
Dengan mobil milik Mertua nya Bryan mengantar pulang Keysa ke rumah Dinas, setelah 3 hari menginap di rumah sakit.
Bryan memapah Keysa hingga masuk ke dalam kamar, dan merebahkan nya.
"Mas antar mobil Ayah ke Polres, maklum belum mampu beli mobil walau ada uang juga. Heeee.. bukan nggak mampu tapi belum niat. " Ucap Bryan yang seperti tertawa terpaksa.
"Mas." Ucap Keysa sambil memegang tangan Bryan.
"Kembalikan mobil nya nanti saja, saya ingin di temani sama Mas. "
"Mas masih banyak kerjaan, kamu istirahat saja di dapur sudah banyak makanan. Lusa kita langsung berangkat ke kota kelahiran Mas kita naik kereta saja hanya 3 jam kok perjalanan nya." Ucap Bryan langsung melepaskan tangan Keysa dan pergi meninggalkan Kesya di kamar.
Air mata Keysa menetes saat menatap punggung suaminya yang kini menghilang dan terdengar suara mobil yang pergi.
Kesya menangis di bawah bantal untuk merendam suara nya agar tak terdengar ke luar.
******
"Terima kasih Ayah. " Ucap Bryan memberikan kunci mobil milik Pak Brata.
"Kapan kalian berangkat? " Tanya Pak Brata.
"Lusa Yah. " Jawab Bryan.
"Saya sebagai orang tua Kesya nggak tahu harus ucapkan apa, tapi saya kembali kan pada kalian berdua. Kalau pun kamu ingin ceraikan dia, saya ikhlas tapi kembalikan dia dengan baik seperti kamu meminta nya untuk kamu nikahi."
Bryan hanya tersenyum dan menundukkan kepala nya, rasa sesak di dada terus Bryan rasakan. Ingin melepaskan semua nya, ingin berteriak mengeluarkan semua nya.
"Kalau begitu saya mohon ijin kembali ke ruangan saya."
"Silahkan."
******
"Bro maaf kemarin saya nggak tahu Kesya di rawat, Ibnu yang kasih tahu saya." Ucap Leon.
"Iya nggak apa - apa. " Ucap Bryan dengan wajah sendu.
__ADS_1
"Saya tahu bagaimana perasaannya kamu, tapi jangan kamu salah kan semuanya pada Keysa. Ini semua Meilina yang salah, istri kamu memang polos tapi bagaimana juga hati perempuan dengan tiba - tiba muncul dan melihat photo kalian apalagi ada Arumi, bagaimana Keysa tak berfikir buntu." Ucap Leon.
"Saya masih belum bisa menerima dengan kehilangan calon anak saya, apalagi dia menyembunyikan kehamilan nya, dari situ saya kecewa."
"Saya paham perasaan kamu saat ini."
"Oh iya ini kunci mobil kamu." Ucap Leon.
"Terima kasih sudah menerima mobil saya sekolah di kamu." Ucap Bryan.
"Santai saja, 2 tahun itu sebentar. Seharusnya kamu tidak usah begitu tapi kamu maksa." Ucap Leon.
"Saat itu kan saya butuh uang banyak untuk mengganti rugi apa yang Ayah saya lakukan, mengganti rugi nyawa seseorang dan kerugian kerusakan lain nya dalam sekejap 300 juta wow.. dengan secara kekeluargaan."
"Rejeki buktinya ada saja kan."
"Alhamdulillah, semuanya saya alihkan pada ATM yang Keysa pegang itu janji saya untuk dia belajar lebih tinggi mau dimana nanti dia akan ambil, hingga S3 itu cukup uang nya."
"Berarti kamu sudah siap kan semua nya?"
"Iya, yang penting dia bahagia. "
"Saya serah kan Pada Keysa dia mau nya apa, saya sudah pasrah kalau saya yang mengotot ya percuma kalau dia masih belum bisa dewasa."
******
Terdengar suara mobil berhenti tepat depan rumah dengan segera Keysa membuka pintu rumah.
