Pacar Bayaran Abang Ketos

Pacar Bayaran Abang Ketos
33. Yang Mulia Fionn Haas


__ADS_3

Kimaya


Gosip betul-betul merambat lebih cepat dari api kebakaran hutan gambut di SMA Taruna Nusantara. Atau mungkin karena lebih dari separuh populasi siswa dan siswi sudah menjadi saksi soal hal yang sungguh di luar nalar—begitulah yang mereka katakan.


Fionn Akari Haas menggandeng seorang cewek biasa saat menuju ke kelas tadi pagi. Sungguh sesuatu yang di luar nalar!


Aku memutar bola mata saat melihat judul berita yang sekarang sedang menjadi berita utama di majalah online sekolah itu. Maksudku, apakah ini benar-benar bisa disebut sebagai sebuah berita? Majalah online sekolah entah kenapa bisa berubah menjadi sesuatu yang penuh dengan sampah seperti ini. Hanya berisikan gosip-gosip murahan yang tidak ada hubungannya dengan kegiatan akademik dan ekstrakurikuler yang dilakukan. Di mana para guru yang berperan sebagai editor? Apakah mereka terlalu takut untuk benar-benar bertindak selayaknya seorang guru di bawah tekanan uang-uang yang berserakan di lorong-lorong sekolah ini?


Hm. Semoga saja setelah Fionn menjadi ketua OSIS nanti dia bisa membuat perubahan yang lebih baik.


Senang rasanya mengetahui kalau Ayah bukan salah satu dari guru yang mau diperdaya oleh rupiah. Meski aku tahu itu akan sangat memudahkan dengan segala yang terjadi di rumah kami.


Kembali lagi ke urusan majalah online sekolah yang diberi nama What's Up, Taruna itu.


Entah apa yang berhasil membujukku untuk menyentuh kolom komentar yang ada di bawah berita utama hari ini. (Aku betul-betul tidak menyangka dengan apa yang hamba gosip ini bisa lakukan. Siapa pun yang menulis beritanya pastilah mendedikasikan jam pertama pelajaran hanya untuk menyampaikan "berita" yang sebagian besar cuma berisi opini mereka saja.) Dan aku mengutuk tindakan bodohku itu.


Sungguh banyak, benar-benar banyak, komentar jahat yang ada di dalamnya. Kalau aku berpikir apa yang dikatakan oleh Fionn dan teman-temannya kepada Hamish tadi pagi adalah sesuatu yang kejam, hal tersebut tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan yang kini terpampang di layar ponselku.


Ya, Tuhan. Kenapa manusia bisa bersikap lebih setan daripada setan itu sendiri?


Milktea23 : a nobody? What the heck, Fionn?


Grande-- : dia pasti pake jampi-jampi


3Lolaloli : gue baru tahu kalau dia ada di sekolah kita. Siapa sih cewek itu?


EonniJung : it's just a fling you guys. Bentar lagi juga pasti si Fionn bosan. Pegang kata-kata gue


Ngak8ngok : setuju @EonniJung meskipun ini yg pertama kalinya kita ngeliat Fionn gandeng cewek di sekolah, bukan berarti ini akan jadi yg terakhir. So keep the spirit guys! Giliran kita pasti datang sebentar lagi \0/


123forFionn : i hate that bxtch!

__ADS_1


Hell2pie : dasar cewe misqueen gak tau diri


YoungThug : masa Fionn mau aja sama dia sih? Gak takut nanti virus yg ada di gubuk cewek itu dipindahin ke dia apa?


SheREINa : paling cuma buat mainan sesaat doang. Ntar kalau udah bosan Fionn bakal balik lagi ke habitat aslinya


Ya, Tuhan.


Sebenarnya aku bukan tipikal yang memedulikan perkataan orang lain, aku tidak pernah menjadi seseorang yang memikirkan apa yang orang lain katakan terhadapku selagi aku tahu apa yang aku kerjakan, akan tetapi apa yang mereka tulis di sana benar-benar mulai menggerogoti diriku dari dalam. Bagaimanapun juga, cewek misqueen ini masih mempunyai perasaan. Cewek yang di gubuknya banyak virus ini masih mempunyai hati. Dan apa yang baru saja aku baca sungguh sangat, sangat, sangat menyakitkan.


