
Fionn
"Yes." Gue menjawab dengan mantap. "I care a great deal for her."
Meskipun gue yang baru saja mengatakan hal itu, akan tetapi apa yang gue katakan masih tidak terasa nyata di lidah gue sendiri. Apa yang baru saja gue katakan masih terdengar asing di telinga gue. Mungkin karena ini adalah pertama kalinya gue mengatakan hal tersebut dengan keras dan untuk diketahui oleh dunia. Mungkin karena gue mengatakan hal ini kepada orang-orang yang selama ini gue anggap teman, akan tetapi gue yakin gue merasakan kepedulian yang lebih terhadap Kimaya daripada kepada mereka.
Well, what is more can I say? That's the fxcking truth though.
Gue merasa lebih dekat dengan cewek yang kini ada di rumahnya itu daripada dengan cowok-cowok yang mengelilingi gue sekarang.
For the love of a fxcking god. What is happening to me? What is wrong with me?
"Holy shxt, Bro!" Si Aldi berseru. Raut wajah cemas dan gelisah yang tadi ada di wajahnya seketika berubah menjadi sebuah ekspresi terkejut. "Serius lo, Bro?" tanyanya dengan mata dan mulut yang sama-sama bulat.
Gue hanya mengedikkan bahu gue sebagai tanggapan dari pertanyaan retoris dari seberang meja itu.
"Gak usah lebay kayak gitu dulu, ah, lo, Aldi." Kali ini Hamish yang membuka mulutnya untuk pertama kali. "Si Fionn kan bilang kalau dia care aja sama si Kimaya, so what's the big deal, heh? Kita bisa aja merasa care ke semua orang. Tapi, itu belum tentu berarti kita sayang dan cinta sama orang itu, kan? Si Fionn bilang care, lho, bukan jatuh cinta. So? Hati-hati lo kalau ngambil kesimpulan." Si Gondrong itu lalu menoleh ke arah gue dan tersenyum dengan lebar.
What the fxck is his problem? Apa yang dia ingin capai dengan berkomentar sok tahu sepeti itu, hah? Kenapa gue jadi merasa sakit hati dan lesal sekali setelah mendengar ucapan dari si Hamish Menyedihkan ini?
"Lo yang harus hati-hati kalau ngebacot!" ancam gue. "Gue gak segan-segan bikin muka lo bonyok kalau lo berani meremehkan Kimaya dan berkomen sok tahu kayak barusan lagi. Apa yang gue rasain dan gak rasain bukan urusan siapa pun, apalagi elo. Jadi, urus urusan masing-masing atau lo bakal ngerasain gimana rasanya berurusan sama gue."
Itu adalah ancaman pertama yang pernah gue berikan kepada salah satu dari ketiga cowok yang sudah mendampingi gue selama ini. Selama ini gue tidak pernah terlalu mengambil pusing dengan apa yang mereka katakan, akan tetapi gue tidak bisa membiarkan mereka running their mouths sembarangan soal Kimaya.
I told them I fxcking care a great deal about her but Hamish still cannot take the clue. Fxcking pathetic idiot.
"S-sorry," desisnya dengan cuping hidung yang kembang-kempis.
Gue tidak peduli dengan apa yang bisa membuat dia bersikap seperti itu. Yang jelas gue tidak mau ada yang mengatakan hal buruk soal Kimaya lagi di mana pun, terlebih di hadapan gue karena gue siap memburu siapa saja demi cewek itu.
Cewek itu.
Sesaat setelah otak gue mengingat dia, benar-benar mengingat dia, bayangan Kimaya yang pucat san menggunakan hoodie gue seketika saja menyerobot perhatian gue sepenuhnya. Gue tidak bisa memusatkan diri lagi kepada saat ini dan sekarang. Yang ada di pikiran gue hanyalah bagaimana gue bisa berada di rumah kecil itu secepatnya.
