
Ini untuk para reader yang tersayang dan semaunya saja, saya kasih bonus episode.
Selamat Membaca ....😘😘😘😘
Semenjak Sherly hamil, Alva melarangnya untuk bekerja lagi. Jadi, jabatan interpreter ia sendiri yang mengambil alih. Tentu saja dengan bantuan si abang Abigail.
"Thomas, tolong kamu masukkan data - data bulan kemarin. Aku akan keluar sebentar!" pinta Alva seraya menyodorkan sebuah map.
Thomas mengangguk paham. Segera dia menerima map merah itu dan meninggalkan ruangan Alva.
Alva segera keluar dari ruangan kerjanya setelah menerima panggilan masuk dari seseorang.
Belum sampai dia turun dari lift, ponselnya berdering lagi.
"Iya Sayang, 15 menit aku akan datang dengan buah delima yang kamu maksudkan." ujar Alva seraya memelankan suaranya, kalau - kalau ada yang mendengar ucapannya, bisa malu dia. Alva memasukkan kembali ponsel ke dalam saku jasnya.
"Masih ada waktu jika aku mampir ke kios buah." gumam Alva seraya melihat jam di pergelangan tangannya.
Setelah sampai di parkiran Alva segera mengemudikan mobilnya menuju penjual buah delima. Ya, tentu saja buat Sherly yang tengah ngidam.
Alva bisa saja menyuruh pengawalnya untuk mengatasi pekerjaan ini, tapi Alva ingin sibuk sendiri membelikan buah delima hasil jerih payahnya. Tentu buat siapa lagi kalau bukan si janin kembarnya.
Tak begitu jauh dari tempat tinggalnya ada sebuah kios buah. Alva segera turun setelah mematikan mesin mobilnya. Alva berjalan perlahan seraya mengedarkan pandangan mencari buah delima. Tatapannya tertuju pada sebuah keranjang yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
Saat hendak mengambil buah delima yang hanya tinggal satu - satunya di keranjang buah itu, tiba - tiba buah itu diserobot oleh gadis kecil, berkisar usia 5 tahunan.
"Eh, buah delima itu punyaku!" tukas Alva seraya menuding buah yang diambil gadis kecil tadi.
"Enggak, ini punyaku!" sahut gadis kecil itu seraya menjauhkan tangannya agar Alva tak sanggup menggapainya.
Penjual yang melihat aksi mereka segera menghampiri.
"Pak, gadis kecil ini merebut punyaku!" ujar Alva berharap pedagang membelanya.
"Presdir Alvarendra? Maafkan atas ulah gadis ini, dia putriku satu - satunya, aku akan mencoba menawarnya dengan buah yang lain." ujar pemilik kios yang segera mengajak putrinya rada menjauh dari Alva.
Alva mendesah kesal, "Bakal lama ini," gerutunya.
Alva bisa saja mencari kios yang lain, atau swalayan, tapi hanya ditempat ini yang paling dekat jaraknya dengan rumah, ia sudah berjanji untuk membawakan buah delima itu dalam waktu yang sesingkat - singkatnya.
"Aku enggak mau, huaaaa!" terdengar pecah tangisan gadis itu.
"Nakal sekali anak ini, dasar gadis kecil menyebalkan!" rutuk Alva dalam hati.
__ADS_1
Ia mulai berkelana pikirannya membayangkan jika anaknya nanti cewek, ia tak ingin anak kembarnya memiliki sifat seperti gadis ini, suka merebut milik orang. Tak hanya itu, ia juga tengah membayangkan kelucuan bayi kembarnya kelak jika telah lahir. Alva terlihat senyum - senyum sendiri.
Lamunannya buyar ketika pemilik kios memanggilnya berulang kali. Alva segera mengkondisikan dirinya.
"Presdir Alva, ini buah delimanya!" pemilik kios menyerahkan sebuah delima yang amat ranum.
Alva senangnya bukan main.
"Jadi berapa aku harus membayarnya?" ujar Alva seraya mengeluarkan dompet dari saku celananya.
"Gratis," sahut si pemilik kios.
Alva sedikit melongo mendengar jawaban si pemilik kios.
Meski menolak mengatakan berapa harga sebuah delima, Alva tetap memaksa untuk memberikan uang pada pemilik kios.
Namun usahanya tak berhasil, akhirnya Alva melirik gadis kecil yang sedari tadi cemberut.