"Bawa mobil siapa? " Tanya Keysa langsung.
"Mobil nya Mas, mobil kita." Jawab Bryan.
"Mas jual motor beli mobil?" Tanya Keysa kembali.
"Nggak, motor masih di Polres." Jawab Bryan.
"Terus mobil uang dari mana? "
__ADS_1
"Ya Mas lupa tidak jujur takut nya nanti kamu berfikir jelek lagi, Mobil pernah Mas gadai sam Leon untuk Ayah saat itu terkena masalah. Dua tahun Mas mencicil untuk mendapatkan kembali mobil ini, pinjam 100 juta pada Leon dan Mas memiliki uang 200 juta saat itu, dan alhamdulillah bisa di ambil kembali. Dan uang yang ada di ATM kamu itu murni tabungan Mas untuk kamu. Pergunakan sebaik - baik nya." Ucap Bryan.
"Satu lagi biar kamu jelas dan nggak curiga kenapa suami kamu punya tabungan Mas punya kios di pasar, kios sayuran yang mas percaya kan sama orang. Maaf baru sekarang cerita, dan maaf kemarin - kemarin nggak jujur. " Ucap Bryan kembali lanjut berjalan menuju kamar.
Keysa berlari memeluk tubuh Bryan dari belakang, Bryan hanya diam dan memejamkan matanya. Dengan perlahan Bryan melepaskan pelukan Keysa.
"Mas ganti pakaian dulu." Ucap Bryan tanpa menoleh.
Keysa hanya diam dan memilih membalik kan tubuh nya keluar dari kamar.
*****
Sepanjang perjalanan Bryan hanya diam tak banyak bicara dengan Keysa hanya alunan musik rock yang membuat jari - jari Bryan menghentak - hentak di kemudi mobil.
Keysa yang terus menoleh keluar jendela mobil menikmati pemandangan sepanjang perjalanan.
"Kalau mau tidur, tidur saja masih lama." Ucap Bryan tanpa menoleh ke arah Keysa.
"Iya."
"Nanti setelah dari tempat Mas, ke tempat Mbah kamu ya sekalian Mas antar kamu daftar kuliah. "
Keysa membenarkan posisi duduk nya dan menghadap ke arah Bryan.
"Daftar kuliah?" Ucap Keysa.
"Mas sudah siap kan semuanya tadi malam, Mas nggak tahu jurusan apa yang kamu ingin ambil yang jelas sekalian jalan nya kita nanti mampir kesana."
"Mas kenapa nggak bicara dulu sama saya?" Ucap Keysa.
"Bukan nya sering di bicarakan ya?" Ucap Bryan.
"Mas, saya memang punya kesalahan tapi seenggak nya bicara sama saya. Sekarang Mas beda, setelah ini juga saya tidak tahu rumah tangga dengan Mas seperti apa. Mas menyerah kan semua nya pada saya, mulai berkas pernikahan kita bila suatu saat saya minta cerai, apa Mas menginginkan kita cerai."
Bryan menepikan mobil nya di tepi jalan lalu melepaskan safe belt nya.
"Kamu harus tahu, suami kamu kurang sabar nya dimana, suami kamu selama ini sabar menghadapi sikap kamu, kesabaran orang ada batasnya Neng, apalagi kamu menghilangkan calon anak kita. Anak yang saya harap kan apalagi kamu menyembunyikan nya, pria lain pasti sudah meninggal kan wanita seperti kamu. Dan kamu bertindak tidak pernah ingin tahu dulu kebenaran nya. "
__ADS_1
"Jangan salah kan saya, kamu sendiri juga tidak jujur sama saya Mas. Kalau kamu ingin cerai kan saya, cerai kan saya sekarang dan perjalanan ini tidak usah di lanjutkan. Percuma mengenal keluarga Mas untuk apa kalau ujung - ujung nya saya di cerai kan."
"Mulai sekarang kamu bisa nggak dewasa, suami kamu itu menuruti apa yang kamu inginkan, sekarang kamu gantian menuruti apa kata suami."