
Pukul 21.00
"Katakan, siapa yang menyuruhmu!" bentak Sherly pada Baron.
"Tenangkan dirimu, jangan terlalu emosi!" Alva memegang kedua pundak wanita di depannya yang tengah meledak -ledak.
Sherly menurunkan tangan suaminya dari atas pundak.
Baron tampak tertunduk dan enggan untuk menatap lawan bicaranya.
"Aku mau mendengar sendiri, siapa pesuruhmu?" Sherly mendesah kesal, lantaran sudah hampir ketiga kalinya yang ditanya diam saja.
Alva akhirnya turun tangan juga.
"Bruag ... !" satu pukulan melayang di perut Baron, membuat dia meringis kesakitan.
"Jawab pertanyaan istriku, atau sayu pukulan lagi melayang ke bawah perutmu!" bentak Alva dengan sedikit gertakan.
"Ampun, jangan Tuan, aku belum menikah!" Baron terlihat takut dan menutup bawah perutnya dengan kedua tangannya.
"Kalau begitu cepat katakan!" bentak Sherly yang rasanya ingin sekali menjitak kepala yang botak itu.
"Ba-baik saya akan jujur, yang menyuruh saya untuk membunuh Anda adalah bos Imel." terang Baron dengan sedikit kegugupan. Setelah mendapatkan satu pukulan, polisi segera datang dan menyeret paksa Baron menuju ruang tahanan.
"Apa, kak Imel!" Sherly mundur beberapa langkah dari pijakannya, jalannya sedikit terhuyung. Untungnya Alva segera meraih tubuhnya, kalau tidak dia bisa roboh di tempat.
"Jadi, pelaku kriminal ini adalah Imel?" Alva juga terlihat kaget.
Sherly terdiam dengan tatapan kosongnya.
Alva memapahnya menjauh dari sana.
"Aku tak habis pikir, sejahat inikah aku, sehingga membuat dia ingin melenyapkan aku." ucap Sherly lirih, sesekali air matanya jatuh menetes di kedua pipinya.
Alva mengusap lembut pipinya.
"Hal ini tak patut kamu tangisi. Aku sudah meminta polisi untuk segera meringkus dia. Agar dia menyesal." ujar Alva menghibur.
" Memang penjara cocok untuknya." ucap Sherly kemudian, "Dia akan menyesali perbuatannya, suaminya hampir tewas karena ulah dia sendiri." Sherly menyandarkan kepalanya di bahu Alva. Alva mengusap lembut punggungnya.
"Nah, kamu sudah dengar sendiri kan, siapa dalangnya. Ayo kita pulang, kasihan pandawa!"
"Aku sudah menyuruh pengawal untuk mengantar mereka pulang. Kita susul mereka yuk!" ajak Alva.
"Iya Mas, tapi bagaimana dengan kak Wendy?"
"Kamu jangan khawatirkan dia. Aku juga sudah meminta pengawal yang lain untuk berjaga 24 jam di sana. Mereka akan mengabari kita, jika ada sesuatu yang penting." hibur Alva.
Akhirnya Sherly menyetujui ajakan Alva.
Sesampainya di rumah.
"Aw, Mas, apa-apa an ini!" Sherly tersentak kaget saat tubuhnya melayang di udara dan berpindah pada gendongan Alva.
"Aku tahu, kamu sempat cemburu kan pada pandawa," goda Alvarendra.
__ADS_1
Sherly mengerutkan dahinya, meminta Alva memperjelas maksudnya.
"Cemburu kenapa Mas?" tanyanya tanpa sadar tangannya respon bergelanyut manja di leher Alva.
"Pandawa kecil udah aku gendong semua tadi, nah, disaat itulah aku lihat kamu rada iri gitu! Pasti kamu juga pingin aku gendongkan?"
"Ih, apaan sih, udah tua juga kali, masa iri minta gendong!" sarkas Sherly tak terima dengan tuduhan Alvarendra.
Mereka menaiki tangga menuju lantai atas.
Antonio melihat adegan romantis mereka berdua. Betapa sesak dadanya, seakan -akan ada benda jatuh menimpa di bagian itu, sehingga sulit untuk bernafas.
"Berani sekali kamu Alva, memamerkan kemesraan kamu di depanku. Aku harus cepat bertindak!" gumamnya seraya berbalik menuju kamarnya.
Di lain sisi.
"Lepaskan!" Imel meronta -ronta seraya menarik tangannya dari cengkeraman polisi.
"Aku tidak bersalah. Ini fitnah!" tukas Imel seraya menepuk tangan polisi dengan kuat agar melepaskan cengkeraman pada tangan sebelahnya.
"Jelaskan semua keluhan Anda di kantor polisi sekarang juga!" ujar polisi yang membawa paksa Imel.
Tadinya dia tengah sibuk untuk memakai kan masker ke wajahnya. Belum sempat melanjutkan ritual nya, pintanya terketuk.
"Ma, tolong aku Ma!" Imel menggapai tangan Anita tapi tak sampai.
"Kamu terlalu berani Imel, mama nggak menyangka kalau kamu senekat ini!"
