
Fionn
Tanggal lima belas?! Is he flipping kidding me?!
"Tanggal lima belas, Pak? Pak, itu, kan ... sepuluh hari lagi termasuk hari ini!" Gue terperangah. What the fxck is going on this fxcking old man, huh? Dia kira gue bisa mengerjakan ribuan soal ini dalam waktu sepuluh hari? Dia pikir gue tidak ada kerjaan lain selain menyalin angka-angka tidak berguna ini?
"Pak, Bapak bercanda, kan? Mana mungkin saya bisa selesaikan semua ini dalam sepuluh hari, Pak?" protes gue lagi.
"Tapi, tadi kamu mau solusi untuk nilai kamu sekarang juga? Ketika sudah saya tunjukkan jalan keluarnya, kamu masi saja mengeluh." Pak Mul menggeleng, kembali memutar kursinya untuk menghadap ke arah laptop sialannya itu lagi.
Seriously? Gue benar-benar ingin melempar gadget yang mungkin sama tuanya dengan si pemilik itu ke dalam lubang neraka.
Fxck!
"Ya, gak bisa gitu juga, dong, Pak. Bapak juga harus mikir kalau ngasih tugas ke siswa. Masa ribuan soal harus dikerjakan dalam jangka waktu sepuluh hari? Gila aja!" Gue pun melanjutkan repetan gue.
Laki-laki yang katanya sabar itu kini mengeklik tetikus untuk mengerjakan sesuatu di layar komputer portabel miliknya. Dengan tatapan yang masih terpaku pada layar, Pak Mul bertanya dengan santai, "Siapa yang kamu bilang gila, hm?"
"Ya, Bapak lah!" Dengan segera gue berseru. "Siapa lagi? Gak ada guru di dalam ruangan ini selain Bapak. Gak ada guru yang berani ngasih muridnya ribuan soal untuk diselesaikan dalam waktu yang sesingkat itu." Kemudian gue kembali mencondongkan tubuh ke depan dan memasang tampang yang seius dan menggunakan intonasi yang lebih rendah dari yang tadi gue pakai. "Dan, yang paling penting, gak pernah ada satu guru pun yang menyulitkan urusan saya karena mereka gak mau berurusan sama bokap dan nyokap saya. Mereka gak mau masuk ke dalam daftar hitam keluarga saya, Pak."
__ADS_1
"Kamu mengancam saya?" Pak Mul sialan ini bertanya lagi. Namun, yang membuat gue semakin kesal adalah di dalam pertanyaannya tidak ada sedikit pun rasa takut. Dia tidak gentar mencemooh seorang Haas dan itu yang membikin otak gue tambah panas.
What the fxck is wrong with this fxcking old fart? Apa dia tidak sadar dia sedang berbicara dengan siapa?
Gue tarik tubuh gue ke belakang lagi hingga tersandar ke sandaran kursi. Gue silangkan tangan di depan dada. Kaki kanan gue yang dibungkus celana panjang kotak-kotak warna biru muda dan putih yang menjadi seragam SMA Taruna Nusantara bertengger di atas paha kaki kiri gue. "Hm, enggak lah, Pak. Mana berani saya mengancam seorang guru. Saya cuma ... mengingatkan," jelas gue sembari mengedikkan bahu.
Gue mendapatkan perhatian dari Pak Mul lagi. "Baiklah," ujarnya di kalakian. "Saya akan mengingat hal tersebut."
"Good, good. That's good." Gue mengangguk.
"Tapi, kamu juga ingat, kan, kalau kamu membutuhkan nilai dari saya?"
"Namun, kenapa kamu bersikap seperti ini? Mengancam saya dengan uang dan kedudukan keluarga kamu." Kali ini Pak Mul menggeleng tipis. "Saya tahu keluarga Haas adalah keluarga paling terpandang di kota ini. Saya bahkan mengenal siapa Monalisa Haas jauh sebelum dia menikah dengan ayah kamu. Kami bersekolah di sekolah yang sama sewaktu SMA dulu.
