Pandawa Kecilku

Pandawa Kecilku
Alvarendra Masuk Rumah Sakit


__ADS_3

Edo berlari menuju pintu, dengan cepat Charles melakukan salto tepat di depan pintu.


"Mau lari kemana Paman?" tanya Charles sambil berkacak pinggang.


Edo tak menyahut, dia melayangkan tendangan ke arah wajah Charles. Dengan sigap Charles menghindarinya dan berbalik cepat gantian dia menghajar Edo. Kurang dari 5 detik saja, Edo jatuh tersungkur lalu tak sadarkan diri.


Tak lama kemudian, pandawa yang lain datang dengan membawa polisi.


Polisi meringkus Edo beserta anak buahnya. Ternyata Edo adalah buronan yang kabur dari tahanan karena kasus narkoba. Tak hanya itu, dia juga pernah membunuh anak gadis di bawah umur setelah melakukan pelecehan.


"Ibu...!" seru pandawa berhamburan menuju Sherly.


"Ibu baik-baik saja kan?" tanya Charles cemas seraya memeluk ibunya.


"Iya, ibu baik-baik saja, Sayang. Ibu hanya sedikit trauma saja." sahut Sherly seraya merentangkan tangannya untuk menyambut kedatangan pandawa kecilnya.


"Mari pulang Bu," ajak Boman setelah melepas pelukannya. Sherly mengangguk dan menuju taksi yang sejak tadi setia menunggu.


"Bagaimana ceritanya Ibu bisa diculik?" tanya Abigail yang duduk di kursi penumpang sedang Sherly di depan.


"Maaf kan ibu anak-anak, ibu keluar rumah tidak pamit pada kalian. Ibu pergi ke toko untuk membeli kebutuhan pribadi ibu, penjahat itu mungkin telah membuntuti ibu, mereka mengendarai mobil lalu berhenti di dekat ibu. Mereka menanyakan sebuah alamat, saat ibu akan menunjukkan alamat itu, mendadak kepala ibu sangat pusing lalu tak sadarkan diri. Dan setelah itu ibu berada di ruangan tadi." terang Sherly.


"Ibu kenal dengan penjahat itu?" tanya Dave.


"Sama sekali tidak."


"Ibu punya musuh?" tanya Ethan.


"Tidak juga."


"Ibu harus berhati -hati mulai sekarang! Baik, aku yang akan mengawal Ibu ke mana pun Ibu pergi mulai detik ini juga." Charles penuh semangat.


"Terima kasih, kalian semua telah menolong ibu."


"Sama-sama Bu," sahut mereka bersamaan.


"Lalu, bagaimana kalian bisa menemukan ibu?" tanya Sherly penasaran.


"Kan ada anting mix yang ibu kenakan, jadi kak Boman bisa menemukan Ibu." terang Ethan.


"Keren kamu, Nak!" puji Sherly sambil mengusap pucuk kepala Boman.


"Iya Bu, aku memang sengaja memasang alat pelacak di anting -anting Ibu." sahut Boman sambil tersenyum.

__ADS_1


Pukul 22.00 mereka tiba di rumah. Sherly segera mengganti bajunya dengan yang baru. Saat melewati meja rias, tampak paper bag masih tergeletak di sana.


Sherly teringat dengan presdir Alva yang masih menjalani pemeriksaan.


"Bagaimana kabar dia, semoga dia terbebas dari tuduhan itu. Aku yakin sekali, bukan dia pelakunya. Is, mengapa aku malah memikirkan dia?" Sherly menggelengkan kepalanya agar tersadar dari lamunan.


.


Alvarendra sudah menjalani pemeriksaan selama 3 jam lebih. Dia menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan petugas tanpa ragu sedikit pun, karena memang dia tak melakukan perbuatan kotor itu.


Untuk mengumpulkan bukti lagi, polisi masih menahan Alva. Alva sebelumnya minta izin untuk bekerja dengan laptopnya. Pihak kepolisian memberi izin.


Alva mulai menyalakan laptop dan segera menuju beranda keamanan perusahaan Bank Core, perusahaan itu bekerja dalam bidang melayani publik yang berkaitan dengan pinjaman dan tabungan.


Alva mengetik kode yang sudah ia ubah sebelumnya. Dia berhasil masuk lalu mulai mencari data aset keuangan perusahaan selama setahun. Dan benar saja, keuangan turun drastis selama tiga bulan terakhir. Saat pengelolaan dipegang oleh Wendy. Alva segera mengkopi data itu ke dalam flasdish.


"Kita sudah berteman cukup lama, ternyata kamu tak bisa dipercaya. Inikah balasannya atas kebaikan yang pernah aku berikan padamu dulu?" Alva mengingat masa-masa dulu saat Wendy belum menjadi orang sukses. Dia lah yang membantu Wendy sampai bisa mendapatkan pekerjaan di perusahaan yang ia pimpin ini.


"Kamu curang Wendy, tapi aku tak mudah untuk kamu tipu." gerutu Alva, membuang penyesalan yang tiada arti.


