Pandawa Kecilku

Pandawa Kecilku
Awal yang Salah


__ADS_3

"Wendy, sejak tadi kamu mainan ponsel melulu!" tegur Imel geram seraya menyodorkan tangannya, "mana jatah uang bulananku , bedak dan lipstik aku sudah habis!"


"Baru seminggu yang lalu aku sudah kasih kamu lima ratus ribu, cepat amat habisnya!" Wendy tak menatap arah lawan bicaranya, dia masih sibuk dengan layar ponselnya.


"Kan kemarin sudah habis buat beli sabun, minyak dan lain -lain!" terang Imel bersungut -sungut.


"Salah kamu sendiri, kamu kan tahu aku nggak kerja, jadi setidaknya kamu bisa hemat!" bentak Wendy yang dengan segera mematikan layar ponselnya lalu berdiri meninggalkan Imel.


"Wen, Wendy, kamu mau kemana? Aku belum selesai bicara!" teriak Imel dari dalam kamar. Dia sangat kecewa sekali dengan perubahan Wendy yang selalu senyum -senyum sendiri dengan ponselnya. Terlebih Wendy enggan sekarang tidur seranjang dengannya.


Imel melempar barang-barang pribadinya yang tertata rapi di atas meja, peralatan make up nya kini berserakan di lantai. Dia menjambaki rambutnya frustasi seraya berteriak histeris.


Anita yang mendengar teriakan Imel dari bawah segera menuju kamar Imel.


"Ada apa lagi, Mel?" Anita tampak bingung melihat kondisi kamar yang berantakan.


"Mama, Wendy Ma, dia sudah nggak peduli lagi padaku." Imel mulai menangis.


"Kan Mama sudah bilang sama kamu untuk berpisah dengan dia, tapi kamu tetep ngeyel, susah dibilangin!" Anita malah menyalahkan Imel.


"Imel nggak mau Ma, ku mohon jangan paksa aku!"


"Nah, sekarang buktinya, kamu uring -uringan terus! Mama sudah capek mendengar keluhan kamu yang selalu sama. Mulai detik ini juga, kamu harus ikuti ucapan mama! Ceraikan pria pengangguran itu!" Anita segera berlalu dari kamar Imel, tanpa memperdulikan perasaannya sedikit pun.


"Mama jahat, tega sekali padaku! Sampai mati pun aku takkan rela melepaskan Wendy begitu saja." Imel menyusuri lantai, duduk bersimpuh meratapi nasib pernikahannya.


"Lama-lama aku bisa gila di rumah terus. Punya istri setiap hari kerja nya cuman ngomel ... melulu!" gerutu Wendy seraya mengendarai mobilnya.


Dia menelpon seseorang, dan tak berapa lama kemudian dia sudah sampai di depan sebuah apartemen.


Memasuki apartemen tersebut dengan langkah was -was dan penuh harapan bisa mendapatkan pekerjaan.


"Sudah kuduga kamu akan datang padaku." pria yang Wendy temui itu tengah menyulut rokoknya.


"I-iya Kak, maafkan aku secara tiba-tiba datang ke sini." terang Wendy sedikit takut dengan kewibawaan pria di depannya. Dia menundukkan kepalanya.


"Apa yang kamu inginkan?" tanya pria itu.


"Aku ingin pekerjaanku kembali, Kak!" Wendy menatap sekilas wajahnya.


"Tak semudah itu kamu bicara. Aku sudah menempati posisimu di sana. Jadi, tak ada tempat lagi bagimu."


"Tapi Kak, aku membutuhkan pekerjaan, uangku yang kau beri sudah habis." Wendy mengiba.


"Secepat itu!" pekik pria yang masih merokok di hadapan Wendy itu.


"Aku memberikan pada istriku. Dan sebagian sudah aku belikan rumah dan tanah." jujur Wendy apa adanya.


"Heh, serakah juga kamu," pria itu berdiri menuju meja yang tak begitu jauh letaknya. Menarik laci dan melihat isinya. Mengambil sebuah cek dan segera menulis di atasnya. Dia kembali duduk di sofa ruang tamu.


"Ini, sebagai gantinya, besok ada pekerjaan menantimu. Tunggu kabar dariku!" pria itu menyerahkan cek bertuliskan nominal lima ratus juta.


Wendy seketika membelalakkan matanya kecewa, usaha nya selama ini hanya dihargai sebesar itu. Dia segera menerimanya dan beranjak pergi. Dia ingin segera mencairkan cek tersebut, karena sepeser pun dia tak punya.


.


