
Fionn
Gue tidak peduli kalau kami sekarang sedang melaksanakan proses belajar dan mengajar. Gue tidak peduli kalau sekarang sedang ada seorang guru yang sedang memimpin proses itu di depan kelas. Gue tidak peduli bahwa apa yang gue lakukan akan membuat gue terkena masalah. Gue tidak peduli terhadap apa pun. Yang gue pedulikan sekarang adalah bagaimana caranya agar gue bisa menemukan siapa yang mengirimkan pesan broadcast ini ke seluruh penghuni sekolah. Yang gue pedulikan sekarang adalah bagaimana caranya agar gue bisa menghentikan tawa dan cemeeh yang keluar dari mulut para sialan di dalam kelas ini. Gue tidak peduli jika gue harus membungkam mulut mereka selamanya. Gue tidak peduli jika harus melakukan hal itu selamanya. Yang jelas, gue ingin mereka semua diam.
"SHUT THE FXCK UP!" Gue sekonyong-konyongnya berdiri dan meneriakkan kalimat itu at the top of my lung.
Seketika kelas menjadi hening. Begitu juga dengan gerakan yang silakukan oleh Pak Mul. Tangannya tiba-tiba berhenti menuliskan sesuatu di papan tulis dan menggantung saja di sana selama beberapa detik. Kemudian, setelah mendapatkan kembali kesadarannya, dia berbalik. "Apa yang baru saja kamu katakan, Fionn?" tanyanya kepada gue dengan nada tenang khas guru yang dinobatkan sebagai guru paling sabar itu.
Paling sabar dan paling keras kepala dalam waktu yang bersamaan kalau menurut gue.
"Saya mau permisi izin ke luar, Pak. Ada yang harus saya urus." Gue segera mengambil tas yang gue letakkan di atas meja dengan sembarangan tadi.
"Tapi, kamu kan baruasuk kelas, Fionn." Pak Mul mencoba mengingatkan gue.
Nope. Nothing will stop me from getting out of this fxcking class right now. "Tapi, saya harus ke luar sekarang juga, Pak." Dan dengan begitu, gue mengambil langkah seribu dan meninggalkan Pak Mul yang masih terheran-heran. Gue tidak leduli gue membanting pintu kelas dengan tidak sengaja dalam proses itu.
****
Pesan yang gue lihat melayang-layang di dalam kepala gue.
Hotline Pengaduan OSIS : Broadcast message
Hotline Pengaduan OSIS : Siapa yang melihat aksi "berani" Kimaya di kantin saat makan siang tadi?
Hotline Pengaduan OSIS : Kalian mau tahu apa rahasianya?
Hotline Pengaduan OSIS : Rahasianya adalah ....
Hotline Pengaduan OSIS : ritual mandi darah yang dilakukan menggunakan darahnya sendiri.
Hotline Pengaduan OSIS : Eeew
__ADS_1
Hotline Pengaduan OSIS : yay or nay?
****
Kimaya
Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Kenapa aku bisa sebodoh ini? Kenapa aku bisa melupakan bahwa menstruasiku akan datang di sekitar tanggal-tanggal ini? Kalau saja aku tidak melupakan detail itu, rentu saja aku tidak akan lupa untuk membawa pembalut. Kalau saja aku tidak lupa membawa pembalut, tentu saja aku tidak akan dijadikan bahan olok-olok satu sekolah!
Argh! Aku ingin melepaskan penyesalan ini dan menempelkannya kepada seseorang. Aku ingin bisa menjadikan orang lain sebagai kambing hitam atas semua yang aku alami. Namun, aku tidak bisa melakukan itu karena tidak ada yang bisa disalahkan selain aku.
Aku sendiri yang lupa. Aku sendiri yang pikirannya telah teralihkan oleh hal-hal lain yang tidak penting.
Sialan!
Kini aku benar-benar tidak tahu apa yang bisa kulakukan. Berkeliaran menggunakan rok yang sudah basah oleh darah kotorku bukanlah sebuah pilihan. Meski saat ini tidak akan ada yang melihatku merangkak di koridor seperti seorang korban pertikaian, akan tetapi aku tidak bisa mengambil risiko dengan meninggalkan jejak tetesan berwarna merah dan amis di sepanjang perjalanan.
