
"Ini kan ayam panggang!" pekiknya seraya membaca tulisan yang berlabel restoran magic.
"Si-siapa yang mengirimkan ini, dan ..." dia terlihat sangat resah ketika melihat isi bingkisan itu. Dia merasa ada seseorang yang berniat mencelakakan dirinya. Teringat dengan menu yang ia berikan pada Alva. Untuk mengurangi keresahan hatinya, dia segera mengambil ponsel yang ada di kamarnya. Tampak garis ketakutan menghiasi wajahnya.
Antonio mengabari pihak restoran magic dan bertanya tentang perihal pesanan makanan. Pihak restoran hanya bisa memberikan keterangan kalau yang pesan makanan itu adalah seorang anak kecil.
"Anak kecil? Siapa?" dia tengah mondar-mandir seraya berfikir.
Antonio kini kembali ke meja makan, setibanya di sana dia berpapasan dengan Sherly.
"Sherly," sapanya tak percaya, seketika masalahnya mendadak hilang, disuguhkan dengan panorama yang indah di pagi hari.
"Pagi Kak!" sahut Sherly.
"Oh, iya, Alva kemarin mencarimu ya, kamu kemana? Kakak sempat mengkhawatirkan kamu juga." Antonio memperlihatkan rasa cemasnya.
"Aku kemarin sempat dihadang oleh sekelompok penjahat Kak, mereka ingin sekali membunuhku." ujar Sherly seraya membenahi pakaiannya, dia hendak pergi belanja.
"Apa penjahat! Berani sekali mereka ingin mencelakai kamu. Belum tahu apa kalau dia memiliki kakak yang sangar." Antonio menyingsingkan kaosnya.
"Tapi untung ada kak Wendy, Mas Alva dan pandawa yang datang menyelamatkan aku." ujar Sherly dengan tersenyum.
"Wendy? Dia juga menyelamatkan kamu, aku kira setelah dia dipecat oleh Alva, dia ...?" kalimat Antonio terpotong Sherly. Antonio tampak kaget mengetahui kabar Wendy yang sok jadi pahlawan.
"Dia adalah kakak ipar aku. Tapi, sekarang dia sedang berada di rumah sakit." terang Sherly, terlihat dia menghela nafas panjang.
"Rumah sakit? Apa yang terjadi padanya?" Mendengar itu Antonio membulatkan matanya lebar. Dia semakin penasaran dengan semua yang berkaitan dengan Wendy.
"Dia tertusuk akibat menyelamatkan nyawa mas Alva." terang Sherly sambil memperagakan arah tusukan pisau pada perutnya. Antonio tampak miris membayangkannya.
"Wendy menyelamatkan Alva? Apa dia sudah berubah dan berpihak pada Alva? Dari sikap nya terlihat kalau Wendy mulai goyah dan tak bisa diandalkan. Ini tak bisa dibiarkan. Dia bisa membongkar rahasia ku." batin Antonio gusar.
"Ya sudah Kak, aku mau ikut belanja bi Tinuk ke pasar. Juga mau membeli kebutuhan pandawa, mumpung hari ini libur." Sherly menunjuk bi Tinuk yang baru saja melewatinya.
"Oh iya Sherly, apa perlu kakak antarkan?" tawar Antonio dengan mimik muka yang berbahagia. Namun dengan cepat Sherly menggelengkan kepala karena takut menimbulkan fitnah.
Alva turun dan menghampiri mereka.
"Pagi Kak Antonio!" sapa Alva seraya mengendus aroma masakan.
__ADS_1
"Pagi juga Alva!" sahut Antonio sedikit kikuk dengan kedatangan Alva.
Sherly melihat jam di pergelangan tangannya, dia segera berpamitan pada Alva dan menuju halaman depan.
Tak lupa ritual romantis seperti mencium pucuk kepala Sherly, ia lakukan. Antonio merasa panas melihat kemesraan yang adiknya tunjukkan.
"Punya siapa ini?" tunjuk Alva pada bungkusan yang tergeletak di atas meja makan.
"Itu punya ku, kalau kamu mau makanlah!" ujar Antonio seraya masih berfikir apakah Abi yang memesan makanan itu?
"Tidak Kak, terima kasih, sepertinya alergi aku kambuh!" tolak Alva seraya mengangkat kedua tangannya.
Alva teringat dengan menu angsa kemarin, jadi dia mulai berhati-hati dengan segala jenis makanan pemberian Antonio.
