
Ujian nasional telah selesai, semua siswa ke 9 pun berhamburan keluar dengan saling sorak sorai. Tidak dengan Keysa jalan gontai di kolidor sekolah sambil memegang perut nya.
"Keysa kita photo yuk, kalau saya sudah ada di Eropa kita nggak mungkin seperti ini lagi." Ajak Sandi.
Keysa dan Sandi pun berphoto bersama, dengan berbagai gaya. Hingga mereka berakhir di depan gerbang sekolah, sepanjang jalan mereka berdua mem video momen yang tak akan pernah bisa terulang.
"Keysa, semoga kita bisa jadi Sahabat terus. Jangan pernah putus komunikasi ya, jujur saya senang bisa jadi teman kamu. Karena kamu adalah perempuan yang berbeda dari yang lain nya. Saya harap kamu pun tidak akan pernah lupa sama saya. " Ucap Sandi.
"Iya Sandi, saya juga berterima kasih untuk semuanya. Hanya kamu teman yang tulus menerima saya apa adanya." Ucap Keysa.
"Kelulusan kan bulan depan, sehari setelah hari kelulusan saya harus berangkat, mungkin acara perpisahan saya tidak bisa hadir, saya akan terus menghubungi kamu."
"Semoga kamu menjadi orang sukses ke depan nya. " Ucap Keysa.
"Semoga cita - cita kamu tercapai." Ucap Sandi.
"Amin..!! "
Sandi pun pulang sedangkan Keysa menunggu suaminya dan di buka ponsel nya ternyata Bryan beberapa kali menghubungi nya karena mode getar yang membuat Keysa tak mendengar kalau suaminya menghubungi.
From My Suami
Yank, maaf Mas hari ini tidak bisa jemput dan antar ke Dokter. Mas ada tugas mendadak, pulang sendiri nggak apa - apa kan sayang? Kabari kalau sudah di rumah.
To My Suami
Ok...!!! 🥰🥰🥰.
*******
"Neng itu mangga asam banget loh." Ucap Susi.
"Enak Mba, dari kemarin mual pusing kadang datang kadang hilang ya begini nih." Ucap Kesya.
"Neng hamil? " Tanya Susi tiba - tiba.
"Hahahah nggak lah, orang Mas Bryan di buang di luar." Jawab Keysa.
"Di buang di luar juga nggak jamin nggak mungkin bakalan jadi, siapa tahu ada yang masuk saking enak nya kan nggak tahu."
"Masa sih? "
"Kalau pakai alat 99 persen, kalau nggak hanya alami di buang di luar sih siapa tahu Suami Neng nggak kerasa ada yang masuk.'
__ADS_1
" Gitu ya? "
"Iya."
"Tapi kalau saya hamil saya nggak boleh kuliah sama Kerja, karena takut nggak bisa bagi waktu. Punya anak juga di asuh sama Mba Susi nggak boleh katanya suruh cuti kuliah nanti lanjut lagi kalau anak sudah besar."
"Karena Mas Bryan kan ingin yang terbaik buat Neng, orang hamil itu rentan nggak boleh capek, nggak boleh stress. Apalagi kalau punya anak kecil, masih sangat membutuhkan kita. Peran Baby Sister dengan peran Ibu itu sangat jauh berbeda, dari situ suami Neng ingin dari kecil anak itu dekat dengan Ibunya bukan dari kecil dekat dengan orang lain."
"Iya Mba." Ucap Keysa degan melanjutkan memakan irisan Mangga.
******
Keysa dengan segera masuk kedalam kamar mandi, setelah membeli tes pack mengingat apa yang di katakan Susi kemungkinan hamil.
Dengan berbagai macam merk alat kehamilan, mulai dari yang murah hingga yang mahal.
Dengan segera menggunakan nya sesuai petunjuk, satu persatu alat tersebut di gunakan. Hingga beberapa detik menunggu terlihat semua nya sama terdapat garis dua sangat jelas nampak terlihat.
Keysa menatap tak percaya, rasa yang dirasakan saat ini adalah rasa yang bercampur jadi satu, namun teringat apa yang di katakan oleh suaminya.
