
"Ada apa Mas?" Sherly segera turun dan diikuti para pandawa.
"Aku menabrak kucing." Alva segera mengecek roda belakang. Kucing itu tepatnya terlindas roda belakang saat ingin menyeberang. Seluruh isi ususnya keluar dan dia sulit bernafas.
Sherly sempat kaget juga, takutnya organ -organnya hancur atau luka di dalam.
Pandawa yang menyaksikan itu juga tampak miris.
"Kasih minum air putih yang banyak, Ayah!" perintah Ethan saat melihat sendiri keadaan kucing.
Alva segera mengambil air mineral di dalam mobil dan dengan perlahan meminumkannya.
Ethan bergegas mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.
"Minum ini juga!" Ethan menyodorkan sebotol minyak sinergi herbal.
Dengan bismillah, Alva meminumkan minyak itu agak satu sendok makan.
"Ayah berharap kucing ini selamat. Bibirnya sudah putih semua dan nafasnya tak teratur." tutur Alva seraya sibuk mencari kain dalam bagasi.
Ethan turun tangan juga. Dia membaluri juga luka-luka di siku dan kaki-kakinya dengan minyak itu.
Kucing itu muntah berkali-kali, sekali mengeluarkan darah, hanya sedikit.
"Semoga kucingnya selamat!" ujar Sherly.
Alva awalnya merasa jijik juga, dan dia tampak ingin muntah melihat itu semua. Sherly dengan cepat menyadari hal itu. Dia bergegas membersihkan semua kotoran yang ada.
Alva menyelimuti kucing itu dan dengan terpaksa membawanya masuk kedalam mobil.
Alva dan yang lain segera masuk ke dalam mobil.
Alva menyalakan mesin mobil dan melanjutkan perjalanan pulang.
Di tengah jalan terlihat ada kerumunan, Alva menghentikan mobilnya lagi.
"Sepertinya ada kecelakaan yang membuat macet." ujar Sherly.
"Kamu benar Sayang, hari sudah mulai gelap sebaiknya kita harus cepat sampai di rumah." Alva melajukan lagi mobilnya dengan pelan melewati kerumunan itu.
"Ya Tuhan, Kenzi Adefa!" Sherly menutup wajahnya karena tak tega melihat sosok wanita yang sudah tergeletak. Sherly melihat dari kaca mobil.
Mendengar itu, Alva menepikan mobilnya. Dan segera turun.
Alva segera mendekati Kenzi.
"Haciu, haciu, haciu!" bersinnya kambuh lagi.
Sherly ikut turun bersama pandawa.
"Permisi!" izin Alva agar kerumunan itu bubar.
"Mas kenal dengan wanita ini?" tanya salah satu warga.
"Iya, dia adalah teman saya. Apa yang terjadi?" tanya Alva mengorek informasi.
"Wanita ini korban tabrak lari, dia tertabrak saat akan menyeberangi jalan." terang warga yang lain.
__ADS_1
"Angkat Mas, kita bawa ke rumah sakit!" bisik Sherly padanya.
"Aku tak bisa!" tolak Alva.
"Kenapa Mas?" tanya Sherly penasaran.
"Aku alergi wanita." akhirnya Alva mengakui juga kelemahannya selama ini.
"Apa! Alergi wanita?" pekik Sherly.
"Sudah, lupa kan masalah itu! Aku malu membahasnya." Alva mengayunkan tangannya memberi kode agar Sherly tak bertanya lagi.
Bukannya marah Sherly justru cekikikan mendengar pengakuan suaminya itu.
"Bagaimana bisa dia ada di sini? Haciu, haciu, haciu!" Alva segera menutup hidungnya dengan kedua telapak tangannya.
Sherly meminta warga yang berkerumun itu dan meminta tolong untuk memindahkan tubuh Kenzi dari aspal membawa masuk ke dalam mobilnya.
Setelah mengucapkan terima kasih semua warga yang berkerumun segera pergi.
Di dalam mobil.
"Ayah, bersihkan darah itu! Aku akan mengecek keadaannya." pinta Ethan yang sejujurnya sedikit takut dengan darah.
Alva meminta Sherly untuk mengambil kotak obat di bagasi.
Alva sendiri segera menyemprotkan handsanitize pada kedua tangannya.
"Sherly, alangkah baiknya kamu yang membersihkan darah itu!" pintanya.
"Tentu Mas tukang bersin!" candanya.
Pandawa cekikikan menahan tawa melihat ayah dan ibunya berdebat.
Ethan dengan kemampuannya yang luar biasa mendeteksi denyut nadinya.
"Apa dia teman Ayah?" tanya Dave.
"Iya," sahut Alva lekas.
"Ayah, sepertinya wanita ini sedang hamil." terang Ethan.
