
Fionn
Gue akui shopping list yang gue punya kali ini memang yang paling menantang dari yang pernah gue dapatkan selama hampir delapan belas tahun kehidupan gue. Bukannya gue pernah melakukan hal semacam ini sebelumnya, sih. Kalian pasti tahu kalau gue adalah orang yang biasanya memberikan list kepada staf di rumah. Namun, dengan penuh kesadaran dan rasa sukarela gue baru saja selesai berbelanja untuk cewek yang kini masih terkurung di toilet wanita itu.
Yep. You heard that right. Gue sengaja menyuruh dia untuk mengunci pintu toilet dari dalam selama gue pergi. Gue tidak tahu kenapa gue menyuruh dia melakukan itu, akan tetapi, ya, begitulah. Gue selalu mendapatkan apa yang gue inginkan.
Gue menenteng kantong plastik yang berisikan barang belanjaan gue tadi melewati koridor yang masih kosong. Semua murid lain masih berada di dalam kelas untuk belajar. Saat melewati lorong yang lengang itu, pikiran gue melayang kepada seseorang yang baru saja menandatangani akta kematiannya di tangan gue. Gue persilakan dia untuk menikmati hari-hari terakhirnya yang penuh ketenangan, sebab ketika gue sudah mengetahui siapa yang menyebarkan pesan itu, gue akan memastikan bahwa dia lebih menginginkan pergi ke neraka daripada berurusan sama gue di dunia ini.
Awas. Tidak ada yang bisa luput dari genggaman gue. Siapa pun yang melakukan hal itu dan terlibat di dalamnya akan gue habisi. Gue tidak peduli.
Di depan pintu toilet, gue mengirim pesan ke Kimaya.
Fionn : aku udah ada di depan
Fionn : buka pintunya
Fionn : Kim
Balasan pesan-pesan itu seketika masuk.
Kimaya : oke
Kimaya : gue akan buka pintunya
Kimaya : tapi lo tunggu dulu sebelum masuk
Kimaya : gue mau ngumpet lagi
Cewek ini benar-benar konyol. Apa dia berpikir gue akan peduli soal itu, ha? It's just a little blood. We have accident like this all the time. No need to make a big deal of it.
Fionn : kamu konyol
Fionn : cuma darah aja kok
Fionn : kenapa harus malu
Entah kenapa gue masih berusah mendebat dia. Padahal lebih baik gue segera masuk ke dalam sehingga dia bisa cepat-cepat berganti pakaian.
Fionn : sorry sorry
__ADS_1
Fionn : ya udah
Fionn : kamu bukain pintunya
Fionn : aku hitung sampai 30
Fionn : aku ngitungnya pelan-pelan
Fionn : jadi kamu juga gak perlu lari-larian di dalam toiletnya
Fionn : nanti jatuh
****
Kimaya
Setelah membaca pesan-pesan yang dikirimkan oleh Fionn, aku jadi kepikiran sesuatu. Sebenarnya dia tidak perlu masuk ke dalam toilet ini, kan? Kenapa dia ingin masuk Membayangkannya saja membuatku bergidik. Hatiku jadi merasa aneh. Aku tidak mau dia ada di dalam saat aku sedang mengurusi masalahku yang satu ini.
Kimaya : Fionn!
Kimaya : lo gak usah masuk ke dalam
Kimaya : nanti gue buka pintunya sedikit
Kimaya : gue gak nyaman kalau ada lo di dalam sini pas gue lagi beberes
Aku menunggu pesan balasannya. Namun, yang ditunggu itu datang agak lama dari yang diharapkan. Walaupun pesan balasan Fionn masuk setelah hanya tiga puluh detik berlalu, akan tetapi semua terasa lama bagi gue yang sudah tidak sabar.
Fionn : ok
Fionn : gue tunggu
Dengan begitu aku melangkah keluar dari bilik paling ujung yang sudah menjadi sarangku selama hampir satu jam ini. Bunyi klik terdengar saat aku membuka kunci pintu yang aku pasang dari dalam sesaat setelah Fionn pergi tadi. Ketika aku merenggangkan pintu, satu buah kantong plastik dan satu benda berwarna hitam muncul dari sana. Lengan Fionn terlihat lurus east mengulurkan barang-barang itu.
