
Kimaya
Seperti biasa, aku sibuk memperhatikan lantai koridor sekolah yang dilapisi dari marmer putih bermotif gelombang berwarna cokelat ketika tiba-tiba saja atas bahuku dijatuhi oleh sesuatu yang memberatkan.
Atau, lebih tepatnya seseorang.
Aku seketika saja melirik ke arah kanan dan bertemu dengan mata Fionn yang berbinar. Di wajahnya terpampang senyum yang sangat, sangat, sangat lebar. "Good morning, Beb," ucapnya dengan enteng.
Seketika koridor yang sebelumnya ramai berubah menjadi lengang. Hening. Aku bisa mendengar beberapa orang terkesiap setelah kalimat yang diucapkan Fionn itu ke luar dari mulutnya.
Kuhela napas dalam-dalam.
Kami sudah membicarakan hal ini. Dua hari akhir minhgu kemarin kami habiskan dengan mengulas skenario dari drama yang akan dimulai di hari ini. Aku sudah tahu apa yang akan terjadi, apa yang akan kami lakukan, akan tetapi membicarakan dengan melakukannya benar-benar dua hal yang berbeda.
Aku tidak menyangka rangkulan tangan Fionn di sekitar bahuku akan terasa berat namun meringankan di saat yang bersamaan.
Kalian tahu, selama dua tahun berkeliaran di koridor ini, tidak pernah sekali pun aku disapa oleh seseorang seantusias yang baru saja dilakukan oleh Fionn. Paling hanya ada sapaan kecil malu-malu dari teman-teman yang sama-sama menerima beasiswa sepertiku. Paling hanya ada sapaan dari teman sekelas yang awalnya ramah, akan tetapi keramahan mereka semakin lama semakin menghilang karena aku tidak sesuai dengans standar yang mereka punya. Mereka berharap dengan berteman denganku, mereka akan mendapatkan kemudahan dalam mengerjakan tugas qtau bahkan bisa seenaknya menjiplak pekerjaan rumah dariku, mereka salah. Aku bukan seseorang yang rela menjual integritas hanya karena ingin menjadi kupu-kupu di tengah-tengah mereka.
Tidak. Lebih baik aku seorang diri daripada habis dimanfaatkan hanya untuk memiliki teman-teman palsu seperti itu. Tidak. Tidak. Ridak. Terima kasih banyak.
Tentu saja kali ini situasinya berbeda. Kami memiliki kesepakatan. Kesepakatan yang berarti lebih dari sekedar punya banyak teman. Kesepakatan yang akan mengubah masa depanku nanti.
Tak kuhiraukan racauan yang sekarang tengah dirasakan oleh hatiku. Tak kupedulikan gelombang yang sekarang menyerang perutku. Dengan senyum yang kaku, kujawab sapaan dari cowok yang seharusnya menjadi pacarku itu. "Hai."
Hm. Kenapa suaraku menjadi terdengar aneh begitu, ya? Kenapa rasanya lebih banyak udara yang ke luar dari pita suaraku daripada bunyi?
Aku pun berdeham, mencoba mengusir keanehan yang mulai mengusik diri.
Dan aku menunduk lagi.
__ADS_1
Kami melanjutkan langkah. Setelah mengucapkan hal itu, dia tidak mengatakan apa pun kepadaku lagi. Kami dengan senang—dan tegang, pada bagianku, berjalan menyusuri koridor yang menghubungkan lobi gedung utama dengan ruang-ruang kelas dan dipenuhi oleh deretan loker siswa.
Loker siswa kelas tiga ada di bagian paling ujung koridor dan punya Fionn tepat di tengah-tengah.
"Holy shxt!"
"What the fxck?"
Saat aku mendengar kalimat-kalimat yang diungkapkan dengan rasa takjub(?) itu, kepalaku semakin menunduk karena orang-orang yang mengucapkannya terdengar sangat dekat. Terbukti dengan sepatu-sepatu yang kini memenuhi pemandanganku.
Fionn menghentikan langkah. Hal tersebut membuatku ikut-ikutan melakukan hal yang sama.
Kemarin, Fionn juga sudah memberi tahu soal kebiasaannya saat pagi hari sebelum memulai kelas. Dia akan berkumpul dengan para sahabatnya terlebih dahulu. Entah itu di lapangan parkir saat dia baru sampai atau mereka akan menunggu kedatangannya di loker milik Fionn.
