
"Ini dompet Pa-Paman," sama juga dengan halnya Charles yang baru menyadari kalau pria itu adalah Alvarendra Rizki, pria dengan wajah yang sangat mirip dengannya.
"Kamu, Dokter Cilik kan? Kamu tenyata juga bisa karate? Hebat!" ucap Alva dengan penuh kekaguman.
"Dokter?" Charles mengernyitkan dahinya.
"Kita baru saja bertemu pagi ini," Alva mengingatkan.
"Hm, Paman salah, aku bukan Ethan." sahut Charles sambil tersenyum.
"Tapi, wajahmu sama dengan dia."
"Itu pasti saudaraku yang lain."
"Yang lain? Memangnya kamu punya berapa saudara yang sama mirip nya denganmu?" Alva menunjuk ujung hidung Charles.
"Wajah Paman juga mirip denganku, Paman sendiri punya berapa saudara?"
Alva mendengus kesal, ternyata meladeni bocah tak semudah yang ia bayangkan.
"A-aku hanya memiliki dua saudara." sahut Alva kemudian.
"Hm, itu juga benar, sudah ketiga kalinya aku menemui bocah yang wajahnya sama persis dengan wajahku. Apa dunia ini terlalu sempit, sehingga banyak orang yang memiliki wajah yang mirip seperti aku."
"Paman keliru, di dunia ini tidak ada suatu kebetulan, apalagi memiliki wajah yang sama persis. Jika terjadi kemiripan wajah pasti ada garis keturunan dari mereka yang berwajah sama." terang Charles yang sebelumnya sudah menduga kalau pria besar di hadapannya adalah ayah biologisnya.
"Siapa ayahmu?" tanya Alva mencoba mengorek informasi dari bocah yang mirip dengannya dan sudah ketiga kalinya wajah ini ia temui.
Charles menundukkan wajahnya, terlihat mau mewek. Sebenarnya dia sangat rindu sekali dengan sosok ayah. Tapi ibunya terlalu sering melarang anak-anaknya untuk menanyakan perihal seorang ayah.
"Aku tidak punya ayah, Paman." sahut Charles setelah mendongakkan kepala menatap wajah pria yang sangat mirip wajahnya dengan dirinya. Tatapannya sungguh sendu, ikut sedih siapa pun yang memandangnya.
Alva menghela nafasnya, dia memutuskan untuk segera pergi dari tempat itu. Jawaban yang dikeluarkan oleh anak itu benar-benar menusuk palung hatinya yang terdalam. Berapa banyak anak yang tak memiliki ayah? Atau mungkin ayahnya itu telah meninggalkan dia dan ibunya sehingga lepas dari tanggung jawab? Sungguh hal yang membuat pikiran Alva menjadi ruwet bak benang kusut.
Di tambah lagi wajah bocah yang sudah ia temui ketiga-tiga nya memiliki wajah yang mirip dengannya.
"Em, baiklah Charles, terima kasih untuk pertolongan mu sore ini. Aku akan segera pulang untuk membersihkan lagi tubuhku." pamit Alvarendra meninggalkan Charles yang masih berdiri mematung.
"Tunggu Paman!" teriak Charles sambil sesenggukan.
Alva sontak menoleh. Dan mendadak tubuhnya terdorong mundur sedikit. Charles berhasil memeluk kaki Alva dengan sangat erat. Alva heran dengan perilaku bocah lima tahun itu.
__ADS_1
"Hai, bocah karate, apa yang sedang kamu lakukan? Pakaianku masih basah kuyup." tanya Alva datar tanpa ekspresi marah sedikit pun.
"Paman, izinkan aku untuk memelukmu sebentar saja." Wajah Charles terbenam di area paha, ya sekitar itulah tingginya. Kehangatan sesaat yang ia rasakan, belum pernah ia melakukan hal ini pada sosok pria.
Tangannya sontak mengusap pucuk kepala bocah karate dengan lembut. Ini juga pertama kali baginya. Alva sengaja membiarkan bocah itu melakukan apa yang diinginkannya.
"Paman tidak marah?" Charles mendongak melihat ke arah Alva.
Alva duduk dengan bertumpu pada kedua lututnya.
"Tidak," sahutnya datar.
"Apa Paman merasakan sesuatu?" tanyanya lagi.
"Tidak juga," sahut Alva dengan nada masih datar.
Charles sedikit kecewa dengan sahutan Alva.
"Baik Paman, terima kasih, aku pastikan Paman akan aku peluk lagi suatu saat nanti." janji Charles seraya berlari sangat cepat dan jauh meninggalkan Alva yang masih tak mengerti dengan ucapan bocah karate.
Alva tersenyum, entah mengapa mendadak hatinya merasa tentram saat kakinya tadi mendapatkan pelukan dari bocah karate.
.
Dia mengedarkan pandangan mengamati keadaan sekitar, jikalau pandawa kecilnya berhamburan memeluknya. Tapi, tak satu pun dari mereka yang keluar.
