
Kimaya
Perhatianku berubah arah, dari keempat pria ini menjadi ke sekeliling. Dan benar apa yang dibilang oleh Aldi. Semua mata sedang tertuju pada kami.
Dan, ya, Tuhan.
Fionn memang sudah memberi tahu kalau dia dan teman-temannya biasa berkumpul terlebih dahulu sebelum masuk ke kelas. Entah itu di tempat dia memarkir mobil—Fionn mempunyai spot khusus untuk mobilnya ngomong-ngomong, atau di depan loker pacar gadunganku itu.
Kenapa ada banyak sekali orang yang ada di koridor ini sekarang? Kenapa sepertinya seluruh siswa dan siswi SMA Taruna Nusantara berkumpul di sini dan memelototkan matanya pada kami? Ehm, aku rasa kami itu tidak termasuk aku.
Iya, iya, iya. Benar. Mereka tidak sedang memperhatikan aku. Mereka hanya menonton apa yang empat cowok populer di sekolah ini sedang kerjakan.
Namun, tetap saja. Meskipun bukan aku yang diperhatikan, akan tetapi hal itu membuatku menjadi terlalu sadar diri. Tanpa berpikir aku mendekatkan tubuhku kepada tubuh Fionn untuk mendapatkan sedikit perlindungan.
Aku tidak mengerti bagaimana Fionn bisa mengetahui apa yang aku rasakan, akan tetapi aku sangat bersyukur sekali ketika dia akhirnya memasukkan aku ke dalam rangkulannya lagi. "Shxt. Anak-anak jadi pada ngeliatin kita. Thank you, Xsshole." Dia lagi-lagi menggeram. Aku rasa dia juga mengarahkan geramannya itu kepada orang yang sama.
Karena kepalaku menunduk, aku tidak dapat melihat sendiri apa reaksi dari Hamish.
Aku juga tidak mengerti kenapa hal ini menjadi suatu masalah baginya. Padahal, daei awal dialah yang menyapaku dengan begitu riang. Sikapnya duluan yang menarik perhatian semua orang. Lalu, kenapa dia semarah itu pada temannya sendiri? Dan kenapa Hamish hanya menerima saja saat Fionn menyalahkannya? Kenapa Mario dan Aldi tidak peduli soal ini?
"Come on." Suara dan sentuhan Fionn di pundak menyadarkan aku dari pemikiran. "Let's get you to class." Dia kemudian mendorongku lembut untuk mengambil langkah ke arah ruang kelas mata pelajaran pertamaku di hari Senin, matematika.
Uh-oh. "Emangnya kamu udah tahu kelas aku di mana?" Aku bertanya.
__ADS_1
Ya, benar. Satu hal lagi yang masuk ke dalam daftar kesepakatan kami. Di depan publik, a k a di sekolah atau di depan teman-teman, Fionn meminta agar kami mengganti panggilan elo dan gue yang kami pakai dengan aku dan kamu karena ... terdengar lebih manis.
Aku tidak tahu cowok dengan imej playboy seperti dia peduli akan hal-hal yang manis.
"Di 301, kan?"
Jawabannya membuatku ternganga. Aku tersandung kakiku sendiri. Untung ada lengan Fionn yang masih mengelilingi bahuku atau aku akan jatuh di tengah-tengah pengamatan separuh penduduk Taruna Nusantara.
"Kok, kamu tahu?" Aku tidak dapat membendung rasa ingin tahu yang tiba-tiba saja membanjiri.
"Ya, tahu lah. Kan kamu pacar aku."
Aku sadar bahwa semua ini hanya sandiwara. Aku sadar bahwa sikap manis dan perhatian Fionn hanya topeng belaka. Aku sadar betul akan transaksi yang kami lakukan ini. Namun, sepertinya hatiku tidak mendapatkan memo. Dia tetap saja cegukan ketika Fionn tersenyum dan mencolek puncak hidungku.
Aku bisa merasakan pipiku memanas karena sentuhan itu. Aku bisa mendengar seseorang, atau beberapa orang, menjadi sangat terkejut oleh aksi ini sehingga mereka mengeluarkan bunyi yang aneh saat mengambil napas.
Aku juga bisa mendengar bisikan-bisikan yang datang dari cowok-cowok yang berjalan di belakangku, di belakang kami.