"Mama nggak bisa membantu kamu untuk saat ini."
"Iya mama tahu maksudmu, tapi tidak dengan membunuh nya. Mama takut jika harus berurusan dengan polisi. Mama tidak mau membusuk di penjara." Anita tampak tak menghiraukan ketakutan Imel.
"Ma, Imel takut! Tolong Imel Ma!" rengek Imel yang suaranya semakin menjauh. Polisi berhasil mengamankan Imel.
Sebelumnya polisi juga sudah menyampaikan kepada pelaku dan ibu pelaku, kalau korban ternyata bukanlah Sherly, melainkan suami pelaku.
Imel tampak takut sekali jika kehilangan Wendy, rasa bersalahnya harus dipertanggungjawabkan sekarang juga.
"Aduh, Imel agresif sekali, dia mencoba membunuh Sherly. Aku jadi takut mendengarnya. Dari mana anak itu mendapat ide gila menjadi pembunuh ?" gerutu Anita kesal yang segera menutup pintu.
.
Keesokan paginya.
Sherly terbangun terlebih dahulu setelah merasa perutnya ada yang melindas.
Dia melirik sosok yang masih terbaring di belakangnya. Tubuhnya yang polos itu berada dalam pelukan suaminya.
Perlahan dia mengangkat lengan yang memeluknya erat di bagian perut.
"Jangan bangun dulu!" ujar Alva meski dalam kondisi menutup mata.
"Aku kebelet pipis Mas." sahut Sherly tanpa memperdulikan larangannya.
"Tidak ada alasan." Alva semakin mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
"Uh, Mas, kalau aku pipis di sini, Mas Alva mau mencium bau pesing!" rengek Sherli agar bisa lepas dari pelukannya.
Tanpa menyahut Alva melonggarkan tangannya dan dengan mata tetap terpejam dia mengubah posisi tidurnya.
"Akhirnya terlepas juga." Sherly perlahan turun dari ranjang menuju kamar mandi. Dengan tubuh polosnya dia berjalan mengendap-endap sebelum Alva terbangun dan meminta jatahnya lagi.
Itulah suplemen Alva di malam hari, dia akan selalu meminta jatahnya agar bisa fit setiap harinya. Dan bila lupa Sherly tak memberinya, dia akan menagih di keesokan harinya.
.
"Pagi Paman Antonio!" sapa Abi tatkala dia tengah bersandar di muka pintu.
"Pagi, kamu Abi kan?" terka nya.
"Paman jempol, baru saja kita bertemu Paman sudah hafal betul." ujar Abi terkesan mengejek.
"Tentu saja, paman kan pintar!" sahut Antonio dengan bangganya.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tegur Antonio saat akan melewati pintu untuk pergi joging.
"Tidak ada Paman, aku hanya memastikan hadiah ku datang tepat waktu dan tepat sasaran." ujar Abi yang berhasil menangkap rasa penasaran pria besar di hadapannya.
"Hadiah, kamu juga sekali ya dengan sebuah kejutan. Paman lain kali akan memberikan kamu kejutan juga." sahut Antonio dengan datar dan segera melewati Abi.
"Paman tak perlu repot -repot melakukan itu, sebelum kejutan itu datang padaku lagi, bersiaplah Paman
yang akan terlebih dulu menerima hadiah dariku." ujar Abi yang segera berlari menuju kamarnya.
Antonio yang mendengar celotehnya tampak tak merespon, dia berpikir hanya menanggapi omongan balita sama saja membuang waktu baginya.
Antonio segera pergi untuk joging. Sepulangnya dari joging, tampak kurir mengantar makanan sedang berdiri di depan pintu.
"Pagi-pagi sudah ada yang mengantar pesanan, punya siapa ya?" Antonio penasaran dan menghampiri kurir tersebut.
"Pagi Mas!" sapa si kurir.
"Pagi juga, siapa yang memesan makanan?" Antonio tampak memperhatikan bungkus pesanan yang tak asing baginya.
"Ini ada kotak makan yang ditujukan pada tuan Antonio Rizki." sahut si kurir seraya membaca tulisan yang tertera di layar ponselnya.
"Makanan, dari siapa?" tanya Antonio penasaran.
"Di sini hanya tertera dari ... penggemar rahasia." sahut si kurir dengan cepat, lantaran ponselnya berdering. Dia segera menyerahkan bingkisan dan menerima panggilan masuk.
"Ya, aku Antonio Rizki," sahutnya cepat seraya menerima bingkisan tersebut.
Si kurir segera menghilang dari pandangan Antonio.
"Wah, kebetulan aku pas lapar banget nih! Siapa ya penggemar rahasia ku?" Antonio segera membawa bingkisan tersebut masuk ke dalam.
Susana rumah masih tampak sepi, karena masih terlalu pagi. Jadi, penghuni rumah masih belum ada yang keluar dari kamar masing -masing.
Antonio segera membuka bingkisan itu dengan cepat.
"Hah!" Antonio membelalakkan matanya, dia tampak kaget dengan hadiahnya.
__ADS_1