
Pagi sekali Sherly sudah bangun ketimbang hari -hari biasanya. Pertama kali yang akan dia lakukan di pagi buta ini adalah menyapu dan mengepel lantai. Setelah pekerjaan rumah selesai kini dia menuju dapur, hal berikutnya yang akan dia lakukan yaitu mencuci baju disambi dengan memasak. Menu kali ini adalah nasi goreng, makanan kesukaan Abigail.
Sengaja Sherly membuat jadwal menu sarapan untuk para pandawa. Menu itu sesuai dengan kesukaan pandawa. Sherly menempelkan kertas kecil pada dinding dapur agar dia lebih mudah mengingatnya. Kertas itu berisi jadwal menu. Untuk hari Senin menunya ayam goreng, makanan kesukaan Ethan. Hari Selasa menunya mie goreng, kesukaan Dave. Hari Rabu menunya roti bakar, kesukuan Charles. Hari Kamis menunya capjai, kesukaan Boman. Hari Jumat menunya nasi goreng, kesukaan Abigail. Untuk hari Sabtu dan Minggu menunya adalah tahu tempe kesukaan Sherly.
"Anak-anak, ibu berangkat dulu ya!" pamit Sherly setelah mencium kening para pandawa secara bergantian.
"Ibu tidak sarapan?" tanya Abigail dengan mulut yang penuh nasi goreng kesukaannya sehingga rada tak jelas, tapi Sherly tahu itu.
"Ibu sarapan di kantor, nih!" Sherly menunjukkan kotak bekal yang ia bungkus dengan kain biru. Dia pun sudah menghilang dari pandangan pandawa.
"Sejak kapan Ibu bawa bekal?" tanya Boman pada saudaranya.
"Ya Tuhan, aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk selalu di samping ibu!" Charles segera turun dari kursi dan menyusul ibunya.
"Ibu, Ibu!" teriak Charles, Sherly hendak masuk ke dalam mobil jemputan, dia pun menoleh.
"Apa Charles?" tanya Sherly seraya membenahi kemejanya.
"Kan aku sudah berjanji untuk selalu mengawal Ibu, biarkan aku ikut kemana pun Ibu pergi ya?" tutur Charles penuh ambisi.
"Charles sayang, ibu akan baik-baik saja. Jadi, kamu tak perlu mengantar ibu. Ya sudah, kamu habiskan sana sarapan kamu! Ibu hampir telat." Sherly sekali lagi mengecup kening Charles. Sherly memahami kekhawatiran Charles, tapi sebisa mungkin dia harus mandiri agar tidak menyusahkan anaknya.
Para pandawa selesai sarapan segera berangkat kuliah, mereka naik kendaraan umum.
Ethan seperti biasa menuju rumah sakit besar untuk melanjutkan risetnya yang hampir selesai.
"Ethan," panggil dokter Sonia, kini dia mencari tahu sendiri tentang Ethan.
"Hai, Dokter Sonia!" sapa Ethan dengan wajah ceria.
"Apa yang sedang kamu lakukan dengan tabung reaksi itu?"
"Aku sedang membuat obat anti kanker."
"Wah hebat, bisa-bisa pasienku sepi dong!" sahut Sonia sedikit sinis.
"Sepi bagaimana maksud Dokter?" tanya Ethan.
"Ya kan, mereka langsung bisa sembuh setelah minum obat buatan kamu ini." sahut Sonia bersungut -sungut.
"Kan malah bagus dong? Kita bekerja sebagai tenaga medis kan memang untuk menyembuhkan pasien?" tutur Ethan membuat Sonia skakmak.
__ADS_1
Karena tak mendapatkan apa yang diinginkan Sonia pun pergi.
"Alvarendra? Benarkah itu kamu?" tanya Sonia kala Alva dan Thomas berdiri di hadapannya.
"Haciu, haciu!" Alva mulai lagi dengan alerginya terlebih pada wanita yang tepat berdiri di depannya.
"Hallo, Dokter Sonia!" sapa Alva, namun dia enggan untuk berjabat tangan. Alva menoleh pada Thomas, menyadari hal itu Thomas pun paham maksudnya. Dia segera menjabat tangan Sonia yang sejak tadi ia ulurkan pengganti tangan Alva.
Melihat sikap acuh Alva, Sonia sedikit kecewa. Namun secepat kilat dia menepisnya. Kedatangan Alva sangat menguntungkan Sonia. Pasalnya Sonia sudah jatuh hati sejak pandangan pertama. Dulu saat Alva memeriksakan kesehatan ibundanya ke rumah sakit ini, dan pada waktu itu pula Sonia yang menangani kondisi ibundanya. Pada saat itulah Sonia mulai ada rasa dengannya.
"Ada yang bisa aku bantu dengan kedatangan mu ke rumah sakit ini? Atau kamu kangen denganku?" tanya Sonia dengan nada menggoda.
Alva rada risih juga meladeni Sonia yang ganjen itu.