"Shxt, man. He's good. Gue gak nyangka dia bisa bersikap kayak gitu. Kenapa dia gak bisa semanis itu ke kita, sih? Coba kalau dia kayak gitu ke kita, beuh! Gue pasti senang banget."
"Shut the fxck up, Hamish! Jaga mulut sembarangan lo dan jaga suara lo! Mulut lo gak ada pengatur volumenya apa, ya?"
Terdengar seseorang mengaduh, yang aku tebak adalah Hamish. Aku yakin salah seorang dari Aldi atau Mario sudah menoyor bagian tubuh pemuda gondrong yang menurut pandanganku bisa jadi teman yang asyik itu.
__ADS_1
Kasihan. Aku memmbuat catatan di dalam kepalaku untuk menanyai keadaannya nanti. Kalau tidak ada perubahan rencana, aku akan ikut makan siang bersama mereka di meja yang sudah biasa mereka tempati di kantin sekolah.
Kalau itu terjadi, hal tersebut juga akan menjadi pengalaman keduaku berada di sana semenjak kelas satu.
Setelah percobaan pertamaku, ketika aku baru menjadi siswi di SMA Taruna Nusantara, aku mencoba untuk mengambil tempat di salah satu meja. Namun, belum-belum aku sudah diusir oleh segerombolan yang kukira kakak kelas. Semenjak itu aku tidak pernah mencoba untuk berada di dalam tempat yang lebih sadis dan kejam dibandingkan dengan hutan sendiri.
Kantin sekolah di SMA memanglah hampir sama seperti sebuah rimba. Siapa yang kuat, dia yang akan menjadi raja. Bahkan kupikir kantin sekolah kami merupakan rimba dengan level yang lebih ekstrem.
"Dia melakukan itu karena ada alasannya, goblok! Emang ada alasan apa si Fionn mau manis-manis sama lo, ha? Lo oon begini juga mana pantas dimanis-manisin. Yang ada otak telmi lo itu bikin orang emosi aja bawaannya."
Kini giliranku yang menjadi sangat, sangat, sangat terkejut oleh perkataan yang barusan diucapkan entah oleh siapa itu. Aku memang tidak mempunyai teman, aku memilih untuk menjalani hidupku di sekolah seperti itu, akan tetapi bukan berarti aku tidak memahami bahwa seorang teman seharusnya tidak mengatakan hal kejam selayaknya yang baru saja dikatakan.
Saat aku hendak berbalik untuk menyampaikan sepatah, dua patah kata kepada siapa pun yang berlidah sangat tajam itu, Fionn mengeratkan rangkulan di bahuku. "Leave it," perintahnya melalui rahang yang terkatup. "Hamish is used to some jab here and there. Lagian memang begitu kenyataannya. So, what the fxck ever."
Apa? Sambil terus melangkah, aku mendongakkan kepala untuk menatap wajah cowok yang sedang mengapit tubuhku dengan tubuhnya yang lebih kuat. Kuperhatikan ekspresi yang ada di wajahnya dengan saksama. Mukanya memang masih terlihat begitu rileks dan kenyataan itu malah semakin membuat aku tidak nyaman.
Apakah benar Hamish sudah terbiasa diperlakukan seperti itu? Seperti seseorang yang tidak punya harga diri seperti tadi? Apakah itu hanya cara mereka berkomunikasi? Apakah hanya aku yang terlalu menduga-duga secara berlebihan padahal bagi Hamish sendiri hal itu memang biasa saja?
Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Namun, satu yang perlu kuingat, kalau aku tidak perlu ikut campur dalam urusan pertemanan mereka. Mungkin begitulah dinamika yang mereka atur. Jadi, siapa aku untuk mengomentari apa yang sudah biasa mereka jalankan?
Namun, aku tetap saja menyempatkan diri untuk melirik ke arah belakang. Dari balik bahu bidang milik Fionn, aku melihat sesuatu yang tidak bisa kubiarkan begitu saja. Hamish yang tadi terdengar bersemangat kini hanya menggantungkan kepalanya. Sedang Aldi asyik dengan dunianya sendiri dan Mario yang mengangkat alisnya ketika bertemu mata denganku.
Aku memang tidak mempunyai teman, akan tetapi aku tahu bahwa bukan seperti ini seharusnya sebuah pertemanan.
__ADS_1
Bersambung ....