Pacar Bayaran Abang Ketos

Pacar Bayaran Abang Ketos
49. God Freaking Damn It


__ADS_3

Fionn


Fxck. Fxck. Gue tahu bahwa pertanyaan ini sudah berputar-putar di dalam kepala Kimaya dari tadi, sesaat setelah gue membuat pengakuan gue. Namun, hal tersebut tetap tidak mempersiapkan mental gue untuk mendengarkannya secara langsung.


Hubungan fisik seperti apa yang sudah terjadi di antara gue dan Alda?


That sounds so ... I don't know, kotor, jika bibir innocent Kimaya yang mengucapkannya.


Sekonyong-konyongnya gue menarik kepala gue untuk menjauh dari kepala cewek di depan gue. Sekarang pun giliran gue yang mencoba menghindari tatapannya.


"Fionn. Tatap mata gue. Lo yang mau melakukan ini tadi, kan? Lo yang maksa gue buat menanyakan hal itu sama lo. Jadi sekarang lo harus tanggung jawab. Jelasin sama gue seperti apa hubungan fisik yang kalian lakukan itu. Jelasin sama gue sejelas-jelasnya sampai gak ada pertanyaan yang lalu-lalang di kepala gue seperti yang lo bilang barusan."


****


Kimaya


Kenapa aku tiba-tiba merasa sedih ketika Fionn menjauhkan keningnya dari keningku? Kenapa aku tiba-tiba merasa kehilangan ketika mata Fionn tidak lagi menatap lurus ke mataku? Kenapa aku tiba-tiba merasa sedih padahal aku sungguh tidak berhak untuk merasakan hal itu?


Tidak, tidak, tidak. Ini tidak boleh terjadi. Aku tidak boleh merasakan apa pun kepada pemuda ini. Dia melakukan semuanya dengan tujuan. Dia melakukan semuanya dengan penuh pertimbangan. Dia melakukan semuanya karena ada sebab. Aku tidak tahu apa yang menjadi tujuan dan misinya melakukan hal ini padaku, dan aku tidak boleh membiarkan diriku melupakan hal-hal itu.


Aku tidak boleh membuat diriku lengah.


Aku harus kuat.


Batasan-batasan yang ada sebelumnya tidak boleh mengabut. Aku harus memperjelas garis itu lagi.


"Bilang sama aku, Fionn. Jelasin sama aku."

__ADS_1


Desakan itu berhasil membuatnya menarik lengan yang sedari tadi bertelekan di atas wastafel di sisi kanan dan kiriku. Desakan itu berhasil membuatnya mengambil langkah mundur beberapa. Dia kini menyisir rambut cokelat bergelombang yang terlihat sangat halus itu dengan jari-jari kanannya sedangkan tangan kirinya diparkirkan di pinggang. Diembuskannya napas kuat-kuat, tidak seperti tadi, sebelum dia membawaku ke dalam sini.


Kegalauan yang terlihat di wajah dan bahasa tubuhnya benar-benar membuatku sadar bahwa aku tidak mengenal Fionn sedikit pun. Bagian dari diri Fionn yang aku tahu hanyalah bagian yang ingin dia tunjukkan padaku. Bagian dari dirinya yang ditunjukkan pada kami—Ayah, Ibu, Bu Pik, dan aku—di rumah, adalah bagian dari permainan perannya. Pemikiran itu benar-benar membuka mataku. Dari situ, dan dari jarak yang diberikan oleh Fionn-lah aku mendapatkan kekuatanku kembali.


Aku menegakkan tubuh yang tadi kusandarkan ke wastafel. Dengan kekuatan yang sudah sepenuhnya kembali, aku dengan perlindungan yang sudah kembali terpasang, aku mengambil satu langkah menuju ke arahnya. "Ah, udah lah, Fionn. Gak usah terlalu dipikirin. Gue juga gak beneran pengen tahu. Gue cuma ngetes lo doang kok. Santai." Aku sengaja kembali menggunakan panggilan lo dan gue yang jikalau diingat-ingat lagi sudah beberapa hari ini tidak kami gunakan. Akujuga tidak tahu kenapa. "Oke deh. Kalau gitu gue cabut duluan, ya. Bye." Dengan begitu, aku berlalu.


****


Fionn


Gue masuk ke kelas setelah kelas sudah berjalan tidak tahu berapa lamanya. Dan sialnya kelas terakhir gue hari ini adalah kelas Pak Mulyono Botak. "Maaf, Pak. Saya terlambat. Tadi saya ke kamar mandi dulu setelah selesai istirahat." Gue beralasan saat Pak Mul mengarahkan pandangan penuh pertanyaannya ke gue.


Meski sudah dua minggu pulang dan pergi ke rumahnya, berusaha dengan sekuat tenaga gue untuk mencoba membuat pria paruh baya yang masih gue spekulasikan sebagai ayah angkat Kimaya itu lebih menyukai gue, akan tetapi semua usaha terbuang percuma. Laki-laki itu masih saja meragukan ketulusan gue.


