
Fionn
Pak Mul Bitak itu pun akhirnya pergi dari sana. Saat sang guru akan berbalik, gue cepat-cepat beralih ke dinding yang ada di belakang gue untuk bersembunyi. Meskipun dia tidak berjalan ke arah dalam gedung, akan tetapi dengan dinding kaca yang mengelilingi lobi, siapa pun bisa melihat ke arah dalam gedung. Seperti gue yang bisa mengamati mereka dengan bebas dari dalam sini sebentar ini.
Gue iringi perjalanan Pak Mulyono menuju ke arah lapangan parkir yang berseberangan dengan posisi Kimaya sekarang. Tubuhnya yang pendek dan agak berisi melintasi halaman sekolah yang dilapisi oleh aspal dengan langkah yang kecil-kecil. Melihat dia seperti itu, gue masih tidak percaya kalau Pak Mulyono adalah ayah kandung dari Kimaya.
Ya, bagaimana bisa coba? Spek anaknya saja begitu, cuma beberapa tingkat di bawah bidadari. Nah, bapaknya? Muka bapaknya malah mau saingan sama peri rumah di film Harry Potter. Ya, gimana gue tidak mau curiga, kan? Apa Kimaya tidak pernah mempertanyakan hal ini sama ibunya?
Ah, sialan. Sudah lah. Bukan urusan gue juga. Mau anak kandung, kek, anak tiri, kek. Whatever the fxck. Yang jelas gue harus mendapatkan apa yang gue inginkan.
Sekali lari gue mengintip. Setelah gue tidak melihat lagi sosok Pak Mul di lapangan parkir, gue memutuskan sekarang sudah aman untuk ke luar dari tempat persembunyian. Untung sekolah sudah lengang, jadi anak-anak tidak mendapatkan tontonan dari aksi konyol yang barusan gue lakukan.
Pemikiran itu membuat gue mempercepat langkah. "Hey, Kim." Gue memanggil Kimaya dari depan mobil gue, sekitar dua puluh meter dari tempat dia duduk. Saat dia sudah melihat, gue serta-merta melambaikan tangan, mengisyaratkan agar dia datang mendekat. Kimaya menurut.
__ADS_1
Awalnya gue berencana untuk menyamperi dia seperti selayaknya pacar yang baik, akan tetapi gue tidak jadi melakukan itu karena; satu, sekali lagi gue katakan kalau tidak ada anak-anak yang akan melihat apa yang gue lakukan, dan yang nomor dua, pemandangan Kimaya dan ayahnya tadi membikin gue ingin cepat-cepat kabur dari sekolah ini.
Setelah Kimaya berada dalam jarak pandang yang cukup dekat, gue akhirnya bisa melihat ekspresi yang terpampang di wajah tirusnya nan bersih. Bersih dari jerawat dan noda lain, akan tetapi tidak bersih dari kerutan yang bertengger di keningnya.
Untuk sementara gue abaikan saja kekesalan cewek itu. Gue segera membuka kunci pintu mobil dengan key fob yang sudah standby di dalam genggaman. "Masuk." Gue perintah lagi dia. Setelah itu gue membuka pintu bagian pengemudi.
Sesaat setelah gue menutup kembali pintu Chéri dengan super duper pelan, gue mendengar suara hantaman yang lumayan keras dan merasakan mobil gue bergoyang. "What the fxck?" Gue menggeram dan dengan cepat memutar badan hingga kini gue berhadapan dengan Kimaya. "What the fxck did you just do? What the fxck have you done?" Gue menodong dia dengan pertanyaan retorika yang sudah gue tahu jawabannya.
Dia baru saja membanting pintu Mon Chéri. Dia baru saja melakukan apa yang tidak pernah gue lakukan selama tiga tahun ini.
