Pacar Bayaran Abang Ketos

Pacar Bayaran Abang Ketos
42. Kerut Kening Kimaya


__ADS_3

Fionn


"Jadi, ini tempat makan favorit kamu itu?" Kimaya bertanya setelah kami dipersilakan duduk oleh Bu Deb.


Sialan. Belum-belum Bu Deb sudah menyatakan dukungannya terhadap Kimaya. Kalau saja wanita paruh baya itu tahu apa yang kami lakukan di balik layar .... Ckck. Pasti dia tidak hanya akan marah besar kepada gue. Mungkin dia juga akan menghukum gue dengan caranya sendiri.


"Eh-hm." Gue bergumam dan mengangguk.


Sebelum menyuruh kami duduk, Bu Deb sempat bertanya kepada Kimaya soal preferensi makanan yang disukai gadis itu karena dia tidak dapat menentukan apa yang menjadi pesanannya. Gue baru tahu kalau dia alergi dengan penyedap rasa. "Kenapa lo gak pwrnah kasih tahu gue kalau lo punya alergi?"


Dia mengedikkan bahu. "Lo gak nanya dan gue juga gak kepikiran. Makanya ... gue jadi lupa buat ngasih tahu."


"Itu sebabnya lo gak makan di kantin." Setelah mengetahui fakta ini, akhirnya gue bisa mengambil kesimpulan sendiri.


Kimaya mengangkat bahunya lagi. "Itu. Dan juga gue emang malas aja melakukan hal yang gak berguna seperti berpura-pura ingin bersosialisasi sama orang-orang yang ada di sana. Gue tidak akan melakukan hal yang tidak ingin gue lakukan."


Okaay. Sepertinya ini cewek bukan cewek pintar yang belagu seperti yang telah dikatakan murid-murid Taruna Nusantara soal dia.


Hening meraja untuk beberapa saat.


Meja yang dibilang oleh Bu Deb sebagai tempat duduk kami yang biasa merupakan meja dengan pemandangan terbaik, menurut gue. Entahlah karena apa. Yang jelas, meja tersebut terletak persis di depan one of the floor to ceiling windows yang ada di Crusty Deb. Namun, ini adalah satu-satunya jendela yang tidak dihalangi oleh deck seperti yang lainnya. Gue tidak tahu kenapa Bu Deb memilih untuk membangun bangunan restorannya dengan cara seperti ini, akan tetapi gue tidak akan pernah mengajukan komplain.


Pemandangan yang bisa kami lihat dari tempat duduk sangatlah luar biasa. Dari sini kami bisa melihat ombak-ombak yang menari, saling berkejaran ke tepi pantai. Dari sini kami bisa melihat mereka menghempas tiang-tiang yang menyangga deck sebelum kembali melanjutkan perjalanan ke tepi. Ketika ombaknya tidak terlalu besar, melihat air laut itu menjadi sesuatu yang bisa dikategorikan sebagai cara gue untuk healing. Namun, ketika ombaknya besar-besar seperti beberapa saat sebelum badai, menonton gelombang itu menabrak sesuatu terasa sangat ... thrilling.


Ngomong-ngomong soal sesuatu yang termasuk ke dalam golongan menegangkan, gue jadi teringat akan hal yang terjadi tadi. "Eh, Kim." Gue memanggil dia agar dia bisa memusatkan perhatian ke arah gue lagi, bukan ke laut seperti yang dia lakukan sekarang.

__ADS_1


Kimaya menolehkan kepalanya perlahan. "Hm?". gumamnya.


"Gue tadi lihat lo sama bokap lo lagi duduk di BPR. Kalian biasanya ngomongin apa?" Gue sebenarnya hanya ingin tahu apa yang mereka bicarakan tadi, akan tetapi gue juga tidak mengerti kenapa gue membuatnya terdengar seperti gue ingin mengetahui kebiasaan yang dilakukan oleh cewek ini bersama ayahnya. Gue rasa gue hanya ... entahlah.


Setelah mendengar pertanyaan itu, Kimaya sekonyong-konyongnya menegakkan tubuhnya daei posisi bersandar pada kursi seperti yang dilakukannya tadi. Raut wajahnya tak lagi sedatar yang sebentar ini. "Ah, itu." Cewek di seberang gue mencondongkan tubuhnya. Dia melirik ke sekeliling sebelum berbisik. "Gue gak tahu gimana caranya, tapi kayaknya ayah gue tahu sesuatu. Dia ... dia tadi kayak ingin menguji gue dengan menyuruh gue untuk berkata jujur."


