Pacar Bayaran Abang Ketos

Pacar Bayaran Abang Ketos
25. Delapan Puluh Persen


__ADS_3

Kimaya


Membantu dia mengerjakan tugas, sih, boleh-boleh saja. Namun ....


"Dampingin dan support lo pas udah nyalonin diri jadi Ketua OSIS? Maksud lo yang kayak gimana?" Aku meminta penjelasan. Mengerjakan tugas adalah urusan yang tidak perlu dipusingkan lagi. Aku bisa mengerjakan semuanya sendiri tanpa dia ikut membantu pun. Namun, aku kurang mengerti pada poin terakhir. Apa yang harus aku lakukan sebagai pendamping dan suporter Fionn saat dia mencalonkan diri nanti?


"Yaaa, mendampingi gue dan ngasih support ke gue," ucapnya lagi.


Aku memutar bola mata. Jawabannya sungguh tidak berguna sekali. Yang dia baru saja lakukan hanyalah mengulang ppertanyaanku dan menukar tanda baca yang ada di belakang kalimat itu; dari tanda tanya menjadi sebuah titik. "Iya, maksud gue, apa, Fionn. Apa contoh perbuatan yang termasuk dalam kategori mendampingi dan memberikan dukungan buat elo itu? Gue minta penjelasannya beserta contoh." Aku harus paham dulu apa saja job description sebagai pasangan dari seorang Fionn.


"Apaan, sih, lo pake minta penjelasan beserta contoh segala? Udah kayak soal essay ujian mata pelajaran Kewarganegaraan aja." Cowok yang tingginya aku rasa kalah sedikit dari pintu kamarku itu lalu mendesah. Dia berbalik dan berjalan ke arah meja belajarku. Sebelum dia duduk, Fionn menoleh dan menatap aku dan baki yang ada di atas meja secara bergantian. Dia seakan-akan ingin bertanya "apakah gue boleh makan atau minum ini?" padaku melalui tatapannya itu.


Aku mengangguk sekali. Di kalakian diputarnya kursi sehingga punggung kursi menghadap ke depan, setelah itu barulah dia menghempaskan tubuhnya ke atas sana, membuat kursi itu berderit dengan pasrah menerima beban dari tubuhnya yang tidak berlemak. Satu gelas berisi es jeruk tergantung dari lengannya yang ditopangkan di atas sandaran kursi.


Gue hanya memperhatikan dia sembari menanggapi ejekannya soal apa yang aku tanya tadi dengan mengangkat sebelah bahu.


Fionn kemudian mereguk minuman yang sudah diantar oleh Bu Pik tadi. Setelah dirasa selesai memuaskan rasa hausnya, dia kembali mengarahkan pandangannya padaku. Alisnya lantas naik ke dahi karena rasa tidak percaya. ",Lo serius nanyain itu? Penjelasan beserta contohnya, iya?"


Aku mengangkat sebelah bahuku sekali lagi, bermaksud untuk berlagak acuh tak acuh agar dia tidak mengira bahwa aku hanya berbasa-basi menanyakan hal itu. Bukan karena aku benar-benar serius ingin mengetahui apa saja yang harus aku kerjakan selama berpura-pura. Bukan karena aku sebetulnya tidak tahu dan tidak pernah ingin tahu soal apa yang orang-orang pacaran itu lakukan sebelum ini terjadi.

__ADS_1


Sebelum aku menjadi pacarnya.


Pemuda itu di kalakian menengadahkan kepalanya menghadap ke atas langit-langit kamar yang warnanya sudah lumayan kusam itu. Dia lalu mengerang. "Jangan bilang ke gue kalau lo belum pernah pacaran." Fionn menurunkan kepalanya hingga kami saling menatap lagi. "Please, Kim. Jangan bilang kalau lo belum pernah pacaran. Lo udah pernah pacaran, kan?"


Pertanyaan yang diajukan dengan intonasi penuh rasa cemas itu sekonyong-konyongnya membuat harga diriku tersinggung. Langsung saja kusemprot dia dengan gayaku sendiri. "Emangnya kenapa kalau gue belum pernah pacaran? Lo juga belum pernah PACARAN, kan? Jadi kita sama-sama belum punya pengalaman soal pa-ca-ran. Makanya lo gak boleh songong sama gue."


