
"Papa, izinkan kak Antonio tinggal bersama kita lagi. Kepulangan kak Antonio kan yang selama ini Papa harapkan? Dengan kepulangan kakak di rumah ini, kita akan menjadi keluarga yang utuh kembali." ucap Alva penuh harapan seraya menyentuh pundak pria paruh baya itu.
"Kamu ternyata yang membawa dia agar datang ke sini? Aku pikir dia dengan suka rela datang kemari." ujar Andreas masih tampak sinis.
"Sudahlah Pa, masalah yang lalu jangan diungkit lagi. Kita buka lembaran baru, secara kak Antonio juga sudah banyak berubah. Kini dia sudah kembali bekerja di perusahaan Bank Core, Pa." tutur Alva menyakinkan Andreas.
"Anak ini bekerja, aku tak salah dengar, angin apa yang bisa merubah pemikirannya yang seperti batu itu?" batin Andreas tak percaya dengan perubahan yang Antonio lakukan. Pasalnya anak sulungnya itu suka sekali menghambur-hamburkan uang. Entah untuk minum -minumlah atau entah untuk shopping.
"Sungguh, Antonio sudah mulai bekerja?" ucap Andreas kagum dengan perubahan putra sulungnya itu.
"Iya Pa, aku akan membuktikan pada kalian semua, kalau aku bisa maju dan lebih baik dari diriku yang sebelumnya." tutur Antonio menyakinkan.
Andreas terbujuk juga untuk menerima Antonio lagi di rumah itu. Dia segera memeluk putra yang selama ini menjauhi dirinya.
"Oh, iya Alva, aku membawakan oleh-oleh untukmu dan juga Sherly." ujar Antonio kemudian. Antonio mengarahkan tangannya ke arah meja makan.
"Untuk aku tak ada Paman?" celetuk Abi yang membuat Antonio kagetnya bukan main. Dia secara tiba -tiba ada di bawahnya. Semua mata tertuju padanya.
"Anak siapa ini?" tanyanya masih dengan ekspresi kaget. Padahal dia masuk ke rumah ini tadi tak ada anak kecil.
"Ini putraku Kak, namanya Abigail." Alva mengarahkan agar Abi salim. Abi menurut.
"Kamu sudah punya anak?" tanyanya lagi tak percaya seraya menerima uluran tangan dari Abi.
"Iya Kak, dia putra kandungku." terang Alva, namun Antonio belum bisa menerima di akal.
Pandawa yang lain menyusul Abi, "Aku juga mau hadiah Paman!" Boman mengadahkan tangan.
"Aku juga Paman!" sahut Charles, Dave dan Ethan kompak seraya menirukan gerakan Boman.
"Me-mereka siapa lagi?" Antonio hampir jantungan rasanya. Melihat lima anak kecil dengan wajah yang sama.
"Kembar lima!" Antonio menunjukkan lima jarinya setelah sadar dari kekagetan yang pandawa ciptakan.
Sherly menghampiri pandawa untuk mengajak mereka pergi agar tak mengganggu Andreas dan kedua putranya.
"Mereka pandawa kecilku, Kak." sahut Alva seraya menarik pundak Sherly dan mengusapnya. Mereka saling berpandangan.
"Kami memiliki lima anak kembar." Alva mengatakan itu sambil melihat ke arah Sherly. Sherly merasa terharu, ia pikir suaminya akan malu jika sudah memiliki anak di depan saudaranya itu. Nyatanya tidak, justru Alva memperkenalkan mereka dengan kakak kandungnya.
"Nah, yang ini Boman Kak, dia adiknya Abi. Boman salim Nak, sama paman Antonio!" Alva mendekatkan Boman, Boman mengikuti anjuran ayahnya.
"Aku Charles Paman!" tanpa diminta Charles menyodorkan tangannya.
"Dan aku Dave," dengan seulas senyum yang menggemaskan Dave mengulurkan tangan untuk salim.
"Paman!" Ethan mengangkat kedua tangannya.
"Ada apa dengan bocil yang satu ini?" gumamnya dalam hati seraya menunjukkan ekspresi wajah tak enak.
"Gendong Paman!" seru Ethan dengan masih mengangkat kedua tangannya.
__ADS_1
"Apa!!" Antonio kagetnya bukan main.
"Dasar bocah, baru kenal saja sudah minta gendong!" batinnya menggerutu.
"Sama ayah saja, ya!" tawar Alva.
"Kan tadi sudah, giliran Paman Antonio ayah," Ethan menggelengkan kepala tak mau.
"Ethan, Sayang, paman baru saja tiba, pasti capek. Sini ibu gendong saja!" Sherly melambaikan tangan.
"Tidak apa-apa Sherly, aku bisa kok, kamu tenang saja!" Antonio menghilangkan rasa kesalnya terhadap Ethan. Dan untuk menjaga image nya di depan Sherly, Antonio mulai membungkukkan badan untuk mengangkat tubuh Ethan.
"Hore! Aku lebih tinggi dari kalian semua!" ujarnya senang membuat suasana rumah riuh dengan ulah si bungsu.