Kesya mengusap perutnya, hingga air mata meleleh membasahi kedua pipi nya. Dan dengan segera merapihkan alat kehamilan tersebut dan menyambar tas nya pergi kembali.
*****
"Ibnu kalau ada yang menelepon saya lewat telepon kantor bilang saya lagi pergi."
"Siap Bang. "
"Bang di dalam ada tamu." Ucap Ibnu.
"Siapa? " Tanya Bryan.
"Katanya keluarga Abang. " Jawab Ibnu.
Bryan pun masuk kedalam ruangan nya dan melihat seorang pria yang sedang duduk menunggu Bryan.
"Paman." Sapa Bryan langsung mencium punggung tangan nya dan terlihat seorang anak kecil yang tersenyum ke arah nya, namun senyum nya membuat rasa sakit untuk Bryan.
"Kenapa Paman bawa Arumi kemari. " Ucap Bryan tak mempedulikan anak kecil yang terus tersenyum padanya.
"Maaf Paman bawa dia, karena di jalan Paman nggak punya teman ngobrol. Dan Arumi dekat dengan Paman dan Bibi." Ucap Pak Sholeh nama Paman Bryan.
"Maaf saya tidak pernah pulang." Ucap Bryan.
__ADS_1
"Iya Paman mengerti, Ayah kamu sudah tahu kamu sudah menikah Paman yang kasih tahu bahkan Meilina pun sudah tahu." Ucap Pak Sholeh.
"Bagaimana reaksi dia? " Ucap Bryan.
"Meilina terlihat hanya diam dan saat kami akan kemari dia titip salam untuk kamu." Ucap Pak Sholeh.
"Paman bawa Arumi di suruh dia kan bukan sengaja Paman yang bawa, kenapa Paman nggak pernah mengerti perasaan saya."
"Arumi nggak salah, kenapa kamu begitu nggak suka sama Arumi."
"Hadir nya Arumi awal semua nya hidup saya jadi gelap, sekarang saya sudah bahagia dengan masa depan saya lebih baik dari Meilina."
"Tapi kamu harus menerima takdir Bryan, lupakan semuanya bagaimana pun ada ikatan darah. "
"Kalau itu saya masih ingat. " Ucap Bryan.
"Langsung saja Paman ada perlu apa kemari?" Tanya Bryan.
"Pulang lah bawa istri kamu." Jawab Pak Sholeh.
"Buat apa di bawa ke sana? Mau menunjukkan masa lalu." Ucap Bryan.
"Bagaimana pun istri kamu harus tahu, karena kamu hidup bersama istri kamu itu tidak untuk sebentar. "
"Ini permintaan Paman kan bukan permintaan Ayah? "
"Meilina, dia yang meminta. Bagaimana pun Meilina masa lalu kamu, Istri kamu harus tahu cerita nya."
Arumi berjalan mendekati Bryan, tangan kecil itu langsung memeluk tubuh nya.
"Mamah selalu menatap photo pria berseragam Polisi, wajah ini yang selalu Mamah tangisi. Arumi pun di kenal kan kalau yang di depan Arumi ini yang membuat Mamah bahagia." Ucap Arumi memeluk erat Bryan.
"Meilina bicara apa saja pada anak nya Paman? Bagaimana dengan suaminya? Kenapa dia masih menangisi saya." Ucap Bryan.
"Kebiasaan lama masih tetap tak pernah berubah." Ucap Pak Sholeh.
"Jangan sampai istri saya salah paham, suatu hal yang tak mungkin bisa terjadi. Sekarang cerita nya sudah lain." Ucap Bryan.
"Maaf kan Paman, dan apakah boleh Paman bertemu dengan istri kamu? "
"Maaf saya belum siap, dan jangan tunjukkan Arumi pada istri saya. Kehadiran nya saya tak pernah suka." Bryan melepaskan pelukan Arumi dengan pelan dan memilih berjalan ke arah pintu.
"Kalau Paman ingin kemari, jangan bawa anak itu. " Ucap Bryan membuka pintu ruangan nya.
__ADS_1
"Papah...!!! "