Pacar Bayaran Abang Ketos

Pacar Bayaran Abang Ketos
7. Come the Fxck On


__ADS_3

Fionn


"Selamat siang, Pak." Gue berdiri di samping Pak Mulyono yang sedang sibuk memeriksa sesuatu di laptopnya.


Shxt. Gue tidak menyangka kalau laptop model butut begini masih ada di muka bumi. Seharusnya perangkat sekuno dan setebal itu sudah masuk ke dalam museum barang-barang antik.


Guru matematika yang terkenal dengan kesabarannya dalam memberikan pelajaran itu pun akhirnya menoleh, dan perlahan-lahan mendongak sepanjang tubuh gue.


Eh, tinggi maksudnya.


Pak Mul lantas membuka kacamata yang bertengger di pangkal hidungnya yang hemat. Syukur Tuhan masih memberi Pak Mul hidung untuk bernapas. "Iya, selamat siang. Ada yang bisa saya bantu ... Fi-onn?"


Baru nongkrong di sini selama beberapa menit saja gue sudah dibuat bergidik yang sangat tidak nikmat berkali-kali oleh pria paruh baya di depan gue. Yang pertama karena laptopnya yang meracuni mata. Yang kedua karena, god damn it, gue tidak akan memperjelas hal itu. Dan, yang ketiga karena ini. Itu, yang baru saja dia lakukan. Cara dia melafalkan nama gue, seakan-akan di antara Fi dan Onn ada spasi yang memisahkan. Nothing. Tidak ada yang memisahkan mereka.


Nama gue Fionn. Fionn. Bukan Fi-yonn.


What the fxck?

__ADS_1


Nope. Nope.


Come the fxck on, Fionn. Jangan memikirkan hal yang lain. Fokus aja sama alasan lo datang ke sini in the first place. You gotta do what you gotta do, man.


Fokus ke kalimat sebelumnya. Ada yang bisa saya bantu?


Yes, absolutely.


"Saya mau minta tolong soal nilai saya yang C, Pak." Gue menjawab.


Kening Pak Mul berkerut di balik kacamata berbingkai petak model jadul itu. "Nilai yang mana, ya?"


"Lho? Kok, bisa?"


Yaaa, mana gue tahuuu. Namun, sayang. Gue hanya bisa mengatakan itu di dalam hati. Karena, kalau gue benar-benar menyuarakannya, bisa-bisa nilai gue semakin amburadul.


Selain terkenal penyabar, Pak Mulyono juga terkenal akan keteguhan hatinya dalam menolak gratifikasi. Dalam bentuk apa pun.

__ADS_1


Antara bego dan sok suci emang orang satu ini.


"Saya juga gak tahu, Pak. Makanya saya ke sini mau bertanya sama Bapak. Saya berharap ada jalan keluar yang bisa saya kerjakan untuk memperbaiki nilai tersebut, Pak."


Thank God Pak Mul mendengarkan gue dengan saksama.


"Hm, begini, Pak. Sebenarnya saya tertarik mengikuti pemilihan calon Ketua OSIS dan Bapak tahu sendiri kalau di dalam salah satu persyaratan menyatakan nilai rata-rata rapor terakhir harus lebih dari delapan koma lima. Sedangkan nilai rata-rata saya delapan koma empat, Pak. Dan saya pikir mungkin karena ada nilai C di dalam mata pelajaran Bapak. Maka dari itu saya ingin membicarakan soal itu dengan Bapak kalau Bapak tidak keberatan."


Pak Mul menganggukkan kepalanya dengan takzim. Untuk beberapa saat dia hanya mengangguk-angguk saja seperti boneka mainan anxing di dashboard mobil orang-orang lama.


Mungkin mainan itu ada di dalam mobil bututnya itu.


Dia masih melakukan hal itu ketika gue selesai memikirkan soal boneka mainan itu.


Daamn. Bapak Mulyono, M. Pd yang terhormat, come the fxck ooon.


"Oke. Biar saya pikirkan dulu caranya, ya."

__ADS_1


Shxxxxxt.


Bersambung ....


__ADS_2