Pacar Bayaran Abang Ketos

Pacar Bayaran Abang Ketos
24. Ironing Out the Detail


__ADS_3

Fionn


Gue tahu gue sudah menangkap perhatian cewek di depan gue semenjak gue menyinggung soal universitas. Gue dari awal sudah tahu bahwa dia akan tertarik dengan hal itu. Semuanya berkat setan di dalam kepala gue yang sungguh genius.


Gue sudah menduga bahwa gaji seorang guru tidaklah seberapa. Meskipun Pak Mul berhasil menabung, jumlah tabungannya pasti baru sedikit dan sangat jauh dari kata cukup. Terlebih lagi jika Kimaya berambisi untuk melanjutkan pendidikannya ke luar negeri.


Pertanyaan yang baru saja diutarakan menyegel asumsi gue.


Apa lo serius bilang kalau lo gak peduli di mana pun gue akan kuliah nanti?


Tentu saja gue serius dan jujur seratus persen ketika menjawab pertanyaan dari dia. Because, come the fxck on, apa gue mesti bilang lagi? Uang tidak pernah akan menjadi masalah buat gue. I am THE Fionn Haas after all.


"Terserah lo mau kuliah di mana, gue gak peduli. Yang jelas, kalau lo memutuskan untuk bantu gue sekarang, gue akan bantu lo nanti." Gue menambahkan. "Lo bisa hitung sendiri lah, ya. Si UI aja, dalam satu semester lo bisa ngabisin duit minimal sepuluh juta. Dikali delapan semester jadi delapan puluh juta. Itu belum biaya yang lain-lainnya, ya. Paling banter lo bisa ngabisin seratus juta." Gue mengedikkan bahu sok cuek. "Kalau lo kuliah di MIT, misalnya, hitungannya lain lagi. Di situ biaya kuliah per tahunnya aja ada kurang lebih tujuh puluh ribu dolar. Kali lima belas ribu ... Man!"


Gue tidak berhenti sampai di sana saja. "Tapi, lo gak usah khawatir. Kalau lo bantuin gue, lo gak perlu mikirin semua itu. Lo tinggal belajar yang rajin buat lulus di sekolah mana pun yang lo suka. Sorry, sorry, bukannya gue menganggap lo gak bisa dapetin beasiswa, lho, ya. Namun, hm. Gue cuma mikirnya gini. It's nice to know that you have some kind of landing cushion if things aren't going as you planned. Right?"


****


Kimaya

__ADS_1


Aku benar-benar tergiur dengan tawaran yang diberikan oleh Fionn. Bagaimana tidak? Keadaan ekonomi keluarga kami sedang tidak baik-baik saja. Ayahlah yang menjadi sumber pendapatan keluarga satu-satunya. Ibu, setahuku, dari awal dia menikah dengan Ayah hanya berperan sebagai ibu rumah tangga.


Semenjak Ibu didiagnosa menderita kanker payudara stadium tiga, segalanya berubah. Hal kedua yang terkena dampak besar selain dinamika keluarga kami adalah masalah ekonomi. Semua uang yang Ayah dapatkan dialirkan kepada biaya pengobatan dan perawatan Ibu. Ketika gaji Ayah tidak bisa lagi menangani kebutuhan medis Ibu dan keluarga secara bersamaan, Ayah meminta izin padaku untuk menggunakan tabungan yang disisihkan untuk biaya kuliahku di masa depan.


Sekarang uang di dalam rekening itu semakin lama semakin menipis. Aku yakin dalam sebulan atau dua bulan ke depan sudah benar-benar lenyap.


Lalu, bagaimana dengan nasib kuliahku?


Seperti yang dibilang Fionn, aku selalu bisa membidik salah satu kesempatan untuk mendapatkan beasiswa yang bertebaran di luar sana. Namun, memang lebih tenang rasanya jika kita mempunyai dana sendiri, bukan? Jadi, aku tidak dibayang-bayangi oleh depresi yang berat jika tidak bisa mendapatkan beasiswa yang kumau.