Sebelum mematikan laptopnya, Alva menyempatkan untuk menghapus bahkan mematikan saluran televisi atau media elektronik lainnya yang meliput berita mengenai kasus yang menimpanya. Dalam waktu seperempat jam saja Alva sudah berhasil memblokir tayangan yang meliput kasusnya dan hampir tersebar itu dari jarak jauh. Selesai itu dia diarahkan polisi untuk masuk ke ruang tahanan.


Alva terlebih dahulu menyemprotkan handsanitize pada kedua tangannya. Hampir satu jam dia mencoba memejamkan mata di tempat itu, tapi tak bisa. Dia mulai menggaruk-garuk tangannya, lalu kakinya dan kini hampir seluruh tubuhnya yang terasa gatal-gatal. Benjolan merah memenuhi badannya dan terasa sangat gatal. Alva memang tak terbiasa berada di tempat kotor atau kumuh, bahkan saat melihat lantai yang berdebu pun dia rela harus berjinjit untuk berjalan.


Polisi penjaga mengetahui gelagat Alva yang tak henti-hentinya menggaruk. Polisi mendatanginya.


"Tolong panggilkan aku dokter, aku sudah tak tahan lagi!" pinta Alva sambil meringis menahan sakit pada kulitnya, terdapat bekas garukan kuku di mana-mana.


Setelah polisi itu menyakinkan sendiri untuk melihat kondisi Alva, polisi segera memanggil dokter jaga.


Dokter datang dan segera memeriksa keadan Alva.


"Aku sudah tak tahan lagi." ungkap Alva lalu seketika dia tak sadarkan diri.


Dokter jaga meminta polisi untuk membawanya ke rumah sakit.


Polisi itu miris melihat kondisi Alva, dia segera membuka pintu tahanan dan membawa tubuh Alva masuk ke dalam mobil lalu polisi bergegas melarikan dia ke rumah sakit terdekat.


Kini dia berada dalam penanganan khusus, pihak rumah sakit mencari kontak keluarga yang bisa dihubungi. Terlihat dalam log panggilan terakhir terdapat kontak Thomas.


Thomas mempercepat mobilnya menuju rumah sakit.


"Tuan Alvarendra, apa yang terjadi padamu?" ucap Thomas ketika baru datang, terlihat cemas di raut wajahnya.

__ADS_1


Alvarendra masih belum sadar, kulitnya masih terlihat merah.


Dokter datang dan mengabarinya, bahwa Alva mengidap mysophobia.


"Apa itu Dokter?" tanya Thomas ingin tahu, karena baru pertama kali ini dia mendengar penyakit aneh itu.


"Mysophobia adalah ketakutan pada hal-hal tertentu. Seseorang yang mengidap mysophobia selalu menghindari tempat -tempat yang dianggapnya kotor dan penuh kuman. Dan juga suka membersihkan diri secara berlebihan." terang dokter.


"Pantas saja, tuan Alva cenderung mencuci tangan secara obsesif." gumam Thomas seraya menatap mata yang terpejam itu.


Beberapa saat kemudian.


"Thomas...di mana aku?" tanya Alva yang sudah mulai membuka matanya.


"Tu-Tuan Alva sudah sadar?" ucap Thomas sambil membantu tubuh Alva untuk menyandarkan badannya agar bisa duduk tegak.


"Kenapa aku bisa berada di sini?" tanya Alva setelah sadar kalau dirinya sedang berada di rumah sakit.


"Tuan pingsan saat berada di dalam tahanan." terang Thomas.


"Pingsan? Oh, iya aku ingat saat alergi ku kambuh."


"Tuan Alva sudah tahu dengan penyakit Tuan?"


"Tentu saja, lantas apa kamu baru tahu juga?"


"Iya Tuan, maafkan aku yang baru menyadarinya, padahal aku sudah lama mengabdi pada Tuan." Thomas membungkukkan badannya.


"Yang aku tahu, Tuan hanya alergi terhadap wanita."


"Lupakan, aku berharap padamu untuk tidak memberitahukan ini pada yang lain. Karena siapa tahu seseorang yang membenciku bisa saja melumpuhkan ku setelah tahu kelemahan ku." jelas Alva yang dibalas dengan anggukan kepala saja dari Thomas.


"Apa ada yang mendengar kasusku?" tanya Alva kemudian.


"Sejauh ini, belum ada Tuan, apa Tuan Alva telah melakukan sesuatu yang berkaitan dengan kasus ini?"


"Aku telah memblokir berita itu agar berhenti dan tidak menyebar ke mana -mana."


"Anda sungguh genius!" puji Thomas sambil menunjukkan ibu jempolnya.


Seorang dokter yang sekaligus menjabat sebagai kepala rumah sakit itu datang memberikan saran agar Alva melakukan pemeriksaan pada sebuah rumah sakit besar. Kabarnya, di sana ada seorang dokter kecil yang sangat hebat yang mungkin bisa menghilangkan alerginya.


"Dokter kecil? Aku penasaran padanya. Thomas antar aku menemui dia!"

__ADS_1


Selama sakit Alva dibebaskan dari tahanan. Dan Thomas telah memberikan jaminan pada pihak kepolisian.


Keesokan harinya, Thomas mengantar Alvarendra menuju rumah sakit besar untuk menemui dokter kecil.


__ADS_2