Pacar Bayaran Abang Ketos

Pacar Bayaran Abang Ketos
18. Cowok Penguntit


__ADS_3

Kimaya


Apa? Barusan Bu Pik bilang apa?


Saking tidak percayanya dengan pendengaran sendiri, aku segera menghampiri wanita yang masih berdiri di teras rumahku itu. Jengkel sekali aku melihat sebuah senyum konyol yang ada di bibirnya. Kesal yang ada saja belum hilang, sudah ditambah lagi dengan yang ini.


"Apa, Bu? Tadi Ibu bilang apa?" Aku bertanya dengan setengah berbisik setengah berteriak.


"Ibu tadi bilang kalau ibumu mau kamu untuk membawa temanmu itu masuk ke dalam. Dia bisa lihat kalian dari jendela tahu." Bu Pik mengangguk ke arah jendela yang ada di belakangku.


Yep. Benar saja. Tirainya sudah terbuka. Aku hanya bisa melihat siluet tubuh Ibu dari sini.


Sialan!


"Siapa dia?" Wanita itu kini ikut-ikutan berbisik. "Teman dekatmu, ya, Maya? Atau sudah jadi–"


"Hush, Bu Pik. Hush!" Sekonyong-konyongnya kupotong kalimat ngawur yang berhamburan dari mulut wanita itu. Apa yang Bu Pik pikirkan? Teman dekat? Pacar? Jangankan teman dekat dan pacar, teman biasa saja aku tidak punya.


"Ih, kamu pakai malu segala. Sama Ibu ini, Maya. Gak perlu malu." Bu Pik mencolek daguku.


Ya, Tuhan. "Bu Pik!" Aku berseru masih sambil berbisik. "Apa-apaan, sih, pakai acara nyolek-nyolek segala? Ibu bikin Maya malu aja!" Kulirik cowok yang tadi. Kini dia sedang duduk di atas kap depan mobilnya. Saat aku menoleh, dia lantas mengalihkan pandangan.


Dasar cowok aneh! Dia pikir dia bia mengelabuiku dan berlagak seperti dia tidak sedang memperhatikan kami?


Cih!


Semakin kudekatkan tubuhku ke arah Bu Pik. "Ibu jangan ikutan aneh, deh. Dia itu bukan siapa-siapa, aku bahkan gak kenal dia siapa."


Kening Bu Pik berkerut. "Lho? Dia, kan, juga pakai seragam Taruna Nusantara, Maya. Masa kamu gak kenal sama dia?"


Aku bersikeras karena itulah kenyataannya. "Maya beneran gak kenal dia, Bu!"


Wanita yang sudah merawat ibuku selama hampir setahun ini terdiam untuk beberapa saat sebelum sebuah senyum mulai terbit di bibirnya sedikit demi sedikit. Kali ini senyuman itu terlihat lebih menyebalkan dari yang tadi. "Kamu mau bohongin Ibu, ya? Biar kami gak bisa menginterogasi teman kamu itu. Ayo, ngaku kamu!"

__ADS_1


Ya, Tuhan. Bu Pik benar-benar, deh!


Baru saja aku mau melancarkan aksi protesku lagi, tiba-tiba kudengar suara kaca yang diketuk. Aku lantas berpaling ke sebelah kanan, mengecek jendela ruang tamu yang ada di dekat tempat aku dan Bu Pik berdiri.


Tidak ada siapa pun di dalam sana.


Jangan-jangan ....


Aku berjalan menuju ke arah jendela kamar Ibu dan benar saja. Ibu sedang memegang sebuah sendok di tangannya. Ketika melihat aku, Ibu tersenyum lembut. Tangannya yang memegang sendok digoyang-goyangkan.


"Bawa temanmu masuk." Aku membaca gerak bibir wanita yang telah melahirkanku itu.


Aku rasa aku tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Kuembuskan napas panjang sebelum mengangguk. Setelah mengangkat jempol ke arah Ibu, aku berbalik dan berjalan menuju pagar. Aku hanya mampu menggeleng melihat kegirangan yang terpancar dari wajah Bu Pik.


Dua orang ibu-ibu ini akan menjadi alasan kematianku.


Sial. Aku tidak benar-benar mengatakan itu, kan Sialan!


Dengan menggerutu aku membuka pagar dan membiarkannya tetap terbuka. Cowok itu lantas berdiri ketika melihatku mendekat.


Matanya lantas membesar.


Tunggu. Apakah bola matanya itu berwarna hijau? Wow. Sungguh menarik melihat warna mata yang berbeda dari yang biasanya orang Indonesia punya. Sebelum-sebelum ini aku hanya bertemu dengan mata cokelat yang agak terang dan gelap.


