
Fionn
Gue lantas mengejar Kimaya yang setelah mengata-ngatai gue malah melesat seperti roket. God damn it to hell! Apa yang harusnya gue lakukan, sih? Lagi pula apa yang sebenarnya terjadi di dalam diri gue? Kenapa gue jadi mencemaskan dan peduli terhadap perasaan Kimaya seperti ini?
"Babe, wait. Babe!" Gue memanggil-manggil Kimaya yang bersikap seperti tidak mendengar suara gue. Gue tahu dia sedang berpura-pura karena anak-anak yang masih berkeliaran di koridor saja menoleh saat mendengar suara gue. Padahal gue tidak memanggil mereka sama sekali.
Fxckers are really fxcking annoying. They wanted to know shxts that aren't their fxcking businesses to begin with.
Dengan kesal, gue mengirim pandangan mematikan gue kepada mereka. Dasar sampah! Mereka seketika langsung menunduk, menghindari tatapan gue. Those little shxts.
Dalam beberapa langkah saja akhirnya gue bisa menyamai jarak kami lagi. Sekonyong-konyongnya gue pegang lengan Kimaya dengan lembut untuk menghentikan gerakannya. "Aku manggil kamu dari tadi, lho, Babe. Kamu gak dengar?"
Kimaya berhenti, akan tetapi tidak membalas pandanganku. Dia berpikir diam adalah cara terbaik untuk menjawab pertanyaan yang baru saja aku berikan.
Okaay then. Gue menunggu sesuatu di dalam diri gue yang biasanya akan set off di saat-saat seperti ini. Namun, hal tersebut tidak kunjung tiba.
What the heck? The thing that going inside of me right now is pretty much the opposite of what I was expected. How could this happen? How could this strange thing happen to me?
Hal yang aneh terjadi lagi di dalam diri gue, malahan menurut gue lebih aneh lagi kali ini. Instead of merasa sangat terganggu dan kesal dengan sikap yang ditunjukkan oleh Kimaya, gue merasa gue harus bisa menenangkan dan meyakinkan dia kalau apa yang sekarang berkeliaran di kepalanya bukanlah suatu hal yang perlu dicemaskan. Gue malahan mendengar sebuah suara di dalam kepala gue, seseorang yang suaranya mirip sekali dengan suara Kimaya berkata, "Fionn, tarik napas dalam-dalam lalu embuskan. Tarik napas dalam sekali lagi, lalu embuskan lagi dengan perlahan. Untuk menenangkan Kimaya, kamu harus tenang terlebih dahulu."
__ADS_1
What in the ever loving fxck is happening?
Namun, gue tidak bisa fokus kepada perkara itu sekarang. Saat ini yang paking penting adalah cewek di depan gue. "Babe, kamu dengarin aku, ya." Gue memulai dengan suara yang sengaja gue buat rendah lagi karena gue hanya menunjukan kalimat-kalimat yang akan gue katakan kepada Kimaya seorang. Gue merasa hanya dia yang berhak mendengar penjelasan jujur dari gue. Hanya dia yang berhak mengetahui pengakuan yang tulus dari dalam diri gue. Namun, sebelum melanjutkan apa yang ingin gue katakan, gue dapat merasakan tusukan-tusukan dari sekeliling kami. Dan ketika gue mengangkat tatapan gue, benar saja. Penghuni koridor nan selalu ingin tahu urusan orang sedang memfokuskan pandangan mereka ke arah kami.
Fxck them all.
Gue harus mengundur penjelasan dulu. Sebelumnya gue harus membawa Kimaya ke tempat yang aman. Gue lalu berbalik dengan tujuan ingin menjauhkan kami dari makhluk-makhluk menjijikkan itu.
Gue akhirnya masuk ke sebuah kamar mandi dan mengunci kami berdua di dalamnya. Kamar mandi ini sangat jauh lebih bersih daripada tatapan-tatapan yang murid-murid SMA Taruna Nusantara arahkan kepada kami tadi. Dasar manusia-manusia tidak ada kerjaan. Apa hidup mereka semembosankan itu sampai mereka tertarik pada urusan setiap orang?
