
Fionn
"Gak ada urusannya gimana?" Alda kembali membentak, meski kali ini yang menjadi sasaran adalah Aldi. "Fionn itu punya gue! Dia cuma buat gue!"
What the fxck? Apa-apaan, sih, ini cewek?
Gue menoleh ke arah dua kembar yang sedang beradu tatapan itu. Gue bersyukur karena perhatian cewek gaje ini sudah tidak ada pada gue lagi dan gue benar-benar tidak berharap untuk berada di dalam posisi Aldi. Thank fxcking God Arnold dan Monalisa Haas tidak berpikir untuk mereproduksi satu orang anak lagi selain gue. Kalau tidak, gue pasti akan bernasib sama dengan si Aldi.
Gue bergidik. Sial. Gue sepertinya harus berterima kasih pada mereka soal ini.
Tidak ingin mendengarkan sahut-sahutan mereka, gue segera berdiri dari kursi. Meski ingin cepat-cepat pergi dari sana, gue masih mempunyai kesadaran kalau gue harus bergerak dengan hati-hati. Jikalau tidak, gue hanya akan mengalihkan perhatian mereka ke gue lagi. Gue tidak mau terjebak bersama keduanya atau salah seorang dari mereka lebih lama lagi.
Gue memilih jalur memutar karena berusaha untuk tetap berada di belakang punggung Alda. Gue baru bisa mengembuskan napas lega setelah ke luar dari kantin dengan selamat. Fiuh. Fxcking hell. Sepertinya sudah saatnya gue menghentikan semua urusan gue dengan si Alda. Semakin hari dia menjadi semakin gila. Apa-apaan sikap dia tadi? Dan perkataannya itu?
Fionn itu punya gue! Dia cuma buat gue.
What's in the ever loving fxck? Punya dia? Cuma buat dia?
Cuih! Gak sudi gue.
__ADS_1
Dasar cewek sialan! Bikin malu gue aja.
Ini semua gara-gara Kimaya. Ke mana, sih, cewek sialan yang satu ini?
Sambil terus berjalan menyusuri koridor, gue berpikir keras demi menemukan tempat persembunyian Kimaya. Kenapa dia tidak ada di kantin? Kalau tidak ada di sana, lalu di mana dia? Di mana dia biasa menghabiskan waktu istirahat makan siangnya?
Hm.
Sebuah ingatan melintas di kepala gue. Ah, I see. Dia pasti ada di sana.
****
Setelah mengingat bahwa seseorang—apakah itu Aldi, Hamish, atau Mario, ya?—pernah mengatakan ke gue kalau cewek kutu ini selalu menghabiskan waktunya di perpustakaan, gue memperlurus langkah gue ke tempat yang berada di bagian barat gedung sekolah tersebut. Namun, setibanya gue di sana, gue tidak langsung dihadapkan dengan hidung Kimaya. Gue ... harus mencari dia terlebih dahulu.
Jadilah, gue harus berpikir keras lagi. Atau, lebih tepatnya, bertanya kepada seseorang yang terlihat mengunjungi tempat ini on a daily basis, sama seperti dia. Gila aja kalau gue harus mengobrak-abrik ruangan dua lantai ini dalam kunjungan pertama gue. Apa yang bisa gue lakukan?
"Oh, Kak Maya?" kata seorang cewek berkacamata setebal es yang menutupi puncak gunung Everest ketika gue bertanya apakah dia tahu Kimaya biasanya duduk di mana. "Dia biasanya milih duduk di meja pojok lantai dua. Di anak tangga paling atas, Kakak lanjut jalan ke arah kiri. Lurus aja terus, nanti mentok di dinding lihat ke kanan. Mejanya ada di ujung rak terakhir itu. Gak tahu kenapa dia suka banget nongkrong di sana. Kata teman-teman yang lain, gak pernah ada orang yang beneran belajar kalau ke lantai dua. Biasanya dipakai buat mojok karena isi rak di sana cuma buku-buku lama semua dan banyak debunya. Tapi–"
Gue sekonyong-konyongnya berjalan dan meninggalkan dia di belakang gue tanpa sepatah kata pun, bahkan tidak sebuah ucapan terima kasih. Karena gue sedang tidak ingin berterima kasih kepada siapa pun sekarang.