"Aneh, ke mana mereka semua?" Sherly melangkahkan kaki menuju ruang keluarga yang menjadi tempat favorit di rumah untuk sekedar bergurau atau bermain game. Tapi nihil, tempat itu sepi. Kini Sherly mencari di setiap kamar mereka, juga tidak ada.
"Atau mungkin mereka belum pulang?" gumam Sherly seraya menuju dapur untuk menyiapkan makan malam.
Sherly teringat kalau ponselnya mati, dia mengambil ponsel dan charger dari dalam tas kerja. Karena tadi di kantor sibuk jadi dia tidak sempat melihat ponsel. Dan ternyata saat perjalanan pulang dia baru tahu kalau baterainya sedang lemah. Sherly menuju kamar dan menyalakan lampu karena hari sudah gelap.
"Dear ... !" suara kagetan dari pandawa.
"Kyaa ... !" teriak Sherly kaget.
"Kalian berlima mengagetkan ibu, kalau ibu terserang penyakit jantung bagaimana? Kalian suka jika ibu cepat mati?" Sherly terlihat emosi sambil berkacak pinggang.
Semua pandawa hanya cengengesan saja tak menggubris emosi ibunya.
"Selamat ulang tahun, Bu!" Abigail memperlihatkan kue kecil yang sedari tadi ia sembunyikan di balik punggungnya, terdapat diatas kue ulang tahun itu lilin dengan model angka 25.
__ADS_1
"Ibu jangan marah! Kami tidak bermaksud untuk mengagetkan Ibu," ujar Boman sambil mengeluarkan kado kecil dan memberikan pada Sherly. Sherly menerimanya dengan keadaan masih shock.
"Semoga Ibu panjang umur dan sehat selalu!" do'a Charles seraya menyodorkan kotak kecil tapi terbungkus rapi.
"Ini hadiah dariku, Ibu,"Dave memberikan lukisan yang kemarin belum sempat Sherly lihat, padahal Dave sudah meminta agar ibunya melihat lukisannya. Dia melukis ibunya, dirinya dan keempat saudaranya. Dave sengaja tidak memberi warna pada background, dia akan melengkapi lukisan itu dengan sosok pria yang ia yakini sebagai ayah kandungnya setelah tes DNA nanti keluar.
Ethan langsung memeluk ibunya, "Selamat ulang tahun, Ibu ku yang cantik," Dave mencium pipi Sherly.
"Apa kamu tak memberikan sesuatu pada ibu?" canda Sherly.
"Sudah," sahut Ethan singkat.
Sherly hanya mengernyitkan dahi tak paham.
Ethan mengulangi perbuatannya, mencium pipi Sherly sambil berbisik.
"Ini Bu, hadiah dariku," Ethan terkekeh, begitu pula pandawa yang lain.
"Ciuman?" Sherly pun ikut terkekeh. Ethan menutupi mulutnya yang imut itu sambil menahan tawa.
"Anak-anakku, terima kasih atas do'a dan hadiah kalian. Ibu merasa terharu atas kejutan yang kalian berikan. Tak ada mutiara terindah di dunia ini, selain kalian pandawa kecilku, mutiara hatiku." Sherly merentangkan tangan untuk menyambut pelukan dari anak-anaknya. Pandawa saling berhamburan berebut mencari tempat di pelukan ibunya.
Mereka keluarga yang bahagia, tapi apakah Sherly tahu betapa sakitnya hati mereka tanpa keberadaan ayah dalam hidup mereka? Jujur saja, mereka butuh kasih sayang dari seorang ayah, impian mereka adalah menjadi keluarga yang lengkap, terlebih dari hati para pandawa itu, mereka merindukan sosok ayah.
"Ya sudah ayo kita makan malam!" ajak Sherly.
"Tiup lilin dulu, Bu!" pinta Abigail yang dengan segera menyalakan api.
Setelah lilin menyala, mereka menyanyikan lagu ulang tahun. Sherly meniup lilin dan terdengar tepukan lucu dari pandawa.
Mereka menuju ruang makan.
"Pepaya?" Boman menatap tajam saat Sherly meletakkan buah pepaya yang sudah ia potong kecil-kecil pada wadah, agar pandawa mudah memakannya.
"Kenapa harus pepaya Bu, buah yang Ibu pilih?" tanya Boman merasa geli melihat buah itu.
"Ya karena ... "
"Kita harus hemat!" sahut para pandawa yang lain, mereka sudah hafal betul kalau ibunya akan mengucapkan kalimat itu.
"Itu kalian sudah tahu!" Sherly menahan tawanya.
__ADS_1
Mereka menghabiskan makanan tanpa tersisa sedikit pun. Karena Sherly sudah membiasakan mereka untuk tidak membuang makanan. Baginya, sudah syukur diberi kenikmatan berupa makanan dan minuman jadi mereka sudah terbiasa dengan hal itu sejak kecil.