Jujur. Satu kata yang membuat gue nervous sekarang ini. "Jujur soal apa?"


"Soal kita." Kimaya lekas menyahut.


"What? Emangnya kenapa?" Ketertarikan gue terhadap persoalan ini menjadi lebih beralasan. Kalau Pak Mulyono mulai mempertanyakan soal kedekatan gue dengan anaknya, berarti dia sudah mulai curiga. Shxt. Gossip really travels fast dan tidak cuma di telinga murid-murid saja. Telinga guru juga tidak luput menjadi incarannya.


"Ayah tanya sejak kapan gue dekat sama lo. Dia bilang dia tahu dari Ibu."


"Ya, gue bilang kalau kita udah dekat dari lama. Gue gak bisa jujur lah! Gila aja lo!"


Okay. Dia melakukan hal yang benar. Bukan dengan memanggil gue gila, akan tetapi dengan tetap menjaga rahasia kami. "Terus, terus?"


"Terus, ya, gitu. Ayah seperti mendesak gue. Tapi, untung gue masih bisa lolos." Kening Kimaya mengerut. "Gue yakin Ayah tahu sesuatu, tapi gue gak tahu sesuatu itu apa. Ketidaktahuan itu yang bikin gue was-was. Gue takut salah ngomong dan membuktikan kalau gue bohong secara tidak langsung ke dia. Makanya. Tadi gue mau langsung nanya ke elo soal ini, tapi elo malah bikin gue kesal duluan. Jadi lupa, deh."


"Lho, kok gue yang salah? Elo itu yang bikin gue geram karena banting pintu mon Chéri." Karena perkataan Kimaya gue jadi tersulut emosi lagi. Bisa-bisanya dia menyalahkan gue sementara dia yang jelas-jelas melakukan kesalahan.


"Mon Chéri, mon Chéri. Simoncelli maksud lo!" Kimaya menanggapi balik


"Kim!"

__ADS_1


"Fionn!"


"What?" Gue mempertanyakan kenapa dia ikut-ikutan melakukan apa yang gue lakukan.


"Elo duluan yang manggil gue dengan cara yang gak enak. Ya, gue balesin. Enak aja lo mau manggil-manggil gue pake nada yang begitu."


Damn it to hell. Apakah kami akan terjebak dalam dunia balas-membalas seperti ini? "Iya, elo duluan yang ngebanting pintu mon Chéri. Sekarang berani-beraninya elo ngejek dia."


Kimaya mencibir. Untuk pertama kalinya dia mengerjakan sesuatu yang sesuai dengan umurnya. Memang anak-anak yang usianya masih enam belas tahun seharusnya berlagak seperti ini, kan? Kekanak-kanakan. Bukannya malah cosplay menjadi orang dewasa yang pemikirannya sudah melanglang buana ke mana-mana. Kuliah di mana. Kerja apa biar dapat uang yang banyak dan bisa hidup senang. Bla, bla, bla.


Gue menggeleng di luar, akan tetapi di dalam hati entah kenapa gue merasa gue sangat menikmati cara berolok-olok yang baru saja kami lakukan. Meskipun demikian, gue harus mengakui sesuatu. Benar kata cewek ini. Dia harus mengetahui apa yang diketahui oleh ayahnya agar dia bisa menghindari pertanyaan yang akan menjebak kami ke dalam lubang yang bisa menghancurkan semuanya. Setidaknya, bagi gue, yang akan menghancurkan rencana yang sueah gue susun.


I will never jeopardize that. Gue sudah melancarkan usaha sebanyak ini. Progres yang ada juga sudah sejauh ini.


"Eh, by the way, gue mau bilang sesuatu sama lo." Walaupun gue bisa langsung mengakui hal itu, akan tetapi gue memilih untuk memancing rqsa penasaran Kimaya terlebih dahulu.


"Apaan?" tanyanya dengan alis yqng yang hampir bersatu.


Nah, itu yang ingin gue lihat. Gue sepertinya sudah kecanduan melihat raut muka penasaran cewek di seberang meja. Untuk beberapa saat, gue biarkan saja dia begitu. Tidak gue lepaskan dia dari jeratan rasa ingin tahu. Gue masih ingin menikmati kerutan di kening, bibirnya yang membentuk garis tipis. "Hm." Gue bergumam.


"Apaan, Fionn. Cepetan ngomong, deh!" Sebuah bola yang terbuat dari tisu di atas meja menimpuk gue tepat di muka. Sialan.


"Hm. Gue cuma mau bilang kalau tugas yang harus gue kerjakan dengan bantuan elo itu adalah tugas dari Pak Mul."


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2