Pandawa Kecilku

Pandawa Kecilku
Sherly Kalah Pamor


__ADS_3

"Apa, aku nggak mau bertemu dengan dokter itu lagi!" rengek Ethan.


"Adik, tenanglah, kami semua akan membantu mu!" ujar Dave penuh keyakinan.


"Bener Kak?" Ethan memperhatikan wajah kakak-kakaknya, semuanya mengangguk.


Akhirnya Ethan menyetujui usul para kakaknya untuk bertemu dengan dokter Sonia. Ethan diminta untuk mendesak Sonia agar melakukan tes DNA ulang.


.


Alva dan Sherly tengah menuju parkiran mobil. Mereka berdua menghentikan langkah dengan paksa. Sejumlah wartawan menghadang mereka.


"Presdir Alva, apakah benar Anda sudah menikah?" tanya salah satu wartawan, Alva menjawabnya dengan tegas.


"Benar," sahut Alva seraya melirik Sherly yang sepertinya tampak gugup. Untuk menghilangkan rasa gugupnya, Alva meraih tangannya dan menggenggam erat.


"Wah, kalian berdua pasangan yang romantis ya!"


"Siapakah nama Anda, Nona?" tanya wartawan itu seraya menyodorkan mik di depan bibirnya.


"Sherly,"


"Dengar -dengar, Nona Sherly sudah memiliki anak, ya? Bisa ceritakan bagaimana kisah Anda?"


Sherly menatap sekilas wajah suaminya meminta bantuan atas pertanyaan yang tak begitu suka untuk menjawabnya.


Untungnya Alva peka, dengan cepat dia menarik tangan Sherly, mengajaknya lari. Wartawan yang akan haus informasi itu pun mengejar mereka.


Mereka berdua lari sejauh mungkin, sampailah di sebuah taman yang luas.


"Mas, aku udah nggak kuat lagi, aku capek lari-lari terus!" Terdengar nafasnya terengah -engah.


"Mereka sebentar lagi pasti menemukan kita, kita sembunyi yuk!" Alva menundukkan kepala yang diikuti Sherly di tengah-tengah rimbunan semak-semak.


Wartawan kebingungan mencari mereka.


Dirasa sudah aman, Alva keluar dari persembunyian, memperhatikan keadaan sekitar.


"Sudah aman, Mas?" bisik Sherly.


"Sepertinya mereka sudah pergi," sahut Alva seraya membantu Sherly berdiri.


"Kamu jangan sampai cerita pada siapa pun tentang kejadian 6 tahun lalu!" Alva menunjuk satu jari di depan bibirnya.


"Kenapa Mas?"


"Biarkan kisah itu, hanya kita berdua yang tahu." Alva mengajak Sherly untuk pindah dari tempat itu.


"Aw," pekik Sherly seraya berjingkrak kaget. Sontak Alva meraih tubuhnya.


"Ada apa?"


"Katak, hiiii, aku geli melihatnya!" Sherly membenamkan wajahnya pada ceruk leher Alva. Tentu saja keberuntungan berpihak padanya. Alva semakin bergairah mendapati istrinya yang manja ini.


"Benarkah kamu takut katak?" Alva mengayunkan kaki Sherly tepat pada saat Sherly bersembunyi tadi.


"Aw, aku takut Mas!" pekiknya seraya mencengkeram kuat lengan Alva.


"Ha ha ha," Alva tertawa lepas, bisa menjahili istrinya. Kini dia tahu kelemahan istrinya.


Semua orang yang berada di taman, memperhatikan pasangan yang baru sehari menikah itu.


Sherly segera turun dari gendongan Alva.


"Kenapa turun?" Alva malah senang jika istri nya ketakutan.


"Malu dilihat orang," bisik Sherly.


"Kalau begitu ayo, kita lanjut di rumah!" Alva menarik tangan Sherly untuk pergi dari tempat itu.

__ADS_1


"Apaan sih Mas, pikirannya ke situ melulu!" gerutu Sherly.


"Kan kita baru nikah," Alva mengedipkan berulang kali matanya.


"Ingat, anak kita udah gede!"


"Ya bagus dong, kita bikin kan mereka adik!" Alva terlihat bersemangat.


