
Setelah semua administrasi rumah sakit selesai ditangani, Alva membawa pulang istri dan dua putri kembarnya. Sedang Andreas membawa pandawa dengan mobil yang lain.
Sesampainya di rumah, bik Tinuk dan dua baby sister sudah menanti kedatangan penghuni baru keluarga Rizki. Mereka bertiga saling berebut untuk menggendong Salwa dan Khalwa. Sherly yang masih duduk di dalam mobil menatap bahagia orang -orang yang baik disekitarnya. Tidak seperti kisahnya dulu saat melahirkan pandawa hanya ditemani bibi Ratna saja.
Alva turun dari mobil terlebih dahulu dan membuka pintu mobil dimana Sherly duduk.
"Nyonya Sherly, biarkan saya yang menggendong adik bayinya!" pinta bik Tinuk seraya menyodorkan kedua tangannya.
Sherly menggendong dua putri nya dia kedua tangannya. Sherly mengangguk dan bik Tinuk menggendong Salwa. Kemudian salah satu dari baby sister berjalan maju setelah mendapat isyarat untuk menggendong Khalwa. Mereka membawa duo kembar masuk. Baby sister yang satunya lagi mengeluarkan semua peralatan bayi dari bagasi.
Kemudian Alva membantu istrinya turun.
Alva menatap penuh selidik wajah sendu wajah istrinya dan berkata, "Ada apa Sayang, kok kamu terlihat sedih begitu?"
Merasa diperhatikan Sherly mengusap sudut matanya dengan ujung jari dan menyahut, "Enggak apa-apa kok, aku jadi ingat bik Ratna yang waktu itu bantu persalinan aku saat melahirkan pandawa dulu."
Merasa tersudutkan lagi, Alva mengusap bahu istrinya dan tersenyum, "Oh, bibi kamu yang bekerja di luar negeri itu ya, lain waktu kita bisa mengunjungi nya,"
Mendengar itu Sherly sangat bahagia dan matanya berbinar menatap Alva, "Sungguh Mas Alva?"
Alvarendra mengangguk, "Tentu saja!"
"Kalau begitu nanti aku akan mengabari dia sekalian menceritakan tentang kelahiran dua putri kita."
Lagi, Alva mengangguk.
Karena Sherly melahirkan secara caesar jadi masih terasa sakit untuk berjalan, Alva menuntunnya pelan masuk ke rumah. Karena tak sabar menanti istrinya berjalan bagai siput itu, sontak Alva menggendongnya hingga membuat Sherly berteriak.
"Mas Alva, apa yang kamu lakukan!" pekiknya.
Alva tak menghiraukan dan berkata dengan santai, "Nungguin kamu jalan, lama-lama aku bisa kesemutan, dengan begini kamu bisa sampai di kamar lebih cepat."
Sherly sangat malu dengan perlakuan suaminya yang memperhatikan hal sekecilpun itu, padahal sudah beranak tujuh juga.
Berselang kemudian suara mobil Andreas terdengar masuk ke halaman rumah. Suara langkah kaki-kaki kecil berhamburan menaiki tangga. Rupanya pandawa sudah tidak sabar ingin melihat duo adik bayi lagi.
"Pelan-pelan Pandawa!" seru Andreas memperingatkan kelima cucunya agar hati-hati saat menaiki tangga. Apalagi mereka berlima setengah berlari.
__ADS_1
Pandawa seakan tak memperhatikan seruan kakeknya. Mereka segera masuk ke kamar ibunya.
"Pandawa, cuci tangan kalian sebelum melihat adik bayi!" perintah Alva yang selalu mengedepankan kebersihan.
"Baik Ayah!" sahut pandawa kompak dan segera menuju washtafel.
Salwa dan Khalwa terlihat anteng, sesekali mereka membuka mata secara bergantian kemudian merem lagi. Sungguh sangat menggemaskan.
Abi mengunjungi box bayi Salwa dan Khalwa, dia berdiri di tengah -tengah dan berkata, "Adik Salwa dan Khalwa, nanti kalau sudah besar kakak ajak kalian berdua bermain boneka tangan ya,"
Sherly tersenyum simpul mendengar celotehan putra sulungnya, dia yang duduk di pinggir ranjang segera berdiri dan berkata, "Abi, meski mereka masih bayi, kamu sudah boleh kok mengajak mereka berbicara dan bercerita,"
"Kan mereka belum bisa melihat Abi, Bu,"
"Iya, tapi seiring bertambahnya usia, mereka bisa mendengar loh,"
"Sungguh, kalau begitu saat adik bayi lagi rewel, aku mau menenangkan mereka sambil bercerita,"
"Boleh,"
Alva baru keluar dari kamar mandi mendapati pandawa sedang berkumpul di kamarnya dan berkata, "Ini sudah sore, apa kalian sudah mandi?"