Satu yang kupelajari dari setiap masalah dan keadaan yang sudah kehidupan tujukan pada keluarga kami adalah ... kita tidak pernah benar-benar siap dalam menghadapi sesuatu. Ketika kita merasa siap, atau merasa bisa, selalu saja ada cara bagi takdir untuk membuktikan bahwa kita salah. Ada saja jalan bagi kehidupan untuk mengingatkan bahwa kita hanyalah manusia yang tidak berdaya.


Sudah mengerti kenapa aku mulai mempertimbangkan tawaran dari Fionn?


"Gimana caranya gue bisa percaya sama lo?"


Dia tersenyum, mungkin lebih tepat jika dikatakan menyeringai. Salah satu sudut bibirnya terangkat dengan penuh kepuasan diri. Aku tahu dia pasti sudah memperhitungkan semuanya dengan matang. Dia sudah menaksir segalanya dengan tepat. Hingga ke reaksi dan tanggapanku.


Dia sudah tahu aku akan menerima tawarannya itu. Atau setidaknya keputusan yang akan aku ambil sudah nampak condong ke arah yang dia inginkan.

__ADS_1


"Gue bisa minta tim legalitas bokap gue untuk mengurus perjanjiannya. Gampang lah itu. Semuanya bisa diatur. Kan, gue udah bilang kalau lo gak perlu khawatir," ujarnya enteng.


Aku sudah mulai menangkap kalau Fionn benar-benar menyukai kata gampang. Gampang lah itu. Gampang lah. Gampang lah. Gampang lah. Mungkin karena baginya, apa pun yang terjadi pada dasarnya merupakan sesuatu yang mudah untuk ditangani. Dia tinggal menyuruh orang untuk menyelesaikannya. Dia hanya tinggal mengeluarkan uang untuk mwmbersihkan segalanya. Atau, mungkin, dia hanya cukup menyebut nama belakangnya sebanyak tiga kali dan, dor! Semuanya menjadi baik lagi.


Gampang.


"Jadi, kalau gue belum tahu mau kuliah di mana, gimana caranya lo memperhitungkan bayaran gue? Kalau duit lo lebih, mah, tinggal kurangin aja. Tapi, kalau kurang?" Aku bertanya semata-mata untuk memuaskan rasa ingin tahuku akan teknis dari perjanjian ini. Kalaupun aku diterima di luar negeri dan uangnya tidak cukup, aku akan bekerja mati-matian untuk mencukupi kebutuhanku sendiri. Aku tidak peduli jika harus bekerja paruh waktu di dua atau tiga tempat sekaligus.


Dia melipat tangannya di depan dada lalu menaikkan telapak tangan kiri yang digunakan memangku dagunya. Dengan posisi seperti itu, dia menggunakan beberapa waktu untuk berpikir. Atau setidaknya begitulah yang terlihat olehku. "Oh, oke. Gini aja. Lo lakukan kewajiban lo dulu. Jadi pacar gue untuk beberapa bulan. Setelah nanti kita tamat atau lo udah di terima di universitas yang lo suka, baru kita hitung perkiraan biayanya dengan perhitungan maksimal."


Meminjam kata favorit Fionn, terdengar sangat gampang. Namun, aku yakin semuanya tidak akan segampang itu. Aku harus berpura-pura menjadi pacarnya selama beberapa bulan. "Jadi, gue harus pura-pura selama berapa bulan?"


"Paling dikit empat bulan. Paling lama satu semester."


Hm. Oke. "Apa aja yang diperlukan untuk memenuhi kategori sebagai pacar lo?" Pertanyaan itu berasal dari rasa ingin tahu soal detail perjanjian ini dan ketidaktahuanku soal dunia per-pacar-an. Karena, jujur saja, aku tidak punya waktu untuk hal yang sia-sia seperti itu. Waktuku terlalu berharga hanya untuk dibuang percuma.


"Gak banyak, kok. Gue juga bukan tipe yang mau pamer-pamer soal hubungan gue ke orang banyak. Lo cukup bantuin gue ngerjain tugas, dampingin gue dan support gue setelah gue jadi calon ketua OSIS nanti." Dia berhenti sejenak. "Hm. Apa lagi, ya? Itu doang, deh, kayaknya. Gimana?"


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2