
Fionn
"Bapak tenang aja, Pak." Gue mengulang perkataan itu lagi dengan maksud ingin benar-benar meyakinkan si bapak tua bahwa semuanya akan baik-baik saja. Gue akan membalaskan dendam gue kepada orang yang telah mempermalukan Kimaya secara halus, hati-hati, dan rahasia.
In fact, ghe tidak akan melakukan apa pun sendiri. Tangan gue tidak akan kotor. Sudah ada orang khusus yang bertugas untuk itu.
Pak Mul mengembuskan napas panjang. Dia menunduk dan berkacak pinggang. Untuk sementara waktu kami hanya diam. Gue hanya menunggu pria paruh baya di depan gue itu untuk mengambil kesimpulannya sendiri. Namun, melakukan hal itu dengan lebih cepat tidak akan menyakiti siapa pun. Soalnya tangan gue sudah capek memegang kantong-kantong ini.
Akhirnya. Akhirnya dia menghela napas lagi. "Oke." Guru matematika gue yang tidak berbut itu mendesah. "Oke." Pak Mul di kalakian beranjak dari pintu, memberikan jalan bagi gue untuk masuk. "Silakan masuk, Fionn," katanya dengan nada yang menurut gue tidak perlu sekeras itu.
__ADS_1
Gue mengirimkan sebuah lirikan penuh pertanyaan ke arah laki-laki itu. Dia balas mengirimkan tatapan yang sama. Oh, my goodness. Apa lagi ini?
Gue berjalan ke dalam dan langsung .enuju ke ruang tengah slash ruang makan slash dapur milik keluarga Mulyono. Gue meletakkan barang-barang yang gue bawa di atas meja makan.
Bu Pik, as always, muncul secara tiba-tiba entah dari mana. "Hi, Fionn. Waah, barang bawaan mamu banyak sekali." Wanita berumur itu memeriksa isi setiap kantong. "Oooh, lihat! Banyak comfort food. Kayaknya ada yang lagi kedatangan tamu, nih!" Dia menyeringai dan menaik-turunkan alisnya dengan konyol ke arah gue.
Ah, ah, ah. Mungkin ini yang menjadi tujuan dari nada suara aneh penuh kesengajaan Pak Mul tadi. Baik Bu Pik dan apalagi ibunya Kimaya pasti tidak tahu apa yang terjadi di sekolah. They better don't.
Gue mengalihkan perhatian kepada Bu Pik yang masih berdiri di sana. "Iya, nih, Bu. Tadi Kimaya bilang perutnya kram banget. Jadi, saya carikam yang bisa meredakan kram sekalian menghibur dia. Saya gak ngerti urusan ini, sih. Tapi, at least saya mencoba." Gue tahu gue terdengar pasrah dan tidak yakin, akan tetapi percayalah bahwa perasaan gue adalah yang sebaliknya. Gue yakin yang gue bawa bisa menghibur hati Kimaya meskipun gue tidak dapat melakukan apa-apa untuk datang bulannya.
__ADS_1
"Eh, Bu, saya boleh taruh beberapa barang langsung di kulkas, gak? Takutnya es krim yang saya beli keburu makin hancur. Soalnya dari tadi udah saya simpan di bagasi." Gue mengeluarkan tujuh tub ukuran setengah liter es krim Ben and Jerry's yang gue beli tadi. Gue tidak jadi membeli es krim low fat yang dianjurkan situs yang gue baca tasi. Low fat, low fat, apaan? Gue butuh Kimaya memiliki some fat di badannya biar tidak terlalu lurus.
"Adudududuh, sweet banget, sih, Fionn. Masukin aja langsung ke freezer. Gak usah sungkan-sungkan. Sekalian yang perlu ditaruh di sana, ya, taruh aja. Gak apa-apa kok. Bapak sama Ibu Mul juga pasti gak keberatan. Wong buat anaknya juga ini. Kamu, ya, Fionn. Emang benar-benar pacar yang baik. Kelihatan banget sayangnya sama Maya."
Gue yang sibuk menyusun barang belanjaan gue tadi tak pelak dibuat tersenyum oleh komentar ibu-ibu yang satu ini. Gue tadi bilang ke anak-anak kalau gue memang care banget sama Kimaya. Apakah itu artinya sama dengan sayang? Sayang yang seperti itu?
Gue ... gue rasa jawabannya adalah iya.
Gue sayang Kimaya.
__ADS_1
Bersambung ....