Hari ini mereka memilih untuk menunggu.
Aku tidak tahu apakah lapangan parkir akan menjadi opsi yang lebih baik.
Bagaimanapun juga, aku sudah tidak mempunyai pilihan lain. Aku harus mengikuti permainan yang sudah kami sepakati. Sejauh-jauhnya aku berada sekarang dari zona nyaman yang selama ini sudah melingkupiku, aku harus mengakui bahwa pertukaran situasi terasa sungguh fresh.
Kurasakan Fionn meremas bahuku sekilas. Entah aku harus mengartikan apa yang baru saja dia lakukan sebagai bentuk dukungannya terhadapku atau sebagai bentuk peringatan agar bertingkah dengan lebih baik.
Aku menetapkan pilihan nomor dualah yang paling relevan dengan situasi sekarang.
Setelah menyemangati diri sendiri di dalam hati, aku mulai mengangkat kepala, sesuatu yang tidak pernah kulakukan sebelumnya di depan orang-orang di koridor, dan tersenyum. Fionn memberi tahu nama teman-temannya itu. Ada Hamish, Aldi, dan Mario. Namun, aku tidak tahu di mana aku harus menempatkan nama-nama tersebut dengan tepat.
Yang mana yang Hamish? Yang mana yang merupakan Aldi? Yang mana yang seharusnya bernama Mario?
Senyuman di wajahku terbuang percuma karena tidak seorang pun dari mereka yang menengok ke arahku. Mereka semua, ketiganya, memusatkan perhatian pada Fionn yang seketika itu juga melepaskan pelukannya dari bahuku.
__ADS_1
"Damn it, bro. Jadi juga?" ungkap cowok berambut pirang yang panjangnya sebahu. Tawa lebar dan konyol menghiasi wajahnya yang tampak sangat bule. Dia menepuk-nepuk pundak Fionn dengan gemas. "Sialan. Sialan. Gue kira lo–"
Kalimatnya langsung terpotong oleh tatapan tajam dari cowok di sampingku. Fionn menggeram dari balik gigi-giginya. "Shut the fxck up."
Aku sedikit terkejut melihat perubahan mood Fionn yang terjadi dalam sekejap mata. Aku tidak menyangka dia akan bersikap sedingin itu pada temannya sendiri.
Namun,apa yang aku tahu tentang dinamika pertemanan mereka? Aku pun hanya berkomunikasi dengan Fionn baru dua hari ini. Tentu masih banyak hal yang tidak kutahu soal pemuda yang kini sudah menjadi pacar pura-puraku.
Aku melanjutkan pengamatan.
"Sorry." Si pirang menyeringai.
"Rein it in, Hamish!" Cowok yang berdiri di samping kiri si Pirang yang aku tebak namanya adalah Hamish itu menyuruhnya untuk diam.
Oke, oke, oke. Ternyata si Pirang itu yang namanya Hamish. Oke. Noted.
Cowok dengan tubuh tinggi—walaupun tidak setinggi Fionn, aku rasa tinggi mereka hanya berselisih sekitar lima sentimeteran, akan tetapi bertubuh paling padat dan mempunyai warna kulit paling gelap, nyaris hitam, di antara ketiga teman lainnya itu kembali berbicara. "Lo seharusnya gak usah lebay. Perhatian anak-anak lain sekarang jadi lebih fokus ke kita, kan?"
"Kayak mereka yang mau melepaskan pandangannya dari kita aja. Come on, Yo. Be real."
Mataku mengikuti ke arah sumber suara, pada cowok yang bertubuh kurus, berambut hitam lurus agak panjang yang dibelah tepi dan diarahkan ke sebelah kanan. Di lehernya terdapat sebuah wireless headphones berwarna hitam dan lumayan besar. Meski berbicara, pandangannya tidak pernah lepas dari layar ponsel di tangan.
Tadi dia memanggil si hitam dengan panggilan Yo. Hm. Aku rasa Yo adalah bagian dari Mario.
Oke lah kalau begitu. Jadi, cowok yang ada di depanku sekarang namanya adalah Hamish. Di samping kiri Hamish berdiri Mario. Dan di samping kiri Mario, tengah berdiri seorang cowok bernama Aldi.
Oke. Noted.
Bersambung ....
__ADS_1