Itu pun kalau aku ingin menatap mata orang-orang yang aku temui. Dan itu adalah hal yang jarang terjadi.


"Maksud lo?" Dia menjawab pertanyaanku dengan menggunakan bahasa Indonesia yang terdengar ... aneh di lidahnya.


Hal lain yang terasa sangat menarik. Aku tidak pernah berbicara dengan orang-orang yang mempunyai aksen bahasa asing.


Ah, ayolah, Kimaya. Itu karena kamu tidak pernah mencoba bersosialisasi dengan murid-murid lain yang ada di sekolah. Kamu berada di sekolah internasional selama lebih dari dua tahun, akan tetapi ini pertama kalinya kamu berbicara dengan seseorang yang berlidah luar negeri? Ya, Tuhan. Kamu benar-benar terdengar seperti pecundang. Atau cewek yang betul-betul sombong dan penuh dengan dirinya sendiri.


Oke kalau begitu.

__ADS_1


Setan di dalam kepala berhasil membuatku fokus pada perasaan kesalku lagi. Kali ini rasa tersebut semakin menjadi-jadi karena sudah diakumulasikan dengan yang ada sebelum ini.


Kulipat tangan di depan dada. Kulihat pandangannya beralih ke area sana.


Dasar cowok bxrengsek!


Segera kulepaskan tanganku dan kubiarkan menggantung di samping tubuh. "Dengar, ya, Cowok Aneh. Gue tahu lo udah buntutin gue dari tadi. Meski gue gak tahu entah dari mana awalnya, yang jelas gue sadar kalau lo ngikutin angkot gue."


Kini semburat rasa cemas muncul di wajah itu. Sekilas, sebelum dia bisa menguasai diri dan mengontrol emosinya lagi. Walaupun hanya sekelebat, akan tetapi sekelebat itu sudah cukup. Karena aku menyaksikannya.


"Kalau gue boleh kasih saran, nih, ya, besok-besok andaikata lo mau jadi penguntit, paling enggak pintaran dikit lah. Ganti mobil lo yang mencolok ini dengan mobil yang pasaran. Mau ngikutin orang, kok, pake Lamborghini sementereng ini."


"Bugatti!" sanggahnya cepat.


"Bodo amat!" Aku balas menampik jawabannya. "Gue gak peduli."


Cowok itu mendengkus seperti banteng.


Aku melanjutkan. "Sekarang, lo harus menuruti perintah gue. Masuk ke dalam rumah bareng gue dan perkenalkan diri lo sebagai teman gue di sekolah. Ngerti lo?"


Kini dia mengeluarkan gelak tertahan yang mengejek. "Lo pikir lo siapa mau nyuruh-nyuruh gue, ha?" tantangnya di kalakian. Satu sudut bibirnya tertarik ke atas.


Sialan dia. "Gue emang bukan siapa-siapa, tapi gue cewek yang merasa terancam karena telah diikuti oleh seseorang sampai ke rumah gue. Dan gue punya bukti dari tindakan lo itu," beberku dengan gigi yang bergemeretakan menahan dongkol.


Aku rasa aku bisa membuatnya berpikir ulang soal rasa berpuas diri yang ditampakkannya barusan karena saat ini ekspresi sombongnya itu sudah berganti dengan cemas lagi. Raut yang lagi-lagi timbul hanya sekejap mata. "Tapi, kita bukan teman beneran. Gue gak tahu nama lo."


Ya, Tuhan. Ini sungguh-sungguh melukai egoku. Dia pikir dia bisa membohongiku dengan semudah itu? Jangan bercanda, deh! "Lo pikir gue bakal percaya sama alasan konyol lo itu, ha?"


Kucondongkan tubuh sedikit lagi ke arahnya. Seketika saja hidungku dipenuhi oleh aroma cologne yang jelas mahal. Makanya wanginya bisa sememabukkan ini.


Wey, Kimaya! Kamu gimana, sih? Kok, malah bahas cologne yang dipakai si cowok penguntit?


Duh, sial! Kugelengkan kepala di dalam kepalaku. Di kalakian, aku kembali berfokus pada tugas yang ada di tangan. "Lo udah buntutin gue dari tadi. Jelas lo tahu siapa gue. Lagian, kita pakai seragam yang sama. Jadi." Aku mengedikkan bahu.

__ADS_1


Setelahnya, dia tidak dapat berkata-kata lagi.


Bersambung ....


__ADS_2