
Fionn
"Oke. Bapak pikirkan dulu caranya, ya." Pak Mul lalu kembali meluruskan badannya menghadap ke laptop generasi awal itu.
Okay, then. Gue juga kembali ke posisi menunggu.
Dan menunggu.
Terus menunggu.
What's taking him so long to think?
Gue kembali menunggu.
Oke. Bapak pikirkan dulu caranya, ya.
Saat Pak Mul mengatakan itu, gue pikir gue hanya harus berdiri beberapa menit lagi untuk menunggu di sana sementara otak encernya mengolah data dan memproduksi jalan keluar dari situasi yang gue hadapi sekarang. Gue pikir dengan berkata begitu, dia secara tidak langsung menyuruh gue menunggu sebentar. Gue pikir dia akan segera menyelesaikan situasi gue ini.
But, what the fxck?!
Jujur gue benar-benar berpikir bahwa si bapak akan memberikan solusinya saat ini juga. Jadi, kalian bisa membayangkan, dong, betapa terkejutnya gue ketika Pak Mulyono melirik ke arah gue dengan alis yang terangkat, seakan-akan dia heran menemukan gue dengan tololnya masih berdiri di samping kursinya. "Kenapa kamu masih di sini, Yon?"
Du scheißt mich an! You're shitting me.
Lo barusan cuma bercanda, kan, Pak? Lo barusan cuma ngerjain gue, kan, Mulyono? Lo cuma ngetes gue, kan, Mulyonoo? MULYONOOOO?!
Ingin rasanya gue memporak-porandakan meja-meja di dalam ruang guru yang sebagian besar pemiliknya sedang berada di dalam kelas masing-masing. Ingin rasanya gue melempar apa yang ada di dalam jangkauan tangan gue, terlebih-lebih lagi laptop dan bapak tua jelek yang sudah mempermainkan gue ini.
__ADS_1
Gue rasakan dada gue menyempit, membuat jantung gue berdegup lebih cepat. Napas gue pun jadi pendek-pendek. Cuping hidung gue kembang-kempis karenanya. Meski darah gue mendidih, akan tetapi kepalan tangan gue terkunci, tidak bisa dibuka-tutup lagi seperti tadi. Kini tinju gue sudah membeku, siap untuk dilepas supaya bisa menciptakan kerusakan yang lumayan berdampak di suatu tempat.
Tempat yang menjadi nomor satu dalam list sasaran gue itu adalah muka Pak Mulyono sialan ini.
Gue melihat Pak Mul mengerling ke arah tangan gue yang menggenggam sangat, sangat, sangat erat dan bergetar. Sepertinya orang tua sialan itu tahu apa yang ada di dalam pikiran gue karena dia berkata, "Tenang dulu, tenang dulu. Silakan duduk dulu," ucapnya dengan suara yang masih saja tenang, setenang permukaan air danau di hari yang tak berangin, tak berhujan. Tidak ada yang mengusik keberadaan genangan air yang luas itu.
Namun, tidak ada yang bisa menembus otak gue yang sudah penuh dengan emosi. "No, saya berdiri di sini saja." Gue sendiri terkejut karena masih bisa mengontrol diri dan menjawab suruhan yang betul-betul terlambat itu, walaupun dengan gigi yang terkatup rapat dan terasa seperti akan berubah menjadi tepung karena saking kerasnya gue mengatup rahang.
"Fionn, duduk dulu." Kali ini suara bapak tua jelek itu menjadi lebih tegas. Dia melayangkan tunjuk pada kursi yang ada di belakang gue. Sebuah kursi dari meja guru yang belum berpenghuni.
Gue terpaksa menurut. Fxck him. Namun, rasa kesal gue tetap saja tidak dapat disurukkan. Kursi yang gue tarik mendekat dengan mengaitkan kaki gue ke kaki bagian depan bangku dari besi itu mengeluarkan bunyi yang nyaring saat menggesek lantai ubin tersebut.
Pak Mul tidak mengeluarkan komentar apa pun.
Good. Good choice.
Setelah gue duduk dan ini membuat posisi kami berhadapan, beberapa waktu berlalu dengan kami hanya saling diam dan bertatapan. Pandangan Pak Mul yang tampak pintar, menilik seluruh sudut muka gue seperti dia sedang melakukan pemindaian terhadap informasi apa saja yang bisa dia dapatkan. Sedangkan gue, tatapan yang gye berikan kepada laki-laki ini adalah rasa marah yang murni di dalam hati gue.
