Pacar Bayaran Abang Ketos

Pacar Bayaran Abang Ketos
21. Penawaran


__ADS_3

Fionn


What the fxck?!


Yep. That's right. Kalimat yang pertama kali muncul di pikiran gue saat gue masuk ke dalam kamar ini adalah what. The. Fxck?


What the fxck is this? What the fxck is all of this?


Siapa yang sedang berbaring di atas tempat tidur itu? Sedang apa dia di sana? Kenapa bentuknya seperti itu? Apakah dia benar-benar manusia?


In my honest opinion, she absolutely doesn't even look like one.


Melihat orang di depan sana, gue jadi teringat dengan Dobby si peri rumah di film Harry Potter. Kurus, kering. Yang ada hanya kulit membalut tulang. Perbedaannya hanya terletak pada warna kulit. Sosok yang ada di atas kasur berkulit terang, meski tetap yang mendominasi adalah warna pucat dari kulit yang kurang mendapat cahaya matahari dan kesehatan yang tidak ada lagi.


Ini adalah ibunya Kimaya. Gue tidak menyangka orang yang akan gue temui adalah seseorang yang sesakit ini. Tadi gue memang memperhatikan Kimaya menghampiri jendela yang kini gue ketahui adalah jendela di kamar ini, akan tetapi gue tidak dapat melihat apa-apa. Kalaulah gue tahu apa yang menunggu di dalam sini, gue akan .... Gue akan ....


Akan apa? Akan langsung cabut dari sini?


I don't think so.


Atau mungkin gue akan lebih cepat lagi masuk ke dalam dan memaksa Kimaya untuk segera mengajak gue bertemu dengan ibunya? Bukan karena gue peduli, akan tetapi karena gue mempunyai alasan yang lebih untuk melancarkan tawaran gue pada gadis ini.


Tawaran of the year. Tawaran yang tidak dapat ditolak oleh dia.


Nice, Fionn. You did good. Lo mengambil keputusan yang benar untuk membuntuti mangsa lo. Jika lo hanya menunggu dia di sekolah, atau mencarinya ke perpustakaan, jelas lo tidak akan mendapatkan jackpot seperti yang lo dapatkan sekarang. Good job. Good job.

__ADS_1


Di dalam kepala, gue memberikan tepukan di bahu pada diri gue sendiri.


Kim berhenti satu langkah di samping tempat tidur. Gue melihat perempuan di atas tempat tidur meregangkan bibirnya, bermaksud untuk tersenyum. Namun, secepat apa senyum itu tersungging, secepat itu pula dia lenyap. Gue rasa tersenyum bagi ibunya Kim benar-benar seberat itu.


Kenapa, sih, perempuan ini? Apa yang sudah terjadi padanya?


"Maya, siapa ini?" Sayup-sayup gue dengar suara yang lebih tepat dikatakan seperti desiran angin.


"Teman Maya di sekolah, Bu. Namanya Fionn." Kim menoleh ke arah gue. "Fionn, ini ibu gue, Rahayu." Di kalakian gadis tersebut menganggukkan kepalanya sekilas ke arah perempuan di depan kami.


Gue tidak tahu kalau Kim sudah tahu nama gue. Namun, come the fxck on. Gue ini Fionn Haas, gitu lho. Siapa yang tidak kenal dengan gue? Ya, gak, ya?


Okay, enough of that.


Saat gue mengangkat tangan untuk menjabat tangan Bu Rahayu, atau lebih tepatnya menyentuh tangan dia dengan tangan gue karena dia tidak bisa untuk terlalu mengangkat tangan itu, gue tidak sadar kalau genggaman tangan gue dan Kim tahu-tahu sudah tidak ada lagi. Semenjak kapan tangan kami terlepas?


Well, shxt. My fxcking mind sure is a fxcking jumbled mess right now. "Saya Fionn, Bu. Senang akhirnya bisa bertemu dengan Anda."


Yeah, right, Fionn.