Kimaya kembali menyilangkan tangannya di depan dada. Dia pasti melakukan itu sesaat setelah gue melepaskan pegangan agar gue bisa mengunci pintu sebentar ini. Hadeh. Gue menggeleng di dalam hati. Salut sekaligus agak kengkel dengan kekerasan hati cewek ini. "Kim, sini dulu, deh." Gue mencoba meluruskan lengan-lengannya lagi. "Aku mau menjelaskan semuanya sama kamu. Tapi, sebelum itu, aku minta agar kamu mau membuka pikiran dan hati kamu untuk menerima penjelasan aku. Oke? Do you think you can do that? For me?" Gue tahu gue tidak perlu menambahkan dua kata terakhir, akan tetapi gue tidak sedang berada di posisi untuk bersantai. Gue harus mengeluarkan semua amunisi yang gue punya untuk mencapai tujuan yang gue inginkan.
Butuh waktu beberapa kala sebelum Kimaya mengembuskan napas dengan keras dan mengurai silangan tangannya.
Setelah tangannya jatuh kembali ke samping tubuh, gue cepat-cepat menyambar tangan kirinya dan membimbing dia menuju ke salah satu wastafel yang ada di dalam toilet murid wanita tersebut.
Gue sungguh berterima kasih kepada Tuhan yang Maha Tahu karena telah mengarahkan gue ke toilet wanita ini. Kalau sampai gue mengunci kami di toilet pria, gue rasa gue yang akan pingsan duluan karena bau dan kejorokannya.
Back to the topic.
__ADS_1
Setelah Kimaya berdiri membelakangi wastafel, gue berdiri di depan dia dan menelekan kedua tangan gue di sisi kiri dan kanan pinggang cewek itu. Dengan posisi seperti ini, kepala kami menjadi sama tinggi karena cara berdiri gue yang dibuat agak menunduk. Dengan posisi seperti ini, gue bisa melihat langsung ke mata gelap Kimaya yang tampak begitu dalam. Sebuah lubang hitam tanpa dasar yang gue temukan sungguh menarik hati.
Dengan posisi ini, Kimaya juga tidak dapat menghindari mata gue. Dia "terpaksa" harus meladeni pandangan gue selama yang gue inginkan.
Good. So she can see what's in my eyes. So she can read what's written in them. So she can see the honesty they're showing.
So she can see ... me.
"Kimaya, sekarang kamu sudah siap buat dengerin penjelasan aku?"
Cewek di depan gue mengangguk sekilas. Tampaknya dia melakukan itu dengan sangat berhati-hati agar kepalanya tidak membentur kepala gue.
"Oke. Sebelumnya aku mau mengucapkan terima kasih karena kamu sudah memberikan aku kesempatan."
Wow, another first. Seorang Haas biasanya tidak pernah bisa dan mau mengucapkan kata-kata seperti itu.
"Kamu benar. Aku dan Alda pernah punya ... something. Tapi, sesuatu itu hanya sebatas urusan physical. Aku gak pernah merasakan apa pun untuk dia kalau itu yang kamu maksud di luar sana." Gue sengaja mengambil jeda untuk memberikan Kimaya kesempatan mencerna apa yang baru saja gue katakan.
Gue menyaksikan bagaimana bola mata hitam Kimaya membesar ever so slightly saat dia mendengar penjelasan gue sebelum dia dapat menguasai dirinya lagi. Namun, yang sekilas tadi saja sudah cukup untuk menjadi bukti buat gue. Bukti bahwa pengakuan gue membawa suatu pengaruh kepada diri cewek itu.
__ADS_1
Ternyata tidak gue saja yang gila. Dia juga mungkin sama gilanya dengan apa yang gue rasakan sekarang.
Bersambung ....