Instingnya memang patut gue acungi jempol. Namun, harus gue akui bahwa dibandingkan dengan dua minggu yang lalu, apa yang gue rasakan untuk anak perempuannya sekarang sudah sedikit demi sedikit mulai condong ke arah yang lebih bersih. Gue tidak hanya peduli dengan nilai dan tujuan gue saja, akan tetapi hari demi hari yang gue lalui dengan kontak bersama Kimaya ternyata telah menumbuhkan satu ... hal—gue masih belum sudi menyebut apa yang berubah itu sebagai sebuah perasaan, yang lebih tulus dari niat awal gue. Walaupun demikian, ya, dia masih saja tidak mau memberikan kepercayaannya kepada gue.


Gue menuju ke kursi paling belakang, posisi kursi yang dari awal tahun pelajaran sudah kami kuasai. Di kelas mana pun, gue, Hamish, Aldi, dan Mario akan menempati posisi yang sama. Walaupun kelas yang kami berempat ambil tidak selalu sama, akan tetapi hal ini sudah menjadi seperti peraturan tersirat yang telah diketahui oleh seluruh murid-murid Taruna Nusantara.


****


Kimaya


Tidak seperti biasanya, kali ini aku tidak terlalu memperhatikan pelajaran yang sedang dijelaskan oleh Bu Ratih, guru mata pelajaran Sejarah Dunia kami. Aku terdistraksi oleh apa yang telah terjadi di toilet wanita tadi dan apa yang kurasakan saat ini. Tidak hanya perasaanku yang kacau balau, akan tetapi tubuhku juga. Aku tidak tahu bagaimana aku bisa melupakan rasa nyeri yang menyerang perutku selama berhadapan dengan Fionn tadi. Namun, setelah kembali ke kelas dan tidak ada Fionn dengan segala drama yang mengiringinya sebagai pengalih perhatian, rasa sakit itu datang lagi. Kali ini dengan kekuatan yang berkali-kali lipat.


Sialaaaan. Ya Tuhan, aku benar-benar tidak kuat rasanya.


Namun, aku memilih untuk memasang tampang datar, tidak menampakkan kesakitan yang aku rasakan pada orang-orang di sekitar. Kuremas kuat-kuat kedua kepalan tangan yang kuletakkan di atas paha. Kukatupkan gigi serta kukunci rahang agar tidak ada pekik yang bisa lepas dari sana.

__ADS_1


Ya, Tuhan. Kenapa rasanya sakit sekali? Apakah waktu pelajaran ini masih lama lagi? Kapan hari ini akan berakhir?


Ya, Tuhan. Aku mohon, aku mohon, aku mohon. Bisakah kau buat agar waktu cepat berlalu?


Kuulangi terus permohonan itu di dalam hati, berharap ketika waktu bergulir dengan cepat, aku bisa segera pergi dari sini dan menikmati rasa sakit ini sendiri di dalam kurungan dinding-dinding kamarku.


Namun, Tuhan sepertinya salah paham dengan apa yang aku katakan. Dia benar-benar mempercepat waktu, akan tetapi bukan waktu untuk pulang. Aku menyadari hal ini ketika akhirnya aku merasakan sesuatu seperti pipis ke luar dan membasahi rok sekolahku.


Oh, tidak!


****


Fionn


Entah berapa lama gue duduk di sini dan membiarkan pikiran gue berkeliaran ke mana-mana. Entah sudah berapa lama gue membiarkan suara Pak Mul yang masih menerangkan soal materi peluang kejadian majemuk—gue tahu ini karena gue membaca judul yang ditulis dengan besar-besar oleh Pak Mul di papan tulis bagian atas—masuk ke telinga kanan gue dan melakukan putar balik tanpa singgah sedikit pun di dalam otak. Entah berapa lama gue sudah membuang-buang waktu gue dan tidak melakukan hal-hal yang berarti.


Sampai anak-anak sstu kelas serempak mengecek ponsel mereka. Gue bahkan bisa mendengar suara dengungan ponsel yang bergetar karena perkara itu terjadi hampir secara bersamaan. Seperti halnya dengan ponsel gue.


Gue sekonyong-konyongnya mengeluarkan the offended object dari dalam saku celana. Sebelum melihat apa yang membuat konsentrasi semua orang pecah, gue mencoba membaca situasi terlebih dahulu. Kelas seketika dipenuhi oleh kikikan-kikikan girly dan gelak tertahan dari para murid laki-laki.


Okay then. Gue bisa mengambil kesimpulan kalau sesuatu yang lucu telah terjadi. Gue buka sebuah pesan broadcast yang berasal dari nomor ponsel yang biasanya dijadikan sebagai hotline pengaduan OSIS.


What the fxck? Sejak kapan nomor pengaduan ini dipakai untuk menyebarkan gosip?


Hal ini saja jelas sudsh menyulut amarah gue. Belum lagi isi yang telah membuat semua orang tertawa tersebut.


Oh, my fxcking God. Gue tidak menyangka apa yang akan gue lihat di dalam pesan tersebut. God freaking damn it!

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2