Pukul 10.00


"Presdir Alva kenapa bisa berjalan bergandengan tangan dengan Sherly?" gumam salah satu karyawan di perusahaan Bank Core.


"Aku tak salah lihat! Apa mereka berdua sudah menjalin hubungan?" tanya karyawan lain.


"Sepertinya, Sherly yang gatel, dia memanfaatkan pekerjaannya untuk mendapatkan presdir Alva." ujar yang lain.

__ADS_1


"Hus, jangan ngacau kamu! Sherly tak seperti itu, kita lihat saja nanti, tuh pak Thomas datang." ujar Lia menghentikan ocehan teman kerjanya.


Thomas berjalan mendatangi mereka yang tengah bergerombol, dia meminta kerjasamanya dengan semua karyawan yang ada untuk menyambut kedatangan pengantin baru. Dia mengarahkan semua karyawan untuk berdiri sejenak.


"Perhatikan!" suara Alva terdengar menggelegar menciptakan keheningan yang memukau.


Semua karyawan sudah berjajar sepanjang jalan.


"Aku perkenalkan pada kalian semua, bahwa Sherly Salma sudah menjadi istriku," Alva dengan pandangan penuh kewibawaan menyampaikan kabar itu.


"Aku tak menyangka Sherly secepat itu menjadi istri presdir Alva. Coba kamu cubit tanganku, barang kali aku tengah bermimpi!" Lia menyodorkan tangannya, teman di sebelahnya mencubitnya dengan sangat keras, membuat dia berteriak kesakitan.


"Aw, sakit, ini bukan mimpi!" Lia menangkup kedua pipinya.


Sherly sendiri merasa malu dan kurang percaya diri saat Alva mengajaknya berjalan beriringan. Hatinya tak karuan.


"Presdir, sudah, aku malu banget nih!" bisik Sherly.


"Kamu tenang saja, lama-lama kamu akan terbiasa dengan ini!" Alva semakin erat menggandeng tangan Sherly, padahal dia sudah berusaha menarik tangannya.


Alva berjalan tegap dengan posisi masih menggandeng Sherly hingga masuk ke dalam ruangannya.


Para karyawan dibuatnya kaget dengan kabar pernikahannya.


"Sherly sungguh beruntung ya, bisa mendapatkan presdir Alva. Padahal aku sekali saja masuk ruangannya, beliau langsung bersin-bersin dengan kedatanganku." keluh Lia.


"Sabar, kamu belum beruntung!" hibur temannya.


Sementara Antonio tengah sibuk menangani proyek yang akan membuatnya menjadi milyader. Dia belum tahu kabar tentang pernikahan Alva dan Sherly.


Saat akan meminta stempel perusahaan, Antonio langsung masuk saja ke ruangan Alva tanpa mengetuk pintu.


"Alva, kurang ajar sekali kamu!" teriak Antonio yang langsung melayangkan tinjunya pada wajah Alva.


"Bruk," seketika Alva jatuh tersungkur dan bibirnya pun berdarah.


"Presdir!" teriak Sherly histeris, wanita mana yang tak rela jika melihat suaminya dihajar. Dia langsung menghambur pada Alva.


"Tahan, Kak!" Sherly menunjukkan telapak tangannya.


"Dia mau menodaimu, kamu malah membelanya?" Antonio menunjuk Alva dengan tatapan nanar.


"Kak, kamu salah sangka. Aku dan Sherly ...."


"Alah, banyak alasan kamu. Kemarin Kenzi yang sudah kamu sakiti hatinya, dan siang ini gantian Sherly yang kamu goda. Dasar manusia hina kamu!" Antonio menarik paksa Alvarendra, kini dia berdiri sejajar dengannya sambil mencengkeram kuat kerah kemejanya.


Sherly mulai panik, kedua kakak dan adik ini tengah berantem.


Alva menepis kuat tangan Antonio, "Siapa yang hina di sini, hah! Kakak atau aku! Ingat, aku dan Kenzi sudah putus. Jadi jangan ungkit masalah itu! Aku tahu, Kakak diam-diam menusukku dari belakang, kan?" Alva kini tak mau tinggal diam, dia mulai membeberkan keburukannya.


"Apa maksud kamu, katakan!" teriak Antonio tak terima tuduhan Alva.


"Selama ini Kak Antonio masih menyukai Kenzi kan?" tuduhnya membuat Antonio membulatkan bola matanya.


"Dari mana dia tahu?" batin Alva.


"Tak perlu bertanya aku tahu darimana, yang jelas Kakak dan Kenzi diam-diam berpacaran di belakangku." terang Alva seraya menunjukkan foto mereka di layar ponselnya.