"Hai, gadis pintar, ini uang jajan buat beli es krim!" Alva memberikan tiga lembar uang lima puluh ribuan. Gadis itu terlihat ceria kembali. Alva setelah mengucapkan terima kasih, dia segera mempercepat perjalanannya agar sampai di rumah tepat waktu.
"Sayang, aku pulang!" seru Alva saat memasuki kamarnya. Dia mengedarkan pandang mencari sosok yang amat ia cintai.
"Ke mana perginya?" Alva menuruni tangga, terdengar galak tawa dari arah belakang. Alva bergegas ke sana. Seraya menyembunyikan buah delima di belakang punggungnya. Sengaja ia ingin memberikan kejutan untuknya.
"Apa ini Sayang, bukankah kamu tadi memintaku untuk membelikan buah delima, dan ini kamu dapatkan dari mana?" Alva mengambil tangkai delima yang ada di atas meja sampingnya dengan kedua jarinya.
"Mas Alva," Sherly menoleh ke arah sumber suara.
"Barusan tetangga baru kita panen delima, oleh karena itu mereka ingin berbagi dengan kita." terang Sherly sambil menikmati delima, tampak belepotan mulutnya.
"Ayah, delimanya enak loh, ini buat Ayah!" Abi menyodorkan delima yang sudah ia belah jadi dua.
Pandawa yang lain juga tengah asyik menikmati delima itu.
"Em, terima kasih Abigail, tapi ayah tak suka, rasanya terlalu asam." tolak Alva seraya menggenggam erat buah delima yang masih sembunyi di balik punggungnya.
Merasa ada yang mengganjal di hati, Alva pergi begitu saja, mungkin karena jerih payahnya keduluan orang lain, jadi dia sedikit kecewa.
Sherly menyadari sikap suaminya yang mendadak seperti es balok itu. Ia bergegas berdiri dan mengekor suaminya.
"Mas Alva!" panggil Sherly saat Alva akan menginjak anak tangga. Alva segera menoleh, tangannya yang sebelah tetap menyembunyikan buah delima.
"Ya," sahut Alva datar.
__ADS_1
"Apa yang ada di belakang kamu Mas?" tanya Sherly seraya celingukan.
"Nggak ada," elak Alva.
Sangking penasarannya, Sherly berusaha merebut sesuatu yang sejak tadi Alva sembunyikan.
Perebutan pun terjadi, Alva menaikkan tinggi tangannya yang sebelah, membuat Sherly berjinjit untuk menggapainya.
Sherly berusaha melonjak, namun dengan sigap Alva menangkap tubuhnya.
"Awas, jaga kandunganmu!" pekik Alva tatkala pandangan mereka bertemu.
Seketika itu juga delima jatuh menggelinding di lantai.
"Delima!" seru Sherly seraya berusaha melepaskan dekapan Alva dan mencoba meraih buah itu. Lagi - lagi dengan sigap Alva menarik tubuh istrinya.
"Sudah berapa kali aku memperingatkan kamu, agar kamu harus lebih berhati - hati." omel Alva.
"Mas Alva, aku akan baik - baik saja, tak kan terjadi sesuatu padaku hanya dengan memungut delima itu!" ujar Sherly sedikit kesal dengan larangan suaminya yang terlalu berlebihan mengkhawatirkan kehamilannya.
"Sudah, biar aku yang akan mengambilnya!" Alva segera memungut delima itu.
"Ini untuk aku kan?" Sherly menyerobot delima dari tangan Alva.
"Bukan, buat kucing!" sahut Alva asal.
"Mana ada kucing doyan delima,"
"Ada, nih yang lagi ngobrol sama aku," Alva segera berlari menaiki tangga saat istri nya berusaha ingin mencubit.
"Mas Alva ...." pekiknya seraya mengejar Alva masuk ke kamar.
Alva cekikikan sambil melepas kemeja, melihat aksi Sherly yang bagi dirinya sungguh menggemaskan.
"Kok cuma satu," gerutu Sherly.
"Sudah syukur aku bisa mendapatkannya, kamu malah protes. Tuh, tadi sudah habis berapa kamu?" Alva mengingat pengorbanannya mendapatkan delima itu.
"Empat," Alva melongo mendengar sahutan istrinya, bahkan dia hendak memakan delima yang Alva beri.
"Sungguh, begini kah rasanya melihat orang ngidam, makan nggak berhenti - berhentinya." batin Alva.
Sherly segera menikmati delima itu. Begitu nikmat, sampai dia mengabaikan mahkluk yang begitu seksi di depannya.
__ADS_1
"Yah, aku dicuekin!"