"Aku sedang memeriksakan diriku," sahut Alva singkat.
"Kamu sakit? Mari aku antar ke ruanganku!"
"Tidak! Haciu, aku dengar di rumah sakit ini ada seorang...haciu, dokter kecil. Aku ingin berjumpa dengannya. Haciu!" tutur Alva membuat Sonia mengerutkan alisnya.
"Dokter kecil?" sahutnya kaget. Sonia langsung teringat Ethan, "Apa dia yang sedang ia cari?" batinnya.
Kesempatan bagus bagi Sonia dengan keberadaan Ethan, yakni menuntun Alva agar lebih dekat padanya.
Thomas berjalan beriringan di sebelah Sonia, untuk memberi jarak antara Alva dengan dirinya.
"Ih, mengapa juga Alva berjalan di belakangku, harusnya dia di sampingku, bukan malah aku di sisi om-om ini." gerutu Sonia dalam hati, sesekali dia melirik Alva di belakangnya. Mereka menuju laboratorium, tempat di mana Ethan praktik.
"Ethan, ada Tuan Alvarendra mencarimu!" suara Sonia berhasil menghentikan dia saat sedang menuang cairan abu-abu ke dalam gelas tabung.
Ethan menoleh, betapa kagetnya dia dengan pemandangan itu.
"Ayah, bukankah pria ini yang ada di laptop kak Boman. Aku tidak salah lihat lagi, benar dia ayahku." batin Ethan seraya berjalan menuju mereka.
"Hahaha," Alva terpingkal dengan apa yang dia lihat.
"Dokter Sonia, kedatanganku ke sini untuk berobat pada dokter kecil. Ini kenapa balita yang kamu panggil. Mana dokter kecil yang kamu sebutkan tadi?" Alva mengalihkan pandangan mencarinya.
Ethan geram mendengarnya. "Pria dewasa yang jahat." gumamnya .
"Maaf Tuan Alvarendra Rizki," ucap Ethan membuat Alva menatapnya tajam. Ethan melepas jas putih dan kacamatanya.
__ADS_1
"Anda jangan menilai kemampuan seseorang dari penampilan luar saja." ucap Ethan tegas.
"Wajah kamu? Bukankah kamu yang melukis bersama Ello kan? " Alva mengingat kedatangan Dave ke rumahnya waktu itu.
Ethan menggerakkan kedua bola matanya ke kanan dan ke kiri. Tampak berfikir.
"Apa yang Anda maksud itu kak Dave?" Ethan teringat Dave pernah bercerita bertemu dengannya.
Thomas pun tak kalah kagetnya dengan Alva.
"Tuan, ini adalah wajah anak itu!" ucap Thomas membuat Alva menatapnya.
"Anak itu? Bicara yang jelas!" Alva tak paham dengan ucapan Thomas.
"Anak ini yang sedang viral di layar televisi, kamu yang ada di berita itu kan? Yang menolong seseorang di tengah jalan?" Thomas menunjuk Ethan tak percaya bisa bertemu dia lagi.
Ethan hanya mengangguk cepat.
"Sudah cukup, aku datang ke sini tidak sedang bermain -main, antarkan aku pada dokter kecil!" perintah Alva.
Sonia yang sejak tadi mematung menyaksikan perdebatan mereka akhirnya bersuara juga.
"Em, Tuan Alva, dokter kecil di rumah sakit besar ini hanya satu, yakni dia!" Sonia menunjuk Ethan.
Lagi Alvarendra tak percaya.
"Cih, pelukis cilik ini bisa apa?" Alva menganggap Ethan adalah Dave, karena wajah mereka begitu mirip.
"Aku bukan pelukis! Namaku Ethan!" Ethan penuh penekanan untuk menyakinkan kalau dia bukan Dave.
"Baik Tuan Alvarendra Rizki, kalau Anda memang tak percaya dengan kemampuanku silahkan Anda pergi, aku sedang sibuk dengan penelitianku!" Ethan membalikkan tubuhnya, dia sedikit kecewa dengan Alva yang tak bisa menghargai seseorang itu.
"Thomas, ayo kita pergi saja dari sini!" ajak Alva.
"Tapi Tuan, apakah Anda tidak merasa aneh dengan kemiripan wajah dia dengan Anda?" sangka Thomas membuat Alva berfikir.
"Benar juga," Alva membalikkan badan seraya berteriak memanggil Ethan.
"Hai kamu, Balita!" panggil Alva menunjuk Ethan. Merasa dia yang paling kecil di ruangan itu, dia pun menoleh.
"Jangan panggil aku balita!"
__ADS_1
"Siapa ayah kamu? Dan mengapa wajah kamu bisa sangat mirip denganku?" seloroh pertanyaan Alva lontarkan pada Ethan.
"Ayah?" sahut Ethan dengan muka yang akan menangis. "Aku tak punya ayah." sahut Ethan sambil menangis.