"Kakak suka sekali ya memesan makanan seperti ini?" sarkas Alva seraya memperhatikan ekspresi Antonio yang terlihat seperti berkeringat dingin.
"Oh, tidak juga. Ini aku bukan yang pesan, seorang penggemar rahasia yang mengirimnya padaku." terang Antonio seraya menggaruk tengkuknya.
"Wah, Paman seperti artis saja punya penggemar!" tiba-tiba Abi muncul dan entah sejak kapan berada di antara mereka.
"Ka-kamu, mengagetkan ku saja!" Antonia mengusap dadanya.
"Tidak Ayah, pagi ini aku mau makan nasi goreng. Biar Paman Antonio yang menghabiskan sendiri, kan itu dari penggemar rahasia. Dia akan merasa tersakiti perasaannya jika hadiahnya tak dinikmati oleh sang idola. Benar kan Paman?" Abi mengedipkan sekali matanya. Seketika itu Antonio tahu siapa yang dimaksud pemilik restoran magic si anak kecil itu, ternyata adalah keponakannya sendiri.
"Ja-jadi, dia!" batin Antonio kaget.
Alva meninggalkan mereka berdua, dia hendak menghirup udara segar di halaman depan.
"Ayo Paman, cepat dimakan!" desak Abi sambil tersenyum menggoda.
"Sial, bocah ini. Aku tak boleh terkecoh, bila sampai aku ketahuan yang memasukkan jarum pada telur puyuh, rencanaku untuk mendapatkan Sherly pasti berantakan." batinnya.
"I-iya, paman akan segera memakannya." dengan ragu Antonio mengambil pisau dan membelah dada ayam.
Betapa terkejutnya lagi dia. Di dalamnya ada telur ayam dua butir yang siap makan.
"Wah, telur ayam!" seru Abi.
Melihat sikap Abi, Antonio memasang wajah was -was. Pikirannya teringat dengan jebakan yang ia berikan pada Alva. Apakah dia akan bernasib naas?
__ADS_1
"Cepat Paman! Aku ingin sekali melihat Paman memakan telur itu!" Abi berhasil mendesak Antonio untuk mengambil telur itu.
"Gawat, ada dua telur! Pasti dari salah satunya ada jebakan untukku. Anak ini tak bisa diremehkan." batinnya.
Antonio mengambil satu telur dan dengan ragu-ragu mulai menggigit perlahan. Satu gigitan dia tak merasakan apa-apa, begitu seterusnya sampai telur itu habis.
"Tidak ada apa-apa?" gumamnya dalam hati.
"Aku tidak sejahat seseorang yang meletakkan jarum dalam telur. Jika pun seseorang melakukan itu lagi pada keluargaku terlebih ayahku yang sangat aku cintai. Aku Abigail, takkan tinggal diam." ucapnya tegas seraya segera pergi meninggalkan Antonio yang masih melongo dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Di-dia tahu, kalau aku yang melakukan itu?"
.
Suasana rumah sakit tampak sepi di malam hari.
Antonio mempercepat langkahnya, dengan memakai seragam dokter dia mengelabuhi seisi rumah sakit agar bisa menuju ruangan Wendy.
Wendy belum sadar sejak kemarin. Dan berbagai peralatan medis masih menempel lengkap di tubuhnya. Para pengawal yang menjaga Wendy terlihat sangat lelah dan mengantuk.
Antonio menyelinap dan berhasil masuk ke kamar Wendy dirawat.
"Kamu ancaman bagi hidupku. Aku tak bisa mempercayaimu lagi. Kamu harus berakhir di sini." ucap Antonio seraya tangannya akan melepas peralatan pernafasan.
Wendy bisa mendengar itu, namun masih belum bisa membuka matanya.
"Selamat tinggal Wendy!" Antonio menarik paksa alat bantu pernafasan.
Seketika itu juga Wendy membuka matanya. Nafasnya naik turun, dia seolah kehabisan nafas. Matanya menyorot tajam ke arah Antonio.
"Kak ..." ucapnya lirih.
Melihat Wendy membuka matanya, Antonio segera pergi dari situ. Berharap Wendy segera mati dan tak ada orang yang melihatnya.
Kini Wendy tengah berjuang sendiri mempertahankan hidupnya. Meski sekarat dia mencoba untuk tetap hidup. Tapi, seperti ada bayangan putih menghampirinya.
Bersambung....
Maaf untuk saat ini author telat up date. Tapi setelah urusan author selesai, author akan rajin up date lagi. Terima kasih masih setia dengan Pandawa Kecilku. 😘😘😘
__ADS_1