Sekarang aku tidak yakin akan bisa menghapusnya dari memori di dalam otakku.


Sialan. Aku tidak mengantisipasi terjadinya hal semacam ini. Aku tidak berpikir bahwa semuanya akan menjadi seperti ini. Aku kira aku hanya akan menghadapi Fionn dan teman-temannya. Namun, sama sekali bukan itu yang menjadi kenyataan. Pada realitanya, aku harus memasang badan untuk menghadang siswi para fans Fionn yang ada di satu sekolah.


Hari ini aku baru tahu bahwa rasa penasaran bisa menjadi berkah atau bahkan sebuah kutukan. Aku seharusnya tidak menyerah pada rasa ingin tahu yang terlalu berlebihan di dalam diriku ini. Aku seharusnya tidak mudah menyerah pada godaan untuk mengecek What's Up Taruna hanya karena bisik-bisik yang kucuri dengar di sepanjang perjalanan ke perpustakaan. Aku seharusnya tahu lebih baik.


Sekarang aku jadi malas memenuhi permintaan Fionn, kan? Aku jadi tidak ingin menampakkan wajahku pada orang-orang yang sangat penuh dengan kebencian ini.


Fionn : kim


Fionn : katanya kan mau ke kantin


Fionn : kim?


Fionn : gue bilang kita ketemu di kantin


Fionn : kim?


Fionn : di mana lo?


Fionn : buruan ke sini

__ADS_1


Fionn : kimaya!


Kututup aplikasi pengiriman pesan yang hanya kubuka untuk membaca pesan dari Fionn itu. Kubiarkan saja pesan-pesan yang telah terkirim tersebut tanpa mengetik balasannya.


Ah, terserah lah. Aku sedang tidak ingin disuruh-suruh.


Aku mengembalikan perhatian kepada buku yang berserak di atas meja. Semenjak hari Jum'at, aku sudah tidak berkonsentrasi dalam mengerjakan soal-soal latihanku karena sibuk mengirim dan berbalas pesan dengan Fionn. Tiga hari ditinggalkan, persiapanku sangat banyak yang terbengkalai.


Baru saja ingin membaca sebuah soal, ponselku yang tadi kuletakkan di dalam saku baju kembali bergetar. Kucoba abaikan hal itu dengan memindahkannya ke dalam tas, akan tetapi bunyi getaran bertemu dengan buku-buku di dalam sana tetap saja mengganggu.


Untung tempat belajarku di perpustakaan ini ada di sudut ruangan, jauh dari keramaian sehingga tidak ada pengunjung lain yang akan protes terhadapku. Petugas jaga perpus juga tidak ada yang berada di sekitar sini. Meskipun demikian, akhirnya aku memilih untuk menonaktifkan benda pengganggu itu.


Ah, terserah lah. Moodku sudah berubah. Aku sedang tidak mau diganggu.


Hening.


Keheningan yang aku sukai datang lagi.


Hm. Tiga hari dengan kehebohan yang konstan benar-benar membuatku merindukan suasana seperti ini.


Namun, takdir berkata lain. Aku hanya bisa menikmati rasa tenang itu hanya dalam beberapa waktu. Karena, tidak lama kemudian, sesosok raksasa sudah ada di samping meja dan membayang-bayangi halaman buku yang sedang terkembang dengan keberadaannya.


Kuembuskan napas panjang saat dia sampai di sana. Bagaimana bisa dia menemukan aku di sudut ini? Aku memilih tempat ini karena jauh dari jangkauan makhluk-makhluk yang hanya ingin menjadikan perpus sebagai tempat mojok mereka.


Dia hanya berdiri di sana dalam diam.


Walaupun masih hening, akan tetapi senyap yang kini ada tidak sama lagi dengan yang tadi. Meskipun sekarang masih hening, akan tetapi lengangnya tidak lagi nyaman.


Sekali lagi kuembuskan napas panjang.


Habis sudah masa tenangku. Sekarang aku harus menghadapi apa yang diinginkan oleh Yang Mulia Fionn Haas.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2