Pandawa kecil kompak menggelengkan kepala, "Belum Ayah,"
"Nah, kalau begitu segeralah mandi agar adik bayinya seneng dan tahu kalau semua kakaknya ganteng,"
"Kan adik bayi belum bisa lihat, Yah!" protes Boman yang membuat Alva menggaruk tengkuk nya.
"Bener juga ya," Gumam Alva sambil berpikir cara lain untuk menyuruh mereka mandi.
Mengetahui Alva kebingungan, Sherly segera angkat bicara dengan lembut, "Pandawa, sana mandi dulu, adik bayi juga mau mandi,"
"Aku mau lihat adik bayi mandi!" Charles memajukan langkahnya. Begitu pula yang lain juga berseru demikian.
"Baiklah, setelah ini, kalian segera mandi ya,"
"Siap, Ibu!" pandawa kompak mengangkat tangan kanannya seperti hormat bendera.
__ADS_1
Sherly menyiapkan peralatan mandi dan baju ganti. Alva tak tinggal diam. Dia juga tak ingin melewatkan momen terpenting seperti ini. Membantu Sherly memilih baju bayi dan menyiapkan bak mandi.
"Sayang, sabun mandinya pakai yang cair atau batangan?" Alva menunjukkan dua sabun mandi.
"Yang cair saja, kulit mereka masih terlalu tipis."
"Oke,"
Setelah menyiapkan peralatan semua, dua baby sister masuk terlebih dahulu mereka mengetuk pintu. Masing-masing dari mereka melepas pakaian bayi dan mengangkatnya ke dalam bak berisi air hangat.
Salwa terdengar melengking tangisannya saat di masukkan ke dalam bak. Berbeda dengan Khalwa yang terlihat anteng dan menikmati air hangat.
Pandawa senyum -senyum geli menyaksikan adik bayi mandi, mereka sangat gemas lalu menyentuh kulit adiknya yang halus. Dave dan Ethan membantu membawakan handuk bayi.
Sambil menahan bersin -bersin Alva merasa minder dengan dua baby sister itu. Mereka seakan dengan mudahnya melakukan pekerjaan simpel itu, sementara dirinya tersiksa lagi karena tak bisa dekat dengan dua putrinya. Alva memperhatikan mereka dari jauh.
Selesai mandi dan memakai baju, kedua bayi dibedong dan bergantian meminum asi. Setelah kedua bayi kenyang dan tertidur, para suster membawanya ke box bayi lalu izin pergi meninggalkan ruangan.
Alva mendekati Sherly sambil menampakkan muka masam, "Kapan aku bisa menyentuh mereka, aku juga ingin memandikan mereka,"
Sherly merasa iba dan kasihan, "Besok pagi saja ya Mas, kita yang akan memandikan mereka,"
Alva terlihat berbinar kedua matanya, "Benarkah Sayang!" kemudian dia terlihat murung lagi, "Tapi aku takut menyakiti mereka,"
Sherly mengambil tandan suaminya dan mengusap punggung tangan kanan, "Enggak kok, besok pagi kita coba ya, aku akan bicara dengan baby sister."
Merasa hatinya sudah lega Alva mengangguk kemudian beralih menatap pandawa, "Apa kalian akan menonton ayah dan ibu seperti itu?"
Pandawa menahan tawa dan menggeleng, Abi berkata, "Kami akan segera mandi." Setelah mengatakan itu, mereka berlima keluar dari kamar Sherly.
Boman menghentikan langkah saudaranya, "Kasihan ayah, apa kalian tidak punya cara agar ayah tidak alergi lagi?"
Pandawa terdiam dan memikirkan sesuatu.
"Aku akan menciptakan ramuan baru, tapi bahan yang aku perlukan tidak ada di daerah ini," ujar Ethan menyampaikan idenya.
"Bahan apa yang ingin kamu dapatkan, mungkin aku bisa membantu mencarikan?" tawar Boman.
__ADS_1