"Eiss, nyesel aku bilang begitu." Sherly mengusap wajahnya dengan kasar.


"Eh, kok gitu. Kamu nggak suka kalau hamil lagi?" tanya Alva penuh selidik.


"Kamu Mas enak tinggal ngomong saja, aku sudah berpengalaman hamil. Apalagi isi perutku lima waktu itu, apa-apa susah buat ngapain saja. Tidur tak nyenyak, duduk tak enak. Pokoknya aku belum mau hamil dulu!" Sherly ngedumel.


"Kan sekarang ada aku, jadi kamu nggak usah khawatir, Sayang!" ujar Alva seraya memencet hidungnya. Kini dia merubah panggilan Sherly menjadi sayang.


"Sa-sayang?" Sherly mengusap hidungnya yang terlihat merah akibat ulah Alva.


"Kamu nggak suka juga, jika aku panggil sayang?" Alva menyodorkan tangannya yang siap menyentil dahinya.


Sherly mengetahui itu dan segera menutup matanya.


Alva senyum -senyum sendiri melihat ulah istrinya yang dirasa sangat menggemaskan itu.


Cup...


Alva mendaratkan ciuman di dahinya. Seketika itu Sherly membuka matanya.


"Ih, Mas Alva nyuri kesempatan!" Sherly membalikkan badan menahan malu sambil berlalu.


"Hi hi hi, tunggu Sayang!" teriak Alva sembari mengejarnya.


Sore hari.


"Pandawa!" panggil Alva dan Sherly saat memasuki rumah.


Pandawa yang baru selesai mandi berhamburan turun dari kamarnya menyambut sang idolanya, ya siapa lagi kalau bukan ayah Alva.


"Aku gendong!" teriak pandawa seraya mengarahkan tangan mereka.


"Mana bisa kalau bersamaan!" batin Alva seraya garuk -garuk kepala. Akhirnya Alva punya ide juga.


Abi dan Boman bergelanyut di kedua lengannya yang berotot. Charles dan Dave memeluk kedua kakinya, sementara Ethan berada di gendongan belakang.


Betapa lucunya Alva seperti itu, Sherly semakin iri dengan kedekatan Alva terhadap pandawa. Mereka terlihat lebih memilih Alva ketimbang ibunya sendiri.


"Padahal aku yang melahirkan kalian, begitu kalian sudah besar malah lebih memilih dia." Sherly mengomel sendiri.


"Sudah, sudah, ayah kalian bau ketek! Kita sambung nanti, ayah mandi dulu." Alva menurunkan Ethan dengan perlahan.


"Kok cuman ibu saja yang nggak disambut?" ucap Sherly cemburu seraya melambaikan tangan.


"Ibu ..." para pandawa beralih menghambur padanya.


Sherly dengan seulas senyum merentangkan tangan menyambut pandawa. Satu per satu mendapatkan ciuman di pipi. Membuktikan kalau ibunya lebih berharga dari pada ayahnya. Sherly juga melirik ke Alva seraya menjulurkan lidah mengejek.


Alva cuek saja, secara pandawa pasti lebih memilih ayahnya.


"Kalian wangi sekali, baru mandi ya!" Sherly memejamkan mata menikmati aroma bedak tabur bayi milik pandawa.


"Iya Bu," sahut mereka kompak.


Kesempatan bagus itu tak disia-siakan oleh Alva. Alva dengan gerakan cepat mendekatkan pipinya tepat di muka Sherly. Dan seketika itu bibirnya yang merekah berhasil menempel di pipinya.


"Aw, Mas!" Sherly menepis pipinya, "Malu dilihat pandawa!" Sherly mengerucutkan bibirnya menahan kesal.


Pandawa cekikikan melihat Alva dan Sherly.


"Kalau begitu, ayo kita lanjut di kamar!" ajak Alva yang sontak menggendong Sherly menuju lantai atas. Sherly meronta-ronta minta dilepaskan dari gendongan Alva.

__ADS_1


Pandawa reflek, menutup mata dengan kedua tangannya.


Sesampainya di kamar.


"Turunkan aku Mas!" pinta Sherly, seraya memukul ringan dada Alva, namun yang menggendongnya serasa tuli tak menghiraukannya.