"Mari kita bicarakan masalah ini."
Cepat-cepat gue menyela kalimat percuma itu. "Dari tadi saya sudah membahas masalah ini, Pak. Anda saja yang membuang-buang waktu berharga saya dengan berpikir dalam waktu yang lama. Seharusnya sekarang Anda sudah bisa menghadirkan solusi dari situasi yang saya hadapi. Ini masalah gampang, Pak. Bukannya butuh penelitian dan segala macamnya!"
Pak Mulyono menatap gue sejenak sebelum mengembuskan napas panjang dan mengangguk. "Oke, oke. Saya minta maaf."
Gue lantas tergelak. "Come on, Pak. Saya tidak ingin bertele-tele. Saya ingin mengetahui jalan keluar, secepatnya."
Tatapan lelaki yang kini mencondongkan tubuhnya ke depan dan menelekan siku di atas kedua pahanya itu lama-lama membuat gue merasa tidak nyaman juga. What the hell is wrong with him?
__ADS_1
Setelah diam untuk beberapa saat, dia mulai mengangguk dan kembali menegakkan badan. "Kamu punya banyak teman?"
What the fxck? "Maksud Bapak? Apa hubungannya jumlah teman saya dengan nilai saya ini, Pak?"
"Bagi Bapak, ada hubungan antara keduanya," beber Pak Mul. "Sudah, jawab saja pertanyaan Bapak tadi. Kamu punya banyak teman, tidak?"
Come the fxck on. Pertanyaan macam apa ini? "Of course, Pak. Saya punya banyak teman, banyak sekali malah. In case Bapak lupa, saya ini seorang Haas, Pak." Salah satu sudut bibir gue tertarik ke atas. "Semua orang ingin menjadi teman dari keluarga Haas."
Berbeda dengan sebelumnya, kini Pak Mul sibuk menggeleng-gelengkan kepala. "Apa kamu yakin mereka semua real?"
Pertanyaan Pak Mul barusan membuat gue sedikit tersinggung. "Pak, saya tidak mau menjawab pertanyaan Bapak lagi." Kini giliran gue yang mencondongkan tubuh gue ke depan. Dengan mudah gue bisa masuk dan mengganggu personal space Pak Mul dengan kedekatan wajah kami. "Saya mau solusi untuk nilai saya, Pak. Se-ka-rang." Gue menggeram.
Banyak yang akan mengecam sikap gue yang dinilai sangat tidak sopan terhadap orang yang jauh lebih tua dari gue. Apalagi dia adalah salah seorang guru yang paling dihormati di sekolah. Namun, gue tidak peduli. Dia yang membahas hal-hal aneh yang tidak menyangkut dengan urusan sekolah sama sekali. Dia yang menyinggung perasaan gue dan membuat gue bersikap offensive terlebih dahulu. Dia yang menantang gue.
So, dia yang harus bertanggung jawab atas konsekuensi dari sikapnya sendiri.
Lagipula, siapa yang berani mengusik kami para Haas, hm?
Dia sendiri yang cari mati itu namanya.
Pak Mul kembali melakukan itu lagi; memperhatikan gue dengan saksama untuk beberapa waktu, mengembuskan napas, dan mengangguk.
Bleh. Baru lima belas menit di sini saja gue sudah mulai hafal dengan bahasa tubuhnya.
"Oke," ungkapnya di kalakian. "Kalau itu mau kamu, baiklah." Laki-laki itu berputar di atas kursinya dan menjangkau sebuah buku besar dan lumayan tebal. "Ini adalah kumpulan soal yang sudah Bapak buat selama satu tahun kemarin untuk kelas dua. Kalau kamu masih mempunyai catatanmu, semua jawaban akan ada di sana. Kamu hanya harus membuat kunci jawaban dari soal-soal ini. Ketik, satukan semuanya, dan jilid sehingga buku itu persis dengan buku ini. Buat cover depan dan beri judul Kunci Jawaban Soal Materi Kelas XI. Kamu mengerti?"
Well, that's so fxcking easy. "Done!" Gue mengambil buku tersebut dari tangan Pak Mul.
__ADS_1
"Oke. Kamu harus mengumpulkannya pada tanggal lima belas."
Bersambung ....