"Gila si Alva, baru nikah saja sudah segede gini anaknya. Aku penasaran dengan hubungan mereka di masa lalu." batinnya seraya mengamati penampilan Sherly, "Menurutku, Sherly tetap cantik juga meski sudah punya anak dari Alva. Tunggu sampai aku bisa merebutmu dari dia, aku bahkan akan lebih membahagiakan kamu ketimbang Alva." batinnya kotor.
"Paman tidak tahu kalau ada pandawa kecil di rumah ini. Lain kali paman akan memberikan hadiah yang paling bagus dan paling banyak untuk keponakan paman." ujar Antonio yang terpaksa bersikap ramah pada pandawa.
"Hore!" seru pandawa senangnya bukan main.
"Ayo kita buka bungkusan yang paman kalian berikan!" Alva menggiring pandawa menuju meja makan. Sherly mengekor dari belakang.
Setelah Ethan turun dari gendongan Antonio mereka berlima mengikuti ayah dan ibunya ke ruang makan.
Andreas dan Antonio melanjutkan perbincangan.
"Apa isinya Ayah?" tanya Ethan ketika semuanya sudah berada di ruang makan.
"Angsa panggang!" ujar Alva kaget.
"Angsa panggang?" Sherly tampak heran, baru kali ini dia mendapati angsa sebesar ini.
"Wah, kelihatannya enak, Abi mau ayah!" ujarnya.
"Aku juga!" seru pandawa yang lain.
Sherly menuju ke dapur untuk menyiapkan peralatan makan. Tak lupa pula dia membawakan Alva pisau untuk memotong daging angsa.
Terlebih dahulu Alva mencuci tangannya dengan sabun antibakteri. Segera dia meraih pisau, sebentar dia menatap pandawa.
"Sebelum kita memotong daging ini, kita baca apa?"
"Bismillaahirrohmaanirrohiim..." sahut pandawa lekas.
"Pintar anak ayah," Alva memuji mereka dan mulai memotong daging itu di bagian perut.
"Wah ....!!" seru mereka semua yang melihat pemandangan angsa panggang itu.
"Ada ayam panggang di dalamnya!" seru Alva takjub seraya mengeluarkan ayam panggang itu dari sana. Alva memperlihatkan ayam panggang di udara.
"Aku mau ayam!" seru Ethan.
__ADS_1
"Adik, apa -apa semua kamu mau!" ujar Boman seraya mengusap pucuk kepalanya. Ethan hanya cengengesan saja.
"Iya sebentar, ayah potong dulu ya ayam panggangnya." Alva meletakkan di atas meja. Seperti halnya yang tadi, Alva memulai memotongnya di bagian perut.
"Wah ....!" seru mereka semua takjub lagi.
"Burung dara panggang!" Alva dengan cepat mengeluarkan burung dara panggang dari situ. Lagi, menunjukkan burung dara panggang di udara juga.
"Paman Antonio kasih kejutan apa lagi buat ayah ya?" Charles tampak berpikir.
"Benar juga, paman Antonio sudah merencanakan kejutan ini untuk ayah kalian. Sebagai gantinya kalian bisa bersikap sopan pada paman Antonio?" Sherly menatap pandawa.
"Bisa Bu," sahut mereka kompak.
"Bagus!" Sherly memuji mereka.
"Ayo tebak, kira-kira di dalamnya ada apa lagi ya?" Alva menunjukkan jarinya.
"Burung puyuh ..." tukas Abi dan Dave bersamaan.
"Anaknya burung dara!" tukas Charles asal.
"Kalau anaknya burung dara saja ada, pasti anaknya ayam juga ada, aku tebak anaknya ayam!"tukas Ethan.
"Emang yang potong ayam nggak kasihan apa, anak ayam kan kecil banget, apa lagi anaknya burung dara!" Abi meluruskan pemikiran adiknya yang asal itu.
Alva dan Sherly terkekeh saja mendengar celotehan para pandawa.
"Mari kita lihat di dalam burung dara panggang ini ada apa!" Alva segera mengarahkan pisaunya di perut burung dara.
"Wah, telur ayam!" serunya seraya mengeluarkan telur ayam dari sana.
"Keren ...!" seru pandawa sambil mengacungkan jari jempol mereka. Sekilas mereka tampak saling pandang, apa maksud semua ini? kejutan yang aneh bukan?
"Ayo Mas Alva, kita lihat ada apa lagi di dalam telur ayam ini!" Sherly tampak tak sabar ingin mengetahuinya.
"Baik, ayah iris melintang telur ini dengan perlahan agar kita tahu di dalamnya ada apa lagi!" Alva dengan sangat pelan mengurus telur ayam.
"Wow, telur puyuh!" seru Alva, mengambil dan memperlihatkan di udara juga.
Alva sangat menyukai telur puyuh sejak kecil. Jadi, Antonio tahu apa saja yang disukai adiknya itu.
Alva segera memasukkan telur puyuh itu ke dalam mulutnya, dan hampir saja mengunyahnya. Tapi terhenti saat Abi berteriak.
"Tunggu Ayah, jangan di makan!" teriak Abi seraya menunjukan telapak tangannya.
Alva sontak memuntahkan telur puyuh itu di atas piring.
Abi mengambil tisu dan sebuah pisau. Dengan perlahan dia mengiris telur puyuh.
"Apa!" seru mereka semua kaget dengan apa yang ada di dalam telur puyuh itu.
__ADS_1