Alva dengan cepat menurunkan tubuh istrinya hingga terpental di atas kasur.


"Mas, aku belum mandi, jadi stop untuk melakukannya!" Sherly berusaha bangkit.


"Kalau begitu kita mandi berdua saja, kamu mandiin aku ya," goda Alva.


"Eiss, apaan sih, kan Mas Alva bukan bayi lagi!" Sherly segera menutup wajahnya, tatkala Alva sudah melepas kemejanya.


"Anggap saja aku ini bayi besar," Alva tak berhenti begitu saja untuk menggoda istrinya yang malu-malu mau itu.


"Mas lihat apa itu!" tunjuk Sherly ke arah belakang Alva, sontak Alva memalingkan wajah ke belakang.


"Ada apa, nggak ada apa-apa tuh!" Alva kembali menatap Sherly. Ternyata yang ditatap hanya ranjang kosong.


Sherly berhasil bangkit dan segera berlari kecil menuju kamar mandi. Alva tak hilang akal, disaut tubuh istrinya yang sudah menjadi candu itu saat dia hampir sampai di depan pintu. Alva segera membopongnya masuk ke kamar mandi meski Sherly meronta-ronta.


Selesai mandi, Sherly masih marah karena Alva meminta jatahnya lebih dari jadwal.


"Kok cemberut melulu," tukas Alva seraya berbaring di atas kasur mengamati Sherly yang sedang menyisir rambutnya.


"Mas curang,"


"Curang kenapa, kamu mau lagi?" Alva tak habis fikir, Sherly meski berpakaian sederhana pun baginya tetap menggoda.


"Mas udah deh, kita kan sudah sepakat di awal. Kalau minta jangan di sore hari!"


"Habisnya kamu menggoda banget, tuh junior aku bangun lagi!" tukas Alva seraya menunjuk ke bawah.


Sherly tak meladeni lagi ucapan Alva, dia lebih memilih pergi keluar kamar hendak menemui para pandawa. Alva pun mengekor.


Sherly membuka kamar pandawa, mengedarkan pandangan mencari mereka.


Kamar pandawa bersebelahan dengan kamar Sherly, ukurannya pun juga lebih besar. Dalam kamar tersebut terdapat lima kasur yang berbeda warna dan karakter. Milik Abi berwarna merah dengan motif angry bird, milik Boman warna hijau dengan motif keropi, milik Charles berwarna hitam putih dengan motif kartun kungfu panda, milik Dave berwarna biru dengan motif nuansa ruang angkasa, dan terakhir dan paling ujung milik Ethan berwarna kuning dengan motif bee.


"Aku kira mereka ada di kamar," Sherly hanya melihat pelayan yang tengah mengemasi handuk dan baju kotor milik pandawa.


"Mereka sedang bermain di bawah Nyonya," ujar salah satu pelayan yang tanpa di tanya pun tahu maksud Sherly datang ke kamar pandawa.


"Baik, terima kasih!" ujar Sherly lalu segera turun.


"Mereka tak ada di kamar?" tanya Alva yang tengah mencegatnya.


"Hmmm," sahut Sherly. Dia segera menuruni tangga, tepat di ruang makan.


"Pan ..." kalimat Sherly terhenti tatkala melihat mereka berlima tengah memandangi sebuah kotak besar di atas meja makan.


"Bingkisan dari siapa?" tanya Sherly heran.


"Dari paman yang ada di sana!" tunjuk Abi pada pria yang tengah ngobrol dengan Andreas.


Sherly segera menghampiri tamu itu.


"Papa, kedatanganku kemari pertama untuk bersilaturahmi padamu, entah kamu menerima ku atau tidak. Yang kedua, aku akan tinggal di sini, kembali ke tempat aku dibesarkan dulu." ujar pria itu.


Andreas masih memalingkan muka, enggan untuk menatap lawan bicaranya.


Sherly segera memberi tahu Alva, siapa yang baru saja datang itu.


"Kak Antonio," panggil Alva di ruang keluarga. Antonio dan Andreas menoleh bersamaan.


Bersambung...


Tetap dukung selalu Pandawa Kecilku ya... maaf jika telat up date.

__ADS_1


😘😘😘😘😘😘😘😘😘


__ADS_2