Kerut di kening Kimaya yang tadi ada kini seketika menghilang, berganti dengan ekspresi histeris yang membuat matanya membesar dan mulut ternganga membentuk huruf O. Matanya juga tidak berapi lagi, akan tetapi bergetar ketakutan. Dia shock. Gue tahu dia shock karena sudah gue hardik.
Namun, gue tidak peduli. Dia sudah lancang dan melakukan sesuatu yang paling gue laknat di muka bumi. Menyakiti Mon Chéri.
__ADS_1
"I-i-iy ... i-iya-ya. G-g-gu-gu-gue g-g-ga-gak se-seng-senga-ja." Jawabannya berceceran setelah beberapa saat.
Cewek miskin ini berani-beraninya main banting barang sembarangan. Dan apa dia bilang? Tidak sengaja? Tidak sengaja katanya? Hah! Tidak sengaja dari Hong Kong. Gue melihat jelas kekesalan di raut wajahnya tadi. Gue yakin dia melakukan itu karena ingin melampiaskan kemarahannya kepada gue.
Fxcking hell. Gue sebenarnya tidak mau menampakkan sifat asli gue ke Kimaya karena gue tidak mau memberikan dia alasan untuk menolak gue. Namun, yang satu ini tidak dapat dihindarkan. Reaksi gue terhadap apa yang dia lakukan kepada Chéri benar-benar keluar secara spontan.
Whatever the fxck yang kalian pikirkan soal gue yang lebih sayang dan menghargai sebuah barang daripada bersikap lembut dan peduli soal ke-gentleman-an di depan seorang cewek. Iya, gue lebih peduli sama mobil gue daripada sama cewek ini. Bukan hanya masalah harga, akan tetapi karena Mon Chéri adalah teman setia gue sedangkan cewek yang kini gue yakin masih menggigil di bangku penumpang hanyalah a means to an end. Sesuatu yang harus gue gunakan untuk mencapai tujuan gue yang lain. So ....
Gue tarik napas dalam dan gue embuskan dengan keras. Sekali. Gue lakukan sekali lagi. Dua kali. Cukup untuk ketiga kalinya, gue baru bisa mulai merasa agak tenang. Sekarang, setelah otak gue mulai kembali jernih, gue baru bisa menaksir dampak tindakan yang sebentar ini gue lakukan kepada Kimaya.
Fxck. She must be so scared. Gue pasti membuat dia sangat takut dengan teriakan keras yang memekakkan telinga itu. Fxck. I have to fix this. Gue benar-benar harus memperbaiki keadaan dan membuat Kimaya percaya kalau yang tadi itu bukan sifat gue yang biasanya. Yang tasi itu hanyalah reaksi dari aksi yang dia kerjakan sebelumnya.
Well, in a way, hal itu memang betul, kan?
__ADS_1
Gue putar duduk gue lagi sehingga gue kini menghadap lurus ke depan. Gue gantungkan kepala di antara lengan yang tegak karena siku yang gue telekan di atas setir. Gue hela napas dalam sekali lagi sebagai efek pelengkap dari atmosfer dramatis yang berusaha gue ciptakan saat ini. "Sorry, Kim. Sorry. Gue gak bermaksud neriakin elo." Gue sisir rambut gue dengan jari-jari. Tidak lupa gue tambahkan sedikit gerakan sembarangan yang membuat rambut gue kusut. Apakah gue sudah tampak menyesal dan gusar sama diri gue sendiri? "Gue ... gue cuma kaget aja. Gak pernah ada yang berani melakukan itu sama Chéri sebelumnya. Soalnya gue sayang banget sama mobil gue ini. Mon Chéri." Gue lepaskan genggaman gue dari helai-helai rambut gue dan gue tepuk-tepukkan telapak tangan kanan gue dengan lembut ke atas setir. "I am so freaking sorry, Mon Chéri. Kamu pasti kaget banget dengar suara aku, ya? Aku teriaknya tadi keras banget, ya? Sorry, sorry. Aku cuma gak mau kamu sakit aja."
Bersambung ....