"Ibu yang senang sekali akhirnya bisa bertemu dengan teman Kimaya dari sekolah. Dia tidak pernah mengajak temannya ke rumah. Baru kamu. Makanya Ibu sangat senang ketika Ibu melihat kamu di luar tadi. Maaf, ya." Untuk seseorang yang terlihat dan terdengar lemah, Bu Rahayu lumayan banyak omong juga.


"Bu!" Kim lantas berseru. "Gak usah diomongin juga kali, Bu. Emang gak ada yang bisa diajakin ke rumah juga. Mereka sibuk ngerjain tugas tahu, Bu. Sekarang banyak banget tugas dari guru."


Yeah, Kim. You are right on the nail for that point. Namun, kamu tahu, tidak, kalau yang memberi tugas segunung itu adalah bapak kamu sendiri, hm? Si Botak tak berperasaan itu?

__ADS_1


"Ah, memangnya kenapa kalau Ibu ngomong gitu? Kenyataan, kan?" Bu Rahayu tergelak. Gelak yang tiba-tiba berubah menjadi batuk.


Kimaya menoleh ke arah gue dan memutar bola matanya. "Ya, udah, deh. Kalau gitu kami ke atas dulu. Ibu istirahat, gih." Dengan begitu dia berbalik dan berjalan menuju ke pintu untuk keluar.


Itu membuat gue terburu-buru berpamitan dan mengejar gadis itu. "Terima kasih sudah mengizinkan saya masuk, Bu. Saya permisi ke luar dulu. Sekali lagi, senang bertemu dengan Ibu."


****


"Ngapain lo buntutin gue sampai ke rumah, ha?" Kimaya lantas menodong gue dengan pertanyaannya sekejap setelah pintu kamar tertutup di belakang punggung gue. "Lo buntutin gue dari mana, ha?" Dia melipat tangannya di depan dada dan berpikir dengan satu telapak di bawah dagu. "Tunggu. Kalau melihat dari kapan gue menyadari keberadaan lo dan mobil yang super mentereng kepunyaan lo itu, gue tebak lo udah ngikutin gue dari toko buku. Iya, iya. Toko buku. Soalnya gue gak ngelihat lo pas naik angkot dari sekolah ke sana."


Gue hanya mengedikkan bahu. "Whatever. Lagian gue cuma kebetulan ada di sana kok. Gak ada niatan dari awal mau ngekorin elo."


"Oh, yeah? Bener, bener. Itu yang semua psikopat bilang dan lo harap gue dengan gobloknya percaya aja sama lo," tukasnya dengan cepat dan penuh rasa tidak percaya.


What can I say? Memang benar bahwa dari awal gue tidak berniat untuk mengikuti Kimaya pulang ke rumah ini. Namun, kesempatan mendatangi gue di saat yang sungguh luar biasa tepatnya. Ya, tentu saja gue ambil tanpa berpikir panjang.


Lagi-lagi gue kedikkan bahu gue dengan tak peduli. "Terserah lo, deh, mau percaya apa enggak sama gue."


Dia ... tiba-tiba mengeluarkan bunyi aneh dari hidungnya. Apakah dia baru saja ... mendengkus dan terdengar seperti binatang liar di hutan? Whio is this girl?


Pertanyaan yang bagus, akan tetapi gue ada di sini bukan untuk basa-basi dan mengenal dia lebih dekat. Gue mempunyai tawaran yang harus segera gue ajukan.


"Jawab gue, Fionn." Suara Kimaya terdengar lagi, lebih serius kali ini. Ekspresinya juga lebih kelam, seperti mendung dengan awan dan petir sebelum datangnya badai. "Sekarang, apa tujuan lo ngikutin gue sampai ke sini, ha? Dan jangan coba-coba menjawab dengan alasan yang tidak masuk akal. Jangan singgung gue dengan berkilah soal hal-hal yang konyol. Gue tidak mentolerir semua itu. Yang jelas, silakan berkata jujur dan biarkan gue sendiri yang akan menilai."


Wooooooow, I like this girl. Dia to the point sekali, cuts straight to the case. Seperti yang telah dia katakan, gue melakukan itu. To the point. "Gue punya tawaran buat lo."

__ADS_1


"Apa?"


Bersambung ....


__ADS_2