"Apa! Hamil?" seru Sherly dan Alva kompak, mereka berdua saling pandang.
"Mas, kamu yang menghamili dia ya!" tukas Sherly dengan wajah cemberut.
"Masya Allah, enggak Sayang. Aku nggak pernah berbuat itu dengan wanita lain. Kan kamu sudah tahu tadi kalau aku alergi wanita. Hanya pada kamu seorang aku melakukan itu. Sungguh!" Alva mencoba menjelaskan kesalah pahaman itu.
"Lalu, dia hamil anak siapa?" Sherly melihat Kenzi di jok belakang yang masih pingsan.
"Mana aku tahu." Alva segera merogoh ponselnya dan meminta pengawal untuk menjemput pandawa. Karena mobil yang ia bawa tak muat untuk membawa pandawa pulang.
Satu mobil datang dari arah seberang. Pengawal Alva datang dan segera mengantar pandawa pulang beserta kucing tadi. Sementara Alva dan Sherly segera melarikan Kenzi ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit.
Kenzi segera mendapatkan penanganan.
__ADS_1
Papanya Kenzi, pak Tomi yang baru saja pulang dari luar negeri menuju rumah sakit.
"Alvarendra Rizki!" teriakan pak Tomi seraya melayangkan satu pukulan dan berhasil mendarat di perutnya.
"Brug!" Alva tersungkur sambil meringis menahan sakit.
Sherly menganga kaget dengan pemandangan di depannya. Dia segera menghambur pada Alva dan membantunya berdiri.
"Anda siapa dan mengapa datang-datang langsung memukul suami saya?" tanya Sherly dengan penasaran siapa pria paruh baya yang ada di depannya ini?
"Dia yang telah membuat putriku menderita! Alva, kenapa kamu menghianati janji kamu untuk menikahi Kenzi? Dan malah menikah dengan wanita ini!" pak Tomi menunjuk Sherly dengan sorotan mata menyala.
"Ini di luar dugaan Om Tomi, maaf kan aku. Ceritanya panjang." ujar Alva seraya mengusap perutnya bekas pukulan Tomi.
Seketika itu juga dokter datang.
"Bagaimana keadaan putriku, Dokter?" tanya Tomi tampak khawatir.
"Syukurlah, ibu dan bayinya selamat, meski terjadi pendarahan sedikit." ujar dokter wanita itu.
"Bayi?" Tomi menautkan kedua alisnya.
"Iya, apakah Anda suaminya?" tanya dokter wanita itu menatap Alva.
"Maaf bukan, saya orang yang mengantar dia ke mari." terang Alva seraya melirik Sherly.
"Alangkah baiknya, di usia kehamilan muda seperti ini dukungan suami sangat dibutuhkan. Permisi saya akan mengecek kondisi pasien yang lain." dokter wanita itu segera pergi.
"Alvarendra, kamu yang menghamili Kenzi!" sarkas Tomi seraya menarik kerah kemejanya.
"Bukan Om, lepaskan tangan Anda!" Alva mencengkeram kuat tangan Tomi dengan sorotan mata tajam tak kalah tajamnya dengan Tomi.
.
Sementara di rumah Alvarendra, sesampainya di rumah pandawa meminta pengawal untuk membawa kucing yang tadi.
Alva meletakkan kucing itu di dalam box. Kucing itu terus berusaha tenang di dalam box nya. Alhamdulillah, hingga malam kucing itu masih hidup. Sesekali pandawa bergantian berjaga untuk melihat kondisi kucing itu kalau terjadi apa-apa.
Keesokan paginya, kucing itu berjalan dan minta keluar mau poop. Pandawa seneng banget melihat kucing itu selamat.
Perut nya agak kelihatan turun, seperti menggelambir. Ethan baluri lagi minyak sinergi herbal ciptaannya itu ke bagian perut hingga pangkal kaki belakang, lalu ia balut kain. Mirip dibedong. Dengan harapan perutnya normal lagi posisinya. Tak lupa juga Ethan meminumkan minyak sinergi herbal. Kucing itu seperti minta makan.
Antonio baru keluar dari kamarnya.
"Kucing siapa?" tanyanya pada pandawa.
"Paman, ini kucing yang ayah tabrak semalam!" terang Abi seraya menatap tak suka.
"Ooh ...!" desah Antonio seraya beranjak pergi.
"Wanita yang tertabrak lari semalam, bagaimana kabarnya ya?" tanya Boman pada saudaranya.
Antonio mendengar hal itu.
"Entahlah, kasihan wanita itu sedang hamil." ujar Charles.
"Semoga yang menabraknya segera dapat hukuman." imbuh Dave.
__ADS_1
"Apa itu Kenzi? Apa dia selamat? Ku harap tidak." batin Antonio seraya meraih ponselnya untuk berbicara dengan seseorang.