
Di pinggir jalan Bryan dan Keysa masih diam tanpa bicara lagi, Bryan lebih memilih duduk di atas rerumputan di tepi jalan sedangkan Keysa duduk di dalam mobil sambil bermain ponsel.
Bryan menyedot Vape elektrik nya dengan sesekali memainkan asap nya yang mengebul tebal.
Keysa melihat suami nya yang sudah hampir 1 jam duduk, setelah perdebatan mereka berdua Bryan lebih memilih untuk keluar dari mobil.
Keysa yang sudah tak tahan pun keluar dari mobil, dan berjalan menuju ke arah Bryan
"Kalau nggak akan melanjutkan perjalanan nya lebih baik kita pulang, kalau nggak saya naik angkutan umum saja." Ucap Keysa.
Bryan hanya diam dan terus menyedot Vape nya tanpa peduli dengan ucapan Keysa.
"Ok, kalau pura - pura tuli saya sumpah in Mas tuli betulan." Ucap Keysa yang semakin kesal.
"Mas, dengar nggak sih? " Bentak Keysa.
Bryan beranjak berdiri dan menatap ke arah Keysa yang dengan wajah kesal nya.
"Masuk mobil, 30 menit lagi sampai. " Ucap Bryan langsung masuk kedalam mobilnya, dan di ikuti oleh Keysa.
Keysa menatap ke arah Bryan dengan perlahan tangan Keysa meraih jemari Bryan yang tangan kiri nya berada di atas paha.
Bryan membiarkan istrinya saling menautkan jemari nya dengan pandangan saling lurus ke depan.
"Biarkan kita seperti ini, jangan sampai kedua orang tua Mas melihat kita sedang tak baik." Ucap Keysa.
Bryan tetap diam hanya fokus pada kemudi nya walau jemari mereka saling merekat sangat erat.
Mobil pun sampai di sebuah perkampungan, dimana mobil terparkir di depan lapangan bola.
"Rumah nya yang mana Mas?" Tanya Keysa.
"Ada gang kecil masuk, hanya motor yang bisa masuk. Maaf kalau rumah Mas nggak seperti rumah kamu." Jawab Bryan yang masih setia saling bergandengan tangan.
Banyak warga yang menyapa Bryan, dan banyak pula yang menanyakan kabar karena Bryan baru menginjak kan kaki nya kembali di kampung nya. Bryan berhenti tepat di depan rumah yang sangat sederhana, hanya menggunakan bangunan semi permanen beratap Asbes.
"Mas bukan anak dari keluarga berada, rumah Mas hanya sebuah gubug kecil, dan rumah itu dulu tempat ternyaman sekarang enggan untuk masuk." Ucap Bryan.
"Kita tidak mungkin kembali, karena sudah berada di depan pintu." Ucap Keysa.
Ceklek pintu rumah pun terbuka lebar, senyum merekah terlihat dari Meilina melihat Bryan pulang.
"Papah...!! " Arumi berlari memeluk Bryan.
"Kakak Arumi bukan Papah, ini kakak kamu." Ucap Bryan.
Arumi melirik ke arah Mamah nya yang hanya tersenyum pada Arumi.
"Kata Mamah harus panggil Papah."
"Kakak Arumi, panggil kakak." Ucap Bryan.
__ADS_1
"Mana Ayah, saya ingin bertemu. " Ucap Bryan yang masih menggenggam erat tangan Keysa.
"Bagaimana rasanya minum pil itu?" Tanya Meilina dengan penuh rasa kemenangan.
"Kamu bukan manusia Meilina, saya tak habis pikir kamu tega. " Ucap Bryan.
"Karena saya tidak rela kamu menikah dengan wanita lain, saya masih mencintai kamu. "Ucap Meilina.
"G*la kamu, saya ini anak tiri kamu sekarang. Saya jijik lihat kamu bersama Ayah saya, dan akibat perbuatan kamu saya kehilangan calon anak saya. "Ucap Bryan.
"Itu karena istri kamu yang polos. "
Saat itu keluar lah seorang wanita dari kamar Ayah Bryan, wanita seksi yang berjalan melewati Bryan dan Keysa.
"Siapa dia? " Tanya Bryan.
"Dia mainan Ayah kamu. " Jawab Meilina.
"Bodoh sekali kamu, istri macam apa." Bentak Bryan.
"Ayah kamu saja selingkuh, saya juga ingin kembali sama Kamu Bryan, rusak rumah tangga saya ini, rusak masa depan saya ini semua gara - gara Ayah kamu hiks... hiks... "
Meilina menangis histeris di depan Bryan dan Keysa dan Ayah Bryan pun keluar dari kamar degan wajah tampak segar.
"Kenapa lagi kamu Mei, ini uang untuk mendiamkan kamu menangis bawa Arumi pergi untuk berbelanja sana." Ucap Pak Aji Ayah Bryan.