__ADS_1
Tiga hal, tiga hal yang bisa gue dapat setelah beberapa detik mendengar ocehan si Kacamata Tebal Tukang Ngobrol itu. Yang pertama, si Tukang Ngobrol sepertinya sudah tidak berbicara dalam waktu yang lama, jadi sekalinya ada yang mengajak, dia jadi kebablasan begitu dan tidak tahu kapan harus berhenti. Yang kedua, orang macam apa si Kimaya ini? Dia benar-benar menghabiskan waktunya di dalam perpustakaan, menghirup udara penuh debu dari halaman-halaman buku di sekelilingnya. Dan, yang ketiga, gue baru tahu kalau masih ada aja pasangan-pasangan horny gak bermodal yang menjadikan perpustakaan sebagai tempat mojok. Man. Gue bukan anti soal mojoknya, ya. Gue juga suka mojok kalau boleh jujur. Namun, di perpustakaan? Di lingkungan sekolah? Di atas debu-debu ini? Fxck no! Bukannya puas, malah yang ada gue dapat penyakit kulit nanti.
Sembari berpikir dan berbicara pada diri sendiri, gue ikuti instruksi yang diberikan oleh si Kacamata Tebal Tukang Ngobrol tadi dan ... benar saja. Itu dia. Kimaya sedang duduk di salah satu kursi dari empat buah yang ada mengelilingi meja kayu persegi itu. Fokusnya ada pada buku di depannya meski bukan hanya buku itu yang halamannya terbuka. Helaian rambut yang tergerai jatuh menutupi pipinya. Segera dia menyelipkan surai hitam panjang nan lurus itu ke belakang telinga ketika rambut-rambut itu sudah mulai mengganggu. I think.
Langkah-langkah yang gue ambil semakin bermaksud seiring dengan jarak kami yang mulai mendekat. Rasa gemas yang semula ada lalu teralihkan, kini kembali terpusat pada sosok kurus yang masih menunduk itu. Saat sudah berada di dekat meja, gue sengaja berdiri dengan kaki dijarakkan selebar bahu dan tangan bersilangan di depan dada.
Butuh beberapa kala sebelum dia keluar dari zona fokusnya dan mulai menyadari keberadaan gue. Dia sekonyong-konyongnya mengembuskan napas panjang, akan tetapi belum juga menengadahkan kepalanya.
Lalu gue mendengar suara helaan napas lagi. Gue tidak dapat menahan seringai yang diciptakan oleh suara-suara itu.
Dia sadar akan kesalahannya. Dia sadar akan mendapatkan konsekuensi dari kesalahannya tersebut. Dia sadar sekali kalau shxt is going to hit the fan.
"Sorry," desahnya tanpa mengubah arah pandang. Dia masih saja menatap buku ketika dia mulai berbicara dengan gue. "Gue awalnya mau ke kantin sesuai perjanjian kita, tapi ... abis itu gue jadi kehilangan niat. Males gue menghadapi orang-orang itu."
Mungkin seperti ini rasanya menjadi seorang Hamish yang tidak mengerti apa-apa soal apa yang sedang dibicarakan. Gue merasakan suatu keinginan yang kuat untuk menodong Kimaya dengan beribu-ribu pertanyaan sekaligus. Namun, gue juga tahu bagaimana tidak efektifnya hal tersebut. Jadi, gue mulai mengurai pikiran dan melepaskan satu per satu rasa ingin tahu gue. Gue bahkan juga sempat melihat ke belakang gue, memastikan bahwa Kimaya sedang tidak membicarakan sesuatu yang ada di dekat kami. Nope. Tidak ada orang di sekitar aini selain kami berdua. "Orang-orang yang mana?"
Kimaya butuh sejumlah waktu lagi untuk mengumpulkan jawabannya. Dia, untuk kesekian kalinya, kembali menghirup napas dalam dan mengeluarkannya dengan kencang. "Itu. Orang-orang yang ada di situs majalah online sekolah."
Bersambung ....
__ADS_1