si Alda.


Ya, benar. Si Alda. Saudara kembarnya Aldi yang ternyata telah lama mengincar Fionn dan berusaha mencengkeram pemuda itu dengan cakarnya yang panjang serta dimanikur secara teratur.


Mendengar suara itu, Aldi, seperti biasa mengerang. Dia lalu akan mengubah taktik dengan mengata-ngatai si cewek gatal meskipun mereka pernah berbagi tempat di dalam perut ibu mereka selama sembilan bulan lamanya. "Come the fxck on, Alda. Lo gak bisa lihat, ya, kalau si Fionn udah punya cewek? Take the fxxking hint already! Jadi cewek gini banget lo. Bikin malu gue aja!"


Si Alda, kalau dia sedang mempunyai semangat yang lebih, dia akan menyempatkan diri untuk melawan saudara kembarnya itu. Lalu mereka akan terlibat dalam pertengkaran yang sudah menjadi tontonan setiap hari anak-anak di kantin. Bahkan guru-guru yang bertugas mengawasi jalannya istirahat sudah angkat tangan dan membiarkan mereka dengan urusan mereka sendiri. Sedangkan jika dia tidak sedang mood untuk melakukan perlawanan, dia hanya akan merengek-rengek kepada Fionn sepanjang Fionn ada di sana. Seringkali saat ini terjadi, Fionn akan mengajakku pergi meskipun makanannya belum habis.


Sementara Mario dan Hamish sudah sangat terbiasa sehingga mereka tidak terlalu ambil pusing.


Namun, berbeda dengan kali ini. Hari ini hari ketidakberuntungan Alda karena dia akan berurusan dengan aku yang sedang PMS. "Diam lo! Gangguin orang makan aja." Aku menggeram.


Ucapanku membuat keempat cowok di meja itu mengangkat kepala dari makanannya. Bahkan si Aldi ikut-ikutan melongok daei ponselnya yang ditegakkan di atas meja. Aku bahkan mendengar si Fionn tergelak tertahan.


Sepertinya si Alda sedang bersemangat untuk melakukan perlawanan saat ini. "Eh, lo diam aja, ya. Gue gak ngomong sama lo. In fact, gue gak sudi ngomong sama cewek miskin kayak lo. Gak level!"

__ADS_1


Hah. Dia terdengar seperti tokoh antagonis di film-film zaman dahulu. Klasik dan sungguh klise. Oke lah kalau begitu. Akan kuhadapi dengan senang hati. Aku memang sedang mencari-cari alasan untuk melepaskan semua kefrustrasian yang ada di dalam diri yang disebabkan oleh tidak stabilnya hormon dalam tubuhku sekarang. "Oh, yeah?" Aku menirukan gaya bicaranya. Masih sambil menyantap salad yang kuambil di meja prasmanan kantin, aku melemparkan ejekanku. "In fact, gue juga gak sudi ngomong sama cewek miskin harga diri kayak lo. Gak level!"


****


Fionn


Fxxxxxck. What did she just say? Apa yang baru saja cewek bayaran gue katakan?


God damn it! Gue tidak menyangka dia akhirnya mau meladeni sikap memuakkan yang dilakukan oleh Alda selama ini. Dan dengan cara yang lucu pula. Yeaah, setidaknya itu lucu bagi gue. Mengembalikan kata-kata yang diucapkan padanya kepada si Alda dengan efek yang jauh lebih tinggi.


Shxt, man. Gue baru tahu kalau selama ini ada istilah miskin harga diri. Namun, setelah gue pikir-pikir, istilah itu cocok banget buat cewek yang kini masih berdiri di samping meja kami ini, sih. Dia telah menyilangkan tangannya di depan dada dan memasang wajah yang punya jauh lebih banyak lipatan daripada paha bayi semok.


"Fionn!" Alda memekikkan nama gue. "Lihat, nih! Cewek songong ini udah berani-beraninya ngatain aku. Kamu bilangin sama dia, dong, kalau dia gak boleh melakukan itu sama aku!"


What the heck? Maksudnya si Alda pakai nyuruh-nyuruh gue apaan coba? Lagian dia siapanya gue, ha? Gila aja kalau dia pikir dia bisa memerintah gue seenak jidat lebarnya itu. Ogah!


Fxck. Gue jadi berpikir ulang kenapa gue mau "bermain-main" sama cewek ini dulu. Sialan. Gue seharusnya sudah bisa melihat kalau dia dan namanya adalah peringatan untuk sebuah kondisi yang hanya akan menimbulkan masalah.


No more. Fxcking no more. Gue akan beri tanda berwarna merah di nama Alda dalam daftar gue. Di sampingnya akan gue tulis peringatan; watch out. Tidak untuk didekati. Psycho alert!


Namun, belum sempat gue memikirkan apa yang akan gue lakukan terhadap ucapan si Alda ini, cewek yang badannya sedari tadi saat Alda tiba sudah menempel di badan gue malah membuka suara duluan. "Sorry, tapi kayaknya lo salah orang, deh. Fionn itu pacar gue. Jadi jelas dia akan belain gue. Bukan cewek gak jelas kayak lo. So, pergi sana. Gue masih mau makan."

__ADS_1


Burrrrrrrrn!


Bersambung ....


__ADS_2