"Aku udah beliin yang kamu tulis di list tadi, sekalian aku beliin baju ganti. Aku juga bawain hoodie aku buat kamu pake nanti ke luar. Udah, beberes sana. Take your time. Aku bakal nunggu kamu di depan sini." Fionn menjelaskan dari balik pintu.
Aku mengembuskan napas panjang. Di saat aku berusaha untuk selalu mengingat ucapannya yang kujadikan mantra, kenapa Fionn selalu bisa membuat aku lupa dengan tindakan-tindakan penuh pertimbangan seperti ini? "Oke," jawabku sembari mengambil benda-benda itu dari tangan Fionn. "Terima kasih banyak, ya."
"Gah. Don't mention it."
__ADS_1
Pintu kunci kembali.
Aku kembali ke dalam bilik paling ujung itu lagi.
****
Setelah membereskan dan membersihkan apa yang perlu dibersihkan—aku tidak ingin bercerita telralu detail soal itu karena akan sangat menjijikkan, aku berdiri di depan salah satu wastafel dan mencuci muka. Setidaknya, walaupun pucat, wajahku masih terlihat lembab.
Ck, ck, ck. Pintar betul aku mencari alasan.
Padahal aku sebenarnya sedang mengulur-ulur waktu untuk ke luar dari sini. Sebenarnya aku tidak siap untuk bertemu dengan pemuda yang masih berada di luar sana. Kenapa aku bisa yakin Fionn masih menungguku? Karena dia mengirimiku sebuah pesan setiap beberapa menit sekali. Entah untuk meyakinkan aku bahwa dia masih setia menanti atau karena dia sudah tidak sabar lagi. Yang jelas, aku tahu dia ada di balik dinding ini.
Dan aku masih tidak siap bertemu dengannya. Bagaimana aku bisa siap? Dia pasti sudah membaca pesan-pesan siaran itu. Dia pasti melihat foto yang dilampirkan di sana. Foto yang akan dengan mudah menjadi alasan murid-murid SMA Taruna Nusantara memerlukan beberapa sesi pertemuan dengan guru BK dan psikolog.
Aaargh!
Fionn : Kimaya, you ready?
Fionn : menurut aku kamu cepetan beres-beresnya
Fionn : kalau kamu mau ke luar dari sini sebelum jam pelajaran habis
Ya, Tuhan. Tidak!
Pesan itu yang akhirnya membuatku mau menggerakkan bokong dan berjalan ke arah pintu. Sebelum memutar kenop, aku mengembuskan napas panjang dengan keras. "Tidak ada yang perlu ditakutkan, Kimaya. Kamu bahkan sudah pernah mengalami hal yang lebih buruk dari ini."
****
Fionn
Kimaya takes forever to get ready in there. Meskipun demikian, gue tidak dapat melakukan terlalu banyak komplain karena gue yakin ketika gue berada di posisi dia, gue hanya akan mau mendekam di dalam sana selamanya. Atau gue berharap salah satu lubang toilet di dalam situ adalah portal menuju dunia lain sehingga gue bisa melarikan diri ke sana.
Poor Kimaya.
Setelah mengirimkannpeaan, gue kembali melanjutkan ritual menunggu Kimaya dengan menyandarkan tubuh di dinding, sementara tangan dan kali gue menyilang. Gue harap dia membaca pesan gue. Gue yakin dia akan keluar sebentar lagi.
Benar saja. Tak beberapa lama setelah itu, gue mendengar bunyi pintu yang dibuka. Dan ... fxck me seven ways to Sunday. What a god damn sight she is!
Padahal gue hanya memberikan dia hoodie gue yang ada di dalam mobil. Namun, cewek ini bisa mengubahnya menjadi sesuatu yang sangat mengagumkan. Apakah ada sesuatu yang berubah dari Kimaya, ya? Kenapa gue baru menyadari kalau dia sungguh, sungguh, sungguh menarik?
__ADS_1
Bersambung ....