"Okay. We're done here." Gue mengungkapkan sembari bangkit dari tempat duduk gue. Gue benar-benar tidak ingin berlama-lama di sini lagi. Gue sudah tidak sabar untuk segera pergi dari sini. "Aldi, I count on you buat kasih kembaran lo peringatan. Dia gak mau kalau gue yang turun tangan sendiri. Dan Hamish, kalau gue jadi elo, gue gak akan asal ngomong lagi. Gue bahkan akan ngambil kelas biar bisa belajar ngomong yang benar. Itu, sih, kalau kelas konyol semacam itu ada. Mario." Gue hanya mengangguk kepada cowok yang satu itu.
__ADS_1
Cowok yang dari tadi hanya mengamati gue dengan mata hitam legamnya yang tampak begitu penuh dengan pemikiran.
What the fxck is everyone's problem anyway?
****
Kimaya menguasai otak gue setelah gue masuk ke dalam Crusty Deb dan berpamitan dengan Bu Deb yang sedang berdiri di belakang counter kasir. Dia menghantui setiap sudut kepala gue ketika gue masuk ke dalam Mon Chéri. Dia membayang-bayangi pikiran gue ketika gue melewati sebuah supermarket.
Gue bahkan memaksa Mon Chéri untuk berputar balik dan masuk ke dalam lapangan parkir gedung itu. Apa, ya, kira-kira yang dibutuhkan Kimaya?
Ah, cewek itu. Sekarang dia pasti sedang tersiksa karena kram perutnya. Apa yang bisa gue lakukan untuk mengurangi rasa tidak nyaman itu? Apa yang bisa gue lakukan untuk membuat dia merasa lebih baik?
Gue ... benar-benar tidak ingin merasakan bagaimana rasanya jadi cewek saat mereka mendapatkan tamu bulanan mereka. Fxcking hell. Melihatnya saja sudah sangat horor, apalagi kalau harus merasakannya.
Mungkin gue bisa membawakan dia sesuatu.
****
Gue menghabiskan waktu selama kurang lebih sepuluh menit untuk melakukan pencarian tentang apa yang dibutuhkan wanita saat aedang mengalami datang bulan. Dan hasil yang gue dapat betul-betul tidak mengecewakan. Banyak yang ternyata bisa gue bawakan untuk cewek itu.
Bunga? Hm. Kayaknya tidak sekarang. Gue soalnya ingin cepat sampai ke rumah Kimaya. Kalau gue harus beli bunga dulu, gue harus menuju ke arah yang berlawanan dengan jalan menuju rumahnya. Nope. Besok-besok aja.
Atau gue bisa bikin pesanan delivery nanti.
Ah, oke. Then everything is set.
****
Gue ke luar dari mobil dan mengambil kantong-kantong belanjaan di bagasi sebelum melangkah menembus pagar kediaman keluarga Pak Mulyono itu.
Oh, my fxcking God. Gue lupa dengan situasi yang gue ciptakan di dalam kelasnya tadi. Fxcking hell. Kenapa gue bisa lupa, sih?
Gimana dong? Apa yang harus gue lakukan ketika gue bertemu dengan Bapak Botak itu nanti?
Fxck it. Gue hanya harus minta maaf karena membuat keributan. Yes. Yes. Gue hanya harus melakukan itu.
__ADS_1
Dengan kebulatan hati, gue ketuk pintu rumah yang dicat putih itu tiga kali. Tidak lama pintu dibuka dan keluarlah ... Pak Mul.
God damn it. "Oh, eh, Pak. Selamat sore, Pak." Gue menyapa pria paruh baya itu dengan gugup.
Semenjak kapan gue bisa menjadi gugup dengan terlalu mudah begini?
Ayo, Fionn. Cepat, cepat minta maaf.
"Eng ... saya ... saya mau minta maaf dulu, Pak. Soal kelakuan saya di kelas tadi. Saya ... eng, saya ... saya cuma kesal sama anak-anak yang ketawa pas belajar."