Antonio kagetnya bukan main, "Ini foto saat aku dan Kenzi berada di Bali." batinnya lagi.


Antonio terdiam seribu bahasa, tak bisa menyangkal lagi.


"Kamu sudah mengetahuinya sekarang."

__ADS_1


"Ya, awalnya aku curiga dengan Kenzi yang selalu sulit aku hubungi. Perlahan aku sudah terbiasa tanpa nya." Alva menarik tangan Sherly, menunjukkan cincin kawin yang ada pada jari manisnya.


Antonio tersentak kaget, "Cincin kawin?"


"Aku dan Sherly sudah menikah, Kak. Aku juga sudah menghubungi ponsel Kakak untuk mengabarkan berita ini kemarin. Tapi, nomor Kakak sulit sekali dihubungi." terang Alva.


"Jadi ini alasan kamu memutuskan hubungan dengan Kenzi? Sial, aku kalah cepat mendapatkan Sherly." gumamnya dalam hati seraya mengepalkan tinju.


"Su-sudah menikah rupanya," suara Antonio berat sekali untuk menerima kenyataan ini. Pasalnya, dia mulai jatuh hati pada Sherly saat pertama kali bertemu.


"Kak, aku sudah belajar mengalah darimu, lebih baiknya kita damai saja. Papa merindukanmu, pulanglah!" kini Alva sudah bisa menstabilkan emosinya, semenjak dia statusnya menjadi seorang ayah, pemikirannya sudah semakin dewasa.


"Ini kesempatan bagus jika aku pulang ke rumah, di sana pasti ada Sherly. Awal yang salah, Alva. Kamu telah memberikan emasmu secara percuma." batinnya tersenyum.


"Baik, nanti aku akan pikirkan perkataanmu itu." Antonio mendadak berubah sikapnya, ada udang di balik batu.


Alva menyodorkan tangan damai. Antonio dengan niatnya yang buruk menerima uluran tangan adiknya. Mereka berdua berpelukan.


"Oh, iya Sherly, selamat atas pernikahanmu!" Antonio ganti mengulurkan tangannya pada Sherly.


Alva tak menaruh cemburu lagi. Sherly melihat ke arah Alva seolah minta persetujuan. Alva pun paham dengan tatapan Sherly, dia mengangguk pelan tanda mengizinkan . Sherly menerima uluran tangan Antonio.


"Tunggu aku bisa merebut kamu dari dia!" batin Antonio jahat.


Sementara di rumah Alva.


"Adik, kok kamu pulang sendiri? Mana ayah dan ibu?" tanya Boman tatkala Ethan berjalan memasuki kamar pandawa.


"Ayah dan ibu sedang pergi ke kantor, Kak." sahut Ethan dengan wajah cemberut.


"Bagaimana Dik, hasil tes DNA nya?" tanya Abi penasaran.


"Kak, jangan marah ya," Ethan kini memasang wajah sedih.


"Ada apa sebenarnya Dik, kok wajah kamu terlihat sedih?" Charles menghampirinya dan duduk berjajar di atas ranjang.


"Apa ada sesuatu yang buruk dengan hasil tesnya?" tebak Dave.


Ethan memandang satu persatu wajah mereka.


"Tes DNA kita tidak cocok dengan ayah." terang Ethan membuat saudaranya kaget.


"Itu tidak mungkin!" bantah Abi.


"Ayah kita sudah jelas ayah Alva kan?" Boman mulai menangis tak percaya.


"Aku tak percaya dengan hasil tes itu!" Charles melayangkan tinju ke arah tembok, hingga membuat bergetar isi rumah.


"Ada gempa!" pekik bi Tinuk yang sedang memasak di dapur.


"Gempa bumi!" seru Andreas yang tengah berjalan keluar kamar.


"Adik, apa itu benar, pasti salah kan?" Dave mengguncangkan bahu Ethan.


"Ayah Alva juga berpikiran demikian, Kak. Ayah juga tak percaya dan menganggap hasil tes DNA itu palsu." terang Ethan.


Semua pandawa berkumpul membentuk lingkaran.


"Tadi juga ada tante-tante yang mengaku calon istri ayah. Padahal kan sudah jelas ayah kita sudah menikah dengan ibu kita." Abi mendesah kesal.


"Ini aneh, padahal sudah jelas wajah kita mirip dengan ayah Alva, bagaimana mungkin tes DNA kita tidak sama?" Boman menopang dagu.


"Kita cari bukti sendiri saja secara langsung!" ujar Charles.

__ADS_1


"Caranya?" sahut pandawa yang lain.


__ADS_2