Lagi pula, aku tidak mungkin naik angkot dengan kondisi horor seperti ini, bukan?
Aku juga tidak akan meminta bantuan kepada Fionn. Aku tidak akan melakukan hal itu. Tidak, tidak akan. Aku tidak akan membuat diriku terikat utang budi dengannya lebih banyak lagi. Cukup sudah dengan apa yang telah dia tawarkan dan lakukan. Aku tidak ingin membuat diriku lebih ketergantungan lagi dengan sosoknya.
Lalu, opsi apa yang tersisa untukku?
Aku berpikir dengan keras sembari berdiri di salah satu bilik di toilet wanita yang kebetulan aku dan Fionn kunjungi tadi karena memang toilet inilah yang terletak dekat dengan kelasku.
Ya, Tuhan. Apa yang harus aku lakukan?
Dari balik keriuhan pikiran di dalam kepala, aku mendengar bunyi sesuatu yang terhempas dengan keras ke sebuah benda. Apakah itu bunyi ... pintu?
"Kimaya!"
Oh, tidak. Jangan. Tidak, tidak, tidak!
__ADS_1
****
Fionn
Gue sudah bilang gue tidak peduli dengan apa pun sekarang. Gue tidak peduli dengan bunyi yang dihasilkan dari pintu yang baru saja gue banting. Gue tidak peduli apakah ada bagian yang rusak, baik dari pintu itu sendiri ataupun di dinding toilet. Gue sudah bilang kalau gue tidak peduli. Semua itu bisa diselesaikan dengan uang. Jumlahnya bahkan tidak akan bisa melukai simpanan yang gue punya atas nama gue sendiri. Bahkan jimlah itu tidak akan lebih dari uang belanja yang biasa gue keluarkan per harinya.
Yang gue pedulikan sekarang hanyalah Kimaya. Di mana keberadaannya. Bagaimana keadaannya. Setelah itu gue akan urus soal nomor itu.
Wer zum Teufel hat das gemacht? Who the hell did that? They better watch out their backs because **** is going to really hit the fan for them.
I am ready to make some destruction.
Gue akan mulai dari pintu ini dulu. Setelah ke luar dari kelas, gue mulai memutar otak untuk menemukan keberadaan Kimaya dan tempat ini langsung mendapatkan perhatian gue. Pasti dia akan lari ke dalam sini.
"Kimaya!" Gue meneriakkan namanya. Meskipun disambut oleh keheningan toilet yang kosong, gue tetap saja berteriak. "Kimaya! Kim! Babe!"
Masih tidak ada yang menyahut. But I can feel some presence in here. Dia pasti sedang berada di dalam salah satu bilik toilet ini. Gue melanjutkan misi gue dengan membuka setiap pintu yang ada. Empat yang berada di depan terbuka dengan mudah. Pada saat gue mendorong pintu kelima, seseorang melakukan dorongan balik dari dalam.
Here she is.
"Jangan! Gak boleh buka pintu ini. Lo gak boleh buka pintu ini!" Kimaya masih berusaha untuk melawan dorongan dari gue.
Mengetahui dia ada di dalam sana, gue menghentikan usaha gue untuk masuk. "Babe." Gue mulai membujuk dia. "Ini aku. Aku mau tahu keadaan kamu."
"Enggak! Enggak! Lo gak boleh ada di sini! Kenapa lo ada di sini? Kenapa lo bisa ada di sini?"
Fxcking hell. Ada sesuatu di dalam diri gue yang rasanya remuk ketika mendengar nada putus asa dan getaran yang ada di dalam suaranya.
"Please, Fionn. Please. Pergi dari sini. Gue gak pengen lo ada di sini. Tinggalin gue sendiri."
For the love of a fxcking god, apakah dia sedang menangis? Dia tidak sedang menangis, bukan? FXCK! SIAPA YANG SUDAH MEMBUAT CEWEK GUE MENANGIS?!
__ADS_1
Bersambung ....