"Jadi Ayah perlakukan istri Ayah seperti ini?" Ucap Bryan kesal.
Dengan cepat Bryan menutupi Keysa dengan tubuh nya dengan tangan menggenggam erat.Sedangkan Meilina langsung meninggalkan anak dan Ayah .
"Kasih lah utuk Ayah, Meilina Ayah kembali kan sama kamu dan di tukar dengan wanita yang bersama kamu sekarang."
"Ayah jangan macam - macam, cukup Ayah merebut Meilina dari saya, Keysa tak akan pernah bisa Ayah sentuh sebelum Ayah melangkahi mayat saya. "
"Kamu sudah berani sama Ayah." Bentak Pak Aji sambil mencengkram dagu Bryan.
"Buat apa saya menghormati Ayah, kalau Ayah punya kelakuan minus dan karena hypers*x Ayah yang tinggi, Ayah sampai melakukan tindakan bejat sampai ibu meninggal dunia karena sikap Ayah yang sering main perempuan dan berjudi. Saya malu Ayah, malu. " Ucap Bryan.
"Serahkan istri kamu. " Ucap Pak Aji yang tangan nya akan menarik tubuh Keysa namun di tepis nya oleh Bryan.
"Sekali Ayah sentuh, saya nggak akan segan - segan menghajar Ayah." Ucap Bryan menepis tangan Ayah nya.
Hahahaha
"Bryan, kamu ini pria munafik. Kamu cobalah sensasi nya lama - lama kamu akan bosan dengan wanita di belakang kamu itu."
Tangan Bryan mengepal sangat erat, sedangkan Keysa hanya diam dan takut akan perlakuan Ayah Bryan.
"Sekarang.kamu tahu kan keluarga saya?" Tanya Bryan pada Keysa.
Keysa hanya mengangguk pelan dan terus menghindari tatapan mata Pak Aji.
__ADS_1
"Saya pamit. " Ucap Bryan dengan segera membawa Keysa keluar dari rumah nya.
Aaahhhh
"Mas...!!! " Teriak Keysa saat merasakan Pak Aji me******mas pa*****at Keysa dengan tangan nya.
"Wow.. " Ucap Pak Aji.
"Benar - benar Aji.....!!! " Bentak Bryan.
Aaaaaaaggghhh
Buuugghhh
Bryan menarik krah kaos Pak Aji dan tangan nya dia pukul kan pada tiang rumah di dekat nya hingga tiang rumah nya sedikit retak.
"Pukul wajah Ayah seperti kamu lakukan dulu saat tahu Ayah sedang ber*****nta dengan Meilina." Ucap Pak Aji dengan tersenyum kecut.
"Benar - benar binatang, saya tetap hormati kamu sebagai orang tua ternyata kamu tidak memiliki hati nurani." Bentak Bryan.
"Mas kita pulang, jangan kamu kotori tangan kamu dengan melukai Ayah." Ucap Keysa.
"Ya kita pulang, ini adalah terakhir saya menginjak kaki ini di rumah. Kita akan bertemu lagi di saat kita sama - sama terbungkus kain kafan. " Ucap Bryan.
Hahahahahah
"Silahkan kamu pergi dan jangan pernah kamu kembali, karena kamu bukan anak yang berbakti. " Ucap Pak Aji masuk kembali kedalam kamar nya.
Bryan menarik Keysa ke dalam peluk kan nya, Keysa membalas peluk an Bryan sangat erat.
"Kakak." Bryan melepaskan pelukan Keysa di saat Arumi menarik jaket yang di kenakan oleh Bryan.
"Ajak Mamah kamu pergi dari sini, jangan tinggal disini. " Ucap Bryan.
Gadis kecil itu mengangguk kan kepalanya dan Bryan melihat Meilina yang tengah menangis.
Bryan dan Keysa berjalan mengikuti langkah Arumi, yang berjalan menuju ke arah Meilina.
"Pergi dari rumah itu sekarang, bawa Arumi jangan kamu lihat kan hal yang tak pantas. Saya tidak ingin adik saya ini mengikuti jejak Ayah. " Ucap Bryan.
"Bawa kami Bryan. " Ucap Meilina.
"Maaf saya tidak bisa, ada istri yang harus saya jaga perasaan nya." Ucap Bryan langsung menarik tangan Kesya.
"Saya juga tak akan pernah lupa, hal jahat yang kamu lakukan pada menantu kamu Meilina, semoga suatu saat tidak terbalas atas perbuatan kamu pada Arumi." Ucap Bryan kembali.
Meilina hanya menatap Bryan yang terus berjalan menggandeng tangan Keysa hingga menjauh.
Hiks. .. hiks... hiks...
"Harus nya itu saya yang kamu genggam tangan nya bukan dia."
__ADS_1