Sambil terus melihat ke layar laptop dengan tangan yang kini dilipat di depan dada, Pak Mul melanjutkan. "Dan melihat kamu sekarang, mengingatkan saya pada diri dia yang dulu. Kamu tahu, Mona, ibu kamu, adalah gadis yang baik, pintar, dan cantik. Namun, hal itu lantas tidak membuatnya menjadi salah satu gadis yang populer. Kamu tahu karena apa? Karena dia tidak kaya."
Apa, sih, yang sedang dibicarakan oleh bapak tua ini? Kenapa dia tiba-tiba membahas soal orang tua gue? Apa hubungannya sama gue dan kepentingan gue sekarang sama dia? Sialan!
Darah gue jelas mulai menggelegak, lagi. Bisa-bisanya dia berpikir untuk bertele-tele. Gue tidak butuh semua omong kosong ini. Gue hanya butuh nilai gue!
__ADS_1
Gue condongkan tubuh gue ke depan, lagi. Entah sudah kali ke berapa saat ini. Meski kini Bapak Mulyono si guru banyak omong itu tidak melihat ke arah gue, dia masih menatap layar laptopnya (tidak heran dia harus menggunakan kacamata setebal itu agar bisa melihat dengan benar, melamun saja matanya tetap menatap ke arah skrin), mulut gue cukup dekat dengan telinga yang jelas tidak menangkap perkataan gue daei tadi itu.
"Kasih saya tugasnya, Pak. Kali ini yang fxcking realistis. Jangan bullshxt yang kayak Bapak kaaih ke saya tadi. Bapak dengar? Kalau Bapak masih mau main-main dengan saya, saya bisa pastikan Bapak akan menyesal nantinya." Gue menggeram.
Fxck. Kalau tidak memikirkan rekaman CCTV, gue pasti sudah benar-benar mengamuk di sini. Namun, yeah. Gue tidak mau berurusan dengan bokap atau nyokap gue soal barang bukti.
Gue melihat Pak Mul mengambil sesuatu di dalam laci mejanya. Tak lama kemudian dia meletakkan sebuah buku yang lain di atas buku yang gue hempaskan ke atas mejanya tadi (gue hampir saja membunuh barang rongsokan yang dipakainya dengan buku tersebut). Keduanya berukuran kurang lebih sama, dengan sampul yang berbeda. Dia lalu menoleh ke arah gue. "Ini. Kerjakan semua itu," katanya dengan enteng.
What the ever loving fxck?
Saking terkejutnya, gue hanya bisa ternganga.
Pak Mul memanfaatkan kesempatan ini untuk lagi-lagi membiarkan lidahnya kembali menari bebas. "Yang baru saya keluarkan adalah soal untuk kelas tiga. Saya akan memperbaiki nilai kamu sekarang, dengan catatan kamu harus mengerjakan semuanya dalam jangka waktu tiga bulan." Dia kemudian tampak berpikir sendiri dan mengangguk-angguk kecil lagi, sepertinya setuju dengan apa yang ada di dalam pikirannya.
Dasar tua bangka gila.
"Saya rasa tiga bulan itu waktu yang cukup, menimbang kamu hanya akan menyalin jawaban untuk buku yang satunya. Kerjakan semua dan serahkan pada saya tepat waktu. Kalau kamu tidak bisa menepati janji itu, saya akan menarik kembali nilai yang sudah saya berikan. Jangan sekali-kali kamu berpikir saya tidak bisa melakukan hal semacam itu, ya. Sebagai guru, itu adalah layaknya hak prerogatif bagi saya. Saya bisa menggunakannya kapan saja apabila saya ingin. Itu kesepakatan dari saya. Silakan pilih, kamu mau mengerjakannya atau tidak. Kalau iya, ambil buku-buku itu dan ke luar dari ruangan ini segera. Kalau tidak, keluar saja sekarang. Pintu ruangan ini yang menyegel kesepakatan kita."
Bersambung ....
__ADS_1