Benar. Aku tahu siapa Fionn, seperti siswa dan siswi SMA Taruna Nusantara yang lain, dari berita-berita yang diterbangkan oleh angin daei telinga ke telinga. Di koridor sekolah, banyak sekali rumor yang beredar soal anak daei keluarga paling kaya ini. Terlebih soal urusan dia yang dikerubungi oleh banyak cewek, akan tetapi tidak ada satu orang pun dari mereka yang pernah dikenalkan sebagai pacarnya.


"Meh, jelas bedalah." Dia langsung menampik ucapanku. "Kalau gue gak pernah pacaran bukan karena gak ada yang mau sama gue, tapi karena, ya, gue gak mau pacaran aja. Ngapain cuma sama satu orang kalau lo bisa punya banyak opsi, kan?" Dia lalu mencibir.


Aku tidak suka dengan ekspresi yang ada di wajahnya barusan dan aku sangat, sangat, sangat tidak suka dengan apa yang dia katakan. "Maksud lo apa, hah? Lo mau bilang kalau gak ada yang suka sama gue? Iya?" Aku serta-merta beranjak dari posisiku yang sedari tadi menyandarkan tubuh ke pintu dan melangkah ke arah Fionn. Bisa-bisanya dia mengatakan hal seperti itu. Bisa-bisanya dia mengatakan kalau tidak ada cowok di sekolah yang mau denganku karena ....


Hm. Karena ....


Ah, sial! Ternyata setelah diingat-ingat lagi memang tidak ada yang pernah menyatakan rasa sukanya padaku selama aku bersekolah di SMA Taruna Nusantara. Namun, tetap saja. Dia tidak bisa mengatakan hal itu kepadaku!


"Whoa, whoa, whoa!" serunya dengan mata terbelalak. Dia sekonyong-konyongnya mengangkat kedua tangan sebagai tanda menyerah, lalu tergelak karena sesuatu. "Shxt, Kim! You sure have some fire in you. Galak juga lo, ya?"


"Bodo amat." Aku berhenti tiga langkah di depan tempatku semula dan kembali menyilangkan tangan di depan dada. Kali ini kubuang muka dari pandangan cowok yang masih duduk dengan mengangkangi kursi itu.

__ADS_1


"Ah, ayolah, Kim. Jangan ngambek gitu, dong, ah." Fionn setengah membujukku setengah mengejek. "Entar tambah gak ada yang suka sama lo."


Sialan dia! "Gue gak ngambek!" Kujulurkan lidahku padanya.


Sekonyong-konyongnya Fionn tertawa. Tertawa dengan terbahak-bahak. Suara nyaring itu tiba-tiba saja membuatku agak ... terperangah.


Rasanya tidak dapat kupercaya.


Biasanya, setelah aku pulang, aku akan menemani Ibu sebentar sebelum kembali ke kamar untuk memulai ritual belajarku kembali. Mengerjakan pekerjaan rumah, mengerjakan soal-soal persiapan untuk TOEFL dan IELTS, mempersiapkan makan malam, mandi dan beres-beres sebelum tidur, lalu membaca buku. Buku di mana aku bisa bertemu dengan pacar-pacarku.


Diam, diam! Sekarang aku tentu tidak bisa mengatakan hal itu kepada Fionn, bukan? Aku tidak mau terlihat dan terdengar sangat menyedihkan.


Namun, baru kali ini bertemu dan berinteraksi dengan cowok ini dan hidupku sudah banyak yang berubah. Dia berhasil menjadi teman sejawatku di sekolah yang pertama yang bertemu dengan Ibu, dia berhasil merusak rutinitasku, dan dia berhasil membuat aku sadar betapa keseharian yang kujalani selama ini benar-benar membosankan jika dibandingkan dengan ini.


Ah, Kimaya. Aku rasa kamu sedang berada dalam masalah.


Tidak apa-apa. Aku bisa mengatasi masalah ini jika aku tidak perlu memfokuskan diriku lagi pada perkara uang kuliah.


Ya. Masalah uang kuliah, yang berada di nomor satu dalam daftar masalah yang harus diselesaikan secepatnya, akan segera dapat kucoret jika aku menyetujui penawaran dari Fionn.

__ADS_1


Aku mampu merasakan keputusanku semakin condong ke arah kanan. Sudah delapan puluh persen dari logikaku menyatakan iya pada proposisi yang dia ajukan.


Bersambung ....


__ADS_2