What? What the fxck am I even saying? Sejak kapan gue jadi seorang yang peduli dengan pelajaran begitu?
Pria botak yang berdiri di depan gue dan harus menengadah untuk mempertahankan kontak mata kami itu di kalakian mendesah. "Sudah, kamu tidak perlu berbohong."
Secepat kilat gue memotong ucapan Pak Mul dan berusaha menyangkal. "Tapi, Pak, saya gak bohong! Saya–"
Pak Mul meletakkan jari telunjuknya di depan bibir, yang merupakan bahasa isyarat universal untuk menyuruh lawan bicara diam. "Sst. Jangan keras-keras." Dia kemudian merendahkan nada suaranya. "Bapak tahu semua yang terjadi di sekolah tadi." Ayah dari cewek yang gue pedulikan itu malah kembali menyalip ucapan gue. "Bapak sudah dapat info dari guru BK. Ada beberapa anak-anak yang melaporkan hal itu ke kantor." Pak Mul mendesah. "Anak-anak sekarang benar-benar."
Laki-laki di depan gue tidak menyelesaikan kata-katanya. Dia hanya menggeleng-gelengkan kepala yang rambutnya hanya segelintir itu. Di wajahnya jelas terukir begitu banyak rasa. Kasihan. Marah. Namun, dia tidak bisa berbuat apa-apa terhadap apa yang dirasakannya.
In the name of love and all things holy. Gue betul-betul bersimpati terhadap pria ini. Rasa itulah yang mendorong gue untuk mengungkapkan apa yang gue lakukan tadi. Hal itulah yang membuat gue ingin mencoba untuk menenangkan Pak Mul. "Bapak gak usah khawatir, Pak. Saya sudah menemukan siapa yang menjadi dalang dari perbuatan menjijikkan tersebut."
Kedua mata lelaki itu bersinar dari balik kacamata yang selalu dia pakai. "Benarkah?"
Gue mengangguk.
Sekonyong-konyongnya kening yang sudah keriput itu aemakin berkerut. "Tapi, apa yang akan kamu lakukan dengan informasi itu? Apa yang akan kamu lakukan terhadap pelakunya? Bapak tidak ingin kamu terlibat masalah hanya karena keinginan untuk balas dendam. Bapak tidak ingin kamu mengancam posisi kamu di OSIS dan di dalam sekolah hanya karena masalah sepele ini."
Oh, no. Pak Mul barusan tidak mengatakan itu, kan? Pak Mul baru saja tidak mengatakan urusan yang berkaitan dengan Kimaya sebagai sesuatu yang sepele, kan? "Pak, apa pun yang menyangkut dengan Kimaya bagi saya bukan masalah yang sepele. Itu adalah masalah yang serius, lebih serius dari apa saja yang pernah saya hadapi sebelum bertemu dengan anak Bapak. Dan saya akan coba maklumi kecemasan Bapak. Saya sangat berterima kasih atas perhatian Bapak kepada kebaikan saya. Tapi, Pak, saya akan mengurus ini dengan cara saya sendiri. Saya akan pastikan kalau saya tidak akan menerima konsekuensi apa-apa setelah semuanya selesai. Saya tidak akan melakukan sesuatu yang dapat membahayakan diri saya atau Kimaya kok, Pak. Saya hanya akan memberikan sedikit rasa pahit bagi orang-orang yang mau macam-macam dengan saya atau orang yang saya pedulikan. Saya hanya akan membiarkan orang itu mengecap rasa dari apa yang sudah dia buat sendiri. Hanya itu saja. Tidak lebih. Jadi, saya minta Bapak tenang saja. Fokus dengan Ibu dan Kimaya saja. Biar saya yang urus keperluan yang lain. Oke, Pak?"
Setelah penjelasan yang sepanjang itu, Pak Mul tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia hanya mempersilakan gue masuk ke dalam.
Fiuh. Akhirnya.
Bersambung
__ADS_1